Fathu Makkah (5) : Islamnya Tokoh Quraisy, Suhail bin Amr


Suhail bin Amr adalah salah seorang pemuka dan orator ulung bangsa Quraisy. Dialah yang selama ini menghasut orang-orang agar menyerang dan memerangi kaum muslimin dengan segenap kekuatan. Pedasnya ucapan Suhail benar-benar menyakiti kaum muslimin.

Sampai-sampai Umar bin al-Khaththab radhiallahu anhu, ketika melihatnya tertawan dalam Perang Badr meminta izin kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, “Biarkan saya patahkan dua gigi serinya, agar dia tidak dapat lagi berpidato menyerang kita (dengan ucapannya)”.

Akan tetapi, Nabi shallallahu alaihi wa sallam hanya mengatakan, “Biarlah. Mungkin suatu ketika gigi itu akan membuatmu senang.”

Akhirnya, Suhail tetap dibiarkan hidup memerangi Islam dan kaum muslimin dengan dua senjata, pedang dan lisannya. Tibalah peristiwa Hudaibiyah.

Tatkala Suhail bin Amr datang sebagai delegasi Quraisy, Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata dengan optimis, “Sungguh, urusan kalian benar-benar telah menjadi mudah. Mereka sungguh-sungguh ingin berdamai ketika mengutus orang ini.”

Sebelumnya, Quraisy sudah menyatakan kepada Suhail, “Datangi Muhammad (shallallahu alaihi wa sallam), ajaklah dia berdamai. Hendaklah dia kembali tahun ini. Jangan sampai bangsa Arab beranggapan kalau dia masuk tahun ini, kita telah dikalahkan Muhammad (shallallahu alaihi wa sallam).”

Dibuatlah perjanjian sebagaimana disebutkan dalam kisah Hudaibiyah beberapa edisi lalu. Suhail tetap menampakkan sikap permusuhannya terhadap Islam sampai terjadinya Fathu Makkah.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memasuki Baitullah, lalu keluar dan bertelekan di pintu Ka’bah seraya berkata, “Apa yang akan kalian katakan?”

Berkatalah Suhail bin Amr, “Kami hanya mengatakan yang baik, dan menyangka sesuatu yang baik. (Anda) adalah saudara yang mulia, putra saudara yang mulia, dan Anda menang.”

Kata beliau, “Saya hanya katakan kepada kalian sebagaimana ucapan Nabi Yusuf kepada para saudaranya (sebagaimana firman-Nya),

لَا تَثۡرِيبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡيَوۡمَۖ 

‘Tiada celaan atas kalian pada hari ini.’

Pergilah. Kalian semua bebas.”

Mendengar ini, luluhlah hati Suhail dan orang-orang yang bersamanya, dalam keadaan malu dan segan melihat pekerti agung Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan kasih sayangnya yang membuat akal manusia terbang keheranan. Lidah pun kelu, tak mampu berucap sepatah kata pun.

Mulailah bersemi rasa cinta di dalam hati Suhail kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Tumbuh pula kecondongannya kepada Islam. Dia pun datang kepada putranya, Abu Jandal (yang telah muslim, -red.), agar memintakan jaminan keamanan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberinya jaminan keamanan. Setelah itu, Suhail ikut berangkat menuju Hunain bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam keadaan masih musyrik, sampai dia masuk Islam di Ji’ranah.

Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberinya waktu itu seratus ekor unta dari ghanimah Hunain. Semakin bertambah rasa takluk dan malu dalam hati Suhail.

Tak lama, Islam mulai tumbuh mekar dalam hati Suhail. Dia berusaha sekuat tenaga mengganti apa-apa yang pernah hilang darinya. Hatinya setiap saat merasa teriris-iris ketika mengingat betapa jauhnya dia selama ini dari ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Keras kepala, kesombongan, dan peperangan sungguh-sungguh telah membuat mereka buta.

Setelah tabir itu tersingkap, tampaklah hakikat iman di depan mata mereka, bahkan diresapi oleh hati-hati mereka.

Beberapa sahabat dan orang-orang yang datang sesudah mereka mempersaksikan, “Tidak ada seorang pun pembesar Quraisy yang belakangan masuk Islam, lalu masuk Islam ketika Fathu Makkah, yang lebih banyak shalatnya, puasanya, dan sedekahnya daripada Suhail. Bahkan, tidak ada yang lebih bersemangat terhadap hal-hal yang mendukung kepada akhirat dibandingkan dengan Suhail bin Amr.”

