Mengenal Umar bin Khathab radhiyallahu’anhu


Nasab Umar bin Al-Khattab

Para sejarahwan menyebutkan nasab Umar bin al-Khatab dari pihak ayah dan ibunya dengan mengatakan Umar Bin al-Khatab bin Nufail bin Adi bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Rajah bin Adi bin Ka‟ab bin Luayyi bin Ghalib al-Qurasyi al-Adawi.

Adapun ibunya bernama Hantamah binti Hasyim bin al-Mughirah dari Bani Makhzumi, dimana Hantamah adalah saudara sepupu Abu Jahal (Jaribah, 2014: 17).

Umar Bin al-Khatab lahir di lingkungan kabilah Bani Adi Ibn Ka’ab yaitu satu kabilah yang terhitung kecil dan tidak kaya, tetapi menonjol dibidang ilmu dan kecerdasan (Nuruddin, 1991: 9), ilmu dan kearifan mereka lebih tinggi dari pada kabilah-kabilah Quraisy yang lain. Ilmu dan kearifan ini menempatkan mereka lebih terkemuka dalam tugas-tugas sebagai penengah dan dalam mengambil keputusan jika timbul perselisihan (Haekal, 2002: 8).

Kelahiran dan Pertumbuhannya

Umar bin al-Khatab dilahirkan di Mekkah dan diperkirakan 4 tahun sebelum terjadinya perang fijar, atau Umar bin khattab di lahirkan 30 tahun  sebelun masa kenabian, dan ada pula yang berpendapat sebelum itu. Ia hidup selama 65 tahun, separuh pertama kurang lebih dalam kekelemahan jahiliyah.

Ketika itu dia adalah orang yang tidak di kenal tidak memiliki keagungan. sedangkan separuh ke duanya dalam cahaya iman. Dimana pada masa ini, namanya menjadi terkenal termasuk salah satu tokoh besar yang penuh dengan kecermerlangan dan peninggalan sejarah yang mengagungkan (Jaribah, 2014: 17).

Umar bin Khatthab berkepribadian dan berwatak tegas dan cerdas, yang tumbuh besar dalam asuhan bapaknya yang berwatak keras dan tegas. Kecerdasan dan ketegasan Umar Radhiyallahu Anhu dipengaruhi oleh pengalamannya.

Pertama; Umar dibebani oleh ayahnya mengembala unta dan kambing, dalam pengalaman Umar Radhiyallahu Anhu sebagai pengembala, ia diperlakukan keras oleh ayahnya yang berpengaruh terhadap temperamen Umar Radhiyallahu Anhu yang menonjolkan sikap keras dan tegas dalam pergaulan.

Kedua; pengalamannya sebagai peniaga yang sukses, membawa barang dagangan pulang-pergi ke Syria, ini yang mempengaruhi (Nuruddin,1991: 4).

Umar Radhiyallahu Anhu adalah salah seorang dari tokoh-tokoh terbesar pada permulaan Islam dan pendiri imperium Arab. Adapun gelar bagi Umar Bin al- Khatab adalah al-Faruq yang berarti pembeda, dikatakan bahwa dia digelari demikian karna terang terangannya dan pengumandangannya secara terbuka terhadap keIslamannya (Jaribah, 2014: 18).

Kepribadian Umar bin al-Khatthab

Kepribadian Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu Anhu sungguh sangat menakjubkan. Menggali aspek kepribadiannya bagaikan bahtera berlayar di samudra yang luas tak berpantai. Butiran-butiran dan mutiaramutiara kebaikannya tak pernah sirna sepanjang masa dan zaman.

