Sirah Nabi (37) : Bai’at Aqabah Kedua


Sekarang kita lanjutan sirah Nabi, mengenai baiat aqabah kedua.

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa selama sepuluh tahun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru manusia, beliau turun sampai ke pasar ‘Ukaz dan Majannah tempat mereka berjualan.

‘Ukaz itu nama tempat dekat dengan Makkah, orang Jahiliyah menjadikan sebagai pasar tempat mereka melakukan jual beli. Majannah adalah suatu dataran rendah Makkah jauh beberapa mil, orang-orang menjadikannya sebagai pasar.

Ketika musim haji, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi ke Mina seraya berkata, “Siapa yang mau membantuku, menyampaikan ajaran Rabbku yang imbalannya adalah surga?” Sampai-sampai orang-orang datang dari Yaman atau dari Mudhar. Kaumnya mendatanginya lantas mengingatkan, “Hati-hatilah kamu dengan seorang pemuda Quraisy, jangan sampai agamamu jadi ditinggalkan karena dia.”

Bahkan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan di hadapan mereka, mereka mengisyaratkan dengan jari tangannya, “Itu laki-laki yang dimaksudkan.” Sehingga Allah mengutus orang-orang dari Yatsrib yang melindungi dan membenarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Salah seorang di antara kami bertemu Nabi dan mengimaninya dan mempelajari Al-Qur’an, kembali kepada kaumnya, maka dengan dakwahnya, kaumnya juga memeluk Islam sehingga tidak ada rumah-rumah Anshar yang tertinggal, melainkan semua beriman, padahal hanya berawal dari sekelompok orang Islam yang menginginkan kejayaan Islam. Mereka bertanya-tanya, “Sampai kapan kita membiarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diusir dan dilanda ketakutan di gunung-gunung Makkah?”.

Oleh karena itu, kami sebanyak tujuh puluh orang datang menemui beliau pada musim haji, kami berjanji berkumpul di ‘Aqabah. Kami datang secara sembunyi-sembunyi, dua atau tiga orang yang datang secara bertahap sehingga cukup bilangan kami.

Kami berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kami berbaiat kepadamu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam menyahut,

تُبَايِعُونِى عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِى النَّشَاطِ وَالْكَسَلِ والنَّفَقَةِ فِى الْعُسْرِ وَالْيُسْرِ وَعَلَى الأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْىِ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأَنْ تَقُولُوا فِى اللَّهِ لاَ تَخَافُونَ فِى اللَّهِ لَوْمَةَ لاَئِمٍ وَعَلَى أَنْ تَنْصُرُونِى فَتَمْنَعُونِى إِذَا قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ مِمَّا تَمْنَعُونَ مِنْهُ أَنْفُسَكُمْ وَأَزْوَاجَكُمْ وَأَبْنَاءَكُمْ وَلَكُمُ الْجَنَّةُ

Kamu berbaiat kepadaku untuk mendengar dan taat ketika bersemangat dan malas, untuk menafkahkan harta ketika sulit dan mudah, untuk menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, untuk berbicara di jalan Allah dan tidak takut kepada orang yang mencela. Hendaklah kalian menolongku jika aku datang kepada kalian, melindungi aku sebagaimana kalian melindungi diri kalian, istri, dan anak-anak kalian, dan bagi kalian adalah surga”.

Dia berkata, “Kami pun berdiri kepadanya dan berbaiat kepadanya.” Lantas As’ad bin Zurarah—dia termasuk yang termuda di antara mereka—memegangi tangannya, maka dia berkata, “Sebentar wahai penduduk Yatsrib, kita tidak menempuh perjalanan jauh, melainkan kita mengetahui bahwa ia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bahwasanya mengeluarkannya pada hari ini, berarti berhadapan dengan seluruh bangsa Arab, terbunuhnya orang-orang pilihan kalian, dan pedang akan melumat kalian. Apakah kalian adalah kaum yang sabar menghadapi itu semua dan pahala kalian dijamin oleh Allah, atau apakah kalian kaum yang takut dan pengecut. Tolong jelaskanlah hal tersebut, maka itu adalah uzur kalian di sisi Allah.”

Mereka menyahut, “Jauhkanlah dari kami wahai As’ad! Demi Allah, kami tidak akan meninggalkan baiat ini selamanya dan tidak akan membatalkannya selamanya” Dia berkata, “Maka kami berdiri dan berbaiat kepadanya, maka dibaiatlah kami dengan syarat-syarat yang ditetapkan sekiranya kami menepatinya, maka balasannya adalah surga.” “Semoga Allah meridai semuanya. (HR. Ahmad, 3:322. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih sesuai syarat Muslim).

Dari Junadah bin Abi Umayyah, ia berkata, “Kami memasuki rumah Ubadah bin Shamit ketika ia sakit, kami berkata, ‘Semoga Allah menyembuhkan kamu, ceritakan satu hadits yang Allah akan memberimu ganjaran, yang pernah engkau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ubadah berkata, Nabi memanggil kami dan membaiat kami. Ubadah katakan lagi,

فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ ، فِى مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا ، وَعُسْرِنَا ، وَيُسْرِنَا ، وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا ، وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ ، إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا ، عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ

Beliau membaiat kami untuk mendengar dan taat baik pada waktu semangat maupun malas, waktu sulit maupun lapang, untuk mengutamakan kepentingan orang lain atas kami, untuk tidak menentang penguasa, kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata menurutmu, yang ada buktinya dari Allah.” (HR. Bukhari, no. 7055, 7056 dan Muslim, no. 1709).

