Muawiyah bin Abu Sufyan (15) : Muawiyah Menjadi Khalifah


Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu secara resmi memegang tampuk kekhalifahan setelah al Hasan bin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhuma mengundurkan diri demi menghentikan pertumpahan darah di antara kaum Muslimin.

Sebelumnya, setelah khalifah Ali radhiyallahu’anhu wafat, kepemimpinan umat Islam berlanjut kepada Hasan bin Ali.

Hasan radhiyallahu’anhu menjadi khalifah bukan karena dia putra Ali, tetapi para sahabat dan umat Islam saat itu melihat Hasan sebagai orang yang pantas memimpin umat Islam. Namun, usia kepemimpinan Hasan tidak berlangsung lama, hanya sekitar enam bulan.

Ketika Amirul Mukminin Hasan bin Ali menerima kendali khilafah, beliau radhiyallahu’anhu mewarisi sebuah warisan yang teramat berat, karena di negeri-negeri yang telah ditaklukkan mulai muncul kekacauan dan kerusuhan.

Sementara itu, badai perpecahan terus datang ke negeri-negeri dari segala penjuru, sedangkan pedang-pedang penduduk Irak masih meneteskan kemarahan untuk memerangi penduduk Syam.

Penduduk Irak berpihak pada Hasan, sementara penduduk Syam bersama Muawiyah. Lalu Hasan bergerak dengan pasukannya dari Kufah menuju Mada’in.

Saat itu Hasan bin Ali radhiyallahu’anhu lebih cenderung untuk berdamai dengan Muawiyah daripada harus berperang dengannya. Akan tetapi ia memperlihatkan kearifan yang luar biasa, yang menunjukkan keluasan pikiran dan pandangannya.

Hasan tidak ingin menghadapi penduduk Irak terlalu dini dengan menunjukkan kecenderungannya untuk berdamai dengan Muawiyah, karena ia telah mengetahui tabiat dan kecerobohan mereka.

Sebaliknya, ketika Muawiyah mengetahui berita tentang keberangkatan Hasan dari Kufah menuju Mada’in dengan pasukan Irak, ia pun berangkat dari Syam menuju Irak.

Point penting yang melatar belakangi peristiwa ‘Am al-Jama’ah ialah lemahnya posisi Hasan bin Ali radhiyallahu’anhu. Berbanding terbalik dengan kondisi Muawiyah yang memiliki kekuatan semakin besar setelah khalifah Ali bin Abi Thalib wafat. Ditambah lagi dengan pemberontakan yang dilancarkan oleh kelompok Khawarij.

Melihat hal tersebut, Hasan bin Ali mulai mengajukan kesepakatan gencatan senjata dengan pasukan Muawiyah. berfikir bahwa peperangan tidak akan menguntungkan Islam.

Dengan disetujuinya perjanjian perdamaian antara Hasan bin Ali dengan Mu‟awiyah bin Abi Sufyan, dampak positifnya ialah umat Islam berada di bawah satu kepemimpinan, Muawiyah bin Abi Sufyan.

Peristiwa penyerahan kekuasaan yang dilakukan oleh Hasan bin Ali kepada Muawiyah yang terjadi di Kota Mada’in disebut dengan ‘Am al-Jama’ah atau Tahun Persatuan.

Al Hasan menyerahkan tampuk kekhalifahan kepada Mu’awiyah dan membaiatnya untuk menegakkan kitabullah dan Sunnah NabiNya. Maka Mu’awiyah pun memasuki Kufah, dan kaum Muslimin membaiatnya.

Atas kesepakatan ini umat Islam dapat kembali bersatu tanpa harus saling menghunuskan pedang satu sama lain.

Dalam sejarah Islam, tahun itu disebut tahun Jama’ah; karena pada tahun itu kaum Muslimin bersatu. Semua orang yang sebelumnya menghindarkan diri dari fitnah, mereka turut membaiat Mu’awiyah, seperti Sa’id bin Abi Waqqash, Abdullah bin Umar, Muhammad bin Maslamah dan lainnya.

Demikianlah Allah menghindarkan terjadinya peperangan di antara kaum Mukminin melalui as Sayyid al Hasan bin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu.

***

Sumber bacaan :

One response to “Muawiyah bin Abu Sufyan (15) : Muawiyah Menjadi Khalifah

  1. Ping balik: Hasan bin Ali bin Abu Thalib (5) : Al Hasan Menjadi Khalifah | Abu Zahra Hanifa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s