Berikut paparan sebagian kepribadian Umar Radhiyallahu Anhu, sosok pemimpin hebat nan tangguh :

a). Kesederhanaannya

Ketika banyaknya rampasan perang yang dikirimkan kepada Umar Radhiyallahu Anhu setelah penaklukan kerajaan Persia, baik berupa baju kisra, pedang dan rompinya yang indah sehingga membuat Umar dan rakyatnya kagum. Tiba-tiba beliau membandingkan dengan pandangan mata dan bashīrah (pandangan hati) nya antara kehidupannya dengan kehidupan kedua sa-habatnya, yaitu Rasulullah Shallahualiahi Wasallam dan Abu Bakar Radhiyallohu Anhu. Maka ia mendapati bahwa Allah Subhanahu Wataala telah menyelamatkan keduanya dari melihat harta yang menggoda tersebut. Maka iapun takut jika diuji dengan harta tersebut sebagai istidraj (ke-nikmatan yang menyeret seseorang kepada kebinasaan).

Ia pun menangis seraya berkata, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah mencegah harta ini dari Rasul Mu, padahal beliau lebih Engkau cintai dan lebih mulia di sisi Mu dari pada aku. Dan Engkau telah mencegahnya dari Abu Bakar, padahal ia lebih Engkau cintai dan lebih mulia dari pada aku. Kemudian Engkau memberikannya kepadaku, maka aku berlindung kepadaMu dari Engkau berikan harta ini kepadaku untuk mencelakakanku Kemudian beliaupun menangis hingga orang-orang yang yang ada di sekitarnya merasa kasihan kepadanya. Lalu ia berkata kepada Abdul Rahman bin Auf Radhiallahu Anhu, “Aku bersumpah kepadamu agar engkau menjualnya lalu membagikannya kepada manusia sebelum datangnya sore hari” (Muhammad, 2002: 61).

Ahnaf bin Qais Radhyiallahu Anhu berkata, “Ketika kami sedang duduk-duduk di pintu rumah Umar Radhyiallahu Anhu tiba-tiba lewatlah seorang budak wanita. Orang-orang berkata, “Ini budak wanita milik Amirul Mukminin”, mendengar itu Umar membantah, “Bukan, ia bukan milik Amirul Mukminin, tapi termasuk dari harta Allah (baitul mal)”.

Lalu kami bertanya, “Lalu apa yang boleh baginya dari harta Allah?‟, beliau menjawab, “Sesungguhnya tidak halal bagi Umar dari harta Allah kecuali dua pakaian, satu pakaian untuk musim panas serta apa yang saya pakai untuk haji dan umrah. Makananku dan keluargaku tidak berbeda dengan apa yang dimakan oleh salah seorang dari Quraisy”.

Dalam masalah makanan Umar bin Al khattab sangat sederhana sampai- sampai sebagian para sahabat enggan menyantap makanan Umar dengan alasan keras dan tampa lauk (Haritsi, 2014: 537).

Beliau selalu memakai jubah yang terbuat dari kulit yang banyak tambalannya sementara beliau adalah Khalifah, berjalan mengelilingi pasar sambil membawa tongkat di atas pundaknya untuk memukul orangorang yang melanggar peraturan. Jika beliau melewati biji atupun lainnya yang bermanfaat, maka beliau akan mengambilnya dan melemparkannya ke halaman rumah orang (Sulami, 2004: 177).

Suatu hari beliau menjenguk Ashim Radhiyallahu Anhu, putranya. Beliau dapati anaknya sedang makan daging. Umar berkata, “Apa ini?”.Ashim menjawab, “Kami sedang berselera untuk makan daging”, Umar Radhiyallahu Anhu berkata, “Apakah setiap kali engkau berselera terhadap sesuatu engkau akan memakannya? Cukuplah sebagai pemborosan jika seseorang memakan semua yang diinginkannya!”.

b). Kedermawanannya

Tangan kedermawanan Umar Radhiyallahu „Anhu laksana angin yang berhembus. Ia berlonba-lomba dengan Abu Bakar Radhiallohu Anhu untuk menginfakkan hartanya di jalan AllAh. Ia ingin sekali mengalahkan Abu Bakar Radhyiallahu Anhu.

