Pujian Ulama Syafi’iyah kepada Ibnu Taimiyyah

Sebagian besar warga muslim Indonesia bermadzhab As-Syafi’iyah, bahkan orang-orang yang memusuhi kaum Wahabi di tanah air kebanyakannya juga mengaku pengikut madzhab Asy-Syafiiyah. Tentunya Ibnu Taimiyyah adalah salah seorang ulama yang dituduh oleh mereka sebagai dedengkot wahabi.

Karenanya saya sangat berharap agar mereka meninjau kembali permusuhan mereka. Lihatlah Ibnu Nashiruddin Ad-Dimasyqi yang membela habis Ibnu Taimiyyah juga dari madzhab Syafiiyah. Kemudian Ibnu Hajar salah seorang ulama terkemuka dari madzhab Syafii juga memuji Ibnu Taimiyyah setinggi langit dan membantah orang yang mencela Ibnu Taimiyyah. Dan masih banyak ulama-ulama syafiiyah yang lainnya yang memuji Ibnu Taimiyyah. Baca lebih lanjut

Haruskah Membenci Ibnu Taimiyah ?

(Padahal Ibnu Hajar Al Asqolaani dan para ulama syafi’iyah terkemuka lainnya telah memuji Ibnu Taimiyyah dengan pujian setinggi langit).

Terlalu banyak tuduhan-tuduhan dusta ditujukan kepada Ibnu Taimiyyah untuk memudarkan cahaya kebaikan beliau rahimahullah. Kedustaan-kedustaan ini sebagian besarnya telah dibantah dalam sebuah disertasi untuk meraih gelar doktoral yang berjudul دَعَاوَى الْمُنَاوِئِيْنَ لِشَيْخِ الإِسْلاَمِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ (Tuduhan-Tuduhan Musuh-Musuh Ibnu Taimiyyah) yang ditulis oleh As-Syaikh Abdullah bin Sholeh bin Abdul Aziiz al-Gushn. (silahkan di download di http://waqfeya.net/book.php?bid=1876).

Bahkan yang lebih sadis dari sekedar-sekedar tuduhan dusta, ternyata ada sebagian orang yang menggabungkan antara tuduhan dusta dan sekaligus mengkafirkan Ibnu Taimiyyah. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Abu Salafy yang telah menuduh Ibnu Taimiyyah dengan tuduhan palsu sekaligus menuduh Ibnu Taimiyyah sebagai gembong kaum munafik (lihat kembali http://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/117-tipu-muslihat-abu-salafy-cs-3-qtuduhan-ustadz-abu-salafy-bahwasanya-ibnu-taimiyyah-mencela-ali-dan-umarq). Baca lebih lanjut

Mereka Yang Bergelar ‘Syaikhul Islaam’ Sebelum Ibnu Taimiyyah

Di antara kita mungkin sangat akrab dengan istilah ‘Syaikhul-Islaam’. Ketika mendengarnya, pikiran kita langsung melayang pada sosok Ahmad bin ‘Abdil-Haliim bin Taimiyyah alias Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Tidak diragukan lagi bahwa beliau memang ‘Syaikhul-Islaam’. Akan tetapi, sebenarnya ada banyak nama ‘Syaikhul-Islaam’ dalam daftar ulama Islam sepanjang masa selain beliau. Siapa sajakah mereka ?

Berikut sedikit akan dicontohkan beberapa ulama yang dijuluki ‘Syaikhul-Islaam’ sebelum era Ibnu Taimiyyah rahimahullah : Baca lebih lanjut

Pujian Ibnu Hajar Al Asqalani Kepada Ibnu Taimiyah

Mencukupi bagi kita pujian Al Hafidz Ibnu Hajar Kepada Ibnu Taimiyah dengan Berhujjahnya Beliau dengan perkataan-perkataan Ibnu Taimiyah. Dan Beliau Mensifatinya dengan “Al-Allaamah”, dan “Al-Hafidz”. Sungguh Beliau telah mengambil hukum yang ditetapkan Ibnu Taimiyah tentang Tambahan hadits “Kaanallaahu wa laa makaan” sebagai hadits yang tidak ada memiliki asal.

Ibnu Hajar berkata dalam Alfath 6/289. Baca lebih lanjut

Ulama Ulama Yang Menjuluki Ibnu Taimiyah Syaikhul Islam

Adapun tentang kelayakan Ibnu Taimiyah untuk berlaqab “Syaikhul Islam”, maka Tanyakanlah kepada para Hafidz! Seperti As-Suyuthi dan Ibnu Rajab, Tanyakan Juga kepada As Sya’rani, kenapa mereka melaqabkan beliau dengan laqab tersebut!

Terdapat pada Perkataan As-Suyuthi tentang Ibnu Taimiyah “Syaikhul Islam, Seorang Hafidz yang Faqih, Mujtahid, Mufassir ulung, syaikhul Islam, langka Dimasanya, alim lagi zuhud” [1]. Baca lebih lanjut

Thesis & Desertasi Para Doktor ini Merupakan Bukti Luasnya Keilmuan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Perbendaharaan ilmu pria ini patut diacungi jempol.

Para Ulama, diantaranya Imam Dzahabi sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hajar Al Atsqalani dalam Kitab Durarul Kaminah telah memberikan kesaksian akan pengetahuannya diberbagai cabang Ilmu pengetahuan.

Imam dzahabi berkata tentang biografi Ibnu taymiyah : “Beliau membaca qur’an dan fiqh serta berdebat padahal belum baligh umurnya. Menguasai berbagai ilmu dan juga tafsir. Berfatwa padahal masih dibawah 20 tahun. Telah mengarang berbagai karangan dan menjadi pembesar para ulama semasa hidup guru-gurunya.karangannya mencapai 4000-an bahkan lebih”. Baca lebih lanjut