Penyimpangan Kaum Musyrikin Terdahulu Dalam Tauhid Asma’ wa Shifat (1)

Sebagaimana kita ketahui bahwa inti dakwah para rasul adalah dalam masalah pemurnian ibadah kepada Allah Ta’ala semata, dan melarang umatnya untuk beribadah kepada selain Allah Ta’ala. Dengan kata lain, inti dakwah para nabi dan rasul adalah dalam masalah tauhid uluhiyyah (tauhid ibadah).

Namun hal ini bukanlah berarti bahwa mereka tidak memiliki penyimpangan dalam masalah tauhid yang lain, yaitu tauhid asma’ wa shifat.

Baca lebih lanjut

Pembagian Tauhid Menjadi Tiga, Ide Siapa ? (4/4)

Tauhid hakimiyyah, bagaimanakah posisinya?

Sebagian orang zaman ini membagi tauhid menjadi empat macam, yaitu tauhid rububiyyah; tauhid uluhiyyah, tauhid al-asma’ wa ash-shifat, dan tauhid hakimiyyah (tauhid mulkiyyah).

Mereka beralasan bahwa pembagian tauhid menjadi tiga itu hanyalah sekedar kesepakatan (istilah) sekelompok orang (yaitu para ulama), bukan asli pembagian yang disebutkan dari syariat, sehingga tidak masalah jika ditambah lebih dari tiga.

Baca lebih lanjut

Pembagian Tauhid Menjadi Tiga, Ide Siapa ? (3/4)

Bukankah yang ditanyakan di alam kubur itu “Man Rabbuka?” (Siapakah Tuhanmu?)

Sebagian pihak bertanya-tanya, mengapa tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah harus dipisahkan, padahal yang ditanyakan di alam kubur nanti adalah “Man Rabbuka?” (Siapakah Tuhanmu?), bukan “Man Ilaahuka?” (Siapakah sesembahanmu?)

Jika pertanyaan kubur seperti itu, artinya dua macam tauhid itu adalah satu kesatuan, tidak perlu dipisahkan.

Baca lebih lanjut

Pembagian Tauhid Menjadi Tiga, Ide Siapa ? (2/4)

Pembagian tauhid menjadi Tiga, Tidak dikenal di masa salaf?

Sebagian orang yang lain menyangka bahwa pembagian tauhid menjadi tiga tidaklah dikenal pada masa salaf. Pembagian ini baru dikenal, menurut persangkaan mereka, pada abad ke tujuh atau delapan hijriyah, yaitu hanya dibuat-buat oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu Ta’ala.

Sebagian lagi menyangka bahwa pembagian ini baru dibuat pada abad ke dua belas atau tiga belas hijriyah, oleh Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullahu Ta’ala (wafat tahun 1206 H)yang kemudian diberi label “Wahhabi” oleh pihak-pihak yang membenci dakwah tauhid yang beliau usung. Tidak heran jika sebagian orang menyebut pembagian tauhid menjadi tiga ini sebagai “Trilogi tauhid ala Wahabi” (??).

Baca lebih lanjut

Pembagian Tauhid Menjadi Tiga, Ide Siapa ? (1/4)

Sebagaimana telah kami jelaskan dalam tulisan yang telah diterbitkan sebelumnya, bahwa menjadi kewajiban manusia untuk beriman dengan tiga jenis tauhid, yaitu tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah (tauhid ibadah) dan tauhid asma’ wa shifat [1],[2].

Pengertian masing-masing tauhid tersebut pun telah kami jelaskan dalam tulisan-tulisan tersebut.

Baca lebih lanjut

Kebodohan Kita Terhadap Makna Kalimat Tauhid (5/5)

Baca pembahasan sebelumnya : Kebodohan Kita terhadap Makna Kalimat Tauhid (Bag. 4)

Penjelasan para Ulama rahimahumullah tentang Makna Kalimat Tauhid

Untuk melengkapi pembahasan di atas, berikut ini penulis kumpulkan beberapa penjelasan para ulama tentang makna kalimat tauhid. Sehingga pembaca dapat mengetahui bahwa makna kalimat tauhid yang benar sebagaimana penjelasan di atas bukanlah makna yang dibuat-buat pada waktu belakangan ini saja. Akan tetapi, memang inilah makna kalimat tauhid yang telah diajarkan oleh para ulama kita rahimahumullah sejak zaman dahulu.

Baca lebih lanjut

Kebodohan Kita Terhadap Makna Kalimat Tauhid (4/5)

Baca pembahasan sebelumnya : Kebodohan Kita terhadap Makna Kalimat Tauhid (Bag. 3).

Makna Kalimat “Laa ilaaha illallah” yang Tepat

Jika memaknai kalimat laa ilaaha illallah dengan “Tidak ada Tuhan selain Allah” adalah pemaknaan yang keliru atau tidak tepat, lalu bagaimanakah makna laa ilaaha illallah yang benar?

Baca lebih lanjut

Kebodohan Kita Terhadap Makna Kalimat Tauhid (3/5)

Baca pembahasan sebelumnya : Kebodohan Kita terhadap Makna Kalimat Tauhid (Bag. 2)

“Tidak Ada Tuhan selain Allah”: Tidak Ada Sesembahan selain Allah?

Makna kedua dari kalimat Tidak ada Tuhan selain Allah” adalah “Tidak ada sesembahan selain Allah” atau “Tidak ada sesembahan kecuali Allah“.

Baca lebih lanjut

Kebodohan Kita Terhadap Makna Kalimat Tauhid (2/5)

Baca pembahasan sebelumnya : Kebodohan Kita terhadap Makna Kalimat Tauhid (Bag. 1)

“Tidak Ada Tuhan selain Allah”: Tidak Ada Pencipta, Pemberi rizki, dan Pengatur alam semesta selain Allah

Memaknai “laa ilaaha illallah” dengan kalimat “Tidak ada Tuhan selain Allah”yang berarti: “Tidak ada pencipta, pemberi rizki, dan pengatur alam semesta selain Allah” adalah pemahaman atau pemaknaan yang keliru.

Baca lebih lanjut