Ammar bin Yasir (1) : Siapakah Ammar bin Yasir ?


Abdullah bin Masud meriwayatkan, bahwa terdapat tujuh orang pertama yang menyatakan keislamannya di depan umum. Mereka adalah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, Abu Bakar Ash Shiddiq, Ammar (bin Yasir), ibunya (Sumayyah), Shuhaib (bin Sinan), Bilal (bin Rabah), dan Miqdad (bin Aswad).

Sementara Allah melindungi Rasulullah melalui pamannya dan Abu Bakar melalui sukunya, yang lainnya (Ammar, Sumayyah, Shuhaib, Bilal, dan Miqdad) ditangkap oleh Kaum Musyrikin dan dipaksa mengenakan baju baja dan dibiarkan berjemur di bawah sinar matahari yang terik.[1].

Tulisan kali ini akan mengupas kisah sahabat yang mulia Ammar bin Yasir bin ‘Amir Al-‘Anasi Abul Yaqzhan, bekas budak Bani Makhzum. semoga menjadi pelajaran dan teladan bagi kita semua.

Ia, ayah, dan ibunya masuk Islam pada masa awal. Lantas orang musyrik menyiksa mereka. Ketika itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati mereka dalam keadaan sedang disiksa di Makkah.

Dialah sosok sahabat Nabi yang istimewa. Berasal dari keluarga syuhada. Bahkan Ibunya (Sumayyah) adalah syahidah pertama dalam sejarah perkembangan Islam. Dia selalu mengikuti jalan kebenaran walau penuh duri. Walau penuh penderitaan, laki-laki ini tetap setia pada ajaran dan bimbingan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Ammar berasal dari keluarga sederhana, kurang mampu tepatnya. Yasir bin Amir berasal dari daerah Yaman. Sedang Ibunya adalah seorang budak bernama Sumayyah bin Khayyath. Ketiganya adalah gambaran manusia yang membuka hatinya pada hidayah. Mereka memang miskin, tapi hatinya kaya akan iman.

Dalam hal ini Rasulullah pernah memuji Ammar di hadapan sahabat yang lain, “Tubuh Ammar ini, hingga ke tulang-tulangnya penuh dengan iman.”

Hampir semua sahabat yang termasuk generasi awal mengalami penyiksaan, ancaman serta gangguan dari kaum musyrik. Siksaannya berbeda-beda. Jika sahabat itu berasal dari suku terpandang, kaya, dan punya posisi penting, yang akan mereka dapatkan adalah ancaman dan gertakan. Tapi, jika berasal dari kalangan budak, miskin, tidak berpengaruh, maka mereka akan mendapat siksaan di luar batas kemanusiaaan.

Itulah yang dirasakan keluarga Yasir. Siksaan yang mereka dapatkan sampai membuat Rasulullah bersedih. Setiap hari, ayah, ibu, dan anak itu di bawa ke padang pasir Mekkah, lalu disiksa. Ammar pernah merasakan tubuhnya dibakar dengan api.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam yang kebetulan melihat peristiwa itu, mengusap kepalanya lalu berujar, “Wahai api, jadilah kamu sejuk dan menyegarkan tubuh Ammar, sebagaimana kamu dulu juga sejuk dan menyegarkan tubuh Ibrahim.”

Melihat kokohnya iman Ammar, para penyiksanya yang berasal dari bani Makhzum semakin menggila. Mereka merasa tertantang untuk menundukkan Ammar. Maka, mereka pun menyiksa Ammar dengan berbagai cara. Dari mulai disiksa dengan api, disalib, ditelentangkan di atas pasir panas, sampai dibenamkan dalam air. Mereka terus meminta Ammar agar meninggalkan Allah ta’ala, “Pujilah Tuhan-Tuhan kami!”

