Muawiyah bin Abu Sufyan (6) : Seorang Penulis Wahyu


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat para penulis wahyu dari kalangan Shahabat terkemuka, seperti ‘Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyah, Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhum.

Ketika ayat turun, maka beliau menyuruh mereka untuk menulisnya, dan menunjukkan di mana posisi ayat tersebut dalam surat, sehingga penulisan wahyu di atas lembaran tersebut menguatkan hafalan yang ada di dada.

Sebagaimana pula sebagian shahabat radhiyallahu ‘anhum menulis ayat al-Qur’an yang turun atas inisiatif dari mereka sendiri, tanpa diperintah oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu mereka menuliskannya pada pelepah korma, lempengan batu, papan tipis, kulit kayu, pelana dan tulang onta ataupun kambing.

Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu berkata:“Kami menyusun al-Qur’an di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada kulit binatang.”  (Diriwayatkan oleh al-Hakim dengan sanad sesuai syarat asy-Syaikhain)

Dan ini menunjukkan bagaimana kesulitan yang dialami para shahabat radhiyallahu ‘anhum dalam penulisan al-Qur’an, yang mana tidak mudah bagi mereka mendapatkan alat-alat tulis selain alat-alat di atas, sehingga menambahkan penulisan kepada hafalan.

Dan dahulu Jibril ‘alaihissalam membacakan al-Qur’an kepada Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam pada malam-malam ramadhan setiap tahunnya.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan. Dan puncak kedermawana beliau adalah pada bulan Ramadhan ketika Jibril ‘alaihissalam  menemuinya dan Jibril menemuinya setiap malam untuk tadarus Al-Qur’an. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih murah hati melakukan kebaikan daripada angin yang bertiup”.(muttafaq ‘alaihi)

Dan para shahabat radhiyallahu ‘anhum dahulu menunjukkan hafalan al-Qur’an mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam baik dalam bentuk hafalan maupun tulisan.

Penulisan ini pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak terkumpul dalam satu mushaf, akan tetapi salah seorang shahabat memiliki tulisan yang tidak ada pada shahabat yang lain.

Dan para ulama telah menukil, bahwa sebagian mereka (shahabat) di antaranya: ‘Ali bin Abi Thalib, Mu’adz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit dan ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhum telah mengumpulkan (menghafal) keseluruhan al-Qur’an di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka juga menyebutkan bahwa Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang terakhir menunjukkan hafalannya.

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat sedangkan al-Qur’an telah dihafal di dada, tertulis di mushaf sebagaimana disebutkan di atas.

Tertulis secara terpisah ayat per ayat dan surat per surat, atau diurutkan ayat-ayatnya saja, dan setiap surat berada dalam lembaran tersendiri. Ditulis dengan tujuh huruf, dan tidak dikumpulkan dalam satu mushaf. Yang mana wahyu turun silih berganti, kemudian dihafal oleh para Qurraa’ (penghafal al-Qur’an) dan ditulis oleh para penulis, dan belum dibutuhkan untuk dibukukkan dalam satu mushaf, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa menanti-nanti turunnya wahyu dari waktu ke waktu.

Pengumpulan (al-jam’u) al-Qur’an di zaman Nabi ini yaitu secara (a). Hifzhan (hafalan) dan (b). penulisan dinamakan sebagai al-Jam’u al-awal (pengumpulan pertama).

(Sumber : مباحث في علوم القرآن, Syaikh Manna al-Qaththaan, maktabah Ma’arif, Riyadh hal.123-125)

Muawiyah adalah Seorang Wahyu

  لاَاَشْبَغَ اللهُ بَطْنَهُ . يَعِنِى مُعَاوِيَةُ

“Semoga Allah tidak akan mengenyangkan perutnya, yakni perut Mu’awiayh.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud Ath-Thayalisi di dalam kitab Musnad-nya (2746), ia memberitahukan, “Saya mendapatkan hadits dari Hisyam dan Abu Awanah dari Abu Hamzah Al-Qashlab, dari Ibnu Abbas : “Rasulullah memanggil Mu’awiyah untuk menuliskannya (Alqur’an)”.

Lalu ada yang berkata kepada beliau, “Dia sedang makan.” Kemudian memanggilnya untuk kedua kalinya. Tetapi orang itu juga berkata, “Dia sedang makan.” Lalu Rasulullah bersabda: (kemudian perawi menyebutkan hadits di atas).”

Saya berpendapat sanad ini shahih. Seluruh perawinya tsiqah dan dipakai oleh Imam Muslim. Sedangkan Abu Hamzah Al-Qashab yang nama aslinya adalah Imran bin Abu Atha’ dikritik oleh salah seorang imam. Tetapi hal itu tidak menjatuhkannya, sebab beberapa imam lain yang jumlahnya lebih besar, di antaranya Imam Ahmad, Ibnu Ma’in dan lainnya, menilainya tsiqah.