Dari Umar bin al-Khaththab, ia berkata; “Rasulullah Shallallahu „Alaihi wa Salllam memerintahkan kami untuk mengeluarkan sedekah, maka kami melaksanakannya. Umar berkata: “semoga hari ini saya bisa mengalahkan Abu Bakar”. Akupun
membawa setengah dari seluruh hartaku. Sampai Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Salllam bertanya: “wahai Umar, apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”. Aku menjawab: “semisal dengan ini”.

Lalu Abu Bakar Radhiyallau „Anhu membawa seluruh hartanya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salllam lalu bertanya: “wahai Abu Bakar, apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”. Abu Bakar menjawab: “aku tinggalkan bagi mereka, Allah dan Rasulnya”. Umar berkata: “Demi Allah, aku tidak akan bisa mengalahkan Abu Bakar selamanya”. (HR. Tirmizi)

c). Rasa Takutnya Kepada Allah Subhanahu wa Taala

Diriwayatkan dari Anas ia berkata, “Aku pernah bersama Umar Radhiyallahu „Anhu, kemudian beliau masuk ke kebun untuk buang hajat sementara jarak antara aku dan dirinya hanyalah pagar kebun, aku dengar ia berkata sendiri, “Hai Umar bin al Khathab, engkau adalah Amirul mukminim, ya, engkau adalah Amirul mukminin! Demi Allah takutlah engkau kepada Allah. Hai Ibn al-Khaththab, jika tidak Allah pasti akan mengazabmu” (Sulami, 2004: 178).

Dalam sholat, Umar sangat khusyu‟, tunduk dan takut kepada Allah, dia berdiri didepan Allah seperti kain yang tergeletak karena khusyu‟ dan tunduknya mendalam, dia pernah menjadi imam sholat pada masa khalifahannya, dia membaca surat Yusuf dalam sholat Isya dan Subuh, bila ia membaca surat ini, maka isaknya terdengar dari
belakang shaf (Suhaibani, 2015: 20).

Al-Hasan Radhiyallahu Anhu berkata, “Kadang-kadang ketika Umar membaca satu ayat dari bacaan rutinnya, maka ia terjatuh sakit hingga dijenguk berhari-hari”.

Muhammad bin Sirin Rahimahulah berkata, “Suatu hari mertua Umar datang menemuinya, lalu ia minta supaya „Umar memberinya sejumlah uang dari Baitul Mal. Umar membentaknya seraya berkata,“Engkau ingin agar aku menghadap Allah sebagai raja yang berkhianat?”, kemudian Umar memberinya dari hartanya sendiri sebanyak 10.000 dirham (Jaribah, 2014).

Demikianlah sikap wara‟ Umar Radhiyallahu Anhu, hingga anNakha‟i Rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Umar biasa berdagang padahal beliau adalah seorang khalifah.”. Abdullah bin Umar Radhiallahu Anhu berkata, “Aku tidak pernah melihat Umar marah lalu disebut nama Allah di sisinya atau seseorang membaca ayat Al-Quran, melainkan marahnya akan berhenti dan segera mengurungkan niatnya”.

d). Sosok Problem Solver

Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu Anhu sosok sahabat yang teguh hatinya dan mempunyai pertimbangan yang matang dalam menentukan kebijakan. Dalam menghadapi problematika yang melanda kaum Muslimin, ia senantiasa mencari solusi dan jalan keluar untuk kemaslahatan umat (Jaribah, 2014: 18).

Diantara bukti Umar Radhiyallahu Anhu sosok problem solver yaitu Umar Radhiyallahu Anhu pernah berkata, “keinginanku telahdiwujudkan oleh Allah pada tiga kejadian diantanya;

Pertama; Aku berkata kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam, “wahai Rasulullah, alangkah baiknya engkau menjadikan makam Ibrahim sebagai tempat shalat.” Maka Allah menurunkan firman-Nya; “Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat.” (QS. AlBaqarah 2:125).

