Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu

Nama lengkapnya adalah Ka’ab bin Malik bin Amru al-Anshari al-Khazraji. Ia di gelari orang Abu Abdulllah atau Abu Abdurrahman. Pernah mengikuti bai’atu aqabah dan perang uhud.

Ia adalah seorang penyair di zaman Jahiliah. Ayahnya, Malik bin Abi Ka’ab Ibnul-Qayin, seorang pahlawan terkenal dalam peperangan antara Aus dan Khazraj, yang terjadi sebelum zaman Islam.

Baca lebih lanjut

Sirah Nabi (58) : Perang Tabuk

Bulan Rajab tahun ke sembilan hijrah. Panas menyengat kota Madinah. Pasir dan batu bagaikan bara api. Tetapi pada saat itu buah-buahan sedang ranum-ranumnya untuk dipetik. Sehingga betul-betul menggoda hati untuk tidak beranjak menikmati teduhnya naungan, menanti panen.

Sebab-sebab Peperangan

Setelah jatuhnya Makkah ke pangkuan Islam. Sirna pula keraguan terhadap risalah yang diemban Manusia Agung, Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Abdul Muththalib shalallahu alaihi wasallam.

Baca lebih lanjut

Perang Tabuk (3) : Kisah Taubat Tiga Sahabat Yang Tidak Ikut Dalam Perang Tabuk

Setelah menempuh perjalanan panjang dan lama dari Tabûk, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pasukan kaum Muslimin tiba di Madinah. Setibanya di Madinah, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki masjid lalu shalat dua rakaat. Demikianlah kebiasaan beliau setelah melakukan perjalanan jauh.

Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk dan orang-orang yang tidak ikut dalam perang Tabûk mulai berdatangan menemui Beliau sambil menjelaskan alasan mereka tidak ikut dalam perang Tabûk.

Baca lebih lanjut

Perang Tabuk (2) : Sikap Kaum Mukminin & Kaum Munafik Dalam Perang Tabuk

Ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeluarkan perintah berperang dan berinfaq untuk mempersiapkan pasukan perang Tabuk, maka tampak dua sikap yang berbeda dari dua golongan yang berbeda pula, dari orang-orang beriman yang taat kepada Allâh dan Rasul-Nya dan satu lagi dari yang munafiq yang senantiasa menyelisihi Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya.

SIKAP ORANG-ORANG MUNAFIK

Baca lebih lanjut

Perang Tabuk (1) : Persiapan Perang

PERANG TABUK ATAU AL-‘USRAH [1]

Mengapa dinamakan perang Tabuk atau Al Usrah? Imam Muslim[2] meriwayatkan perjalanan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya yang sedang menuju Tabûk.

Dalam hadits itu disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Baca lebih lanjut

Sirah Nabi (57) : Perang Hunain

Setelah kota Mekah takluk di tangan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ternyata masih ada sejumlah kabilah Arab yang belum menyerah, seperti Bani Tsaqîf, Hawazin, dan sejumlah kabilah lainnya. Semua kabilah tadi akhirnya bersatu untuk melawan kaum Muslimin, sembari mengerahkan anak-anak, kaum wanita, dan harta benda mereka.

Begitu mendengar gerakan mereka, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung mengutus Abdullah bin Abi Hadrad al- Aslami untuk klarifikasi berita tersebut.[1].

Baca lebih lanjut

Perang Hunain (3) : Pembagian Ghanimah

Kaum Anshar dan Ghanimah

Ketika Rasulullah mulai membagi-bagikan ghanimah kepada beberapa tokoh Quraisy dan kabilah ‘Arab; sama sekali tidak ada dari mereka satu pun yang dari Anshar.

Hal ini menimbulkan kejengkelan dalam hati orang-orang Anshar hingga berkembanglah pembicaraan di antara mereka, sampai ada yang mengatakan: “Rasulullah sudah bertemu dengan kaumnya kembali”.

Baca lebih lanjut

Perang Hunain (1) : Sebab Peperangan

Dengan dibebaskannya kota Makkah, jatuhlah sudah kerajaan berhala di ranah Hijaz. Bangsa ‘Arab mulai tunduk kepada Islam, dan mereka berduyun-duyun masuk ke dalamnya. Suku Hawazin yang mendengar peristiwa itu, merasa khawatir Rasulullah n akan mengerahkan pasukan kepada mereka. Mereka pun bersatu untuk menyerang beliau.

Peristiwa ini pun meletus di Hunain, sebuah lembah yang terletak antara Makkah dan Thaif, pada bulan Syawwal tahun ke-8 Hijrah.

Baca lebih lanjut

Sejarah Perang Hunain (2/2)

Dalam bagian sebelumnya, telah dikisahkan tatkala perang memanas, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil segenggam tanah lalu melemparkannya ke wajah kaum musyrikin sembari berseru: شَاهَتِ الوُجُوْهُ (wajah-wajah yang buruk), maka tidak tersisa seorang pun dari mereka saat itu melainkan kedua matanya kemasukan tanah.

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :  انْهَزِمُوْا وَرَبِّ مُحَمَّدٍ (kalahlah kalian, demi Rabb-nya Muhammad), maka mereka pun lari mulai berlarian hingga terpukul mundur[1].

Baca lebih lanjut

Utsman bin Thalhah, Sang Pemilik Kunci Ka’bah

Namanya adalah Utsman bin Thalhah. Dia masuk Islam bersama Khalid bin Walid dan Amr bin Ash pada tahun 8 H, pada periode genjatan senjata setelah Perjanjian Hudaibiyah dan sebelum penaklukan Mekah. Setelah Utsman bin Thalhah masuk Islam, dia menetap di Madinah bersama kaum muslimin yang lain.

Jauh sebelum memeluk Islam, Utsman bin Thalhah telah memperlihatkan perilaku-perilaku yang baik.

Baca lebih lanjut