Perang Badar Berkecamuk

Setelah melakukan berbagai persiapan fisik, tepatnya pada hari Jum’at pagi, tanggal 17 Ramadhan, tahun 2 Hijriyah, ketika kedua belah pihak (Muslim dan Quraisy) sudah saling berhadapan dan sedang mengambil ancang-ancang untuk saling menyerbu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a :

Ya Allah Azza wa Jalla, kaum Quraisy telah datang dengan sombong dan penuh kecongkakan. Mereka menentang-Mu dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah Azza wa Jalla , berilah pertolongan yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah Azza wa Jalla, binasakanlah mereka pagi ini!”.

Baca lebih lanjut

Sirah Nabi (45) : Perang Badar Kubra

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat menyadari bahwa musyrikin Quraisy –dan semua kelompok yang sejenis dengannya- tidak akan pernah membiarkan umat Islam begitu saja memperoleh kebebasan beragama mereka di kota Yatsrib. Maka, umat Islam pun mempersiapkan segalanya.

Di kota Madinah mereka berlatih agar mereka tidak lagi dilecehkan, dan dapat menggetarkan musyrikin sehingga mereka tidak menyerang umat Islam di kota Madinah.

Baca lebih lanjut

Sekilas Sejarah Perang Badar

Kezaliman kaum Quraisy terhadap kaum Muslimin sudah tak terperikan. Termasuk ketika kaum Muslimin berhijrah dari Mekah menuju Madinah. Seluruh harta kaum Muslimin yang masih di sana, mereka rampas. Inilah di antara sebab yang mendorong kaum Muslimin melakukan pencegatan kafilah dagang kaum Quraisy yang melintas di Madinah.

Pencegatan-pencegatan yang dilakukan kaum Muslimin atas perintah Rasulullah ini tidak membuat kafir Quraisy jera. Karena, belum pernah terjadi kontak fisik yang sengit di antara mereka. Menyadari bahaya yang terus mengintai, kafir Quraisy memperketat dan memperkuat sisi keamanan untuk mengawal bisnis mereka.

Baca lebih lanjut

Sirah Nabi (32) : Berakhirnya Pemboikotan Terhadap Nabi & Kaum Muslimin

Selama empat pekan, tepatnya selama jangka waktu yang relatif singkat, ada empat kejadian besar di mata orang-orang musyrik, yaitu: Hamzah masuk Islam, disusul Umar, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menolak tawaran mereka dan kesepakatan bersama yang dijalin Bani Al-Muththalib dan Bani Hasyim , yang kafir maupun yang Muslim, untuk melindungi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Maka orang-orang musyrik merasa bingung dan memang mereka layak untuk merasa bingung. Mereka sadar, jika darah Muhammad tumpah karena ulah mereka, maka Makkah pasti akan digenangi darah manusia dan bahkan bisa membinasakan mereka semua. Karena menyadari hal ini, mereka beralih ke bentuk kezhaliman lain yang bukan pembunuhan, tetapi dengan sasaran yang sama. Baca lebih lanjut

Pelajaran Dari Wafatnya Paman Nabi Abu Thalib

Apa saja pelajaran yang bisa diambil dari kisah meninggalnya Abu Thalib?

Pertama: Kisah tersebut menunjukkan agungnya kalimat tauhid laa ilaha illallah yang di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menginginkan pamannya mengucapkannya.

Kalimat tersebut berisi kandungan agar kita mentauhidkan Allah dalam ibadah. Siapa saja yang mentauhidkan Allah, maka berarti ia telah bebas dari menjadi budak pada makhluk.

Kedua: Orang-orang musyrik sudah paham bahwa kalimat laa ilaha illallah punya konsekuensi untuk menjadikan sesembahan hanya satu yaitu Allah Sang Khaliq. Baca lebih lanjut

Kisah Wafatnya Abu Thalib, Paman Nabi shalallahu alaihi wasallam (3/3)

Dalam peristiwa wafatnya Abu Thalib, ada empat tokoh besar yang duduk bertemu. Dua orang di antaranya telah kita uraikan di tulisan sebelumnya. Banyak pelajaran yang kita dapati dan kaji dari keduanya. Pelajaran yang bisa kita adaptasi dengan realita kekinian.

Berikutnya, tokoh ketiga adalah paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Thalib bin Abdul Muthalib.

Abu Thalib Baca lebih lanjut

Kisah Wafatnya Abu Thalib, Paman Nabi shalallahu alaihi wasallam (2/3)

Di tulisan sebelumnya, telah dibahas bagaimana peristiwa wafatnya paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Thalib. Bagaimana Nabi berusaha mendakwahi sang paman di akhir hayat. Dan bagaimana pula tokoh-tokoh kekufuran, Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah, tak mau kalah menyerukan kekufuran untuk teman mereka.

Orang pertama yang akan kita bahas dalam tulisan kali ini adalah Abu Jahal.

Abu Jahal Baca lebih lanjut

Kisah Wafatnya Abu Thalib, Paman Nabi shalallahu alaihi wasallam (1/3)

Saat Abu Thalib mendekati akhir usia, berkumpullah tokoh-tokoh besar di sekitarnya. Penghulu manusia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tokoh kekafiran juga pemuka Quraisy, Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah. Kehadiran para tokoh yang kontradiktif inilah, membuat peristiwa wafatnya Abu Thalib memuat banyak pelajaran.

Ketika ajal Abu Thalib telah dekat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam segera menuju rumah sang paman. Beliau berharap pamannya yang turut memperjuangkan dakwah ini, melisankan syahadat di akhir hayat. Meninggalkan dunia dengan menyandang status seorang muslim. Sehingga menjadi sebab bergantinya keadaan, dari berhadapan dengan ancaman neraka berganti dengan nikmat surga. Baca lebih lanjut

Teror Fisik Terhadap Rasulullah & Para Pengikutnya

Seruan dakwah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mengusik ketenangan para pembesar Quraisy yang masih musyrik. Apalagi ketika melihat para pengikut Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kian bertambah.

Berbagai upaya, baik dengan cara yang halus, lembut, rayuan ataupun tawaran hadiah telah mereka lakukan untuk menghentikan laju dakwah al haq ini, namun semuanya tidak membuahkan hasil. Hingga kemudian para pembesar Quraisy memutuskan untuk melakukan tekanan-tekanan lebih keras. Yaitu dengan menggunakan cara-cara kekerasan. Baca lebih lanjut

Sirah Nabi (25) : Gangguan Kaum Musyrikin Quraisy Terhadap Dakwah Nabi

Kaum kafir Quraisy tidak hanya menolak dakwah Nabi ﷺ namun mereka mencoba melakukan perlawanan. Ada beberapa metode yang mereka lakukan untuk menghentikan dakwah Nabiﷺ. Namun secara umum ada dua metode besar yaitu metode menyerang secara psikologi/mental dan metode menyerang secara fisik.

(1). Menyerang secara Psikologi

Misalnya dengan mengejek Nabi dengan ejekan-ejekan yang tidak benar. Oleh karena itu, istihza’ (ejekan) ini dilakukan oleh pengikut para Nabi terhadap Nabi-Nabi mereka, diantaranya kepada Rasullullahﷺ. Kita dapati di dalam Al-Qurān berbagai macam model ejekan yang mereka berikan kepada Nabiﷺ. Allah berfirman, Baca lebih lanjut