Kedua; Aku berkata kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam, “wahai Rasulullah, orang baik dan buruk bebas masuk menemuimu. Alangkah baiknya jika engkau memerintahkan kepada  Ummahatul Mukminin untuk berhijab. Maka Allah menurunkan firmanNya; “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan
jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. AlAhzaab 33: 59).

Ketiga; Ketika sampai padaku bahwa Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam, bertengkar dengan sebagian istri beliau. Akupun masuk menemui istri-istri beliau dan berkata kepada mereka, “Berhentilah kalian atau boleh jadi Allah menggantikan untuk Rasul-Nya yang lebih baik dari kalian.” Salah seorang dari seorangdari istri beliau berkata,
“wahai Umar apakah Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam, tidak dapat menasehati istri-istri beliau, sehingga engkau menasehati mereka?”.

Maka Allah menurunkan firman-Nya; “Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan”. (QS. AtTahriim 66: 5) (Jannah, 2017: 31-32).

e). Peduli Terhadap Anak-Anak dan Janda.

Kepedulian Umar Radhiyallahu „Anhu terhadap anak-anak merupakan bukti nyata, bahwa ia adalah orang yang sangat memperhatikan generasi mendatang. Hal ini juga menjadi bukti bahwa ia lebih maju daripada peradaban modern (Jaribah, 2014: 295).

Umar Radhiyallahu Anhu memandang bahwa subsidi bagi anakanak merupakan hak yang wajib diberikan. Ia berpendapat bahwa masalah utama dalam memberikan hak-hak mereka semenjak mereka disapih. Umar Radhiyallahu „Anhu menetapkan subsidi untuk anak yang sedang menyusu 100 dirham. Manakala beranjak besar menjadi 200
dirham. Kemudian „Umar Radhiallahu „Anhu mengubah subsidi bagi anak-anak dan menetapkannya semenjak lahir.

Hal ini ia lakukan setelah memergoki seorang wanita yang tergesa- gesa menyapih anaknya. Ketika ditanya wanita itu menjawab, “Umar tidak memberikan subsidi kecuali hanya bagi anak-anak yang sudah disapih.” Jawaban wanita tersebut benar-benar menyadarkannya, hingga saat usai shalat „Umar radhiallohu anhu berkata, “Berdosalah Umar! Betapa banyak anak-anak kaum Muslimin yang ia bunuh”. Lalu Umar Radhiyallahu „Anhu meminta kepada seorang sahabat untuk mengum-pulkan kaum Muslimin seraya berkata, “Janganlah terburuburu untuk menyapih anak-anak kalian. Sebab kami telah menetapkan subsidi untuk anak yang baru lahir” (Muhammad, 2002: 199).

Kepedulian Umar bin al-Khaththab juga terhadap para janda. Oleh karena itu, ia menetapkan subsidi bagi para janda dan ia sangat peduli agar setiap orang memperoleh haknya.

Pengangkatan Sebagai Khalifah

Ketika Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu „Anhu merasakan telah dekat ajalnya, maka beliau berfikir mencari penggantinya untuk memimpin kaum Muslimin. Untuk mencegah kemungkinan terjadinya perselisihan diantara umat Islam. Abu Bakar Al-Shiddiq bermusyawarah dengan para pemuka sahabat tentang calon penggantinya. Berdasarkan hasil musyawarah tersebut ia menunjuk Umar bin Al-Khattab sebagi khalifah Islam kedua, keputusan tersebut diterima dengan baik oleh kaum Muslimin (Karim, 2014:58).

