Syarat Sah Shalat (5) : Niat Shalat


Di antara syarat shalat yang perlu diperhatikan lagi adalah berniat. Inilah yang dijelaskan dalam kitab Manhajus Salikin kali ini melanjutkan bahasan kitab shalat, syarat shalat.

Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam Manhajus Salikin,

وَمِنْ شُرُوْطِهَا النِّيَّةُ

“Dan di antara syarat shalat adalah niat”.

Pembicaraan Niat dalam Hadits

Niat adalah syarat sah dari seluruh ibadah. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hadits Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907)

Niat Masuk dalam Syarat ataukah Rukun Shalat?

Menurut Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili, niat itu merupakan syarat shalat dalam madzhab Hanafiyah, Hambali, begitu pula dalam madzhab Malikiyah yang paling kuat. Sedangkan dalam madzhab Syafi’iyah dan sebagian Malikiyah berpendapat bahwa niat itu masuk dalam rukun shalat atau fardhu shalat karena niat itu wajib ada di awal shalat, tidak pada seluruh shalat, sehingga masuk dalam rukun shalat sebagaimana takbir dan ruku’. Lihat Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, 1:660.

Niat dan Ikhlas

Niat itu wajib ada dalam shalat dengan sepakat para ulama untuk membedakan satu ibadah dengan adat (kebiasaan), lantas shalat tersebut dikerjakan ikhlas karena mengharapkan ridha Allah. Karena shalat adalah ibadah, dan ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah semata sebagaiman firman-Nya,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5). Lihat bahasan dalam Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, 1:660.

Syarat Niat dan Caranya

Syarat niat adalah Islam, tamyiz (bisa membedakan baik dan buruk), dan berilmu atas apa yang diniatkan.

Letak niat disarankan adalah ketika akan melakukan takbiratul ihram. Hal ini dilakukan supaya terlepas dari khilaf (perbedaan pendapat) di antara para ulama. Yang tepat, tidak mengakhirkan niat dari takbiratul ihram.

Letak niat adalah di dalam hati menurut kesepakatan para ulama. Menurut jumhur ulama selain Malikiyyah dianjurkan untuk melafazhkan niat. Dalam madzhab Syafi’i, niat itu letaknya dalam hati, namun disunnahkan untuk diucapkan dekat dengan takbiratul ihram. Dalam madzhab Hambali, letak niat juga dalam hati, sedangkan di lisan itu disunnahkan. Bahasan ini disarikan dari Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, 1:665, 667.

Letak Niat yang Tepat

Yang tepat, letak niat adalah dalam hati. Hakikat niat adalah bertekad melakukan sesuatu. Niat dilakukan pada awal ibadah atau dekat sebelum ibadah dimulai. Ini disebutkan dalam Syarh Manhaj AsSalikin, hlm. 82.

Disebutkan oleh Syaikh Az-Zauman bahwa niat adalah bertekad melakukan suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Maka kita berniat melakukan shalat yang akan dikerjakan baik shalat fardhu maupun shalat sunnah, namun tidak perlu dilafazhkan. Lihat Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin, 1:191.

Syaikh Az-Zauman juga menjelaskan bahwa berniat itu sangat mudah. Cukup seseorang mengetahui bahwa ia akan melakukan suatu ibadah, berarti ia telah berniat. Siapa saja yang telah bertekad (ber-azam) melakukan sesuatu, maka ia sudah disebut berniat. Tidak mungkin ia tidak berniat. … Niat itu adalah sesuatu yang lazim dilakukan dan tidak perlu sampai perlu usaha keras untuk mengucapkannya. Yang aneh adalah ketika ada perkara yang kita masih punya pilihan melakukannya, lantas kita melakukannya tanpa niat, itu suatu hal yang tidak mungkin. Lihat Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin, 1:192.

Al-Muwaffaq Ibnu Qudamah mengatakan,

لَوْ كَلَّفَنَا اللهُ عَمَلاً بِلاَ نِيَّةٍ لَكَانَ مِنْ تَكْلِيْفِ مَا لاَ يُطَاقُ

“Seandainya Allah membebani suatu amalan tanpa niat, maka itu sama halnya membebani sesuatu yang tidak dimampui.” (Dzamm Al-Muwaswisin, Ibnu Qudamah, hlm. 15; dinukil dari At-Ta’liqat ‘ala ‘Umdah Al-Ahkam, Syaikh As-Sa’di, hlm. 23-24).

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah

***

Penulis : Muhammad Abduh Tuasikal

Akhi, ukhti, yuk baca tulisan lengkapnya di Rumaysho:
https://rumaysho.com/19457-manhajus-salikin-syarat-shalat-berniat.html

One response to “Syarat Sah Shalat (5) : Niat Shalat

  1. Ping balik: Kumpulan Artikel Seputar Ibadah Shalat | Abu Zahra Hanifa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s