Di samping itu orang yang menilainya dha’if tidak menjelaskan alasannya. Jadi termasuk jarh mabham (pencacatan yang tidak disertai alas an). Jarh semacam ini tidak bias diterima. Dan nampaknya kaena alas an itulah, Imam Muslim memakainya sebagai hujjah. Imam Muslim mentakhrij hadits itu di dalam kitab shahihnya (8/28) dari Sya’bah dari Abu Hamzah Al-Qashab. 

Imam Ahmad di dalam kitabnya (1/240,281,335,338) juga mentakhrijnya dari Sya’bah dari Abu Awanah dari Abu Hamzah Al-Qashab tanpa menyebutkan kata: “Laa Asya’allahu Bahnahu.” Nampaknya hal itu merupakan ringkasan yang dilakukan oleh Imam Ahmad, atau mungkin dari sebagian gurunya. 

Di tempat lain Imam Ahmad menambahkan, “Ia seorang penulis beliau”. Sanad hadits terakhir inik juga shahih.

Ada beberapa sekte yang memanfaatkan hadits ini sebagai dalil untuk mengklaim keutamaan Mu’awiyah. Padahal hadits itu sama sekali tidak mengandung tuduhan yang mereka maksudkan itu. Mengapa tidak, sebab Mu’awiyah adalah seorang penulis Nabi shalallahu alaihi wasallam.

Oleh karena itu Al-Hafizh Ibnu Asakir di dalam kitabnya (juz XVI hal. 349) berkata, “Hadits ini merupakan hadits tershahih yang berisi keutamaan Mu’awiiyah.” 

Kemudian Imam Muslim memperkuat hadits ini dengan hadits yang berisi tentang Mu’awiyah sebagai penutup bab.  Hal ini menunukkan bahwa kedua hadits itu berada dalam satu bahasan. Oleh karena itu doa jelek yang dilakukan oleh Nabi e terhadap Mu’awiyah justru menjadi pembersih baginya dan sebagai amal taqarrub, seperti juga yang dilakukan beliau terhadap anak yatim di atas.

Imam Nawawi di dalam kitab Syarh-nya (2/325 cet. India) menegaskan:

“Doa jelek Nabi kepada Mu’awiyah mengandung dua kemungkinan:

Pertama: doa itu keluar dari Nabi  tanpa sengaja

Kedua, sebagai balasan atas keterlambatan Mu’awiyah. Dalam memahami Hadits ini Imam Muslim berpendapat, bahwa tidak sepantasnya Mu’awiyah menerima doa seperti itu. Oleh karena itu beliau memasukkannya ke dalam bab kelebihan Mu’awiyah, sebab hakekat doa itu tetap baik baginya (bukan doa yang mencelakakan).”

Adz-Dzahabi nampaknya memilih kemungkinan kedua di dalam bukunya Syaru A;lamin Nabala (9/17/2).

Saya berpendapat :

Doa itu justeru merupakan pahala bagi Mu’awiyah, sebab Nabi e bersabda: “Ya Allah, orang-orang yang aku doakan jelek, jadikanlah hal itu sebagai pembersih dan rahmat baginya.”

Perlu ditegaskan di sini bahwa sabda Nabi, “Sesungguhnya saya adalah manusia biasa, yang kadang-kadang merasa lega…”

merupakan pembicaraan lanjut dari apa yang disebutkan di dalam Al-Qur’an:

قُلْ اِنَّمَا اَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوْحٰى اِلَّى اَنَّمَا اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَاحْدُ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاءَرَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاْ صَالِحًا وَلاَيُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ اَحَدً 

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku. “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Esa.” Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (Al-Kahfi : 110).

Ada sementara orang yang tergesa-gesa yang tidak mengakui bahwa hadits tersebut dari Nabi dengan alas an bahwa beliau sama sekali terbebas dari perkataan semacam itu. Penyangkalan semacam itu tidak bisa dibenarkan. 

Sebab hadits itu benar-benar shahih, bahkan menurut kami hampir mencapai derajat hadits mutawatir. Sebab Imam Muslim telah meriwayatkan hadits itu dari Aisyah, Ummu Salamah, Abu Hurairah, dan Jabir. Disamping itu disebutkan pula di dalam hadits Salman, Anas, Samurah, Abuth-Thufail, Abu Sa’id dan lain-lain. Periksa Kanzul Ummal (2/124).

Pengagungan terhadap Nabi adalah dengan mengimani semua kebenaran yang dibawanya (termasuk hadits ini). Dengan demikian kita mengimaninya sebagai hamba sekaligus seorang Rasul, tanpa melebih-lebihkan dan tanpa menyepelekan.

Beliau memang seorang manusia biasa seperti yang lain, sebagaimana ditandaskan di dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits, tetapi beliau juga seoirang pemimpin seluruh manusia dan mahkluk termulia, seperti telah ditegaskan oleh hadits-haditsnya.

Bukti lainnya bahwa Allah telah menghiasinya dengan budi luhur dan sikap-sikap terpuji, sebagai kesempurnaan yang belum pernah dicapai oleh manusia lain. Maha benar Allah yang telah memuji kekasih-Nya dengan untaian kalimat-Nya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam : 4).

***

Referensi bacaan : Artikel seputar penulisan wahyu oleh para sahabat radhiyallahu’anhum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s