Fathu Makkah (14) : Kunci Ka’bah Kembali Kepada Pemiliknya


Ahli sejarah dan tafsir menyebutkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika pembukaan kota Makkah mengambil kunci Ka’bah yang mulia dari tangan Ustman bin Thalhah, kemudian beliau masuk dan shalat 2 rakaat di dalamnya kemudian keluar sambil membaca perkataan Allah  Subhanahu wa Ta’ala:

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa’ : 58).

Imâm Thabrani Rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma  bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 ”Ambillah dia hai bani Thalhah, untuk selama-lamanya, tidaklah mengambilnya dari kamu kecuali orang zhalim.” (Dalam Mu’jam al-Kabir, No. 11234) Maksudnya adalah kepengurusan dan penjagaan pintu Ka’bah.

Dan Sahabat ini adalah Ustman Bin Thalhah bin Abi Thalhah Radhiallahu ‘Anhu dari Bani Abdiddar.

Utsman masuk Islam pada Perjanjian Hudaibiyah, hijrah bersama Khalid Bin Walid Radhiallahu ‘Anhu dan menghadiri Fathul Makkah bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kemudian Nabi mengambil kunci tersebut darinya. Hadits Shahîh dalam Bukhari dan Muslim.

Pembesar juru kunci Baitullah al-Haram, Syaikh Abdul Aziz Bin Abdillah Asy-Syayyi, dialah pembawa  kunci Ka’bah.

Anaknya Nizar Asy-Syayyi berkata: “Kita juga disebut Al-Hijabi, artinya yang menjaga rumah (Ka’bah). Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak agar Ka’bah yang mulia mempunyai pengurus atau penjaga, yaitu mereka yang diberi tanggung jawab dalam hal ini.

Juga hendaknya Ka’bah mempunyai kunci yang telah kami terima dari keluarga Syayyi. As-Sadanah mempunyai arti yang beragam dalam kamus bahasa Arab, seperti: Al-Amin (orang terpercaya),  Al-Khadim (pelayan), Al-Hajib (juru kunci, penjaga pintu), …dan seterusnya.”

Dan sadanah Ka’bah kembali kepada sejarah pembangunannya. Artinya menangani semua urusan mulai dari membuka, menutup, membersihkan, mencuci, memberinya kain kiswah (penutup ka’bah) dan memperbaiki kain ini apabila robek, menerima tamu-tamunya dan semua yang berkaitan dengan itu. Yang  telah menangani masalah sadanah ini adalah Ismail kemudian keturunannya, sampai masa Kushai bin Kilab.

Kemudian Kushai mengambil sadanah Ka’bah dari Khuza’ah yang telah menguasai sadanah dengan kekuatan untuk waktu yang tidak lama. Ia adalah sebuah kabilah yang hijrah dari Yaman setelah bobolnya tembok bendungan Ma’rib. Mereka menuju Makkah dan tinggal di Makkah.

Kushai mempunyai anak yang bernama Abduddar, Abdul Manaf, Abdul ‘Uzza, dan Abdu Kushai dan setelah wafatnya Kushai beralihlah sadanah  kepada Abdiddar dan anak-anaknya, sampai ada di antara mereka Utsman bin Thalhah bin Abi Thalhah dan anak pamannya Syaibah Bin Utsman bin Abi Thalhah.

Nasab sadanah Ka’bah yang mulia sekarang ini berakhir sampai sahabat Syaibah bin Utsman bin Abi Thalhah Radhiallahu ‘Anhu.

Ia telah masuk Islam pada Fathul Makkah. Ini menurut riwayat yang paling shahîh. Ia mempunyai keutamaan shuhbah (menemani Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ) dan periwayatan hadîts  dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Mereka adalah tempat penghormatan dan pemuliaan sebagaimana riwayat-riwayat yang menunjukkan  tentang hak-hak mereka. Mereka senantiasa dimuliakan dan dihormati oleh para penguasa muslim secara umum. Keberadaan mereka senantiasa menjadi bagian dari mukjizat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang memberitakan kepada ummatnya tentang hal itu dengan perkataan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

“Ambillah dia hai Bani Thalhah untuk selama-lamanya, tidaklah mengambilnnya (melepasnya) dari kamu kecuali orang-orang zhalim.”

Kisah perpindahan kunci Ka’bah diceritakan oleh Nizar Asy-Syayyi: “Sadanah beralih ke tangan kami sejak masa kakek kami (Kushai) dan berpindah di antara anak-anaknya Abdiddar yang dia mempunyai 5 anak laki-laki. Dia tidak keluar pada musim dingin dan musim panas, lalu saudara-saudaranya mencelanya karena hal itu. Ketika bapaknya (Kushai) mendengar celaan mereka ia berkata: “Demi Allah, aku akan memprioritaskan kamu daripada mereka.”

Lalu bapaknya tersebut memberinya hak memberi minum (para pengunjung) Ka’bah, kepengurusan sadanah, kepemimpinan dan musyawarah, pertolongan dan bendera perang. Ketika saudara-saudaranya datang mereka berkata kepadanya: “Sesungguhnya engkau telah mengambil semua kemuliaan dan engkau tidak meninggalkan sedikitpun untuk kami.” Lalu dia berkata: “Ambillah semuanya, kecuali sadanah (juru kunci ka’bah) dan riasah (kepemimpinan), yang mana dia adalah pemimpin Quraisy.”

Dan diperjelas lagi bahwa kunci tersebut tersimpan di dompet hijau tertulis di atasnya ayat yang mulia yang turun pada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada Fathul Makkah“Dan kembalikanlah amanat itu kepada yang berhak menerimanya.”

Sebab turunnnya adalah katika Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk Ka’bah setelah Fathul Makkah menuju Ka’bah, pamannya Abbas Radhiallahu ‘Anhu meminta darinya untuk menggabungkan  sadanah dan siqayah (pemberian minum para tamu Ka’bah).

