Khalifah Abu Bakar (11) : Kebijakan Politik Luar Negeri Sang Khalifah


Di bawah pemerintahannya, Abu Bakar Ash-Shiddiq telah menetapkan beberapa target dalam menerapkan politik luar negerinya, yang terpenting di antaranya ialah:

a). Menanamkan Rasa Kagum dan Takut di Hati Para Pemimpin dan Rakyat Negara Lain

Sebuah negara yang tidak ditakuti oleh negara lain tidak akan pernah bisa mencapai stabilitas atau keamanan; mereka akan terus menerus dipandang oleh negara lain sebagai target yang mudah sebuah negara yang menjadi sasaran empuk invasi. Abu Bakar memahami realitas ini dengan sangat baik, karenanya salah satu tujuan utama kebijakan luar negeri beliau adalah untuk menanamkan rasa takut di hati musuh.

Pada masa awal kekhilafahannya, ia mencapai tujuan itu dengan dua cara: Pertama, Ia berperang melawan dan mengalahkan para pemberontak murtad. Tujuan utama Abu Bakar adalah membawa stabilitas di wilayah yang ia kuasai. Sedang tujuan keduanya adalah untuk menunjukkan kepada kekuatan asing bahwa umat Islam mampu mengatasi semua rintangan dan ancaman.

Para pemimpin negara asing mencermati dengan sangat serius apa yang terjadi di dunia Arab, terutama para pemimpin Romawi dan Persia. Sebelum berkembangnya Islam, dua negara superpower adalah Romawi dan Persia, sedangkan bangsa Arab, kalaupun mereka memiliki nilai penting dalam panggung dunia, lebih sering dimanfaatkan oleh Romawi dan Persia untuk berperang membela kepentingan mereka. Selain itu, beberapa wilayah Arab juga digunakan sebagai wilayah penyangga (buffer zone) di antara wilayah Romawi dan Persia.

Namun sekarang, umat Islam telah bangkit, bahkan di zaman Rasulullah masih hidup beliau mengirimkan pasukan untuk bertempur dan menguji kekuatan pasukan Romawi. Karena itu, bangsa Romawi dan Persia mempunyai kepentingan atas apa yang tejadi di dunia Arab. Mereka sangat kecewa saat mereka menyaksikan pasukan Islam mampu menghancurkan pasukan pemberontak murtad.

Dampaknya, para pemimpin Romawi dan Persia menyadari bahwa umat Islam telah menjadi lebih kuat dan memberikan ancaman yang semakin meningkat. Keberhasilan umat Islam, untuk mengatasi ancaman internal yang tidak remeh tersebut tentunya membuat Romawi dan Persia berpikir berulang kali sebelum berencana menyerang Arab. Kegamangan mereka, sebagai hasil dari rasa takut dan kekhawatiran untuk tidak menderita kekalahan yang berat, kembali menghantui mereka saat justru bangsa Arab yang kemudian menyerang mereka; bukan mereka yang menyerang bangsa Arab.

Kedua, Abu Bakar mengirimkan pasukan Usamah. Menancapkan rasa takut di hati musuh adalah salah tujuan yang terbersit dalam pikiran Abu Bakar saat ia memutuskan untuk mengirim pasukan Usamah. Bangsa Romawi mempunyai alasan untuk takut. Pada awalnya mereka berharap bahwa dengan pemberontakan kaum murtad, semenanjung Arab akan terjerembab dalam situasi chaos, namun mereka justru menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri bahwa negara Islam justru mengirimkan pasukan besar untuk menyerang Romawi.

Keberanian untuk melakukan invasi tersebut mencengangkan dan membuat Romawi ketakutan. Dan yang lebih buruk lagi, pasukan Usamah berhasil menjalankan misinya, yaitu mengalahkan pasukan musuh yang loyal pada bangsa Romawi dan membawa pulang ghanimah. Dampaknya, kaisar Romawi Heraklius, mengirimkan puluhan ribu pasukan Romawi untuk menjaga perbatasan antara Syam dan Arab.

