Abdullah bin Rawahah, Pahlawan Bai’at Aqabah

Figur kali ini adalah tentang seorang shahabat Anshar yang memiliki banyak keutamaan. Nama beliau adalah Abdullah. Beliau berkuniah Abu Muhammad, atau dikenal pula sebagai Abu Rawahah dan atau Abu Amr.

Nama lengkap beliau adalah Abu Muhammad Abdullah bin Rawahah bin Tsa’labah bin Imri-il Qais bin Amr bin Imri-il Qais Al Akbar bin Malik bin Kaab bin Khazraj bin Al Haris Al Anshari Al Khazraji.

Baca lebih lanjut

Mengenal Pahlawan Islam, Abdullah bin Rawahah

Sahabat asal Ansar dari suku Khajraj ini termasuk orang yang memeluk agama Islam dari sejak dini yang merupakan salah seorang pimpinan dalam baiat Aqabah.

Beliau ini sempat mengikuti perang Badar dan peperangan-peperangan sesudah itu, akhirnya beliau meninggal dalam perang Mu’tah.

Rasululloh Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sedang duduk di suatu tempat dataran tinggi kota Mekah, menghadapi para utusan yang datang dari kota Madinah, dengan bersembunyi-sembunyi dari kaum Quraisy.

Baca lebih lanjut

Bai’at Aqabah Yang Kedua

Setahun setelah Bai’atul-Aqabah pertama berlalu, tepatnya pada musim haji tahun ke-13 kenabian, sekelompok kaum muslimin Madinah dalam jumlah besar datang ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji bersama dengan kaum musyrik Madinah. Saat itu mereka dipimpin oleh al- Barra’ bin Ma’rur.[1].

Saat itu kaum muslimin sudah saling bertanya di antara mereka: “Sampai kapankah mereka membiarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpindah-pindah tempat di Makkah, terusir di pegunungan Makkah dan keselematannya terancam?”[2].

Baca lebih lanjut

Bai’at Aqabah Al Kubra

Musim haji tahun ke-13 kenabian, bertepatan dengan bulan Juni 622 M, ada 70 lebih kaum Muslim yang telah datang ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Mereka adalah penduduk Yatsrib yang telah dibina dan dipersiapkan oleh Mush’ab bin ‘Umair. Mereka datang ke Makkah, sebagaimana lazimnya kaum mereka datang untuk menunaikan ibadah haji.

Mereka saling bertanya satu dengan yang lain, saat mereka masih di Yatsrib atau di tengah jalan, “Sampai kapan kita akan membiarkan Rasulullah tawaf dan dibuntuti di gunung Makkah, dalam keadaan ketakutan?”.

Baca lebih lanjut

Mushab bin Umair, Duta Islam Pertama Di Madinah

Masa muda atau usia remaja adalah saat orang-orang mulai mengenal dan merasakan manisnya dunia. Pada fase ini, banyak pemuda lalai dan lupa, jauh sekali lintasan pikiran akan kematian ada di benak mereka. Apalagi bagi mereka orang-orang yang kaya, memiliki fasilitas hidup yang dijamin orang tua. Mobil yang bagus, uang saku yang cukup, tempat tinggal yang baik, dan kenikmatan lainnya, maka pemuda ini merasa bahwa ia adalah raja.

Di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang pemuda yang kaya, berpenampilan rupawan, dan biasa dengan kenikmatan dunia. Ia adalah Mush’ab bin Umair.

Baca lebih lanjut

Sirah Nabi (37) : Bai’at Aqabah Kedua

Sekarang kita lanjutan sirah Nabi, mengenai baiat aqabah kedua.

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa selama sepuluh tahun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru manusia, beliau turun sampai ke pasar ‘Ukaz dan Majannah tempat mereka berjualan.

‘Ukaz itu nama tempat dekat dengan Makkah, orang Jahiliyah menjadikan sebagai pasar tempat mereka melakukan jual beli. Majannah adalah suatu dataran rendah Makkah jauh beberapa mil, orang-orang menjadikannya sebagai pasar.

Baca lebih lanjut

Bai’atul Aqabah Yang Pertama

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan selamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min”. [at-Taubah/9:128].

MENCARI TEMPAT IBADAH YANG AMAN

Sebagai seorang rasul yang sangat menyayangi umatnya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berusaha mencari tempat atau wilayah yang bisa untuk melakukan ibadah kepada Allah Azza wa Jalla secara aman.

Baca lebih lanjut

Kisah Bai’at Aqabah (3/3) : Duta Islam Di Madinah

Telah kami sebutkan di bagian terdahulu bahwa ada enam orang dari penduduk Yastrib yang sudah masuk Islam pada musim haji tahun kesebelas dari nubuwah, dan mereka berjanji kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyampaikan risalah di tengah kaumnya.

Hasilnya, ada dua belas orang yang datang ke Makkah pada musim haji berikutnya. Lima orang di antara mereka adalah enam orang yang sudah berhubungan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebelumnya.

Baca lebih lanjut

Kisah Bai’at Aqabah (2/3) : 12 Orang Penduduk Madinah Berbai’at

Beberapa orang suku Khazraj dari Madinah ketika melakukan ibadah haji akhirnya bersedia menerima dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebelumnya, mereka telah mendengar dari orang-orang Yahudi bahwa akan datang seorang nabi. Ketika nabi itu benar-benar datang, mereka pun beriman kepadanya, sementara orang-orang Yahudi malah mengkufurinya.

Siang dan malam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berhenti berdakwah. Setiap musim haji, beliau selalu mendatangi kabilah-kabilah dari luar Kota Makkah untuk mendakwahkan Islam. Namun tak satu pun yang menyambut seruan beliau.

Baca lebih lanjut

Sirah Nabi (36) : Bai’at Aqabah Pertama

Bagaimana kisah dalam baiat ‘Aqabah yang pertama?

Orang-orang Madinah terdahulu merupakan orang-orang istimewa, mereka menerima tawaran Islam dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan baik, seperti kisah Suwaid bin Shamit yang telah diulas sebelumnya.

Semisal itu juga ada kisah Iyas bin Mu’adz yang menjamin delegasi dari Bani Abdul Asyhal, mengikat sumpah dengan Quraisy menyelamatkan kaumnya Khazraj, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui berita mereka lantas mendatanginya seraya berkata,

Baca lebih lanjut