Saat itu kondisi Ammar hampir tak sadarkan diri, dan di luar kesadarannya Ammar pun mengikuti apa yang diucapkan penyiksanya. Saat kesadarnnya mulai pulih Ammar menyesali semua ucapannya. Dia menangis dan terus memohon ampun kepada Allah. Dia takut ucapannya akan membuat semua pengorbanan keluarganya selama ini tidak bernilai di hadapan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Mendengar hal itu, Rasulullah mendatangi Ammar. “Benarkah yang aku dengar ini, Ammar?”

“Benar ya Rasulullah?” Ammar setengah meratap. Sungguh sesal di hatinya terlihat jelas.

“Jika mereka menyiksamu lagi, katakan apa yang kamu katatakan tadi.” Rasulullah mengetahui bahwa semua perkataan Ammar tidak dari hati. Bahkan kata-kata itu diucapkan saat dia tidak sadar, saat nyawanya dalam bahaya. Ammar melakukan itu dalam kondisi terpaksa, sedang hatinya tetap dalam keimanan.

Allah subhanahu wata’ala mengabadikan kondisi Ammar dalam QS. An-Nahl ayat 106, “Kecuali orang yang dipaksa, sedang hatinya tetap teguh pada keimanan.”

Mendengar hal itu, Ammar semakin tabah menghadapi apa yang terjadi, siksaan yang mengancamnya dihadapi dengan kesabaran. Kebalikannya, para penyiksaa merasa bingung dan kewalahan. Kelelahan mendera fisik dan jiwa mereka. Takut akan datangnya azab sebagai balasan perlakuan mereka pada keluarga Yasir.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَبْرًا يَا آلَ يَاسِرٍ ، فَإِنَّ مَوْعِدَكُمُ الجَنَّةُ

Bersabarlah wahai keluarga Yasir. Kalian telah dijaminkan surga.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mutadrak. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Takhrij As-Sirah, hlm. 108. Hadits ini memiliki berbagai jalur yang menjadi penguat untuk mendukung kesahihannya. Lihat catatan kaki dalam Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 2:81).

‘Ammar bin Yasir telah mengikut seluruh peperangan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ‘Ammar ketika itu datang meminta izin pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata,

ائْذَنُوا لَهُ مَرْحَبًا بِالطَّيِّبِ الْمُطَيَّبِ

Izinkan ia masuk. Kelapangan untukmu, wahai laki-laki yang suci dan disucikan.” (HR. Tirmidzi, no. 3798 dan Ibnu Majah, no. 146. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat penjelasan haditsnya dalam Tuhfah Al-Ahwadzi).

Banyak hadits hingga sampai derajat mutawatir yang menceritakan bahwa kaum pemberontak akan membunuh ‘Ammar bin Yasir. Berita ini dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits-hadits itu menyebutkan bahwa ‘Ammar dibunuh saat perang Shiffin saat bersama ‘Ali pada tahun 37 Hijriyah. (Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 2:81-82).

***

[1]. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah sebagaimana dikutip dalam Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah (Vol.3 Pg.28), dikutip kembali dalam Hazrat Maulana Muhammad Yusuf Kandehelvi, The Lives of The Sahabah (Vol.1), diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Mufti Afzal Hossen Elias (Zamzam Publisher: Karachi, 2004) hlm 299.

Sumber bacaan :

4 responses to “Ammar bin Yasir (1) : Siapakah Ammar bin Yasir ?

  1. Ping balik: Kisah Shalat Malam & Tiga Anak Panah, Abbad bin Bisyr radhiyallahu ‘anhu | Abu Zahra Hanifa

  2. Ping balik: Sirah Nabi (58) : Perang Tabuk | Abu Zahra Hanifa

  3. Ping balik: Mukjizat Nabi Muhammad (10) : Berita Syahidnya Ammar bin Yasir Ditangan Pemberontak | Abu Zahra Hanifa

  4. Ping balik: Kumpulan Artikel Seputar Sahabat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam | Abu Zahra Hanifa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s