Bahkan diceritakan, warna kulitnya berubah dan dia sering menangis ketika membaca Al-Qur’an.

Pernah terlihat, dia selalu menemui Muadz bin Jabal radhiallahu anhu yang ditugasi oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajari penduduk Makkah tentang syariat Islam.

Ada yang berkata kepadanya, “Kamu mendatangi Muadz? Mengapa engkau tidak mendatangi salah seorang dari Quraisy untuk mengajarimu?”

Suhail menukas, “Inilah yang telah mereka melakukan sehingga mengalahkan kami. Demi umurku, aku selalu mendatanginya. Islam telah menghinakan sikap-sikap jahiliah. Dengan Islam ini, Allah mengangkat suatu kaum yang sama sekali tidak terkenal pada masa jahiliah. Duhai kiranya kami bersama mereka, dan kami juga mendahului.”

Itulah keikhlasan. Itulah keimanan, ketika menghunjam di dalam hati. Sebab, hakikat ikhlas adalah terdorongnya hati kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan bertobat dari segala dosa dengan tobat nasuha.

Suhail terus melangkah. Menelusuri jalannya menuju surga ar-Rahman, untuk menebus apa yang luput darinya. Dialah yang mengucapkan kata-kata yang terkenal ini,

“Demi Allah. Saya tidak akan biarkan satu tempat pun yang di situ saya berada bersama kaum musyrikin melainkan saya berada di sana bersama kaum muslimin seperti itu juga. Tidak ada satu pun nafkah yang dahulu saya serahkan bersama kaum musryikin melainkan saya infakkan pula kepada kaum muslimin yang serupa dengannya. Mudah-mudahan urusanku dapat menyusul satu sama lainnya.”

Setelah Nabi shallallahu alaihi wa sallam wafat, beberapa kabilah mulai murtad dari Islam. Bahkan, penduduk Makkah mulai goyah. Bangkitlah Suhail mengingatkan bangsanya, “Wahai penduduk Makkah. Kalian adalah manusia yang paling akhir masuk ke dalam agama Muhammad (shallallahu alaihi wa sallam), maka janganlah kalian menjadi orang pertama yang keluar darinya….”

Kemudian dia melanjutkan, “Siapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad (shallallahu alaihi wa sallam) sudah wafat. Siapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Mahahidup, tidak akan pernah mati.”

Mungkin inilah rahasianya, mengapa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dahulu melarang Umar bin al-Khaththab radhiallahu anhu mematahkan gigi seri Suhail. Dikisahkan, Umar pun tersenyum mendengar berita pembelaan Suhail radhiallahu anhu terhadap Islam ini.

Suhail tetap teguh di atas kebaikan dan keimanan. Bertambah banyak shalat dan puasa serta sedekahnya. Dia senantiasa menangis ketika membaca Kitab Allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan, dia sengaja berangkat menuju negeri Syam sebagai mujahid, memerangi musuh-musuh Allah subhanahu wa ta’ala.

Ketika di Yarmuk, tempat ia bertugas sebagai amir (gubernur) negeri Kurdus, dia tetap berjaga di perbatasan muslimin, sambil mengingat hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

مَقَامُ أَحَدِكُم فِى سَبِيْلِ اللهِ سَاعَةً مِنْ عُمْرِهِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ عُمْرَهُ فِى أَهْلِهِ

“Posisi salah seorang dari kamu di jalan Allah satu saat saja dari usianya, lebih baik dari amalannya seumur hidup ketika dia bersama keluarganya.”

Kata Suhail, “Saya akan tetap berjaga di perbatasan (ribath) sampai mati dan tidak akan kembali lagi ke Makkah.”

Suhail tetap berada di posnya sampai meninggal dunia karena wabah penyakit tha’un [1].

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

الطَّاعُونُ شَهَادَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

“Wabah tha’un adalah syahadah setiap muslim.”

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai Suhail bin Amr.

***

Catatan Kaki :

[1]. Suatu penyakit menular, berupa bengkak yang asalnya menjangkiti tikus. Penyakit ini lalu menyebar kepada tikus lain melalui kutu hingga akhirnya menjangkiti manusia. (al-Mu’jamul Wasith, -ed.)

sumber : https://asysyariah.com/islamnya-sejumlah-tokoh-quraisy-fathu-makkah-bagian-empat/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s