Mengenal Pahlawan Islam, Abdullah bin Rawahah

Sahabat asal Ansar dari suku Khajraj ini termasuk orang yang memeluk agama Islam dari sejak dini yang merupakan salah seorang pimpinan dalam baiat Aqabah.

Beliau ini sempat mengikuti perang Badar dan peperangan-peperangan sesudah itu, akhirnya beliau meninggal dalam perang Mu’tah.

Rasululloh Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sedang duduk di suatu tempat dataran tinggi kota Mekah, menghadapi para utusan yang datang dari kota Madinah, dengan bersembunyi-sembunyi dari kaum Quraisy.

Baca lebih lanjut

Bai’at Aqabah Yang Kedua

Setahun setelah Bai’atul-Aqabah pertama berlalu, tepatnya pada musim haji tahun ke-13 kenabian, sekelompok kaum muslimin Madinah dalam jumlah besar datang ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji bersama dengan kaum musyrik Madinah. Saat itu mereka dipimpin oleh al- Barra’ bin Ma’rur.[1].

Saat itu kaum muslimin sudah saling bertanya di antara mereka: “Sampai kapankah mereka membiarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpindah-pindah tempat di Makkah, terusir di pegunungan Makkah dan keselematannya terancam?”[2].

Baca lebih lanjut

Bai’at Aqabah Al Kubra

Musim haji tahun ke-13 kenabian, bertepatan dengan bulan Juni 622 M, ada 70 lebih kaum Muslim yang telah datang ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Mereka adalah penduduk Yatsrib yang telah dibina dan dipersiapkan oleh Mush’ab bin ‘Umair. Mereka datang ke Makkah, sebagaimana lazimnya kaum mereka datang untuk menunaikan ibadah haji.

Mereka saling bertanya satu dengan yang lain, saat mereka masih di Yatsrib atau di tengah jalan, “Sampai kapan kita akan membiarkan Rasulullah tawaf dan dibuntuti di gunung Makkah, dalam keadaan ketakutan?”.

Baca lebih lanjut

Mushab bin Umair, Duta Islam Pertama Di Madinah

Masa muda atau usia remaja adalah saat orang-orang mulai mengenal dan merasakan manisnya dunia. Pada fase ini, banyak pemuda lalai dan lupa, jauh sekali lintasan pikiran akan kematian ada di benak mereka. Apalagi bagi mereka orang-orang yang kaya, memiliki fasilitas hidup yang dijamin orang tua. Mobil yang bagus, uang saku yang cukup, tempat tinggal yang baik, dan kenikmatan lainnya, maka pemuda ini merasa bahwa ia adalah raja.

Di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang pemuda yang kaya, berpenampilan rupawan, dan biasa dengan kenikmatan dunia. Ia adalah Mush’ab bin Umair.

Baca lebih lanjut

Sirah Nabi (37) : Bai’at Aqabah Kedua

Sekarang kita lanjutan sirah Nabi, mengenai baiat aqabah kedua.

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa selama sepuluh tahun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru manusia, beliau turun sampai ke pasar ‘Ukaz dan Majannah tempat mereka berjualan.

‘Ukaz itu nama tempat dekat dengan Makkah, orang Jahiliyah menjadikan sebagai pasar tempat mereka melakukan jual beli. Majannah adalah suatu dataran rendah Makkah jauh beberapa mil, orang-orang menjadikannya sebagai pasar.

Baca lebih lanjut

Kisah Bai’at Aqabah (2/3) : 12 Orang Penduduk Madinah Berbai’at

Beberapa orang suku Khazraj dari Madinah ketika melakukan ibadah haji akhirnya bersedia menerima dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebelumnya, mereka telah mendengar dari orang-orang Yahudi bahwa akan datang seorang nabi. Ketika nabi itu benar-benar datang, mereka pun beriman kepadanya, sementara orang-orang Yahudi malah mengkufurinya.

Siang dan malam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berhenti berdakwah. Setiap musim haji, beliau selalu mendatangi kabilah-kabilah dari luar Kota Makkah untuk mendakwahkan Islam. Namun tak satu pun yang menyambut seruan beliau.

Baca lebih lanjut

Kisah Bai’at Aqabah (1/3): 6 Orang Penduduk Madinah Berbai’at

Pada musim haji tahun kesebelas dari nubuwah, tepatnya pada bulan Juli tahun 620 M, dakwah Islam memperoleh benih-benih yang baik, dan secepat itu pula tumbuh menjadi pohon yang rindang. Di bawah lindungannya, orang orang Muslim bisa melepaskan diri dari lembaran-lembaran kezhaliman dan kesewenang-wenangan yang telah berjalan beberapa tahun.

Ada satu langkah bijaksana yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menghadapi tindakan penduduk Makkah yang selalu mendustakan dan menghalang-halangi orang yang mengikuti jalan Allah, yaitu beliau menemui berbagai kabilah pada malam hari, sehingga tak seorang pun dari orang-orang musyrik Makkah yang bisa menghalang-halanginya.

Baca lebih lanjut