Tragedi Ar Raji, Peristiwa Gugurnya Duta Islam Mekah


Pengikut Khâlid bin Sufyân al Hudzali tidak bisa menerima kematian komandan mereka dan berniat membalas dendam. Inilah yang mendorong mereka untuk menempuh cara licik.

Pada bulan Shafar tahun ke-4 Hijrah utusan dari kabilah ‘Udhal dan al-Qarrah mendatangi Nabi Shallalahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah.

Mereka meminta kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mengirim beberapa shahabat beliau Shallalahu ‘alaihi wa sallam untuk mengajari mereka agama ini.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabulkan permintaan mereka dengan mengirim sepuluh [1] shahabat beliau Shallalahu ‘alaihi wa sallam dibawah pimpinan ‘Ashim bin Tsâbit al-aqlah Radhiyallahu anhu.

Para shahabat yang terpilih ini mulai melakukan perjalanan tanpa ada rasa curiga. Ketika tiba di lembah antara ‘Asfân dan Makkah, kedatangan mereka diberitahukan kepada penduduk salah satu kampung Hudzail yaitu Banu Lihyân.

Bani Lihyaan tidak menyiakan-nyiakan kesempatan untuk membalas kematian komandan mereka. Mereka mengerahkan ratusan pasukan dan membuntuti para shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini sampai berhasil menyusul mereka.

Menyadari bahaya yang sedang mengancam, ‘Ashim bin Tsâbit Radhiyallahu anhu beserta para shahabat lainnya segera menyelamatkan diri dengan mengambil posisi di atas bukit. Namun karena kalah jumlah, para shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini terkepung.

Ketika itu para pengepung ini memberikan janji, “Jika kalian mau turun, maka kami berjanji tidak akan membunuh seorangpun diantara kalian.” Ashim Radhiyallahu anhu yang diangkat oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pimpinan bertekad, “Saya tidak sudi turun dan berada dalam jaminan orang kafir.” Kemudian beliau Radhiyallahu anhu berdo’a, “Ya Allâh, beritahukanlah kepada nabi-Mu tentang keadaan kami.”

Ucapan ini menyulut emosi para pengepung dan mendorong mereka melakukan penyerangan sehingga akhirnya 7 diantara para shahabat ini, termasuk Ashim Radhiyallahu anhu gugur sebagai syahîd dalam pertempuran ini. Dengan demikian, tersisa tiga orang yaitu KhubaibZaid dan satu orang lagi (dalam riwayat Ibnu Ishaq, orang ini adalah Abdullah bin Thariq).

Para pengepung ini mengulangi janji mereka. Mendengar janji manis ini, para shahabat yang tersisa menerimanya dan turun mengikuti kemauan mereka. Namun ketika para shahabat ini sudah berada dalam kekuasaan mereka, mereka mengingkari janji.

Para shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang masih hidup ini diikat. Orang ketiga (yang bernama Abdullah bin Thâriq, sebagaimana riwayat Ibnu Ishâq) tidak terima dengan pengkhianatan ini dan beliau Radhiyallahu anhu berontak tidak mau mengikuti kemauan musuh-mush Islam ini, akhirnya beliau Radhiyallahu anhu dibunuh.

Tinggallâh Khubaib bin ‘Adiy dan Zaid bin Datsinnah Radhiyallahu anhuma yang menjadi tawanan. Keduanya digiring ke Mekah dengan tangan terikat lalu dijual ke kaum Quraisy. Khubaib dibeli oleh Bani al Hârits bin ‘Amir bin Naufâl untuk dibunuh sebagai balasan atas terbunuhnya Hârits.

Hârits sendiri terbunuh dalam perang Badar oleh Khubaib Radhiyallahu anhu. Bani Hârits mengurung Khubaib Radhiyallahu anhu sampai ada kesepakatan diantara mereka untuk mengeksekusinya. Pasca munculnya kesepakatan ini, suatu saat Khubaib Radhiyallahu anhu meminjam pisau ke salah seorang wanita Bani Hârits dan beliau Radhiyallahu anhu diberi pinjaman.

Pada saat yang sama, sang wanita yang telah meminjamkan pisau ke Khubaib Radhiyallahu anhu ini agak lengah dalam menjaga anaknya. Sang anak berjalan menuju Khubaib Radhiyallahu anhu lalu duduk tenang di pangkuannya. Menyadari anaknya sedang berada di pangkuan tawanan dengan pisau tajam di tangan, sang ibu terperanjat. Dia sangat mengkhawatirkan keselamatan anaknya. Dia takut Khubaib Radhiyallahu anhu membunuhnya sebagai bentuk pelampiasan amarahnya.

Melihat gelagat ini, shahabat yang mulia Khubaib mengatakan, “Apakah anda khawatir aku akan membunuhnya ? Insya Allâh, Aku tidak akan pernah melakukan itu.”

