Membela Sahabat Nabi, Abu Musa Al Asy’ari

Di antara cobaan bagi umat Islam akhir zaman adalah dikaburkannya sosok-sosok teladan mereka. Figur yang mestinya mereka teladani dirusak image-nya. Wibawa mereka dinista. Sehingga umat Islam bingung, siapa yang harus mereka teladani. Umat Islam tidak lagi percaya kepada tokoh-tokoh agama yang selayaknya mereka kagumi.

Di antara orang-orang yang dirusak figurnya adalah sahabat Rasulullah ﷺ yang bernama Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu. Ia adalah salah seorang tokoh dan ulama di kalangan para sahabat.

Baca lebih lanjut

Benarkah Kisah Tahkim Antara Abu Musa Al Asy’ari & Amru bin Ash ?

Tatkala Abu Musa dan ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhuma berkumpul di Daumatul Jandal, keduanya bersepakat untuk menurunkan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu dan Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu dari kekhalifan. ‘Amr berkata kepada Abu Musa, “Silakan Anda berbicara dulu!”.

Abu Musa pun berdiri seraya berkata, “Aku telah pikirkan matang-matang. Ternyata sebaiknya aku turunkan Ali dari kekhalifahan sebagaimana aku turunkan pedangku ini dari pundakku.” Lalu dia melepaskan pedangnya dari pundaknya.

Baca lebih lanjut

Mengenal Abu Musa Al Asy’ari

Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Qais. Beliau sempat ikut hijrah ke Abessina, kemudian datang ke Madinah setelah perang Khaibar. Khalifah Usman bin Affan mengangkatnya sebagai penguasa di Koufah. Beliau ini termasuk arbitrator dalam peristiwa arbitrasi Shiffin.

Salah seorang sahabat Rasulullah yang telah beliau do’akan dengan permohonan kepada Allah ampunan dan agar dihari kiamat dimasukkan kedalam tempat yang mulia adalah Abu Musa Al-Asy’ariy, sebagaimana do’a Rasulullah : ”Allahumaghfir li-’Abdillah bin Qais zanbahu, wa adkhilhu yauma al-qiyamati madkhalan kariimaa”.

Baca lebih lanjut

Perang Shiffin, Celah Munafiqin Mencela Amirul Mukminin

Celaan kepada sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan dimunculkan pula dari sebuah peristiwa besar, Perang Shiffin. Peperangan dua barisan kaum muslimin itu dimanfaatkan oleh orang-orang munafik untuk mencela generasi terbaik, tanpa memahaminya dengan pemahaman salaful ummah.
Mereka menuduh Mu’awiyah berkehendak merebut kekhilafahan Ali bin Abi Thalib dalam perang itu.

Mereka juga mengatakan bahwa perang antara Ali dan Mu’awiyah dalam Perang Shiffin sama dengan peperangan antara Ali dan kaum Khawarij. Mereka, kaum zindiq berkesimpulan, Mu’awiyah adalah pemberontak sebagaimana kaum Khawarij. Benarkah tuduhan itu? Bagaimana Ahlus Sunnah wal Jamaah menyikapi fitnah Perang Shiffin?

Baca lebih lanjut

Khalifah Ali bin Abu Thalib (16) : Amru bin Ash & Persiapannya Dalam Perang Shiffin

Amr bin Ash adalah komandan yang membuka pintu umat muslim pada penaklukkan Mesir dulu. Ketika para perusuh dan pembunuh Utsman mengepung rumah Khalifah Ali, Amr bin Ash memutuskan untuk meninggalkan Madinah. Dia berangkat bersama kedua putranya, Abdullah dan Muhammad untuk kemudian menetap di Bait Al-Maqdis (Yerusalem). Amr akan pergi ke Damaskus untuk menemui Muawiyah bin Abi Sufyan setelah beberapa hal.