Lalu turunlah ayat ini kepada Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  dan Beliau berada di dalam Ka’bah. Ayat ini menjadi penyebab dikembalikannya kunci kepada kakeknya Utsman bin Thalhah, dan beliau berkata kepadanya:

“Ambilah dia hai Bani Thalhah Khalidah Talidah, tidaklah seorang mengambilnya dari kamu kecuali orang yang zhalim.”

Kisah Juru Kunci Ka’bah

Nabi Muhammad bertawaf di Ka’bah setelah Kota Makkah berhasil dibebaskan. Sambil bertawaf, Nabi Muhammad menghancurkan patung-patung yang berdiri di sekeliling Ka’bah dengan tongkat atau panahnya. Saat itu, kira-kira ada 360 berhala dan patung yang ada di sekitar Ka’bah.

Ketika membabat berhala-berhala itu, Nabi Muhammad sambil menyerukan QS. al-Isra ayat 81 secara berulang-ulang. Seketika itu, berhala dan patung itu hancur berantakan. “Kebenaran telah datang dan kebatilan telah hancur. Sesungguhnya kebatilan akan musnah selamanya,” kata Nabi.

Hal itu kemudian diikuti oleh para sahabatnya. Selesai bertawaf, Nabi Muhammad melaksanakan shalat di Maqam Ibrahim. Dilanjutkan menuju ke sumur zam-zam dan meneguk airnya.

Pada saat itu, Utsman bin Thalhah adalah juru kunci Ka’bah. Dia lah yang memegang kunci Ka’bah. Nabi Muhammad kemudian memanggilnya untuk membuka Ka’bah. Namun beliau tidak langsung masuk ke Ka’bah karena di dalamnya masih banyak berhala dan gambar.

Beliau kemudian memerintahkan para sahabatnya untuk membawa keluar berhala dan menghapus gambar yang ada di dinding Ka’bah. Nabi Muhammad bersama Usamah, Bilal, dan Utsman bin Thalhah baru masuk ke dalam Ka’bah setelah tidak ada lagi berhala dan gambar di dalamnya.

Satu riwayat beliau shalat dua rakaat di dalam Ka’bah, sementara riwayat lain menyebut beliau tidak shalat. Merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad Dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), setelah keluar dari Ka’bah, Sayyidina Ali bin Abi Thalib meminta kepada Nabi Muhammad agar memberikan kunci Ka’bah kepadanya.

Riwayat lain menyebutkan bahwa Abbas bin Abdul Muthalib lah yang meminta kunci Ka’bah ketika Nabi Muhammad menerima kunci dari Sayyidina Ali di sumur zam-zam. Pada masa itu, Abbas adalah orang yang bertugas menyediakan air bagi pengunjung Ka’bah.

Dengan meminta kunci Ka’bah, ia berharap bisa menggabungkan pengurusan Ka’bah dengan tugasnya itu. Namun Nabi Muhammad menolak permintaan itu.

Beliau kemudian mencari Utsman bin Thalhah untuk menyerahkan kunci Ka’bah, sambil melantunkan Al-Qur’an Surat an-Nisa ayat 58 yang baru saja diterimanya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menunaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.”

Pada saat menyerahkan kunci Ka’bah kepada Utsman bin Thalhah, Nabi Muhammad berucap: “Ini kuncimu wahai Utsman. Hari ini adalah hari kebajikan dan kesetiaan, ambillah ini (wahai Utsman beserta keturunanmu) selama-lamanya sepanjang masa, tidak ada yang merebutnya dari kalian kecuali dzalim atau penganiyaya.”

Demikian sikap tegas Nabi Muhammad tentang siapa yang berhak menjaga kunci Ka’bah. Beliau tetap memberikan kepada pihak yang berhak, meski ada kerabat dekatnya sendiri yang meminta kunci Ka’bah itu. 

Di dalam buku Mekkah : Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim dijelaskan, dulu Suku Quraisy membagi tiga jabatan untuk memperbaiki pengelolaan kota Makkah.

  • Pertama, al-Siqayah. Posisi yang tugasnya menyiapkan air dan kebutuhan pokok lainnya untuk mereka yang berziarah ke Ka’bah.
  • Kedua, al-Rafadah. Mereka bertugas untuk menyediakan akomodasi dan konsumsi bagi para jamaah yang datang ke Ka’bah.
  • Ketiga, al-Sadanah. Jabatan ini bertanggung jawab untuk mempersiapkan dan menjaga kunci Ka’bah. Qusai bin Kilab adalah orang yang ditugaskan untuk mengisi posisis ini ketika itu. Qusai kemudian menyerahkan kunci Ka’bah kepada anak pertamanya, Abdu al-Dar. Lalu, Abdul al-Dar menyerahkan kunci Ka’bah kepada anak pertamanya. Dan begitu pun cucu-cucunya, selalu menyerahkan kunci Ka’bah kepada anak pertamanya. Pada zaman Rasulullah, yang bertugas merawat Ka’bah dan memegang kuncinya adalah Utsman bin Thalhah.

Utsman bin Thalhah lalu mewariskan kunci Ka’bah itu kepada saudaranya, Syaibah. Hingga hari ini, kunci Ka’bah dipegang oleh anak cucu keturunan dari Bani Syaibah.

Sampai hari ini, anak cucu keturunan dari Bani Syaibah bertanggung jawab untuk merawat Ka’bah, termasuk membuka dan menutupnya, membersihkan dan mencucinya, serta merawat Kiswah atau kelongsongnya.

***

selengkapnya dalam sumber : https://abuzahrahanifa.wordpress.com/2020/10/17/sejarah-kunci-kabah/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s