Persia juga mempunyai alasan untuk takut, karena berita tentang pasukan Usamah juga sampai kepada para pemimpin Persia, yang mulai mengkhawatirkan keselamatan dan keamanan tanah Persia, terutama Iraq. Para pemimpin Persia, karena ketakutan pada kekuatan umat Islam, mulai melakukan aliansi dengan pemberontak murtad, dengan memberi bantuan material dan moral kepada mereka dalam perang melawan umat Islam. Jadi, dengan menggunakan kekuatan minimal, Abu Bakar berhasil mengirimkan pesan kepada para pemimpin asing: tidak lama lagi pasukan Islam akan melakukan invasi besar-besaran ke tanah mereka, dan mereka akan datang dengan pasukan yang rindu akan kematian sebagaimana mereka rindu akan kehidupan.

b). Meneruskan Jihad yang Diperintahkan Rasulullah

Bahkan sejak awal misi kenabian, Islam adalah pasukan yang ekspansif. Islam bukanlah untuk satu suku, satu kelompok, atau satu bangsa, tapi untuk seluruh umat manusia.

Karena itu umat Islam yang memiliki kewajiban untuk mendakwahkan Islam pada orang lain, harus terus menerus berjuang untuk meruntuhkan segala penghambat yang mencegah pesan Islam dari didengar oleh orang asing; yaitu dengan menyebarkan Islam dari Makkah ke Madinah, kemudian ke seluruh Jazirah Arab, dan kemudian menyebarkannya ke Iraq dan Syam.

Tidak ada yang lebih dekat dengan Rasulullah daripada Abu Bakar. Faktanya, setelah shalat Isya, mereka berdua duduk bersama dan mendiskusikan persoalan umat Islam. Abu Bakar banyak menghabiskan waktu dengan Rasulullah, ia paham tidak hanya pentingnya menyebarkan Islam, tapi juga sarana dan strategi yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan kata lain, Abu Bakar paham bahwa operasi militer adalah sarana utama untuk meruntuhkan penghalang-penghalang yang mencegah Islam sampai ke masyarakat dunia. Karena itu, jika para pemimpin Persia menolak masuk Islam dan jika masyarakat Persia masih tetap musyrik, menjadi tugas Abu Bakar untuk menurunkan pasukan guna menaklukkan imperium Persia.

Dalam mengirimkan pasukan ke luar negeri, Abu Bakar sangat memahami pepatah yang menyatakan bahwa siapa yang ragu akan kalah. Jika Abu Bakar menunda, musuh akan semakin berani, dan bisa jadi Romawi yang akan menginvasi negara Islam, bukan Islam yang akan menginvasi kekaisaran Romawi. Begitu juga, Perang Riddah berakhir seiring dengan pengiriman pasukan Islam ke Iraq dan Syam.

Para komandan Abu Bakar pergi ke luar negeri dengan niat menyebarkan pesan-pesan Islam dan menyingkirkan para pemimpin tiran dan zalim dari singgasananya. Para pemimpin yang pemberani, seperti Khalid, Abu Ubaidah, Amr bin Ash, Syurahbil dan Yazid, dipilih dengan sangat teliti untuk menjalankan tugasnya. Abu Bakar sebagai seorang yang mempunyai pengalaman militer luar biasa memilih para komandannya berdasarkan kemampuan, talenta, dan terutama ketaatan mereka. Mereka kemudian mampu menaklukkan Iraq dan Syam dalam waktu yang sangat singkat.

c). Menegakkan Keadilan di Negeri Asing (Foreign Lands), dan Memperlakukan Rakyat yang Ditaklukkan dengan Murah Hati

Mudah untuk bicara kepada rakyat yang ditaklukkan dengan mengatakan kepada mereka bahwa penaklukkan tersebut demi kebaikan mereka sendiri: untuk membuat mereka lebih beradab, membawa demokrasi pada mereka, menguatkan mereka, membebaskan mereka dari belenggu tirani, dan lain-lain. Banyak penakluk mengatakan hal demikian kepada mereka yang ditaklukkan, padahal realitanya motif mereka sering kali hanya untuk kepentingan mereka sendiri tanpa peduli pada harga diri dan kesejahteraan rakyat yang mereka taklukkan.

