Antara Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu & Harta (3)

Tipe Pejabat pilihan Umar, bukan dilihat dari kekayaannya

Umar radhiyallahu ‘anhu adalah sosok yang memiliki pandangan yang benar terhadap harta. Harta bukanlah menjadi patokan seseorang itu baik atau tidak, bertakwa atau tidak dan layak menjadi pemimpin atau tidak.

Oleh karena itu, sebagai kepala negara, dalam memilih para pejabat yang menjadi bawahannya beliau tidak menetapkan kekayaan sebagai kriteria dasar bagi kelayakan seseorang sebagai pemimpin kaum muslimin. Walaupun seseorang itu berasal dari kalangan budak, beliau akan memilihnya menjadi pemimpin jika syarat-syarat kepemimpinan terpenuhi. Baca lebih lanjut

Antara Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu & Harta (2)

Membicarakan pribadi beliau dan kehidupannya adalah suatu hal yang tidak bisa dituangkan dalam satu buku saja, apalagi hanya dalam artikel yang singkat ini.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اقتدوا باللذين من بعدي من أصحابي أبي بكر وعمر

“Ikutilah orang-orang yang sesudahku dari para sahabatku,yaitu: Abu Bakar dan Umar (Disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’). Baca lebih lanjut

Antara Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu & Harta (1)

Jika Anda ingin tahu siapakah sosok figur yang memiliki ciri khas berikut ini :

  • Orang terbaik kedua di kalangan Umat para Nabi dan para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam
  • Termasuk orang yang mendapatkan pujian di dalam Al-Quran dan As-Sunnah
  • Termasuk salah satu dari Khulafa’ur Rasyidin radhiyallahu ‘anhum
  • Termasuk salah satu dari sepuluh orang yang dikabarkan masuk Surga
  • Termasuk orang yang mendapatkan keistimewaan berupa perintah Allah pada umat Islam untuk mengikutinya.

Tahukah Anda siapakah sosok figur yang memiliki ciri khas di atas? Tidak lain dan tidak bukan beliau adalah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, sosok panutan yang memiliki sekian banyak keistimewaan yang lainnya, selain yang sudah disebutkan di atas. Baca lebih lanjut

Regulasi Umar bin Khattab Dalam Melindungi Pasar

“Semakin jauhnya manusia dari zaman keemasan Islam, kesadaran masyarakat dalam mengilmui perdagangan menurut sudut pandang Islam ini, semakin berkurang. Akibatnya, masalah halal haram ini menjadi perkara yang teracuhkan atau tidak dianggap penting. Orang-orang banyak termakan prinsip kapitalis mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, tanpa mempertimbangkan aturan atau norma agama”.

Masalah halal haram ini menjadi sangat penting. Karena berkaitan erat dengan kesejahteraan masyarakat suatu negara, bahkan keberkahan ekonomi suatu negara. Bayangkan saja, sesuap nasi haram yang masuk ke perut kita, akan menjadi penyebab tidak terkabulnya doa. Baca lebih lanjut

Kebijakan Khalifah Umar bin Khattab Dalam Berbagai Bidang Kehidupan

Pada masa pemerintahannya, Khalifah Umar bin Khaththab banyak melakukan kebijakan-kebijakan baru terkait berbagai bidang kehidupan. Ada pembagian administratif wilayah daulah Islam, lembaga-lembaga negara, jawatan pajak, jawatan pengadilan, lembaga konsultasi hukum, jawatan militer, perbendaharaan negara, pembangunan kota-kota, masjid, dan madrasah-madrasah, jawatan keagamaan dan wakaf, hingga undang-undang pengaturan non muslim dan pembebasan tradisi perbudakan.

Kebijakan Pendidikan dan Pengajaran

Pada masa pemerintahannya, Umar menerapkan kebijakan untuk mengajarkan dan menyebarkan Al-Qur’an ke seluruh pelosok negeri. Umar mendirikan madrasah-madrasah tempat belajar Al-Qur’an, hadits, fiqih, dan ilmu-ilmu agama lainnya. Di madrasah-madrasah tersebut para siswa diharuskan menghafal sedikitnya lima surat Al-Qur’an, yaitu Al-Baqarah, An-Nisa, Al-Hajj, An-Nur, dan Al-Maidah. Baca lebih lanjut

Futuhat Islamiyah Di Zaman Umar bin Khattab (9) : Penaklukan Mesir

Sekilas tentang Mesir

Di bumi Mesir pernah tumbuh beberapa peradaban besar. Sejak 5.000 tahun sebelum Masehi di sana telah berdiri imperium dan peradaban Pharaonic, berlangsung sekitar 4.000 tahun; ditandai dengan berbagai peninggalan bangunan, kuil-kuil, universitas, istana, piramida, hingga artefak-artefak. Bangsa Mesir jauh lebih dulu mengenal ilmu pengetahuan dan sistem tata negara daripada bangsa Persia dan Yunani.