Umar Ibn al-Khattab melaksanakan tugas dalam kehalifahannya selama 10 tahun 6 bulan, kurang lebih, dan mampu merealisasikan hal-hal yang besar dalam masa tersebut. Secara umum, selama dalam kehalifahannya menampakkan politik yang bagus, keteguhan prinsip, kecemerlangan perencanaan. Meletakkan berbagai sistem ekonomi dan manajemen yang penting. Menggambarkan garis-garis penaklukan dan pengaturan daerahdaerah yang ditaklukkan. Berjaga untuk kemaslahatan rakyat, menegakkan keadilan di setiap daerah dan terhadap semua manusia. Memperluas
permusyawaratan dan melakukan koreksi terehadap para pejabat Negara, dan mencegah mereka dari menzalimi rakyat, mengalahkan dua imperium besar dunia yaitu Persia dan Romawi (Jaribah, 2014: 25).

Jasa Jasa Umar bin Al Khatthab

1). Perhatian Terhadap Umat

Sebagai khalifah, Umar bin Al-Khattab benar-benar didedikasikan untuk mencapai ridha Ilahi. Ia berjuang bagi kepentingan umat, benar-benar memperhatikan kesejahteraan umat. Pada malam hari ia sering melakukan investigasi untuk mengetahui keadaan rakyat jelata yang sebenarnya.

Suatu malam, beliau mendengar suara samar-samar dari gubuk kecil, Umar Radhiyallahu Anhu mendekat dan memperhatikan dengan seksama suara itu, ia melihat seorang ibu yang dikelilingi anak-anaknya yang sedang menangis. Ibunya kelihatan memasak sesuatu. Tiap kali anak-anaknya menangis, sang ibu berkata: “Tunggulah, sebentar lagi makanannya akan matang.” Sebuah rayuan darinya.

Umar Radhiyallahu Anhu penasaran. Setelah memberi salam dan minta izin, ia masuk dan bertanya: “Mengapa anak-anak ibu tak berhenti menangis?” “Mereka kelaparan!” jawab sang ibu. “Mengapa tak ibu berikan makanan yang sedang ibu masak sedari tadi?” tanya Umar.

Tak ada makanan. Periuk yang dari tadi saya masak hanya berisi batu untuk mendiamkan anak-anak. Biarlah mereka berfikir bahwa periuk itu berisi
makanan. Mereka akan berhenti menangis karena kelelahan dan tertidur.”

Mengapa ibu tidak meminta pertolongan kepada khalifah? Mungkin ia dapat menolong ibu dan anak-anak dengan memberikan uang dari Baitul Mal? Itu akan membantu kehidupan ibu dan anak-anak.”, ujar Umar menasehati.

Khalifah telah menzalimi saya” jawab sang ibu. “Bagaimana khalifah bisa berbuat zalim kepada ibu?” Umar keheranan. “Saya sangat menyesalkan pemerintahannya. Seharusnya ia melihat kondisi rakyatnya dalam kehidupan nyata. Siapa tahu, ada banyak orang yang bernasib sama dengan saya”, jawab sang ibu yang menyentuh hati Umar. Umar Radhiallahu Anhu berdiri dan berkata: “Tunggu sebentar bu, saya akan kembali”.

Walaupun malam semakin larut, „Umar Radhiallahu „Anhu bergegas menuju Baitul Mal. Ia segera mengangkat sekarung gandum di pundaknya. Satu sahabatnya, membantu membawa minyak samin untuk memasak. Karena merasa kasihan kepada khalifah, sahabatnya ber-niat membantu Umar Radhiyallahu „Anhu memikul karung itu. Tapi dengan tegas „Umar Radhiyallahu „Anhu menolak tawarannya: “Apakah kamu mau memikul dosa-dosa saya di akhirat kelak?”(Muhammad, 2002: 200).

2). Baitul Mal

Cikal bakal lembaga Baitul Mal yang telah dicetuskan oleh Rasulallah dan diteruskan oleh Abu Bakar, smakin dikembangkan fungsinya dimasa pemerintahan khalifah Umar bin Al-Khattab sehingga menjadi lembaga yang regular permanen. Pembangunan intitusi baitul Mal yang dilengkapi dengan sistem administrasi yang tertata baik dan rapih merupakan kontribusi terbesar yang diberikan oleh khalifah Umar bin Al-Khattab kepada dunia Islam dan kaum Muslimin (Karim, 2014: 59).

