Fathu Makkah (7) : Islamnya Tokoh Quraisy, Shafwan bin Umayyah


Shafwan yang diamuk dendam kesumat karena kematian ayahnya, Umayyah bin Khalaf, seakan tak pernah tidur memikirkan bagaimana membalaskan dendam tersebut. Permusuhan dan kebenciannya kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam membawanya kepada kesepakatan bersama Umair bin Wahb.

Suatu hari dia bersama Umair berbincang-bincang tentang korban Perang Badr. Shafwan berkata, “Demi Allah, hidup ini tidak menyenangkan sepeninggal mereka.”

Kata Umair, “Betul, demi Allah. Kalau bukan karena utang yang tak mampu kulunasi dan keluarga yang akan jadi tanggungan sepeninggalku, pasti aku datangi Muhammad (shallallahu alaihi wa sallam) untuk membunuhnya.”

Kemudian dia melanjutkan, “Aku katakan bahwa aku datang untuk menebus putraku yang ditawan oleh kalian.”

Mendengar ini, Shafwan segera menukas, “Utangmu menjadi tanggunganku. Aku yang akan melunasinya. Keluargamu hidup bersama keluargaku, selama mereka masih hidup.”

Kata Umair, “Kalau begitu, rahasiakan hal ini.”

Setelah Umair tiba di depan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau berkata kepadanya, “Berita apa yang kau bawa, hai Umair?”

“Aku ingin menebus tawanan kalian ini,” katanya.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bertanya pula, “Lantas untuk apa pedang di lehermu?”

Kata Umair, “Semoga Allah membuatnya buruk. Apakah dia berguna bagi kami?”

Rasul shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Jujurlah, wahai Umair. Apa yang mendorongmu datang?”

“Tidak ada lain, selain urusan tawanan,” katanya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Bukan, kamu dan Shafwan bin Umayyah duduk di Hijr (Ismail) lalu kalian menyebut-nyebut korban Badr dari Quraisy.

Lalu kau mengatakan, ‘Kalau bukan karena utangku dan keluarga yang jadi tanggungan, pasti aku datangi Muhammad (shallallahu alaihi wa sallam) untuk membunuhnya.’ Lalu Shafwan memberi jaminan untukmu akan melunasi utangmu dan menanggung keluargamu kalau engkau dapat membunuhku untuknya. Allah adalah Penghalang antara engkau dan keinginanmu.”

Saat itu juga, Umair berseru, “Aku bersaksi tidak ada sembahan yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasul Allah. Tidak ada yang mengetahui pembicaraan ini selain aku dan Shafwan. Demi Allah, tidak ada yang menyampaikannya kepadamu kecuali Allah. Segala puji bagi Allah yang telah memberiku hidayah kepada Islam.”

Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat agar mengajarinya agama dan Al-Qur’an serta membebaskan tawanannya (putra Umair).

Sementara itu, di kota Makkah, berhari-hari Shafwan menunggu kedatangan Umair. Dia menghibur bangsa Quraisy bahwa sudah ada orang yang siap membunuh Muhammad (shallallahu alaihi wa sallam). Tinggal menunggu beritanya.

Meletuslah peristiwa Fathu Makkah, Umair datang bersama tentara Allah subhanahu wa ta’ala lainnya. Dia mencari Shafwan, mengajaknya masuk Islam. Namun, Shafwan lebih memilih lari meninggalkan Makkah.

Shafwan menuju Jeddah bermaksud menaiki sebuah kapal lantas berlayar ke Yaman. Umair mengetahuinya. Dia pun datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya Shafwan adalah pemuka kaumnya. Dia telah pergi karena takut kepadamu. Dia ingin menceburkan dirinya ke laut. Berilah dia jaminan keamanan.”

Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Dia aman.”

Kata Umair pula, “Wahai Rasulullah, berilah aku tanda agar dia tahu sebagai jaminanmu.”

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberinya sorban yang beliau pakai ketika memasuki Makkah.

