Ammar bin Yasir (10) : Wafatnya Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu


Adapun riwayat-riwayat yang dituturkan kali ini, sepenuhnya dikutip dari al-Tabari dalam Kitab Tarikh al-Rusul wa al-Muluk, tanpa dikurangi atau dilebihkan. Sehingga jika para pembaca menemukan perseteruan yang terjadi di antara para sahabat, karena memang demikian lah yang diriwayatkan.

Habbah bin Juwain al-Urani meriwayatkan:

“Aku dan Abu Masud pergi untuk menemui Hudzaifah (bin al-Yaman) di al-Mada dan menemuinya.

Dia berkata, “Selamat datang kepada kalian berdua. Tidak ada seorang pun di antara suku-suku Arab yang datang kemari yang lebih berharga bagiku daripada kalian berdua.”

Aku menyerahkan jawaban (dari pernyataan Hudzaifah di atas) kepada Abu Masud dan kami berkata, “Wahai Abu Abdallah, sampaikan kepada kami hadis, karena kami khawatir akan datangnya masa kekacauan (al-fitan)!”.

Dia menjawab,

Berpeganglah pada kelompok yang di dalamnya ada Ibnu Sumayyah (Ammar bin Yasir), karena aku pernah mendengar Nabi bersabda, ‘Kelompok penindas yang menyimpang dari jalan (yang benar) akan membunuhnya, dan hidangan terakhirnya adalah susu yang dicampur dengan air”.

Habbah melanjutkan:

“Dan aku melihat Ammar di Shiffin ketika dia berkata, “Bawakan aku hidangan terakhirku di dunia ini,” dan dia dibawakan minuman susu encer di dalam sebuah mangkuk dangkal dengan (hiasan) lingkaran merah.

Hudzaifah tidak salah bahkan dengan (penggambarannya tentang) ketebalan rambut (Ammar), karena Ammar berkata, “Hari ini aku akan bertemu dengan yang tercinta – Muhammad dan sahabat-sahabatnya. Demi Allah, bahkan jika mereka memukul kami sehingga kami terdorong mundur ke daun-daun kurma di Hajar, kita akan tahu bahwa kita berpegang kepada kebenaran dan mereka kepada kepalsuan.”

Dan dia mulai berkata, “Kematian ada di bawah naungan tombak dan Surga itu berada di bawah naungan kilatan pedang”

Bukti Nubuah Kenabian Pada Ammar bin Yasir

Ammar bin Yasir setelah mengalami nubuat dari Rasulullah, yakni menikmati hidangan terakhirnya di dunia, susu yang dicampur dengan air, maju ke medan pertempuran. Mengenai bagaimana jalannya pertempuran, Abu Abdurrahmaan Sulami meriwayatkannya.

Berikut ini adalah riwayatnya sebagaimana disampaikan oleh Hakim dan Ibnu Saad:

(Dengan dorongan dari Ammar ini) Hasyim mengibarkan bendera dan mengatakan (bait berikut ini):

“Pria bermata satu ini telah menghabiskan hidupnya mencari rumah untuk keluarganya sampai dia telah menjadi lelah”

“Dia sekarang akan bertarung sampai dia mengalahkan lawan atau dikalahkan”.

Dia kemudian maju ke salah satu lembah Shiffin (untuk berperang). Abu Abdurrahman Sulami berkata,

“Aku kemudian melihat para sahabat Rasulullah mengikuti Ammar seolah-olah dia adalah bendera mereka”

Dalam riwayat lainnya, Abu Abdurrahman Sulami mengatakan, “Aku memperhatikan bahwa (dalam Perang Shiffin) setiap kali Ammar maju ke salah satu lembah Shiffin, semua sahabat Rasulullah yang ada di sana mengikutinya. Aku juga melihatnya mendekati Hasyim bin Utbah yang mengibarkan bendera pasukan Ali.

“Dia berkata, ‘Wahai Hasyim! Majulah! Jannah terletak di bawah bayang-bayang pedang dan kematian terletak di ujung tombak. Pintu Jannah telah terbuka lebar dan para gadis di Jannah telah dipercantik. Hari ini aku akan bertemu orang-orang yang aku cintai, Muhammad dan pengikutnya.’

Dia kemudian melancarkan serangan bersama Hasyim dan mereka berdua mati syahid. Pada saat itu, Ali dan pasukannya juga melancarkan serangan terhadap orang-orang Syam seolah-olah mereka semua adalah satu orang. Kedua orang itu – Ammar dan Hasyim – terlihat bagaikan bendera mereka.”

Penggambaran lainnya tentang peristiwa di atas, setelah Ammar maju, dijelaskan oleh sejarawan al-Azhar Khalid Muhammad Khalid:

Kemudian bagai sebuah peluru dahsyat dia menyerbu ke arah Muawiyah dan orang-orang di sekelilingnya dari golongan Bani Umayyah, lalu melepaskan seruannya yang nyaring yang menggetakarkan,

Dulu kami hantam kalian di saat diturunkannya. Kini kami hantam lagi kalian karena menyelewengkannya. Tebasan maut menghentikan niat jahat. Dan memisahkan kawanan pengkhianat. Atau al-Haq berjalan kembali di jalurnya.”