Tapi Islam selalu berbeda. Benar bahwa Abu Bakar ingin memenangkan hati dan pikiran rakyat yang ia taklukkan (winning the hearts and minds) tapi ia berbeda dengan penakluk non-muslim lainnya, ia benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Abu Bakar tahu bahwa ia tidak bisa memenangkan hati rakyat asing dengan pedang.

Menaklukkan musuh hanya dengan pedang tidak akan menyelesaikan atau menghasilkan sesuatu. Dengan kata lain, Abu Bakar memahami fakta bahwa perencanaan pasca perang (post-war planning) sama pentingnya dengan perencanaan sebelum perang (pre-war planning). Pre-war planning meliputi mengalahkan musuh di medan tempur, sedangkan pos-war planning meliputi memenuhi kebutuhan dasar rakyat yang ia taklukkan, memberikan keamanan pada mereka dan menyebarkan keadilan di tengah mereka. Rakyat harus diyakinkan hingga mereka tidak berpikir bahwa satu tiran digantikan tiran lain yang lebih keras, kejam, dan jahat dibandingkan yang pertama.

Untuk itu, Abu Bakar memerintahkan kepada komandannya untuk berlemah lembut dan berkasih sayang kepada penduduk yang mereka taklukkan. Mereka yang tangannya telah ditaklukkan perlu diyakinkan dalam semua tindakan bahwa tanah mereka tidak akan dirampas, mereka tidak akan dicegah dari sarana kehidupan mereka, dan bahwa keluarga mereka akan tetap aman dari para penjahat. Para komandan Muslim, sebagaimana perintah Abu Bakar, melindungi infrastruktur-infrastruktur di tanah yang mereka taklukkan dan menghargai kesucian hidup di antara rakyatnya. Sebagai hasilnya, rakyat di Persia dan Syam mencintai umat Islam karena kemuliaan akhlak mereka, kemurahan hati mereka, kebaikan mereka, dan ketulusan hati mereka.

Melalui keagungan akhlak para penakluk Muslim, cahaya Islam masuk ke dalam hati orang-orang asing, sebagaimana saat dan sesudah Fathul Makkah, masyarakat masuk Islam secara berbondong-bondong. Sebagai hasilnya, mereka mendapat keamanan, keselamatan, kestabilan, kemakmuran, dan kesetaraan dengan saudara Muslim mereka di negeri Arab.

Bagi rakyat Persia dan Syam, perbedaan kehidupan yang mereka tahu sebelumnya dengan Islam adalah seperti perbedaan malam dan siang. Ketika pasukan Persia atau Romawi menginvasi sebuah wilayah, mereka menghancurkan segala yang mereka lalui.

Mereka melakukan mutilasi terhadap pasukan musuh, menghancurkan kehidupan orang-orang yang tidak berdosa, memunculkan kerusakan dalam segala hal yang mungkin, dan mendapatkan kutukan dan kebencian dari orang-orang yang mereka invasi selamanya.

Kengerian perang dan kebebesan yang direnggut oleh para pemenang hari itu sudah sangat diketahui oleh masyarakat pada abad itu, maka mereka punya alasan untuk terkejut dengan apa yang dibawa oleh penakluk Muslim, bukan kesengsaraan dan kerusakan, melainkan keadilan, perdamaian, kehormatan, dan kemakmuran.
Mereka telah menghilangkan segala bentuk tirani dan penindasan dari kehidupan orang-orang yang mereka taklukkan.

Abu Bakar menginginkan kesempurnaan dari para komandannya. Ia terus mengawasi mereka dan melarang mereka dari segala bentuk tirani. Dan ia segera mengoreksi kesalahan sekecil apa pun yang dilakukan oleh mereka. Al Baihaqi meriwayatkan bahwa ketika pasukan asing memperoleh kemenangan dalam sebuah perang, mereka menganggap bahwa melakukan kekejaman terhadap pasukan musuh adalah tindakan yang legal.

