Hikmah Perjanjian Hudaibiyah

Perjanjian Hudaibiyah yang lahiriahnya tampak merugikan pihak kaum muslimin, akhirnya terbukti menjadi pintu kemenangan yang besar. Banyak hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa ini.

Setelah perjanjian tersebut disepakati, para sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, (haruskah) kami setujui hal ini?”.

Beliau pun bersabda :

Baca lebih lanjut

Isi Perjanjian Damai Hudaibiyah

Sejarah Perjanjian Hudaibiyah adalah gambaran perjanjian yang mengutamakan perdamaian. Perjanjian Hudaibiyah ialah perjanjian yang dilaksanakan di Hudaibiyah Mekkah pada Maret, 628 M atau Dzulqa’dah 6 H antara kaum Qurais dengan kaum Muslimin Madinah. Hudaibiyah berada pada 22 Km arah barat dari Mekkah menuju Jeddah, sekarang terdapat Masjid Ar-Ridhwan.

Hudaibiyah memiliki nama lain Asy-Syumaisi yang diambil dari nama Asy-Syumaisi yang menggali sumur di Hudaibiyah.

Baca lebih lanjut

Kisah Kesepakatan Damai Perjanjian Hudaibiyah

Sebelumnya kaum Quraisy telah mengutus beberapa utusan untuk melakukan perundingan dengan kaum Muslimin. Dari Budail bin Warqa’, kemudian Urwah bin Masud Atssaqafi, Mikraz bin Hafs hingga utusan terakhir yang bernama Suhail bin Amru.

Orang-orang Quraisy pun telah berpesan kepada Suhail bin Amru, ”Datangilah Muhammad dan buatlah penjanjian damai dengannya dan tidak akan terjadi perdamaian kecuali ia harus kembali tahun ini (tidak jadi melakukan umrah-red). Maka demi Allâh ! Jangan sampai orang-orang arab berbicara tentang kami bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki Makkah dengan paksa”.

Baca lebih lanjut

Sikap Sahabat Terhadap Perjanjian Hudaibiyah

Kebanyakan shahabat tidak senang dengan sebagian besar isi perjanjian, di antara yang menunjukkan hal ini yaitu penolakan Ali Radhyiallahu anhu ketika diminta menghapus kalimat “Rasûlullâh” yang di tolak oleh Suhail bin Amr, utusan kaum Quraisy.

Kemudian pada akhirnya, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menghapusnya dan menggantinya dengan Muhammad bin Abdillah, sebagai ganti dari Muhammad Rasûlullâh [1].

Baca lebih lanjut

Tafsir Surat Al Fath Ayat 24

Quran Surat Al-Fath Ayat 24 :

وَهُوَ ٱلَّذِى كَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ عَنْهُم بِبَطْنِ مَكَّةَ مِنۢ بَعْدِ أَنْ أَظْفَرَكُمْ عَلَيْهِمْ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا

Arab-Latin : “Wa huwallażī kaffa aidiyahum ‘angkum wa aidiyakum ‘an-hum bibaṭni makkata mim ba’di an aẓfarakum ‘alaihim, wa kānallāhu bimā ta’malụna baṣīrā

Terjemah Arti: “Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Mekah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka, dan adalah Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan“.

Baca lebih lanjut

Tafsir Surat Al Mumtahanah Ayat 10

Quran Surat Al-Mumtahanah Ayat 10 :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا جَآءَكُمُ ٱلْمُؤْمِنَٰتُ مُهَٰجِرَٰتٍ فَٱمْتَحِنُوهُنَّ ۖ ٱللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَٰنِهِنَّ ۖ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَٰتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى ٱلْكُفَّارِ ۖ لَا هُنَّ حِلٌّ لَّهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ ۖ وَءَاتُوهُم مَّآ أَنفَقُوا۟ ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ أَن تَنكِحُوهُنَّ إِذَآ ءَاتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ ۚ وَلَا تُمْسِكُوا۟ بِعِصَمِ ٱلْكَوَافِرِ وَسْـَٔلُوا۟ مَآ أَنفَقْتُمْ وَلْيَسْـَٔلُوا۟ مَآ أَنفَقُوا۟ ۚ ذَٰلِكُمْ حُكْمُ ٱللَّهِ ۖ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ ۚ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Arab-Latin: “Yā ayyuhallażīna āmanū iżā jā`akumul-mu`minātu muhājirātin famtaḥinụhunn, allāhu a’lamu bi`īmānihinna fa in ‘alimtumụhunna mu`minātin fa lā tarji’ụhunna ilal-kuffār, lā hunna ḥillul lahum wa lā hum yaḥillụna lahunn, wa ātụhum mā anfaqụ, wa lā junāḥa ‘alaikum an tangkiḥụhunna iżā ātaitumụhunna ujụrahunn, wa lā tumsikụ bi’iṣamil-kawāfiri was`alụ mā anfaqtum walyas`alụ mā anfaqụ, żālikum ḥukmullāh, yaḥkumu bainakum, wallāhu ‘alīmun ḥakīm”.

Baca lebih lanjut

Peperangan Di Masa Rasulullah (3/3)

Pada tahun 1680-an seorang pendeta bernama John Bar Penkaye yang sedang menyusun sejarah dunia termenung tentang ihwal penaklukkan yang dilakukan oleh bangsa Arab.

Ia bertanya-tanya, “Bagaimana bisa, orang-orang tanpa senjata, berkuda tanpa baju baja dan perisai, berhasil memenangkan pertempuran dan meruntuhkan semangat kebanggaan orang-orang Persia?”. Ia semakin terenyak, “hanya dalam periode yang sangat singkat seluruh dunia diambil alih orang-orang Arab; mereka menguasai seluruh kota yang dikuasai benteng, mengambil alih pengawasan dari laut ke laut, dan dari timur ke barat –Mesir, dari Crete ke Cappadocia, dari Yaman ke Pegunungan Kaukasus, bangsa Armenia, Syiria, Persia, Biyzantium, dan seluruh wilayah di sekitarnya.” (Kennedy, 2008: 1).

Baca lebih lanjut