Amirul Mukminin Umar bin Khattab (12) : Sa’ad bin Abi Waqqas Memimpin Pasukan Perang

Ketika menerima tugas ketentaraan itu, Sa’ad menyadari bahwa dengan pasukannya yang serba kekurangan baik bekal dan perlengkapan, dia harus menghadapi pasukan Persia yang berjumlah besar, kuat, dan terlatih, serta bersenjata lengkap. Akan tetapi, Sa’d sangat yakin, janji Allah subhanahu wa ta’ala yang diberitakan oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, pasti terlaksana.

Ya, Allah subhanahu wa ta’ala akan menyerahkan perbendarahan Persia dan Romawi kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kerajaan Bizantium Romawi telah dipatahkan oleh kaum muslimin di Yarmuk. Kini, Istana Putih Persia, pasti di ambang kehancurannya. Baca lebih lanjut

Amirul Mukminin Umar bin Khattab (11) : Mempersiapkan Pasukan Perang Melawan Persia

Baiknya rakyat baru terwujud jika pemimpinnya telah memperbaiki dirinya. Walau tidak mutlak, tetapi kalimat ini banyak benarnya. Sebab, bisa jadi pula jika rakyat itu rusak iman dan akhlaknya, Allah subhanahu wa ta’ala akan pilihkan bagi mereka pemimpin yang sama seperti mereka. Bahkan, bisa jadi lebih jahat, sebagai hukuman terhadap mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (al-An’am: 129). Baca lebih lanjut

Amirul Mukminin Umar bin Khattab (10) : Penyebaran Islam Di Masa Kepemimpinan Beliau radhiyallahu’anhu

Futuhat Islamiyah Di Masa ‘Umar

Bermula dari sumpah setia para sahabat Anshar di bukit ‘Aqabah, dekat kota Makkah. Beberapa bulan sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintah hijrah ke Madinah. Selesai menunaikan ibadah haji, orang-orang Anshar membuat kesepakatan untuk bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bukit ‘Aqabah.

Dalam pertemuan itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan, “Aku membai’at kalian semua untuk membelaku seperti kalian membela anak istri kalian”. Baca lebih lanjut

Amirul Mukminin Umar bin Khattab (9) : Cermat Dalam Memberhentikan Para Pejabatnya

Di antara bukti kezuhudan para pejabat yang sangat diperhatikan oleh beliau radhiallahu ‘anhu ketika menugaskannya adalah sikap zuhud mereka terhadap jabatan itu sendiri. ‘Umar radhiallahu ‘anhu menganggap orang-orang yang memiliki keinginan terhadap jabatan tertentu adalah orang-orang yang tidak mampu menjalankan tugas, apalagi ikhlas dalam melaksanakannya.

Dalam beberapa kesempatan, ‘Umar radhiallahu ‘anhu menegaskan, “Siapa saja yang berambisi terhadap kepemimpinan, niscaya dia tidak akan bisa berlaku adil di dalamnya”. Baca lebih lanjut

Amirul Mukminin Umar bin Khattab (8) : Menentukan Kriteria Pejabat Dalam Pemerintahannya

Kita masih ingat dengan khutbah pertama beliau dibai’at menjadi khalifah. Selama ini, di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Umar merasa dirinya adalah sebilah pedang tajam yang setiap saat dapat dihunus atau disimpan dalam sarungnya. Di masa itu, juga pada masa khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Umar hanya menjalankan perintah, memberi saran yang dipandangnya bermanfaat.

Kini, setelah menjadi khalifah, dia merasakan betapa berat sebenarnya beban yang dipikulnya. Betapa besar tanggung jawabnya di hadapan umat dan di hadapan Allah ‘azza wa jalla kelak. Tanggung jawab yang tidak terbayangkan oleh para pemegang kekuasaan sesudah beliau, kecuali yang dirahmati Allah ‘azza wa jalla. Baca lebih lanjut

Amirul Mukminin Umar bin Khattab (7) : Memberhentikan Khalid bin Walid dari Jabatan Panglima Perang Kaum Muslimin

Khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ash- Shiddiq radhiallahu ‘anhu telah berangkat menyusul kekasihnya yang sangat dicintainya, Abul Qasim Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Muththalib shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tak lama setelah itu, ‘Umar bin al-Khaththab dibai’at sebagai pengganti beliau.

