Sang Pelayan Hijrah Nabi, Amir bin Furaihah radhiyallahu ‘anhu

Aamir bin Fuhairah radhiyAllahu anhu seorang Sahabat Nabi berkulit hitam yang beruntung, beliau menyertai Rasulullah saw ketika hijrah dari mekkah ke Madinah.

Biografi Aamir bin Fuhairah

Aamir bin Fuhairah mendapatkan julukan Abu Amru dikenal juga Abu Fuhairah. Beliau lahir tahun 36 sebelum hijrah, berasal dari kabilah Azd. Beliau seorang budak belian berkulit hitam milik saudara tiri Aisyah dari ibu yang sama tapi dari suami yang lain yaitu Thufail bin Abdullah bin Harits bin Sakhbarah al-Azdi.

Baca lebih lanjut

Sirah Nabi (43) : Mengadakan Perjanjian dengan Yahudi

Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membangun masjid, beliau mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar, lalu mengadakan perjanjian dengan orang Yahudi.

Al-Yahud disandarkan kepada Al-Yahudza yaitu anak tertua dari Nabi Ya’kub ‘alaihis salam. Kemudian huruf dzal diganti dengan dal, sebab kata Al-Yahudza termasuk isim ‘ajam (kata serapan dari bahasa asing). Disebutkan juga bahwa dinamakan dengan demikian karena mereka bertaubat dari beribadah kepada anak sapi, sehingga kata haada bermakna taaba. Bentuk jamaknya haadu yang bermakna taabu. Demikian disebutkan oleh Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya. Lihat catatan kaki dalam Fiqh As-Siirah, hlm. 344.

Baca lebih lanjut

Kehidupan Di Madinah Pasca Hijrah

Hijrah bukan semata-mata menyelamatkan diri dari gangguan orang-orang kafir atau pindah dari negeri kufur, akan tetapi makna hijrah yang lebih jauh adalah berkumpul dan tolong-menolong untuk menegakkan jihad fi sabilillah meninggikan kalimat Allah dengan menyebarkan ilmu, amal, dan dakwah serta memerangi setiap orang yang menghalangi jalan dakwah.

Oleh karena itu, setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetap di negeri hijrah –Madinah-, beliau dan para sahabat tidak sepi dari aktivitas membangun masyarakat yang islami.

Baca lebih lanjut

Keadaan Muhajirin Setelah Tiba Di Madinah

Kaum muslimin yang telah menempuh perjalanan hijrah dari Mekkah menuju Madinah menghadapi beberapa permasalahan sosial. Kedatangan mereka yang tanpa perbekalan memadai ke suatu daerah agraris yang sangat berbeda dengan daerah asal yang gersang menjadi faktor pemicu.

Intinya, mereka membutuhkan bantuan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan pemukiman. Persaudaraan (almuâkhâh) yang dijalin oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam antara kaum Muhâjirîn dan Anshar sudah merupakan salah satu solusi untuk meminimalisir problematika di atas.

Baca lebih lanjut

Awal Pembangunan Masjid Nabawi

Pembangunan Masjid

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membangun Masjid Nabawi pada bulan Raibul Awal di awal-awal hijarahnya ke Madinah. Pada saat itu panjang masjid adalah 70 hasta dan lebarnya 60 hasta atau panjangnya 35 m dan lebar 30 m. Kala itu Masjid Nabawi sangat sederhana, kita akan sulit membayangkan keadaannya apabila melihat bangunannya yang megah saat ini.

Lantai masjid adalah tanah yang berbatu, atapnya pelepah kurma, dan terdapat tiga pintu, sementara sekarang sangat besar dan megah.

Baca lebih lanjut

Kebijakan Rasulullah Dalam Menuntaskan Kemiskinan Kaum Muhajirin

Pada masa Jahiliyah, bangsa Arab sangat dipengaruhi oleh cara berpikir dan system perekonomian Yahudi. Dalam bidang ekonomi, bangsa Yahudi menjalankan sistem riba. Mereka sangat mahir dalam hal ini dan selalu melakukannya di setiap tempat, termasuk di Mekah dan Madinah.

Setelah Islam datang, ikatan akidah merubah sistem ini menjadi sistem persaudaraan, gotong royong dan saling membantu. Islam sangat menekankan sisi persaudaraan sesama Muslim dalam memperkuat keutuhan masyarakatnya, terutama dalam bidang ekonomi.

Baca lebih lanjut

Sirah Nabi (41) : Persaudaraan antara Muhajirin & Anshar

Secara umum, Islam menyatakan seluruh kaum muslimin adalah bersaudara sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Azza wa Jalla surat al-Hujurât/49 ayat 10, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara“.

Konsekwensi dari persaudaraan itu, maka Islam mewajibkan kepada umatnya untuk saling tolong-menolong dalam al-haq. Namun yang menjadi fokus pembicaraan kita kali ini bukan persaudaraan yang bersifat umum ini, tetapi persaudaraan yang bersifat khusus antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshâr.

Baca lebih lanjut

Abu Ayyub Al Anshari, Sang Penjamu Nabi

Siapakah Abu Ayyub al-Anshari?

Abu Ayyub al-Anshari radhiallahu ‘anhu adalah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan Anshar. Namanya adalah Khalid bin Zaid bin Kulaib bin Malik bin an-Najjar.

Ia dikenal dengan nama dan kun-yahnya. Ibunya adalah Hindun binti Said bin Amr dari Bani al-Harits bin al-Khazraj. Ia adalah generasi awal memeluk Islam dari kalangan sahabat.

Baca lebih lanjut

Kisah Abu Ayyub Al Anshari radhiyallahu’anhu

Sahabat yang mulia ini bernama Khalid bin Zaid bin Kulaib dari Bani an-Najjar. Adapun kun-yahnya maka dia adalah Abu Ayyub dengan penisbatan kepada Anshar.

Siapa di antara kita kaum muslimin yang tidak mengenal Abu Ayyub al-Anshari?

Baca lebih lanjut

Mengapa Hijrah Ke Madinah ?

Usai Bai’atul-‘Aqabah kedua, kaum Anshar pun kembali ke Madinah. Mereka sangat antusias menunggu dan mengharap kedatangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. Sementara itu, kaum muslimin yang mendengar kesepakatan antara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Anshâr juga sudah siap berhijrah ke Madinah.

FAKTOR PENYEBAB HIJRAH

Hijrah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin ini bukan tanpa alasan. Ada berbagai faktor yang menjadi pemicu untuk melakukan hijrah.

Baca lebih lanjut