Kumpulan Artikel Seputar Keberadaan Allah Di Atas Langit

Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kita meminta pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Dan kita berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri-diri kita dan dari keburukan amalan-amalan kita. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang bisa menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang bisa memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan- Nya.

Allah Azza wa Jalla berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar- benarnya takwa dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imran : 102). Baca lebih lanjut

Tanya Jawab Bersama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Di Mana Allah ?

Syaikhul Islam Abul ‘Abbas Ahmad ibnu Taimiyyah rohimahulloh pernah ditanya mengenai dua orang yang berselisih tentang masalah akidah/keyakinan. Seorang di antaranya berkata, “Orang yang tidak meyakini Alloh Subhanahu wa Ta’ala di atas langit adalah orang sesat.”.

Sedangkan yang satunya berkata, Sesungguhnya Alloh itu tidak dibatasi oleh suatu tempat.” Padahal mereka berdua adalah sama-sama pengikut mazhab Syafi’i. Maka, jelaskanlah kepada kami tentang akidah Imam Syafi’i rodhiallohu ‘anhu yang kami ikuti dan bagaimanakah akidah yang benar? Baca lebih lanjut

Semut Pun Mengakui Allah Ada Di Atas Langit !

Adalah akidah yang kurang tepat mengatakan : “Allah ada dimana-mana” (berarti Allah ada di kotoran ada di WC).

“Allah ada di hati manusia dan dekat dengan urat nadi” (berarti Allah menyatu dengan manusia, karena hati adalah hakikatnya inti dari kerajaan tubuh).

“tidak tahu tuh, wallahu a’lam aja, kita serahkan ilmunya kepada Allah” (berarti tidak mengenal Allah dunk, katanya tidak kenal maka tak sayang). Baca lebih lanjut

Ajaran Madzhab Syafi’i Yang Ditinggalkan Sebagian Pengikutnya (5) : Keyakinan Bahwa Allah Di Atas Langit

Diantara aqidah Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah –yang juga merupakan aqidah para as-Salaf as-Sholeh- bahwasanya Allah berada di atas langit.

Aqidah Al-Imam Asy-Syafi’i tentang Allah di Atas telah diakui oleh para ulama Asy-Syafi’iyah, diantaranya Imam Al-Baihaqi, Al-Imam Adz-Dzahabi, dan Al-Barzanji rahimahumullah.

Al-Baihaqi (wafat 458 H) –salah seorang ulama besar madzhab Asy-Syafi’iyah-  berkata : Baca lebih lanjut

Bantahan Bagi Yang Mendha’ifkan Hadits Jaariyyah ( Muawiyyah bin Hakam Tentang Dimana Allah) !

Ahlul-bida’ tidak henti-hentinya membuat makar kepada Ahlus-Sunnah. Menshahihkan yang dla’if atau men-dla’if-kan yang shahih menjadi ciri khas dakwah mereka. Tidak luput dalam hal ini hadits Mu’awiyyah bin Al-Hakam yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya. Hadits ini merupakan salah satu hujjah yang sangat kuat yang merontokkan ‘aqidah bid’ah mereka tentang keberadaan Allah ta’ala.

Jalan sempit dan berlubang pun mereka tempuh demi meluluskan tujuan mereka untuk menolak hadits ini.Naas, ternyata lubang di jalan itu malah menenggelamkan mereka. Salah satu di antara yang terperosok di dalamnya adalah Hasan As-Saqqaaf.

Risalah bid’ahnya telah mendapat sambutan oleh kolega-kolega bid’ahnya, tidak terkecuali di Indonesia. Ada orang yang senantiasa merelakan diri menampung pikiran-pikiran kotornya. Baca lebih lanjut

Hadits Jaariyyah Riwayat Malik bin Anas rahimahullah

Melanjutkan pembahasan di artikel Shahih Hadits Mu’aawiyyah bin Al-Hakam Tentang ‘Dimana Allah, pada kesempatan kali ini saya akan membawakan jalan riwayat lain yang dibawakan oleh Maalik bin Anasr ahimahullaah dalam kitab Al-Muwaththa’ tentang hadits Jaariyyah.