Nun di seberang sahara yang membara, di balik bukit-bukit cadas dan lembah berbatu, pasukan muslimin yang dipimpin Khalid bin al Walid, Si Pedang Allah itu sedang menyabung nyawa menyebarkan dan membela agama Allah. Satu demi satu tanah Arab yang menjadi jajahan Romawi telah dibebaskan. Sampai akhirnya mereka berhasil dengan gemilang meluluh lantakkan pasukan salibis di Yarmuk. Baca lebih lanjut

Amirul Mukminin Umar bin Khattab (6) : Awal Kepemimpinan

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Islamnya Umar adalah pembukaan, hijrahnya adalah kemenangan, dan kepemimpinannya adalah rahmat”.

Pada edisi yang lalu telah dinukil sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengisyaratkan bahwa Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu tidaklah meninggal dunia kecuali setelah dia meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya. Pada edisi ini, kita akan menelusuri sebagian liku-liku kehidupan beliau yang sarat dengan keteladanan, terkhusus bagi para penguasa sepeninggal beliau. Baca lebih lanjut

Amirul Mukminin Umar bin Khattab (5) : Menjadi Khalifah

Kembali kaum muslimin dirundung oleh kesedihan. Seorang bapak, teman, dan teladan telah memenuhi janjinya, menemui Allah Subhanahu wata’ala. Pengganti/Khalifah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ash- Shiddiq, sahabat yang paling dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu telah wafat.

Saat merasakan bahwa ajalnya sudah dekat, Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu bermusyawarah dengan beberapa sahabat lainnya tentang siapa yang menggantikannya mengatur urusan kaum muslimin. Kata beliau, “Telah datang kepada saya apa yang kamu lihat, dan saya yakin sebentar lagi saya akan dipanggil, maka angkatlah seorang amir yang kamu cintai. Kalau kamu mengangkatnya saat saya masih hidup, tentu kamu tidak akan berselisih sepeninggalku”. Baca lebih lanjut

Amirul Mukminin Umar bin Khattab (4) : Menjadi Penasehat Abu Bakar radhiyallahu’anhu

Mendampingi Abu Bakr

Berita wafatnya Rasulullah n benarbenar menggoncang Madinah. Kota itu seakan berubah demikian gelap kehilangan cahayanya. Rintihan pilu terdengar dari setiap rumah kaum muslimin. Mereka benar-benar kehilangan seorang ayah, pemimpin, guru, sekaligus sahabat dan saudara yang lebih mereka cintai daripada jiwa raga mereka. Kaum muslimin seakan tidak percaya menerima kenyataan itu.

Bahkan, salah seorang dari mereka yang dikenal tegar dan tegas serta berani, yaitu ‘Umar bin al Khaththab radhiyallahu ‘anhu, juga terpukul akibat rasa kehilangan ini. Baca lebih lanjut

Amirul Mukminin Umar bin Khattab (3) : Keutamaan Umar radhiyallahu’anhu

Bersama NabiShallallahu ‘alaihi wasallam Dalam edisi yang lalu telah diceritakan sebagian sikap tegas ‘Umar terhadap orang-orang yang kafir. Begitu dalam rasa bencinya terhadap kekafiran dan segala bentuknya berikut para pengusungnya, sampaisampai beliau siap menebas leher sebagian kerabatnya sendiri yang masih kafir.

Dalam edisi ini akan kami lanjutkan dengan beberapa kejadian yang menunjukkan kedudukan ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Semua itu didasari atas keilmuan dan ketakwaannya serta kejujuran iman dan persahabatannya dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Baca lebih lanjut