Kisah Shalat Malam & Tiga Anak Panah, Abbad bin Bisyr radhiyallahu ‘anhu

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah al-Anshari, dia berkata, “Dalam suatu peperangan kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju salah satu daerah orang musyrik. Kami berhasil menawan istri salah seorang di antara mereka, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali.

Ketika Rasulullah sedang dalam sebuah perjalanan, beliau berhenti di suatu perkampungan lalu bertanya, ‘Siapakah dua orang di antara kalian yang bersedia agar nanti malam menjaga kami dari serangan musuh?’.

Baca lebih lanjut

Perang Dzatu Ar Riqa’

KENAPA DINAMAKAN DZAT AR-RIQA’

Dalam Shahîhul Bukhâri[1] dari Sahabat Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu disebutkan, “Dinamakan Dzât ar-Riqâ’ (secara bahasa artinya tambalan-red) karena para Sahabat menambal luka pada kaki mereka dengan kain, akibat menempuh perjalanan dengan jalan kaki karena kendaraan (tunggangan) sangat terbatas, sehingga mereka terpaksa bergiliran untuk mengendarainya. Satu kendaraan untuk enam orang secara bergantian.

Baca lebih lanjut

Beberapa Kisah Setelah Pengusiran Bani Nadhir

Berikut ini beberapa paparan peristiwa dalam perjalanan hidup Rasulullah dan para shahabatnya yang kita bisa mengambil banyak pelajaran darinya. Di antaranya kisah Juwairiyah bintu Al Harits, wanita yang paling banyak membawa berkah bagi kaumnya dan kisah disyariatkannya Tayamum.

Perang Dzatu Riqa’ atau Perang Najd terjadi di bulan Jumadil Ula tahun keempat Hijriyah. Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- berangkat sendiri memimpin pasukan berjumlah 400 orang.

Baca lebih lanjut

Peperangan Di Masa Rasulullah (3/3)

Pada tahun 1680-an seorang pendeta bernama John Bar Penkaye yang sedang menyusun sejarah dunia termenung tentang ihwal penaklukkan yang dilakukan oleh bangsa Arab.

Ia bertanya-tanya, “Bagaimana bisa, orang-orang tanpa senjata, berkuda tanpa baju baja dan perisai, berhasil memenangkan pertempuran dan meruntuhkan semangat kebanggaan orang-orang Persia?”. Ia semakin terenyak, “hanya dalam periode yang sangat singkat seluruh dunia diambil alih orang-orang Arab; mereka menguasai seluruh kota yang dikuasai benteng, mengambil alih pengawasan dari laut ke laut, dan dari timur ke barat –Mesir, dari Crete ke Cappadocia, dari Yaman ke Pegunungan Kaukasus, bangsa Armenia, Syiria, Persia, Biyzantium, dan seluruh wilayah di sekitarnya.” (Kennedy, 2008: 1).

Baca lebih lanjut