Bagaimana Allah Menyiksa Manusia Sedang Itu Sudah Ditentukan Allah ?

Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.

Pertanyaan :

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin ditanya : “Ada polemik yang dirasakan sebagian manusia, yaitu bagaimana Allah akan menyiksa karena ma’siyat, padahal telah Dia takdirkan hal itu atas manusia ?. Baca lebih lanjut

Jika Perbuatan Orang Kafir Telah Ditulis, Mengapa Dia Disiksa ?

Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.

Pertanyaan :

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin ditanya : Apakah perbuatan orang-orang kafir telah tertulis di Lauh Mahfudz ? Apabila benar, maka bagaimana Allah menyiksa mereka ..?”.

Jawaban : Baca lebih lanjut

Kesaksian Yang Benar Dari Kalangan Non Muslim Terhadap Qadha & Qadar

Oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd.

Keimanan kaum muslimin kepada qadha’ dan qadar telah mencengangkan banyak kalangan non muslim, lalu mereka menulis tentang perkara ini untuk mengungkapkan ketercengangan mereka dan mencatatkan kesaksian mereka tentang kekuatan tekad kaum muslimin, kebesaran jiwa mereka, dan penyambutan mereka yang baik terhadap berbagai kesulitan hidup.

Ini adalah kesaksian yang benar dari kaum yang tidak beriman kepada Allah serta kepada qadha’ dan qadar-Nya. Baca lebih lanjut

Buah Keimanan Kepada Qadha’ & Qadar

Oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd.

Iman kepada qadha’ dan qadar [1] menghasilkan buah yang besar, akhlak yang indah, dan ibadah yang beraneka ragam, yang pengaruhnya kembali kepada individu dan komunitas masyarakat, baik di dunia maupun di akhirat. Di antara buah-buah tersebut ialah sebagai berikut:

1). Menunaikan Peribadatan Kepada Allah Azza wa Jalla.

Iman kepada qadar merupakan salah satu peribadatan kita kepada Allah, sedangkan kesempurnaan makhluk itu adalah terletak pada realisasi peribadatannya kepada Rabb-nya. Setiap kali bertambah realisasi peribadatannya, maka bertambah pula kesempurnaannya dan derajatnya menjadi tinggi, sehingga segala sesuatu yang menimpanya dari perkara yang tidak disukainya pun menjadi kebaikan baginya. Dan dari keimanan tersebut, menghasilkan baginya berbagai peribadatan yang sangat banyak, yang sebagian di antaranya akan disebutkan. Baca lebih lanjut

Kapan Dibolehkan Berdalih Dengan Qadar ?

Oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd.

Diizinkan berdalih dengan qadar pada saat musibah menimpa manusia, seperti kefakiran, sakit, kematian kerabat, matinya tanaman, kerugian harta, pembunuhan yang tidak disengaja, dan sejenisnya, karena hal ini merupakan kesempurnaan ridha kepada Allah sebagai Rabb. Maka berdalih dengan takdir hanyalah terhadap musibah, bukan pada perbuatan aib. Baca lebih lanjut

Apakah Melakukan Sebab Sebab Dapat Menafikan Keimanan Kepada Qadha’ & Qadar ?

Oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd.

Melakukan sebab-sebab itu tidak menafikan iman kepada qadar, bahkan melakukannya merupakan kesempurnaan iman kepada qadha’ dan qadar.

“Karena itu, hamba berkewajiban -disamping beriman kepada qadar- untuk bersungguh-sungguh dalam pekerjaan, menempuh faktor-faktor kesuksesan, dan bersandar kepada Allah Subhanahuwa Ta’ala agar memudahkan baginya sebab-sebab kebahagiaan, serta menolongnya atas hal itu.” [1]. Baca lebih lanjut

Takdir Allah Tidak Kejam

Pembaca yang budiman, iman kepada takdir merupakan salah satu rukun iman yang enam. Barangsiapa tidak mengimaninya sungguh dia telah terjerumus dalam kekafiran meskipun dia mengimani rukun-rukun iman yang lainnya. Walhamdulillah banyak diantara kaum muslimin yang telah mengenal takdir, akan tetapi amat disayangkan ternyata masih terdapat berbagai fenomena yang justru menodai bahkan bertentangan dengan keimanan kepada takdir.

Barangkali masih tersimpan dalam ingatan kita tatkala seorang artis mempopulerkan lagu ‘Takdir memang kejam’ yang sangat digemari oleh sebagian masyarakat negeri ini beberapa waktu lampau, yang menunjukkan betapa mudahnya masyarakat kita menerima sesuatu yang menurut mereka bagus namun pada hakikatnya justeru merusak akidah mereka. Karena itulah setiap muslim wajib membekali dirinya dengan pemahaman takdir yang benar sebagaimana yang diajarkan oleh Allah dan Rosul-Nya. Baca lebih lanjut

Melegalkan Maksiat Dengan Alasan Takdir

Segala puji hanya milik Allah. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikutinya dengan baik hingga hari kiamat. Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, seringkali kita menemukan sebagian orang melegalkan kemaksiatan dengan alasan perbuatan tersebut sudah ditakdirkan oleh Allah Ta’ala. Benarkah keyakinan seperti ini?

Dengan memohon pertolongan Allah, tulisan ringkas ini akan memaparkan hukum orang yang menjadikan takdir sebagai alasan untuk melegalkan maksiat. Baca lebih lanjut

Takdir Bukan Alasan Untuk Berbuat Maksiat

Kita tidak boleh menjadikan qadha dan qadar Allah sebagai alasan untuk berbuat maksiat dan meninggalkan perintah-Nya. Allah menciptakan manusia dan perbuatannya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

“Padahal Allah lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.”(Qs. Ash Shaaffat: 96). Baca lebih lanjut

Takdir & Perbuatan Seorang Hamba

Pertanyaan :

Diantara aqidah ahlus sunnah wal jama’ah adalah:

ما شاء اللهُ كان وما لم يشأ لم يكن

“Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, yang tidak Ia kehendaki tidak terjadi”.

Namun dalam diriku terdapat sebuah syubhat, yaitu perbuatan hamba itu ada karena kehendak Allah (dengan mengenyampingkan dahulu perihal kehendak hamba). Jika seorang hamba berbuat maksiat, sebetulnya maksiat yang ia lakukan itu atas kehendak Allah.

Sehingga sebetulnya kehendak hamba tidak punya peran diantara kehendak Allah dan perbuatan si hamba. Maksudnya, kehendak si hamba itu, ada-atau-tidaknya tidak berpengaruh karena sesuatunya atas kehendak Allah. Jika Allah berkehendak sesuatu terjadi, maka si hamba akan berkehendak demikian lalu terjadilah. Jika Allah tidak berkehendak, maka si hamba tidak akan berkehendak juga dan lalu tidak terjadi.

Pertanyaan saya, apakah ini artinya hamba itu dipaksa oleh takdir untuk melakukan kebaikan ataupun keburukan? Jika jawabannya ya, lalu mengapa maksiat itu mendapat hukuman?

Mohon penjelasan dari anda, semoga Allah membalas anda dengan kebaikan. Permasalahan ini membuat saya bingung.

Baca lebih lanjut