Khalifah Ali bin Abu Thalib (18) : Peristiwa Perang Shiffin

Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib telah menetapkan putusan. Ia akan menyerang penduduk Syam. Ia lazimkan penduduk Syam untuk baiat dan tunduk. Al-Hasan bin Ali berkata, “Ayah, jangan lakukan ini. Karena hal ini mengakibatkan pertumpahan darah di tengah kaum muslimin. Dan membuat jurang perselisihan di antara mereka.” Namun Ali tidak menerima saran putranya. Ia sudah membulatkan tekad untuk menyerang Syam yang tidak tunduk (ath-Thabari: Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk, 5/217).

Ini adalah nasihat kedua yang dilontarkan al-Hasan kepada ayahnya. Sebelumnya ia menasihati ayahnya agar tak menggerakkan pasukan menuju Bashrah. Agar tidak terjadi perang saudara. Namun Ali tetap melakukan apa yang ia pikirkan. Terjadilah Perang Jamal.

Baca lebih lanjut

Khalifah Ali bin Abu Thalib (17) : Negosiasi Perdamaian Dalam Perang Shiffin

Malik al-Asytar dan Persiapan Awal Perang Shiffin

Dengan kedatangannya di Kufah, Khalifah Ali bertekad untuk melakukan persiapan militer melawan Syam yang akan menjadi Perang Shiffin. Abdullah bin Abbas yang ditunjuk sebagai Gubernur Baru untuk Syam, juga meninggalkan Basrah dengan pasukannya. Mendengar ini, Ali berangkat, dan menunjuk Nukhailah Abu Mas’ud Ansari menggantikannya di Kufah. Abdullah bin Abbas bergabung dengan Ali di sana.

Baca lebih lanjut

Khalifah Ali bin Abu Thalib (16) : Amru bin Ash & Persiapannya Dalam Perang Shiffin

Amr bin Ash adalah komandan yang membuka pintu umat muslim pada penaklukkan Mesir dulu. Ketika para perusuh dan pembunuh Utsman mengepung rumah Khalifah Ali, Amr bin Ash memutuskan untuk meninggalkan Madinah. Dia berangkat bersama kedua putranya, Abdullah dan Muhammad untuk kemudian menetap di Bait Al-Maqdis (Yerusalem). Amr akan pergi ke Damaskus untuk menemui Muawiyah bin Abi Sufyan setelah beberapa hal.

Dari Yerusalem, Amr bin Ash tetap memantau perkembangan terkait peristiwa di Madinah. Ketika sampai padanya informasi akan terjadinya Perang Jamal, dia konsultasi dengan putra-putranya tentang usahanya agar mendapatkan peran sebagai seorang pendamai.

Baca lebih lanjut

Khalifah Ali bin Abu Thalib (15) : Upaya Meredam Strategi Politik Gubernur Muawiyah

Setelah kondisi Perang Jamal sedikit mereda, sesungguhnya drama yang dihadapi Khalifah Ali masih sangat panjang. Justru Ali akan menghadapi sebuah tantangan dalam pergolakan kekuatan politiknya dengan sangat kencang, menghadapi Muawiyah.

Dengan berpindahnya Khalifah Ali ke Kufah, Muawiyah merencanakan upaya untuk mengambil kekuasaan Ali.

Baca lebih lanjut