Kisah Ali bin Abu Thalib Menggantikan Rasulullah Dalam Penyergapan Kaum Qurays


Ali bin Abi Thalib adalah sosok yang sangat mencintai Nabi. Banyak sekali komitmen dan pengorbanan yang beliau berikan pada Nabi Muhammad, mulai dari keterlibatan dalam peperangan dan hal lainnya. Salah satu pengorbanan Ali adalah kesediaannya menggantikan Nabi dalam tidurnya, saat ada rencana pembunuhan Nabi pada malam tersebut.

Keresahan Elit Quraisy

Setelah beberapa masa berjalannya dakwah, para tetua Quraisy menyadari bahwa Nabi Muhammad telah memperoleh banyak pengikut dari berbagai suku di luar Mekkah. Terlebih setelah beberapa sahabat muhajirin keluar meninggalkan Mekkah, para pembesar Quraisy yakin bahwa kaum muslim telah menemukan sebuah ‘rumah’ yang menyelamatkan mereka dari tekanan Quraisy.

Kaum Quraisy akhirnya merasa khawatir bahwa Nabi akan hijrah ke Madinah, hingga menciptakan komunitas Muslim yang kuat dan menjadi ancaman bagi Quraisy. Akhirnya mereka melakukan pertemuan di sebuah balai yang disebut Darun Nadwah, sebuah bangunan yang didirikan oleh Qushay bin Kilab. Para tetua Quraisy selalu membuat sebuah keputusan besar di tempat tersebut.

Dalam balai inilah rencana pembunuhan Nabi dibuat oleh para petinggi Quraisy. Imam Thabari menyebutkan sebuah riwayat dari Ibn Abbas yang menyebutkan, “Tatkala para tetua Qurays berkumpul di Darun Nadwah untuk berunding mengenai dakwah Nabi Muhammad. Pada suatu pagi ketika mereka berunding, maka iblis menjumpai mereka dalam bentuk seorang lelaki, berdiri di depan pintu Darun Nadwah.”

Ketika tetua Quraisy bertanya siapa dirinya, Iblis menjawab, “Aku adalah orang tua dari Najd yang telah mendengar pertemuan kalian, aku datang untuk mendengarkan apa yang kalian katakan; barangkali kalian butuh penilaian dan saran”. Maka mereka menyambutnya dan bergabung dalam pertemuan.

Thabari menyebutkan bahwa orang tua dari Najd tersebut selalu memberikan saran dan sudut pandangnya setiap kali mereka mengeluarkan pendapat.

Dalam pertemuan tersebut berkumpullah seluruh tokoh Quraisy, dari semua keluarga.

Di antaranya dari Bani Abdu Syans, diwakili oleh Syaibah dan Utbah bin Rabiah, dan Abu Sufyan. Dari Bani Naufal bin Abdi Manaf, diwakili Tuaimah bin Adi, Jubair bin Mutim, dan al Harits bin Amir. Dari Bani Abdi Dar bin al Qushay, diwakili oleh an-Nadr bin al Harits. Dari Bani Asad bin Abdul Uzza, diwakili oleh Abul Bakhtari bin Hisyam, Zamaah bin al Aswad bin Muthallib dan Hakim bin Hizam.

Dari Bani Makhzum, diwakili oleh Abu Jahl bin Hisyam. Dari Bani Sahm, diwakili oleh Nubaih dan Munabbih keduanya putra al Hajjaj. Dari Bani Jumah diwakili oleh Umayyah bin Khalaf.

Imam Thabari juga menyebutkan pertemuan tersebut dihadiri beberapa orang baik dari atau selain Quraisy. Rencana Pembunuhan Nabi Singkat cerita, Abu Jahal bin Hisyam menawarkan sebuah siasat, “Aku berpikir kita harus mengambil dari setiap keluarga (klan) seorang pemuda yang kuat, sehat dan terpandang. Kemudian kita berikan kepada setiap mereka sebuah pedang yang tajam, dan menyerang Muhammad bersama-sama hingga terbunuh”.

Abu Jahal berharap dengan cara tersebut, maka yang bertanggung jawab terhadap pembunuhan Nabi adalah seluruh keluarga di Quraisy. Bani Abdi Manaf yang selama ini menjadi pelindung Muhammad tidak akan mampu menyatakan perang terhadap seluruh keluarga tersebut. Darah Nabi akan ditukar dengan sejumlah uang yang akan ditanggung oleh seluruh keluarga. Maka si iblis yang dari tadi menolak berbagai usulan pun berkata, “Apa yang dikatakan oleh orang ini (Abu Jahl) adalah benar. Ini adalah keputusan yang benar, kalian tidak punya pilihan lain.”

Akhirnya mereka pun bersepakat dengan siasat Abu Jahal dengan rencana pembunuhan Nabi. Pengorbanan Ali bin Abi Thalib Maka singkat cerita, Jibril pun memberitahu Nabi akan rencana pembunuhan Quraisy, ”Janganlah engkau pada malam ini tidur di tempat yang biasa engkau gunakan”.

Ketika sepertiga malam yang pertama telah berlalu, para pemuda yang dipimpin oleh Abu Jahl bin Hisyam berkumpul di depan pintu rumah Nabi. Mereka menunggu Nabi pergi tidur untuk menyerang. Ketika Nabi melihat mereka maka Nabi pun berkata kepada Ali, “Tidurlah di tempat tidurku dan selimuti dirimu dengan jubah Hadrami hijau milikku, mereka tidak akan mencelakaimu.”

Singkat cerita dengan izin Allah, Nabi berhasil keluar rumah, tanpa diketahui oleh para pengepung padahal mereka berjaga di depan pintu. Pengorbanan Ali diuji pada waktu itu dengan segala potensi bahayanya. Para pengepung yang tidak mengetahui bahwa Nabi telah melewati mereka, tetap menunggu hingga pagi hari untuk mengeksekusi rencana pembunuhan Nabi. Karena dalam jubah tidur tersebut, mereka melihat masih terdapat sesosok tubuh tertidur. Ketika Ali bangun dari tempat tidur, mereka sontak kaget.

Imam Thabari menyebutkan bahwa ketika baru bangun, Ali bin Abi Thalib ditanyai oleh para pengepung yang bertanya kepadanya, “Di mana temanmu?” Ali menjawab, “Aku tidak tahu, kamu pikir aku akan selalu memperhatikannya! Kalian mengatakan padanya untuk pergi (mengusir Nabi), maka tentulah dia pergi”.

Maka mereka pun memarahi dan memukul Ali kecil. Kemudian Ali dibawa dan dikurung sebentar, hingga akhirnya dilepaskan. Hal ini menunjukkan bentuk pengorbanan Ali akan kemungkinan hilang nyawanya tertukar oleh Nabi, namun Ali melakukan dengan sukarela. Betapa besar cinta Ali terhadap Nabi hingga bersedia melakukannya.

***

Sumber : https://ibtimes.id/ali-bin-abi-thalib-4-rencana-pembunuhan-nabi-dan-pengorbanan-ali/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s