Pada awal abad ke 3 Masehi, Alexander Agung dari Macedonia berhasil menaklukan Mesir sehingga Mesir menjadi bagian Yunani. Bahkan Alexander membangun ibu kota imperiumnya di Alexandria (Iskandariyah), yaitu di tepi pantai utara Mesir. Baca lebih lanjut

Futuhat Islamiyah Di Zaman Umar bin Khattab (8) : Penaklukan Isfahan hingga Azerbaijan & Armenia

Menaklukkan Isfahan

Setelah berhasil menaklukkan Nahawand, di Madinah Umar bermusyawarah dengan para sahabat senior, juga meminta pendapat Hormuzan, panglima Persia yang kini memeluk Islam.

“Bagaimana pendapatmu, apakah aku memulai penaklukkan berikutnya dengan Persia, Azerbaijan, ataukah dengan Isfahan?” tanya Umar kepada Hormuzan.

“Persia dan Azerbaijan adalah sayap, sementara Isfahan adalah kepala. Jika satu sayap dipatahkan maka sayap lainnya masih tetap bisa berfungsi. Tetapi jika kepalanya dipatahkan maka kedua sayap itu akan terpatahkan. Maka mulailah dengan kepala,” jawab Hormuzan. Baca lebih lanjut

Futuhat Islamiyah Di Zaman Umar bin Khattab (7) : Penaklukan Kota Kota Besar Kekaisaran Persia

Penaklukkan Sussa dan Jundai Saphur

Sisa pasukan Persia yang selamat dari pertempuran Tustar melarikan diri ke Sussa dan Jundai Saphur. Mereka dikejar oleh pasukan Islam di bawah komando Nu’man ibn Muqarrin, Abu Musa Al-Asy’ari, dan Abu Sabrah. Sussa tidak jauh dari Tustar. Setibanya di sana, pasukan Islam tidak mendapatkan perlawanan dari Persia. Penduduk kota memilih berdamai.

Khalifah Umar dari Madinah menginstruksikan agar pasukan Islam bergerak ke Jundai Saphur.[1] Zarruh ibn Abdillah dan Aswad ibn Rabi’ah memimpin pergerakan ini. Jundai Saphur pun dapat ditaklukkan dengan mudah. Para penduduk kota disana lebih memilih berdamai.[2] Baca lebih lanjut

Futuhat Islamiyah Di Zaman Umar bin Khattab (6) : Perang Jalula & Penaklukan Ahwaz

Pertempuran Jalula

Sisa-sisa pasukan Persia yang ikut bersama Yazerdgerd III telah tiba di Jalula, sebuah kota perbukitan di sebelah utara Iran. Yazerdgerd lalu menghimpun orang-orang Persia untuk menghadapi pasukan Islam. Ia menunjuk Mehran sebagai panglima, sementara itu ia melanjutkan perjalanan menuju Hulwan di sebelah timur Jalula.

Kabar persiapan pasukan Persia ini terdengar oleh Sa’ad bin Abi Waqqash. Ia lalu melaporkannya kepada Umar di Madinah. Umar memerintahkan Sa’ad untuk mempersiapkan pasukan dan bergerak ke Jalula. Sa’ad menunjuk Hasyim bin Utbah bersama Qa’qa ibn Amr untuk mengepalai pasukan. Mereka bergerak ke Jalula dan mengepungnya. Saat itu Persia rupanya telah menggali parit-parit yang lebar dan dalam. Hasyim bin Utbah meminta balabantuan dari Ctesiphon, sementara Persia mendatangkan bantuan dari Hulwan. Pengepungan berlangsung lama: 2 bulan! Baca lebih lanjut

Futuhat Islamiyah Di Zaman Umar bin Khattab (5) : Penaklukan Ibu Kota Babilonia

Menaklukkan Babil dan Ctesiphon (Mada’in)

Umar memerintahkan pasukan Islam yang telah memenangkan pertempuran di Qasisiyah untuk mengejar sisa-sia pasukan Persia yang melarikan diri ke arah timur; sebagian mereka bertahan di kota kecil Babil, dan sebagian lainnya lari hingga ke Ctesiphon (Mada’in), ibu kota kekaisaran Persia di seberang sungai Tigris.

Sa’ad bin Abi Waqqash bergerak ke Babil[1]. Disana pasukan Persia telah membuat parit-parit pertahanan untuk menghadapi pasukan Islam. Sa’ad kemudian mengatur siasat perang. Ia memerintahkan pasukan untuk menggali saluran air dari sungai Eufrat yang diarahkan ke parit tempat bertahannya pasukan Persia. Baca lebih lanjut