Perempuan inilah yang mengatakan, “Aku tidak pernah melihat tawanan yang lebih baik daripada Khubaib Radhiyallahu anhu . Saya pernah melihat dia memakan setangkai anggur padahal kala itu di Mekah tidak ada buah-buahan dan dia pun sedang dalam keadaan terbelenggu rantai besi. Ini tiada lain hanyalah rizki dari Allâh Azza wa Jalla .”

Lalu Bani Hârits membawa Khubaib Radhiyallahu anhu keluar dari daerah haram untuk di eksekusi. Ketika hendak dibunuh, Khubaib Radhiyallahu anhu meminta kepada mereka, “Ijinkan aku shalat dua raka’at !

Setelah mendapatkan ijin, beliau Radhiyallahu anhu shalat dua raka’at. Setelah itu, beliau Radhiyallahu anhu menoleh kearah orang-orang yang akan mengeksekusi beliau Radhiyallahu anhu sambil mengatakan, “Seandainya aku tidak khawatir kalian akan menduga bahwa apa yang lakukan ini hanyalah karena takut mati, maka tentu saya shalat lebih dari dua raka’at.”

Jadilah Khubaib Radhiyallahu anhu orang pertama yang melakukan shalat dua raka’at ketika hendak akan dibunuh. Beliau Radhiyallahu anhu berdo’a, “Wahai Allâh, hitunglah jumlah mereka, binasakanlah mereka dan janganlah engkau menyisakan seorangpun dari mereka.”

Beliau Radhiyallahu anhu juga membacakan syair, sebelum akhirnya dihampiri oleh Uqbah bin Hârits sang eksekutor dan dibunuhlah Khubaib Radhiyallahu anhu.[2] .

Diatas dijelaskan bahwa Zaid bin Datsinnah Radhiyallahu anhu dan Khubaib Radhiyallahu anhu dibawa ke Mekah dalam keadaan terborgol lalu dijual. Khubaib Radhiyallahu anhu dibeli Bani Hârits, sedangkan Zaid Radhiyallahu anhu dibeli Shafwân bin Umayyah untuk dibunuh sebagai tebusan atas tewasnya Umayyah bi Khalaf dalam perang badar.

Saat beliau Radhiyallahu anhu digiring ke Tan’im meninggalkan tanah haram, ada beberapa orang Quraisy sedang berkumpul, salah satunya adalah Abu Sufyân.

Abu Sufyân mengatakan, “Wahai Zaid, dengan nama Allâh, aku mau bertanya kepadamu, ‘Apakah engkau mau, posisimu saat ini diganti oleh Muhammad untuk kami penggal lehernya sementara engkau berada di tengah keluargamu ?” mendengar pertanyaan ini, Zaid menjawab, “Demi Allâh, saya tidak mau (mendengar atau melihat) Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditempatnya sekarang ini terkena duri yang menyakitinya, sementara saya duduk-duduk di tengah keluargaku.”

Abu Sufyân mengatakan, “Saya belum pernah melihat seseorang yang mencintai orang lain seperti cinta para shahabat nabi kepada Nabi Shallalahu ‘alaihi wa sallam .” Kemudian beliau Radhiyallahu anhu dibunuh.[3]

Begitulah akhir keidupan para shahabat yang diutus oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengajarkan agama ini kepada manusia. Bukan suatu yang mudah untuk mendakwahkan ajaran ini kala itu. Bahaya yang selalu mengintai menuntut pengorbanan bahkan pengorbanan nyawa.

Semoga Allâh Azza wa Jalla senantiasa membuka hati kita dan akal pikiran untuk bisa mengambil pelajaran dari kisah-kisah para Salafus Shalih.

***

Footnote :

  1. Ibnu Ishâq rahimahullah mengatakan, “Jumlah para shahabat yang dikirim itu enam orang.” Sementara Musa bin Uqbah rahimahullah menyebutkan bahwa jumlah mereka adalah tujuh.
  2. Sebagian besar kisah ini ada dalam riwayat Imam Bukhari, al Fath, no. 4086
  3. Ibnu Ishâq rahimahullah dengan tanpa sanad (Ibnu Hisyâm, 3/245); Ibnu Sa’d, 2/56 lewat jalur periwayatan Ibnu Ishâq dengan periwayatan yang mursal.

Selengkapnya dalam sumber : https://abuzahrahanifa.wordpress.com/2020/07/27/beberapa-kejadian-setelah-perang-uhud/

2 responses to “Tragedi Ar Raji, Peristiwa Gugurnya Duta Islam Mekah

  1. Ping balik: Sirah Nabi (48) : Perang Bani Nadhir | Abu Zahra Hanifa

  2. Ping balik: Kisah Said bin Amir Al Jumahi | Abu Zahra Hanifa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s