Adapun penyaluran uang Baitul Mal: zakat diberikan kepada yang berhak mendapatkan zakat. Jizyah disalur-kan di jalan Allah Subhanahu Wa Ta‟ala, yaitu untuk biaya menambah pasukan perang. Seperlima hasil rampasan perang untuk Allah Subhanahu Wa Taala dan Rasulnya Shalallahu Alaihi Wa Sallam, kerabatnya, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin dan Ibnu sabil (Muhammad, 2002: 108).

3) Sistem Administrasi

Sahabat Umar Radhiyallahu „Anhu adalah seorang administrator ulung. Bukti dan kenyataan dari hal tersebut adalah semenjak ia memegang tampuk kekuasaannya (Haritsi, 2014).

Pekerjaan pertama yang dilakukan oleh khalifah „Umar Radhiyallahu Anhu adalah menetapkan penanggalan atau kalender Hijriyah. Alasannya, surat-surat administrasi yang disampaikan padanya oleh para pegawai pemerintahan dan para panglima perangnya, hanya mencantumkan tanggal dan bulan saja, tanpa tahun. Hal ini disebabkan umat Islam belum memiliki kalender khusus milik mereka sendiri.

Melihat hal itu, Umar radhiyallahu anhu merasa prihatin dan meminta para sahabat Nabi Shalallohu Alaihi Wa Sallam agar menetapkan kalender bagi kaum Muslimin. „Umar Radhiyallahu Anhu mengusulkan agar menjadikan peristiwa hijrahnya Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam dari Makkah ke Madinah sebagai awal permulaan kalender Islam. Alasannya, hijrah Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam merupakan pondasi awal bagi pembentukan negara Islam yang mencakup jazirah Arab di bawah naungan panji-panji Islam, kemudian meluas hingga mencakup Mesir, Irak dan sebagian besar negeri
Persia.

Diriwyatkan dari Sa‟id Musyyid, bahwa orang yang pertama yang mulai penanggalan adalah Umar bin Khatthab setelah dua setengah tahun dari masa pemerintahannya. Beliau menulisnya pada tanggal 16 Muharram atas usulan Ali bin Abu Thalib. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa sebab dimulainya penanggalan tahun Hijriyah(Jannah. 2017: 85)

Pekerjaan kedua, membagi harta rampasan. Hasil pajak dan upeti dibagi: 4/5-nya bagi bala tentaranya, sedang sisanya yang 1/5 untuk Umar Radhiyallahu Anhu. Apabila seseorang memiliki tanah, ia mempunyai hak untuk memetik hasilnya dengan memberikan pajak penghasilan. „Umar Radhiyallohu Anhu juga menerima 1/5 dari pajak bumi dan upeti, yang dibeban-kan bagi musuh yang kalah berperang dan tidak masuk Islam (Muhammad, 2002: 109).

Dengan demikian beliau memiliki harta yang banyak dan melimpah. Ia mendirikan sebuah kantor yang mengurusi semua harta yang masuk padanya agar dapat dibagikan kepada umatnya secara merata (adil). Umar Radhiyallahu Anhu me-nyuruh tiga orang Quraisy, agar masing-masing mendata warga kabilahnya yang dimulai dari warga Bani Hasyim. Tujuan itu semua adalah bahwa harta tidak boleh dibagikan kecuali untuk tujuan yang baik (jelas), yaitu biaya untuk memperkuat armada perang. Apabila mereka
berperang, Amirul Mukminin wajib memberikan hak mereka dari harta tersebut dan membiarkan mereka berhak atas harta rampasan. „Umar Radhiyallahu Anhu juga menetapkan hak-hak bagi para keluarga dan jandajanda mereka.