Maksud dari syair Ammar adalah bahwa para sahabat dulu memerangi Bani Umayyah yang dipimpin oleh Abu Sufyan, ayah Muawiyah, karena secara terang Alquran telah memerintahkan untuk memerangi pasukan Musyrikin.

Dan sekarang, di bawah kepemimpinan Muawiyah, meskipun mereka telah masuk Islam, namun menurut ijtihad dan penyelidikkan Ammar, golongan ini telah menyelewengkan agama dan menyimpang dari ajaran Alquran, serta mengacaukan takwil dan salah menafsirkannya, dan mencoba membelokkan maknanya agar sesuai dengan kepentingan pribadi mereka.

Orang-orang dari pihak Muawiyah, yang tahu mengenai nubuat Nabi, bahwa yang akan membunuh Ammar adalah “golongan pendurhaka”, sekuat tenaga menghindari Ammar agar pedang mereka tidak sampai membunuhnya.

Namun Ammar yang pada saat itu sudah berusia 93 tahun, masih terlampau kuat bagi mereka. Tenaganya digambarkan bagaikan satu pasukan penuh. Sehingga pertimbangan untuk tidak membunuhnya menjadi sirna karena malah-malah dia bisa membahayakan mereka. Dibunuhnyalah Ammar oleh pasukan Muawiyah.

Berita mengenai tewasnya Ammar segera tersebar dari mulut ke mulut, dan mereka menjadi terngiang-ngiang akan nubuat Nabi, “Ammar akan dibunuh oleh golongan pendurhaka….”.

Banyak orang di pihak Muawiyah yang menjadi bimbang dan ragu, bahkan sebagian telah hendak memisahkan diri dan menyebrang ke pihak Ali.

Syahidnya Ammar bin Yasir

Al-Tabari dalam Tarikh al-Rusul wa al-Muluk menyampaikan sebuah riwayat dari al-Amash. Al-Amash berkata:

Abu Abdurrahman al-Sulami meriwayatkan:

Kami bersama (berada di pihak) Ali (bin Abi Thalib) di Shiffin dan kami telah menugaskan dua orang untuk (berdiri di samping) kuda Ammar (bin Yasir) untuk menjaganya (Ali) dan mencegahnya agar tidak diserang.

Tetapi, setiap kali mereka (para penjaga Ali) lengah sejenak, dia (Ali) sendiri akan melakukan serangan dan tidak kembali sampai dia mewarnai pedangnya (dengan darah).

Dan mana kala dia melakukan serangan dia tidak akan kembali sampai pedangnya rusak berubah bentuk. Dia melemparkannya ke arah mereka, berkata, “Jika bukan karena rusak, aku tidak akan kembali.”

(Al-Amash berkata, “Demi Allah, itu adalah serangan dari seseorang yang melampaui keraguan,” dan Abu Abdurrahman menganggapi, “Orang-orang yang berada di sana mendengar sesuatu dan menceritakannya kembali, dan mereka bukan pembohong!”)

Abu Abdurrahman kemudian melanjutkan:

Aku melihat bahwa setiap kali Ammar pergi ke salah satu wadi (sungai kering di padang pasir yang hanya terisi air jika hujan turun-pen) Shiffin para Sahabat (Nabi) Muhammad yang ada di sana mengikutinya.

Dan aku melihatnya menuju ke arah Mirqal, Hasyim bin Utbah yang menjadi pembawa Panji Ali, dan berkata, “Hasyim, yang bermata satu dan seorang pengecut! Tidak ada kebaikan pada seorang pria bermata satu yang tidak terjun ke medan perang.

“Dan lalu, bagaimana jika seseorang dari kedua belah pihak berkata, ‘Demi Allah, yang ini meninggalkan Imam-nya, meninggalkan pasukannya, dan enggan berjuang?’ Majulah, Hasyim!”

Hasyim mengendarai (kudanya) dan maju, mengucapkan (bait syair):

Seorang pria bermata satu yang mencari lawan yang tangguh

sudah menyibukkan dirinya dengan kehidupan sampai akhirnya bosan dengan itu semua.

Haruskah dia menaklukkan atau ditaklukkan?

Dan Ammar berkata, “Maju terus, Hasyim! Surga berada di bawah bayang-bayang pedang dan kematian berada di ujung tombak. Gerbang surga telah dibuka, dan para gadis (di Surga) telah menghiasi diri mereka sendiri. Hari ini aku akan bertemu dengan yang tercinta, Muhammad dan pengikutnya.” Tidak ada yang kembali, dan keduanya terbunuh.

(Abu Abdurrahman berkomentar, “Kata-kata ‘para sahabat Nabi yang ada di sana’ menerangkan kepadamu, al-Amash, tentang mereka berdua, bahwa mereka telah membedakan diri mereka sebagai orang yang pemberani [sehingga membuat para sahabat lain mengikuti mereka seolah-olah mereka berdua adalah Panji Ali itu sendiri—lihatlah tentang riwayat ini pada seri sebelumnya-pen].)

