Khalifah Ali bin Abu Thalib (17) : Negosiasi Perdamaian Dalam Perang Shiffin


Malik al-Asytar dan Persiapan Awal Perang Shiffin

Dengan kedatangannya di Kufah, Khalifah Ali bertekad untuk melakukan persiapan militer melawan Syam yang akan menjadi Perang Shiffin. Abdullah bin Abbas yang ditunjuk sebagai Gubernur Baru untuk Syam, juga meninggalkan Basrah dengan pasukannya. Mendengar ini, Ali berangkat, dan menunjuk Nukhailah Abu Mas’ud Ansari menggantikannya di Kufah. Abdullah bin Abbas bergabung dengan Ali di sana.

Khalifah Ali kemudian mengirim Ziyad bin Nadr al-Haritsi sebagai pimpinan garis depan delapan ribu pasukan. Dia juga memilih Shuraih bin Hani di belakang Ziyad dengan empat ribu pasukan. Ali datang ke Mada’in dan mengirim Ma’qal bin Qais dengan tiga ribu pasukan setelah menempatkan Sa’ad bin Mas’ud at-Thaqafi untuk memimpin Mada’in. Setelah meninggalkan Mada’in, Khalifah Ali tiba di Raqqah dan menyeberangi Sungai Eufrat untuk bertemu pasukan gabungan Syuraih, Ma’qal dan lainnya.

Ketika Muawiyah bin Abi Sufyan mengetahui bahwa Khalifah Ali sedang berbaris menuju Syam, dia buru-buru mengirim Abul A’war as-Sulami dengan sejumlah pasukan garis depan. Khalifah Ali mengutus Ziyad dan Shuraih untuk maju terlebih dahulu. Ketika para jendral khalifah melewati perbatasan Syam, mereka diberitahu bahwa Abul A’war sedang menuju arah mereka dengan sejumlah pasukan. Mereka lantas melaporkan kepada Khalifah Ali tentang situasi ini. Kemudian, Khalifah Ali mengirimkan salah satu jendral terkuatnya, Malik al-Asytar untuk mengambil alih pasukan dan menempatkan Ziyad dan Syuraih ke sayap kanan dan kiri. Dia juga menginstruksikan untuk tidak menyerang pasukan Syam kecuali mereka diserang lebih dahulu oleh mereka.

Malik al-Asytar dengan titah Khalifah Ali lantas berangkat. Abul A’war berkemah tepat di depan mereka. Kedua kamp pasukan berlalu seharian dalam keheningan. Menjelang malam, Abul A’war meluncurkan serangan pada lawan-lawannya. Keesokan harinya, Abul-A’war merangsek maju dan dihadang oleh Hashim bin Utbah, hingga mereka terus bertarung sampai siang hari. Masing-masing dari mereka mundur ke kampnya ketika Asytar meluncurkan serangan kilat. Abul A’war dengan susah payah menghadang dengan anak buahnya.

Perang Shiffin berlanjut sampai kegelapan malam turun tangan untuk menghentikan dua faksi Islam.

Tuntutan Sungai Eufrat Khalifah Ali

Keesokan harinya, Khalifah Ali muncul di medan pertempuran Perang Shiffin. Kabar juga tersebar bahwa Muawiyah bin Abi Sufyan dengan bala bantuan dalam jumlah besar tengah menuju medan perang. Khalifah Ali menghentikan peperangan dalam Perang Shiffin dan memerintahkan Asytar untuk menguasai tepi sungai Eufrat untuk persedian air. Tapi Malik al-Asytar kemudian merasa kecewa karena mengetahui Muawiyah menguasai air Sungai Eufrat.

Ketika Ali menyadari hal ini, ia mengirim Sa’sa’ah bin Suhan dengan surat yang ditujukan kepada Muawiyah bin Abi Sufyan yang berisi: “Kami tidak akan memulai peperangan ini hingga kami mendengar tuntutan Anda dan menyeru Anda kepada jalan yang benar. Namun, pasukan Anda kelihatannya lebih suka melancarkan serangan terhadap pasukan kami dan memulai sebuah agresi. Sekarang kami dengan sepantasnya mengundang Anda terlebih dahulu ke jalan yang lurus sebelum bertemu di medan perang. Cukup disayangkan bahwa Anda telah memulai sebuah perang dengan menguasai sumber daya air dan menghentikan pasokan air kepada kami. Akibatnya, pasukan kami berada di bawah tekanan kehausan. Maka lebih baik bagi Anda untuk meminta pasukan Anda agar tidak mencegah kami mengambil air sampai pertentangan diselesaikan dengan damai. Namun, jika Anda ingin berperang untuk hal ini air alih-alih mencapai tujuan utama, maka tentu kami siap untuk itu juga.”