Umar Radhiallahu Anhu menyerahkan hak tersebut kepada umatnya, dengan caranya sendiri. Beliau memulainya dari keluarga Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam baru kemudian kaumnya, sesuai dengan fungsi dan jabatannya. Saat memberikan hak, ia mengurutkan umatnya sesuai jangka lamanya seseorang memeluk Islam, pengorbanannya bagi Islam dan ketekunannya membaca Al-Quran. Bagi kaum Muhajirin sebelum Fathu Makkah, „Umar menetapkan hak sebesar 3.000 dirham setiap tahun, dan bagi yang ikut perang Badar sebanyak 5.000 dirham Sedangkan bagi yang ikut hijrah ke Habasyah dan mengikuti perang Uhud memperoleh jatah 4.000
dirham.

Sementara bagi keluarga yang ditinggal perang Badar memperoleh bagian sebanyak 3.000 dirham kecuali Hasan dan Husain, kepada mereka Umar radhiallohu anhu memberi sebanyak yang diberikan kepada ayah mereka berdua, yaitu 5.000 dirham. Dan bagi Usamah bin Zaid sebesar 4.000 dirham. Mengetahui pem-bagian ini, putra beliau yang bernama Abdullah bin Umar Radhyiallahu Anhu protes, “Mengapa engkau tetapkan bagiku hanya sebesar 3.000 dirham, sedangkan bagi Usamah engkau berikan 4.000 dirham?” (Karim, 2014: 75).

Umar menjawab, “Aku lebihkan bagiannya sebab ia lebih dicintai Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam daripada engkau, dan karena ayahnya lebih dicintai Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam daripadaayahmu”( Halawi, 2003: 343-344).

Pujian Para Sahabat Terhadap Umar bin Al-Khatthab

Abu Bakar ash Shiddiq Radhiyallahu „Anhu berkata, “Tidak ada seorang laki-laki yang lebih aku cintai di muka bumi ini selain dari Umar.” Abu Bakar Radhiyallahu Anhu tidak melihat orang yang lebih tepat untuk memegang jabatan khalifah sepeninggal beliau selain Umar Radhiyallahu Anhu, maka beliau pun berwasiat agar penggantinya sebagai khalifah adalah Umar Radhiyallahu Anhu .

Ketika orang-orang bertanya kepada Abu Bakar, “Apa yang akan engkau katakan kepada Robbmu sementara engkau telah menunjuk Umar sebagai khalifah?” Beliau menjawab, “Akan aku katakan kepada-Nya, aku tunjuk untuk memimpin mereka orang yang ter-baik di antara mereka”.

Ibnu Abbas berkata, “Allah merahmati Abu Hafsh (Umar), demi Allah dia adalah penolong Islam, tempat berlindungnya anak-anak yatim, tempat iman, muara kebaikan, pelindung orang-orang lemah, benteng ahli tauhid, benteng mahluk dan penolong manusia. Dia menunaikan hak Allah dengan sabar dan berharap balasan dari Allah, hingga Allah memenangkan agama dan menaklukkan negeri-negeri, serta nama Allah disebut disegala penjuru, disumber air, dipuncak gunung, dipinggiran kota dan dataran tinggi. Dia sangat takut kepada Allah, pandai bersyukur dalam kemakmuran dan kesulitan disetiap waktu, maka Allah menimpakan penyesalan kepada siapa yang embencinyasampai hari kiamat” (Suhaibani, 2015: 25).

Ibnu Umar Radhiyallahu„Anhu berkata, “Aku tidak melihat seorang lakilaki pun stelah Nabi Radhiyallahu Anhu semenjak beliau wafat, orang yang lebih tegas dan pemurah selain dari Umar”.

Hudzaifah bin al-Yaman Radhiyallahu Anhu berkata, “Demi Allah, aku tidak engetahui seorang laki-laki yang tidak takut di jalan Allah kepada celaan orang-orang yang suka mencela selain ”Umar”.