Misalnya, sudah menjadi kebiasaan bagi mereka untuk membawa penggalan kepala komandan musuh kepada raja mereka sebagai cara untuk mengumumkan kemenangan. Selama perang di Syam, dua komandan Islam, Amr bin Ash dan Syurahbil bin Hasanah membawa kepala Ban’an, salah satu pendeta tertinggi di Syam kepada Abu Bakar. Ketika utusan Amr bin Ash dan Syurahbil, yaitu Uqbah bin Amir, kembali dengan kepala Ban’an, Abu Bakar sangat marah.

Kemudian Uqbah berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah! Ini yang mereka lakukan terhadap kita.” Kemudian Abu Bakar menjawab, “Haruskah kita mengikuti cara-cara Persia dan Romawi! Jangan lagi membawa kepala kepadaku. Cukup kau kirimkan surat kepadaku atau menginformasikannya secara langsung (tentang kemenangan atau tentang kematian pemimpin musuh).”

d). Memberi Kebebasan Beragama Kepada Rakyat yang Ditaklukkan

Walaupun tujuan utama Abu Bakar adalah menyebarkan pesan Islam kepada rakyat asing, tapi tujuannya bukanlah memaksa orang untuk memeluk Islam. Faktanya, Abu Bakar tidak pernah memaksa bangsa atau kelompok manapun untuk masuk Islam, sebuah kebijakan yang diturunkan dari firman Allah, “Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS. Yunus: 99).

Tidak disangsikan lagi bahwa umat Islam ingin menghilangkan tirani dan memberikan kesempatan pada rakyat untuk melihat, mengapresiasi, dan merengkuh cahaya Islam. Ketika sebuah bangsa ditaklukkan dan rakyatnya didakwahi dengan pengajaran Islam mereka diizinkan untuk memilih apakah mereka mau masuk Islam ataukah tetap pada agama mereka.

Mereka diperbolehkan tetap pada agama mereka selama mereka mematuhi perjanjian mereka dengan umat Islam, yaitu:

1). Mereka membayar jizyah pada umat Islam. Jizyah ini dibayarkan oleh non-Muslim yang tinggal di negara Islam. Pilihan ini memberi hak pada non-Muslim untuk tetap mengikuti agama mereka dan juga menjamin mereka bahwa selama mereka tetap setia pada pemerintahan Islam, umat Islam akan berlaku adil pada mereka dan melindungi mereka dari seluruh musuh. Sebagaimana warga Muslim yang lain, mereka juga mendapatkan keamanan dan keselamatan, dan tidak ada seorang pun yang mempunyai hak untuk mencuri harta benda mereka atau merampasnya.

2). Ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa mereka ikuti; misalnya, karena loyalitas mereka kepada Islam masih diragukan mereka tidak diizinkan bergabung dengan militer Islam.

3). Mereka tidak boleh memberikan ancaman pada umat Islam dan agama mereka, dan mereka juga tidak diperbolehkan membentuk berbagai pergerakan yang bertujuan untuk menghancurkan, merusak, atau mendistorsi segala aspek tentang Islam.

4). Mereka diperbolehkan untuk tetap memeluk agama mereka, tapi jika mereka ingin pindah agama, mereka hanya boleh memeluk agama Islam. Islam mengakui bahwa keyakinan itu di dalam hati, yaitu bagian dari tubuh manusia yang kebal dari paksaan. Karena itu umat Islam tidak memaksa orang lain untuk memeluk Islam, tapi melalui perilaku dan perkataan, melalui dakwah dan perbuatan, mereka berusaha mempengaruhi non-Muslim dengan harapan bahwa mereka, atas keinginan sendiri, menerima dan memeluk Islam.


https://www.kiblat.net/2016/03/09/beginilah-briliannya-kebijakan-politik-luar-negeri-abu-bakar-ash-shiddiq/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s