Kisah Islamnya Wahsy bin Harb radhiyallahu ‘anhu


Hidayah dari Allah tidak bisa diduga. Ketika Kota Mekkah ditaklukkan dan manusia berbondong-bondong masuk Islam, Wahsyi adalah salah satu di antara mereka.

Bahkan dia ikut di dalam delegasi orang-orang Thaif untuk menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sesampainya mereka di Madinah dan bertemu Rasulullah, maka beliau melihat Wahsyi, Rasulullah bertanya, “Apakah engkau Wahsyi?”.

Kata Wahsyi, “Iya”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah engkau yang dahulu membunuh Hamzah?

“Seperti itulah sebagaimana berita yang sampai kepada Anda.” Jawab Wahsyi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bisakah engkau menyembunyikan wajahmu dariku?

Maka Wahsyi pun keluar. (Shahih Al Bukhari no : 4072).

Kisah di atas tadi tidak menunjukkan bahwa nabi menolak keislaman Wahsyi, bagaimana mungkin Nabi menolak padahal beliaulah yang berkata kepada sahabat ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhu yang artinya “Wahai ‘Amr, tidakkah kamu tahu bahwa Islam itu menghapus dosa sebelumnya?” [Hadis Shahih riwayat Ahmad 4/205]

Yakni, seorang yang kafir apabila masuk Islam maka dosa-dosa yang dilakukan sebelum menjadi seorang muslim diampuni.

Sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap sahabat Wahsyi bukan pula bentuk dendam kepada Wahsyi, akan tetapi bisa jadi jika beliau melihat Wahsyi akan teringat Hamzah radhiyallahu ‘anhu pamannya.

Sehingga yang demikian ini mungkin bisa menyebabkan kesedihan Beliau. Wallahu a’lam.

Setelah memeluk Islam, Washi menceritakan rangkaian peristiwa tersebut sebagai berikut:

“Setelah perang Uhud aku melanjutkan hidup di Mekkah dalam waktu yang cukup lama sampai tentara Muslim menaklukkan Mekkah”.

Aku kemudian melarikan diri ke Tha’if, tetapi segera setelah itu Islam juga menjangkau daerah itu. Aku mendengar bahwa sebesar apapun dosa seseorang, ia akan diampuni.

Lantas aku menghadap Rasulullah dan mengucapkan syahadat.

Ia kemudian melihatku dan menanyakan, “Apakah kau Wahsyi yang sama dengan Wahsyi dari Ethiopia?”

Aku mengiyakan dan dia kembali bertanya: “Bagaimana kau dapat membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib?”

Aku kemudian menceritakan peristiwa tersebut. Rasulullah kemudian berpaling dan mengatakan: “Aku tidak akan melihat wajahmu hingga Hari Berbangkit, karena musibah yang menimpa pamanku oleh tanganmu”.
Kemudian selama Rasulullah masih hidup aku menyembunyikan diri darinya, dan setelah wafatnya peperangan dengan Musailamah berlangsung.

Aku bergabung dengan tentara Islam dan menggunakan senjata yang sama melawan Musailamah, aku berhasil membunuhnya dengan bantuan salah seorang Anshar.

“Sungguh, dengan tombak itu aku telah membunuh sebaik-baiknya manusia. Dan dengan tombak itu pula, aku telah membunuh seburuk-buruknya manusia”

***

Referensi Bacaan : https://abuzahrahanifa.wordpress.com/2020/10/17/mengenal-wahsy-bin-harb-pembunuh-hamzah-bin-abdul-muthalib-nabi-palsu-musailamah-al-kadzab/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s