Abdullah bin Masud Radhiyallahu Anhu berkata: Sesungguhnya masuk Islamnya „Umar merupakan penaklukan, hijrahnya adalah sebuah kemenangan, dan pemerintahanya adalah sebuah rahmat” (Haritsi, 2014: 24).

D. Wafat Umar bin Al-Khatthab

Keberhasilan Umar bin al-Khaththab Radhiallahu Anhu dalam memerdekakan negara-negara dunia yang cukup luas, membuat para musuh Islam dipenuhi perasaan iri dan dendam, ter-lebih Yahudi dan Persia.

Untuk itulah muncul berbagai upaya untuk melakukan pembunuhan terhadap Umar Radhiyallahu Anhu. Ketika Umar shalat di mihrab pada waktu Subuh hari Rabu tanggal 25 Dzulhijjah tahun 23 H, beliau ditikam oleh Abu  Lu’lu’ah Fairuz budak milik al- Mughirah bin Syubah, seorang yang aslinya beragama Majusi dan tinggal di Romawi dengan belati yang memiliki dua mata.

Abu Lu’lu’ah menikamnya tiga tikaman ada yang mengatakan enam tikaman, satu di bawah pusarnya hingga terputus urat urat dalam perut beliau akhirnya Umar Jatuh tersungkur dan menyuruh Abdurrahman bin Auf agar menggan-tikannya menjadi imam shalat. Kemudian orang kafir itu (Abu Lu’lu’ah) berlari ke belakang, sambil menikam seluruh orang yang dilaluinya. Tatkala seseorang mengetahui larinya, ia pun melempar mantel ke arahnya, maka seketika itu pula Abu Luluah bunuh diri. Dalam peristiwa itu sebanyak 13 orang terluka dan 6 orang dari mereka meninggal (Sulami, 2004: 181).

Akhirnya Umar syahid pada hari Rabu, bulan Dzul Hijjah tahun 23 H (Jannah, 2017: 162). Setelah diangkat menjadi khalifah selama 10 tahun 6 bulan, beliau wafat dalam usia 63 tahun dengan gelar syahid.

Menurut pemeriksaan sebahagian ahli tarikh, pembunuhan yang terjadi atas diri beliau itu adalah pembunuhan yang dilakukan atas kemauan suatu partai rahasia yang terdiri dari pembenci-pembenci Islam dan kemajuannya.

Adapun wasiat Umar Bin al-Khatab sebelum beliau wafat kepada khalifah penggantinya tentang ekonomi adalah sebagai berikut (Sulami, 2004: 186) :

  • Menunjuk para sahabat yang berhak menjadi penggantinya sebagai hkalifah
    diantaranya; Ali, Utsman, az-Zubair, Thalhah, Sa’ad dan Abdurrahman.
  • Mewasiatkan kepada Khalifah penggantinya memperhatikan kaum Muhajirin
    dan Anshar supaya dijaga dan dihormati, karna awal keislaman dan kebaikan
    mereka.
  • Agar memperlakukan orang manapun dengan baik, karena mereka adalah
    sumber pendapatan Negara.
  • Tidak boleh diambil dari penduduk daerah, selain dari kelebihan harta mereka
    dengan penuh keridhaan.
  • Kafir dzimmi tidak dibebani kecuali sekedar menurut kesanggupannya.

Demikanlah wasiat Umar bin khattab tersebut telah jelas dan sangat berpengaruh terhadap kemasalahatan masyarakat.


http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/19573/BAB%20II.pdf?sequence=6&isAllowed=y

4 responses to “Mengenal Umar bin Khathab radhiyallahu’anhu

  1. Ping balik: Amirul Mukminin Umar bin Khattab (6) : Awal Kepemimpinan | Abu Zahra Hanifa

  2. Ping balik: Biografi Sa’ad bin Abi Waqqash | Abu Zahra Hanifa

  3. Ping balik: Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu | Abu Zahra Hanifa

  4. Ping balik: Kumpulan Artikel Seputar Sahabat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam | Abu Zahra Hanifa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s