Dia (Abu Abdurrahman) kemudian melanjutkan:

Dan ketika malam harinya aku berkata, “Aku akan pergi ke (perkemahan) musuh untuk mencari tahu apakah berita tentang pembunuhan Ammar telah mempengaruhi mereka

sebagaimana itu telah mempengaruhi kami,” karena, ketika kita berhenti berperang (dalam setiap harinya), mereka biasa berbicara dengan kami dan kami dengan mereka.

(Jika melihat riwayat-riwayat lain sebelumnya mengenai Perang Shiffin, karena ini adalah perang saudara di antara sesama Muslim, seringkali mereka digambarkan telah mengenal satu sama lain sebelumnya.

(Menyimak perkataan Abu Abdurrahman di atas, tentang berbicara satu sama lain di antara pihak yang sedang berperang, kemungkinan maksudnya adalah kedua belah pihak sepakat untuk tidak saling menyerang di malam hari dan mereka dapat bercakap-cakap selayaknya teman, meskipun besoknya mereka akan berperang kembali-pen.)

Jadilah aku mengendarai kudaku — pada awal malam — dan kemudian aku pergi ke perkemahan mereka. Aku menemukan empat pria sedang berkumpul melingkar. Muawiyah, Abu al-Awar al-Sulami, Amr bin al-Ash, dan Abdallah bin Amr, yang merupakan orang-orang yang terbaik di antara mereka. Aku menggiring kudaku ke sekitar mereka, khawatir bahwa aku akan melewatkan apa yang dikatakan salah satu peserta diskusi.

Abdallah berkata kepada ayahnya (Amr bin al-Ash), “Ayah, apakah engkau telah membunuh orang ini (Ammar bin Yasir) dalam pertempuranmu hari ini, meskipun Rasulullah telah mengatakan apa yang beliau sabdakan tentang dia?”

Amr bertanya tentang apa itu, dan putranya berkata, “Apakah engkau tidak bersama kami ketika kami sedang membangun masjid (di Madinah) dan semua orang memindahkan batu demi batu dan bata demi bata, sementara Ammar membawa dua batu dan dua bata sekaligus?

“Upaya itu menyebabkannya pingsan, dan Rasulullah datang kepadanya dan mulai menyeka debu dari wajahnya, berkata, ‘Kasihan sekali dirimu, Ibnu Sumayyah! Orang-orang mengangkut batu demi batu dan bata demi bata, sementara engkau memindahkan dua batu dan dua bata dalam satu waktu, (demi) mengharapkan pahala. Meskipun begitu, para kelompok pemberontak lah yang akan membunuhmu. Kasihan sekali dirimu.’.”

Amr mendorong kuda Abdallah pergi dan menarik Muawiyah ke arahnya. Dia berkata, “Muawiyah, apakah engkau tidak mendengar apa yang dikatakan Abdallah?” Muawiyah bertanya apa itu, dan Amr menyampaikan kisahnya.

Muawiyah berkata, “Engkau orang tua yang bodoh. Engkau terus menceritakan kisahnya sementara itu merugikanmu. Apakah kita yang membunuh Ammar? Hanya merekalah (yang membunuhnya) yang telah mengajaknya ke sini.”

Dan orang-orang keluar dari tenda dan bivak mereka, mengatakan, “Hanya merekalah (pihak Ali) yang mengajak Ammar yang telah membunuhnya.” Aku tidak tahu siapa yang lebih aneh – dia (Muawiyah) atau mereka (para pengikutnya).

Berita mengenai tewasnya Ammar segera tersebar dari mulut ke mulut, dan mereka menjadi terngiang-ngiang akan nubuat Nabi, “Ammar akan dibunuh oleh golongan pendurhaka….”.

Epilog Wafatnya Ammar bin Yasir

Setelah wafatnya Ammar bin Yasir, Khalifah Ali bin Abi Thalib memangku tubuhnya dan menyalatkannya bersama Kaum Muslimin. Ammar lalu dikuburkan bersama dengan pakaiannya yang berlumuran darah.

Abu Jafar (al-Tabari) berkata: Telah diriwayatkan, bahwa ketika Ammar terbunuh, Ali berkata kepada Rabiah dan Hamdan,

“Kalian adalah tameng dan tombakku!”

Dia lalu menyeru Muawiyah dan berkata, “Mengapa orang-orang (mesti) terbunuh dalam perseteruan kita? Kemarilah, aku akan mempercayakan kepada Allah dengan keputusan di antara kita (uhakimuka ila Allahi). Siapa pun di antara kita yang membunuh yang lain, kepemimpinan (al-umur) akan menjadi untuknya!”

-semoga bermanfaat-

***

Sumber Bacaan :

One response to “Ammar bin Yasir (10) : Wafatnya Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu

  1. Ping balik: Mukjizat Nabi Muhammad (10) : Berita Syahidnya Ammar bin Yasir Ditangan Pemberontak | Abu Zahra Hanifa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s