Muawiyah lantas mengadakan pertemuan darurat dan meminta pendapat kepada penasihatnya. Abdullah bin Sa’ad, mantan gubernur Mesir dan Walid bin Uqbah menentang pencabutan larangan atas suplai air. Mereka harus dibiarkan mati tanpa air sebagaimana yang mereka lakukan dengan Utsman bin Affan. Tapi Amr bin Al-Ash mengatakan, “Menghentikan pasokan air adalah tidak masuk akal karena banyak dari pasukan anda sendiri yang mungkin tidak rela atas kematian tragis pasukan Ali dalam keadaan kehausan dan mereka mungkin bergabung dengan pasukan Ali untuk berperang melawan anda, menyatakan bahwa anda berbuat zhalim dan keras hati, “ Muawiyah bin Abi Sufyan kemudian mengumumkan kepada pasukannya untuk tidak menghalangi pasokan air dan melunakkan situasi.

Akbar Syah dalam Tareekh el-Islam menyebutkan bahwa perselisihan tentang masalah air tampaknya salah. Eufrat bukan tampungan atau kolam yang hanya bisa diambil oleh satu kelompok. Ini adalah sebuah sungai yang panjangnya ribuan mil dan masing-masing kelompok bisa mengambil air dari ribuan sisinya.

Komposisi Pasukan Khalifah Ali

Setelah peristiwa ini, kedua belah pihak berdiam selama dua hari. Pasukan dari Hijaz, Yaman, Hamadan, beberapa kabilah Arab dan Persia bergabung dengan pasukan Khalifah Ali hingga jumlahnya menjadi sembilan puluh ribu. Muawiyah hanya memimpin delapan puluh ribu pasukan. Sejarawan berbeda pendapat mengenai jumlah pasukan.

Beberapa menyebutkan hal yang sama dan yang lain menyebutkan berbeda. Ali telah memberikan komando kavaleri penunggang kuda Kufah kepada Malik al-Asytar dan kavaleri Basrah kepada Sahl bin Hunaif. Infanteri Kufah dipercayakan kepada Ammar bin Yasir dan infanteri Basrah kepada Qais bin Sa’ad bin Ubadah, sementara Hasyim bin Utbah membawa panji pasukan. Beberapa kabilah dan suku lain dari berbagai provinsi diletakkan di bawah komando ketua suku masing-masing. Sementara pasukan Muawiyah, Dhil-Kala’ Himyari diletakkan di sayap kanan, Habib bin Maslamah di sebelah kiri dan barisan depan diserahkan ke Abul A’war as-Sulami.

Kavaleri Damaskus ditempatkan di bawah komando Amr bin Ash, sementara infanteri dipimpin oleh Muslim bin Uqbah. Beberapa divisi kecil lainnya diberikan kepada komandan Abdurrahman bin Khalid, Ubaidullah bin Umar dan Basyir bin Malik al-Kindi dan lainnya.

Selalu Berusaha Menggapai Perdamaian

Akbar Syah menyebutkan bahwa pada hari ketiga, Khalifah Ali memecah kesunyiannya dan mengirim Basyir bin Amr bin Mihsan al-Ansari, Said bin Qais dan Shabath bin Rib’i at-Tamimi untuk meyakinkan Muawiyah agar bertindak taat dan untuk menyatakan baiat kepada Khalifah Ali.

Basyir bin Amr berkata kepada Muawiyah bin Abi Sufyan, “Wahai Mu’awiyah, berhentilah untuk menciptakan perpecahan di antara Muslim dan hindarilah pertumpahan darah.” Muawiyah membalas, “Apakah engkau sedang menasihati kepada temanmu, Ali?” Basyir menjawab, “Dia adalah seorang yang beriman pertama kali dalam Islam dan kerabat yang sangat dekat dengan Nabi dan karena itu memiliki lebih banyak hak untuk kekhalifahan daripada yang lainnya.” Muawiyah berkata, “Sama sekali tidak mungkin bagi kami untuk melepaskan tuntutan kami demi membalas darah Utsman.”

Setelah itu Shabath bin Rib’i berkata, “Wahai Muawiyah, kami tahu betul tujuan Anda di balik permintaan untuk Qisas. Anda sendiri menunda bantuan untuk Utsman agar dia meninggal, agar memberi kesempatan bagimu untuk mempertaruhkan klaim bagimu kepada kekhalifahan dengan alasan membalas dendam darah Utsman. Wahai Muawiyah, hindari konflik dengan Ali dan perhatikanlah apa saja yang melatar belakangi ini semua.

Negosiasi ini justru menyebabkan kegeraman kepada Muawiyah, dan terbukti tidak membuahkan hasil.

***

Sumber :  https://ibtimes.id/khalifah-ali-20-kezhaliman-dan-perdamaian-dalam-perang-shiffin/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s