Sebagaimana diketahui, bahwa kitab Al-Muwaththa’ mempunyai kedudukan yang tinggi di kalangan muhadditsiin, bahkan ia disebut sebagai pokok pertama dalam kitab-kitab hadits sebelum Shahih Al-Bukhaariy – sebagaimana dikatakan Ibnul-‘Arabiy [‘Aaridlatul-‘Ahwadziy, 1/5]. Baca lebih lanjut

Kebodohan dan Kedustaan Abu Salafy : Allah Berada Di Atas Punggung 8 Ekor Kambing Hitam ?

Lagi,… ada tulisan menarik dari Abu Salafy yang patut kita cermati (baca : kritisi).

Pada blognya (lihat : http://abusalafy.wordpress.com/2008/12/27/allah-nya-kaum-wahhabiyah-bersemayam-di-atas-arsy-dan-arsy-nya-di-atas-punggung-delapan-kambing-hutan/) ia membuat satu kesimpulan bahwa Allah-nya ‘Wahabiy’ berada di atas ‘Arsy, dimana ‘Arsy itu berada di atas punggung kambing hutan yang sangat besar.

Mari kita simak apa yang dikatakannya itu : Baca lebih lanjut

Aqidah Imam Syafi’i : Allah Subhanahu wa Ta’ala Ada Di Atas !

Oleh Syaikh Muhammad bin Mûsa Alu Nashr.

Di antara pokok utama aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, ialah meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di langit (di atas langit), Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas makhluk-makhluk-Nya dan ber-istiwâ` (bersemayam) di atas ‘Arsy sesuai dengan kesempurnaan dan keagungan-Nya, tidak seperti bersemayamnya seorang manusia. Akan tetapi, meskipun Allah Subhanahu wa Ta’ala bersemayam di atas Arsy, ilmu-Nya ada di setiap tempat dan Dia lebih dekat dari urat leher seseorang. Tidak pula tersembunyi dari-Nya apa pun yang ada di langit dan di bumi, bahkan Dia mengetahui dan menyaksikan pembicaraan-pembicaraan rahasia. Baca lebih lanjut

Kajian Umum : Di Mana Allah ?

Permasalahan ‘Dimanakah Allah’ adalah permasalahan krusial yang di jaman dulu para imam kita dari kalangan salaf mudah menjawabnya dengan jawaban sederhana, namun menjadi susah oleh generasi setelahnya.

Generasi khalaf, terutama yang berafiliasi dengan kelompok Asyaa’irah ini, membuat aneka jawaban yang susah untuk dimengerti dan mempersulit dirinya sendiri. Dulu, ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada seorang budak wanita ‘dimanakah Allah’, dengan mudah dijawab : ‘Di atas langit’. Tapi sekarang ? Baca lebih lanjut

Kajian Umum : Allah Di Atas Arsy

Salah satu prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam perkara sifat sifat Allah adalah beriman kepada sifat-sifat (Allah) tersebut sebagaimana yang terdapat dalam Kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam tanpa tahrif (penyelewengan makna), ta’thil (meniadakannya), takyif (menanyakan bagaimana/kaifiyyah), dan tamtsil (mempermisalkannya/menyamakannya dengan makhluk); dan mengimani bahwa Allah subhaanahu wa ta’ala tidak serupa dengan sesuatu apapun, Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.

Demikian pula, Ahlussunnah wal Jama’ah tidak menafikkan dari-Nya apa-apa yang Allah sifatkan bagi diri-Nya, tidak menyelewengkan kalimat dari makna asalnya, dan tidak pula berbuat ilhad (menentang) terhadap nama-nama dan ayat-ayat Allah, dan tidak pula menanyakan bagaimana (kaifiyah) dan menyamakan sifat-sifat-Nya dengan sifat-sifat makhluk-Nya. Baca lebih lanjut