Dari Yerusalem, Amr bin Ash tetap memantau perkembangan terkait peristiwa di Madinah. Ketika sampai padanya informasi akan terjadinya Perang Jamal, dia konsultasi dengan putra-putranya tentang usahanya agar mendapatkan peran sebagai seorang pendamai.

Baca lebih lanjut

Khalifah Ali bin Abu Thalib (11) : Persiapan Pasukan Khalifah Dalam Perang Jamal

Ketika Khalifah Ali diberi tahu mengenai perkembangan terbaru terkait Makkah dan Bashrah, beliau menjadi terkejut dan langsung mengumpulkan kekuatan untuk melawan para pemberontak. Menghadapi Perang Jamal, pasukan Ali didukung oleh sembilan ribu pendukung.

Khalifah Ali Berangkat dari Madinah

Meskipun berperang melawan Aisyah, Thalhah, dan az-Zubair bukanlah hal yang diinginkan, kebanyakan dari penduduk Madinah tetap memenuhi seruan Khalifah Ali. Hal itu karena mereka ketika melihat Abul Haitsam Badari, Ziyad bin Hanzalah, Khuzaimah bin Tsabit dan Abu Qatadah bergabung dengan pasukan Ali.

Baca lebih lanjut

Khalifah Utsman bin Affan (5) : Menyatukan Bacaan Al Quran

Setelah Umar bin al-Khattab wafat, tiga malam berikutnya Utsman bin Affan dibaiat menggantikannya. Baiat itu terjadi pada tahun 24 H. Laki-laki yang malaikat pun malu padanya ini berhasil memperluas wilayah kekhilafahan Islam. Pemeluk Islam kian bertambah jumlahnya. Generasi baru muncul menggantikan ayah ayah mereka. Waktu terus berjalan, menderap langkah peradaban, dan masa kenabian pun kian menjauh.

Penduduk wilayah kekhalifahan belajar mebaca Alquran dari sahabat Nabi yang tinggal bersama mereka. Baca lebih lanjut

Futuhat Islamiyah Di Zaman Umar bin Khattab (8) : Penaklukan Isfahan hingga Azerbaijan & Armenia

Menaklukkan Isfahan

Setelah berhasil menaklukkan Nahawand, di Madinah Umar bermusyawarah dengan para sahabat senior, juga meminta pendapat Hormuzan, panglima Persia yang kini memeluk Islam.

“Bagaimana pendapatmu, apakah aku memulai penaklukkan berikutnya dengan Persia, Azerbaijan, ataukah dengan Isfahan?” tanya Umar kepada Hormuzan.

“Persia dan Azerbaijan adalah sayap, sementara Isfahan adalah kepala. Jika satu sayap dipatahkan maka sayap lainnya masih tetap bisa berfungsi. Tetapi jika kepalanya dipatahkan maka kedua sayap itu akan terpatahkan. Maka mulailah dengan kepala,” jawab Hormuzan. Baca lebih lanjut

Futuhat Islamiyah Di Zaman Umar bin Khattab (7) : Penaklukan Kota Kota Besar Kekaisaran Persia

Penaklukkan Sussa dan Jundai Saphur

Sisa pasukan Persia yang selamat dari pertempuran Tustar melarikan diri ke Sussa dan Jundai Saphur. Mereka dikejar oleh pasukan Islam di bawah komando Nu’man ibn Muqarrin, Abu Musa Al-Asy’ari, dan Abu Sabrah. Sussa tidak jauh dari Tustar. Setibanya di sana, pasukan Islam tidak mendapatkan perlawanan dari Persia. Penduduk kota memilih berdamai.

Khalifah Umar dari Madinah menginstruksikan agar pasukan Islam bergerak ke Jundai Saphur.[1] Zarruh ibn Abdillah dan Aswad ibn Rabi’ah memimpin pergerakan ini. Jundai Saphur pun dapat ditaklukkan dengan mudah. Para penduduk kota disana lebih memilih berdamai.[2] Baca lebih lanjut