Kebijakan Khalifah Umar bin Khattab Dalam Berbagai Bidang Kehidupan

Pada masa pemerintahannya, Khalifah Umar bin Khaththab banyak melakukan kebijakan-kebijakan baru terkait berbagai bidang kehidupan. Ada pembagian administratif wilayah daulah Islam, lembaga-lembaga negara, jawatan pajak, jawatan pengadilan, lembaga konsultasi hukum, jawatan militer, perbendaharaan negara, pembangunan kota-kota, masjid, dan madrasah-madrasah, jawatan keagamaan dan wakaf, hingga undang-undang pengaturan non muslim dan pembebasan tradisi perbudakan.

Kebijakan Pendidikan dan Pengajaran

Pada masa pemerintahannya, Umar menerapkan kebijakan untuk mengajarkan dan menyebarkan Al-Qur’an ke seluruh pelosok negeri. Umar mendirikan madrasah-madrasah tempat belajar Al-Qur’an, hadits, fiqih, dan ilmu-ilmu agama lainnya. Di madrasah-madrasah tersebut para siswa diharuskan menghafal sedikitnya lima surat Al-Qur’an, yaitu Al-Baqarah, An-Nisa, Al-Hajj, An-Nur, dan Al-Maidah. Baca lebih lanjut

Tafsir Surat Al Imran ayat 188 : Jangan Mudah Percaya Dengan Orang Kafir !

Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” (QS. Ali Imran[3]: 118). Baca lebih lanjut

Hukum Memuji Non Muslim atau Orang Kafir

Bagaimanakah hukum memuji non muslim atau orang kafir? Bagaimana juga jika sampai memuji agama atau kekafiran mereka?

Dalam Al Qur’an, kita tidak diperbolehkan menjadikan non muslim sebagai pemimpin kita atau menjadikan mereka sebagai awliya’. Namun maksud awliya’ juga adalah menjadikan sebagai kekasih, orang yang dicintai, dan teman dekat, seperti itu tidak dibolehkan. Allah Ta’ala berfirman, Baca lebih lanjut

Ibnu Taimiyah Membolehkan Pemimpin Kafir ?

Assalamu’alaikum warrah matullohi wabarakatuh.

Ustadz ana ingin bertanya : Pagi ini ana membaca disalah satu berita online tentang pernytaan dari salah satu kyai pemimpin organisasi islam yang ada di Indonesia, dia menukil dari perkataan Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Siyasah Syar’iyah untuk mendukung pendapatnya ketika ditanya tentang memilih pemimpin dalam pilkada dan perkataan Ibnu Taimiyah yang dikutipnya adalah : “Kalau orang yang adil meski non muslim yang memimpin maka orang islam itu pasti mendapatkan keadilan pula. Sebaliknya, jika ada pemimpin beragama islam yang dzolim, maka orang islam sekalipun akan di dzolimi”. Baca lebih lanjut

Walau Kau Katakan Non Muslim itu Jujur dan Amanat…

Walau kau katakan bahwa non muslim tersebut lebih baik, lebih amanat, lebih jujur, lebih bersih, lebih adil, dan menyebutkan rentetan kebaikan lainnya, namun Allah tetap mengatakan bahwa mereka adalah sejelek-jeleknya makhluk. Disebutkan dalam surat Al Bayyinah, non muslim itu syarrul bariyyah (sejelek-jeleknya makhluk).

Allah Ta’ala berfirman, Baca lebih lanjut

Menjawab Beberapa Syubhat Bolehnya Memilih Pemimpin Dari Orang Kafir

Menjawab beberapa syubhat dari orang yang membolehkan memilih pemimpin dari orang kafir sangatlah mudah, bisa dirangkum dalam beberapa poin berikut ini :

Jawabannya sangat mudah, bisa dirangkum dalam poin-poin berikut ini :

Pertama :

Para ulama sudah ijma’ (sepakat) dalam masalah haramnya mengambil pemimpin kafir, sebagaimana dinukil oleh Imam Nawawi dan para ulama lainnya –rohimahumulloh-. Baca lebih lanjut

Hukum Coblos Dalam Pemilu (4) : Kesimpulan Hukum Turut Serta Dalam Pemilu

Setelah kita memahami bagaimanakah para ulama menilai mengenai hukum menyoblos dalam Pemilu, saat ini kami beralih kepada kesimpulan dari pembahasan ini. Namun sebelumnya kami akan tegaskan terlebih dahulu bahwa Pemilu lewat sistem Demokrasi berdasarkan suara terbanyak itulah yang diambil, sistem pemilihan pemimpin seperti ini bukan berasal dari ajaran Islam. Sebelum melangkah ke kesimpulan, kita akan melihat terlebih dahulu bagaimana Islam menilai demokrasi dan cara memilih pemimpin. Baca lebih lanjut

Hukum Coblos Dalam Pemilu (3) : Pertimbangan Maslahat yang Membolehkan Turut Serta Dalam Pemilu

Saat ini kita akan melihat pendapat lainnya mengenai hukum contreng/ coblos atau memberikan suara dalam pemilu. Ternyata tidak sedikit dari para ulama yang membolehkannya jika ikut nyoblos. Namun mereka berpendapat demikian karena memandang maslahat dan memberikan syarat-syarat yang mesti diperhatikan.

Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi dan Al Lajnah Ad Daimah (komisi fatwa di Saudi Arabia). Fatwa terakhir dari Syaikh Sholeh Al Munajjid akan lebih memperjelas masalah ini. Baca lebih lanjut

Partisipasi Dalam Pemilu

  1. Ulama Lajnah Daaimah

Pertanyaan:

كما تعلمون عندنا في الجزائر ما يسمى بـ: (الانتخابات التشريعية)، هناك أحزاب تدعو إلى الحكم الإسلامي، وهناك أخرى لا تريد الحكم الإسلامي. فما حكم الناخب على غير الحكم الإسلامي مع أنه يصلي؟

Sebagaimana yang Anda ketahui bahwa di tempat kami, negeri Aljazaair, terdapat Pemilu yang bernama Pemilu Legislatif. Ada beberapa partai yang mengkampanyekan hukum Islam, dan ada pula partai lain yang tidak menginginkan hukum Islam. Apa hukumnya orang memberikan suara terhadap (pihak yang mengkampanyekan) selain hukum Islam meskipun ia melakukan shalat?”.
Baca lebih lanjut

Pemilu, Satu Pilihan yang Ekstra Sulit

Beberapa waktu lalu (dan juga sampai sekarang), bahasan partisipasi kaum muslimin dalam Pemilu sempat menghangat. Menghangat karena memunculkan satu hal yang dianggap ‘baru’ – walau sebenarnya tidak baru – yang ‘dianggap’ berlawanan dengan mayoritas sikap kaum muslimin (salafiyyun) tanah air yang memutuskan untuk tidak turut berpartisipasi dalam Pemilu. Dimunculkanlah beberapa fatwa yang kurang ‘populer’ dari para ulama Ahlus-Sunnah. Baca lebih lanjut