Umair bergegas mengejar Shafwan. Setelah bertemu, dia berkata, “Hai Shafwan, bapak ibuku tebusanmu. Ingatlah Allah, ingatlah Allah terhadap dirimu! Janganlah engkau membinasakan dirimu sendiri. Aku membawa jaminan dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.”

Akan tetapi, Shafwan membalas, “Sial kamu. Pergilah, jangan bicara lagi denganku.”

Umair membujuknya, “Wahai Shafwan, bapak ibuku tebusanmu. Sesungguhnya Rasulullah adalah orang yang paling utama, paling berbakti, paling santun, dan paling baik. Kemuliaannya adalah kemuliaanmu juga, kejayaannya adalah kejayaanmu juga.”

Kata Shafwan, “Aku mengkhawatirkan diriku.”

Umair menjawab, “Beliau lebih santun dan lebih pemurah dari itu.”

Akhirnya Shafwan kembali bersamanya dan berdiri di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Shafwan berkata kepada beliau, “Sesungguhnya dia ini mengatakan engkau memberiku jaminan.”

Kata Rasul (shallallahu alaihi wa sallam), “Betul.”

Kata Shafwan, “Beri aku waktu berpikir dua bulan.”

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Engkau boleh memilih selama empat bulan.”

Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menyiapkan pasukan menuju Hawazin untuk memerangi mereka, disebutkan kepada beliau bahwa Shafwan memiliki persenjataan lengkap. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menemuinya—yang ketika itu masih musyrik. Kata beliau, “Pinjami kami senjatamu untuk memerangi musuh besok.”

Kata Shafwan, “Apakah ini perampokan, wahai Muhammad?”

Beliau menjawab, “Bukan, ini pinjaman yang ada jaminan sampai kami kembalikan kepadamu.”

“Kalau begitu, tidak mengapa,” katanya.

Ternyata sesudah itu, sebagian senjata itu ada yang rusak. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Kalau kamu mau, kami jadikan sebagai utang kepadamu.”

“Tidak perlu,” katanya.

Usai perang, kaum muslimin memperoleh rampasan yang sangat berlimpah. Shafwan mulai melihat lembah itu dipenuhi binatang ternak. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam meliriknya, lalu berkata, “Apakah lembah (yang dipenuhi ternak) itu menakjubkanmu?”

“Ya,” kata Shafwan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Itu semua untukmu.”

Segera saja Shafwan mengambil semua yang ada di lembah itu. Dia berkata, “Tidak mungkin ada seorang pun senang berbuat (memberi) dengan pemberian seperti ini kecuali seorang nabi. Aku bersaksi tidak ada sembahan yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.”

Dia pun masuk Islam di tempat itu juga.

Shafwan tetap tinggal di Makkah sebagai muslim sesudah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kembali ke Madinah. Lalu ada yang berkata kepadanya, “Tidak ada Islam bagi mereka yang tidak hijrah.”

Shafwan pun berangkat menuju Madinah dan singgah di rumah Abbas. Hal ini disampaikan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Beliau berkata, “Dia orang Quraisy yang paling baik terhadap Quraisy. Kembalilah ke Makkah karena tidak hijrah sesudah Fathu Makkah. Lagi pula siapa yang mengawasi pengairan Makkah?!”

Akhirnya dia kembali ke Makkah. Di Makkah, Shafwan dikenal sebagai salah seorang dermawan yang suka memberi makan, bahkan dijuluki sebagai Pemuka Makkah. Baik pula Islamnya. Dahulu dia gunakan lisannya yang fasih menyakiti kaum muslimin, maka hari ini, dia gunakan kefasihannya untuk menolong agama Allah subhanahu wa ta’ala. Beliau tetap hidup dalam Islam sebagai orang dermawan yang terpuji. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhainya.

***

sumber : https://asysyariah.com/islamnya-sejumlah-tokoh-quraisy-fathu-makkah-bagian-empat/

2 responses to “Fathu Makkah (7) : Islamnya Tokoh Quraisy, Shafwan bin Umayyah

  1. Ping balik: Sejarah Perang Hunain (1/2) | Abu Zahra Hanifa

  2. Ping balik: Sirah Nabi (57) : Perang Hunain | Abu Zahra Hanifa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s