Setelah proses baiat dan pengukuhan janji usai seperti yang telah disampaikan oleh Jabi radhiyallahu ‘anhu, ada setan berteriak di tempat yang tinggi di ‘Aqabah dengan suara yang tinggi, “Ya ahlal Jababib (wahai penghuni rumah-rumah yang ada di Mina), maukah kalian kuberitahu bahwa Mudzammam (kata celaan untuk Nabi Muhammad dari orang Quraisy, pen) dan orang-orang yang keluar dari agamanya (disebut Shubah) berkumpul bersamanya untuk memerangi kalian.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Ini adalah Azabb Al-Aqabah. Ini adalah anak Uzaib. Demi Allah, wahai musuh Allah, aku benar-benar akan meluangkan untukmu.” Lalu beliau memerintahkan kepada mereka untuk kembali ke tenda masing-masing, Al-Abbas bin Ubadah bin Nadhlah berkata, “Demi yang mengutus engkau dengan benar, jika engkau berkenan, besok kami bisa menghabisi penduduk Mina dengan pedang-pedang kami.” Beliau bersabda, “Kami tidak diperintahkan untuk itu.” (HR. Ahmad, 3:460. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini qawiy, sanadnya hasan).

-o-

Referensi : Fiqh As-Sirah.Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah

Tulisan lengkapnya di Rumaysho:
https://rumaysho.com/21333-faedah-sirah-nabi-baiat-aqabah-kedua.html

***

Bagaimana pelajaran yang bisa digali dari baiat Aqabah kedua?

Isi baiat Aqabah kedua,

تُبَايِعُونِى عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِى النَّشَاطِ وَالْكَسَلِ والنَّفَقَةِ فِى الْعُسْرِ وَالْيُسْرِ وَعَلَى الأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْىِ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأَنْ تَقُولُوا فِى اللَّهِ لاَ تَخَافُونَ فِى اللَّهِ لَوْمَةَ لاَئِمٍ وَعَلَى أَنْ تَنْصُرُونِى فَتَمْنَعُونِى إِذَا قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ مِمَّا تَمْنَعُونَ مِنْهُ أَنْفُسَكُمْ وَأَزْوَاجَكُمْ وَأَبْنَاءَكُمْ وَلَكُمُ الْجَنَّةُ

Kamu berbaiat kepadaku untuk mendengar dan taat ketika bersemangat dan malas, untuk menafkahkan harta ketika sulit dan mudah, untuk menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, untuk berbicara di jalan Allah dan tidak takut kepada orang yang mencela. Hendaklah kalian menolongku jika aku datang kepada kalian, melindungi aku sebagaimana kalian melindungi diri kalian, istri, dan anak-anak kalian, dan bagi kalian adalah surga.”

Beberapa pelajaran dari kisah baiat Aqabah kedua

Pertama:

Perjanjian Aqabah kedua yang merupakan momen terpenting dalam Islam, di antaranya terbukanya jalan untuk hijrah ke Madinah bagi para sahabat radhiyallahu ‘anhum, kemudian bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dari sana terjadi perang Badar.

* Perang Badar adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan musuh-musuhnya. Perang ini terjadi pada bulan Ramadhan tahun kedua Hijriyah. Pasukan kecil kaum Muslim yang berjumlah 313 orang bertempur menghadapi pasukan Quraisy dari Mekkah yang berjumlah 1.000 orang. Setelah bertempur habis-habisan sekitar dua jam, pasukan Muslim menghancurkan barisan pertahanan pasukan Quraisy, yang kemudian mundur dalam kekacauan.

Kaab bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,

وَلَقَدْ شَهِدْتُ مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – لَيْلَةَ الْعَقَبَةِ حِينَ تَوَاثَقْنَا عَلَى الإِسْلاَمِ ، وَمَا أُحِبُّ أَنَّ لِى بِهَا مَشْهَدَ بَدْرٍ وَإِنْ كَانَتْ بَدْرٌ ، أَذْكَرَ فِى النَّاسِ مِنْهَا

Saya telah menyaksikan malam Aqabah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam manakala kami berjanji setia membela Islam, saya tidak lebih suka jika ditukar dengan perang Badar, walaupun perang Badar lebih diingat oleh manusia ketimbang perjanjian Aqabah.” (HR. Bukhari, no. 3889)

Dalam Fath Al-Bari (7:221) disebutkan oleh Ibnu Hajar rahimahullah, “Perang Badar lebih utama karena perang tersebut adalah perang pertama kali yang dimenangkan oleh kaum muslimin. Tetapi perjanjian Aqabah merupakan sebab tersebarnya Islam dan timbulnya perang Badar.”

Kedua:

Syarat kedua yang disebutkan dalam baiat Aqabah kedua adalah berinfak pada waktu senang maupun susah, yaitu disebutkan,

والنَّفَقَةِ فِى الْعُسْرِ وَالْيُسْرِ

untuk menafkahkan harta ketika sulit dan mudah.

Dalam ayat diperintahkan mengorbankan harta di jalan Allah,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat: 15)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Ash-Shaff: 10-11)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ قَالُوا وَكَيْفَ قَالَ كَانَ لِرَجُلٍ دِرْهَمَانِ تَصَدَّقَ بِأَحَدِهِمَا وَانْطَلَقَ رَجُلٌ إِلَى عُرْضِ مَالِهِ فَأَخَذَ مِنْهُ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ فَتَصَدَّقَ بِهَا

Satu dirham dapat mengungguli seratus ribu dirham.” Lalu ada yang bertanya, “Bagaimana itu bisa terjadi wahai Rasulullah?” Beliau jelaskan, “Ada seorang yang memiliki dua dirham lalu mengambil satu dirham untuk disedekahkan. Ada pula seseorang memiliki harta yang banyak sekali, lalu ia mengambil dari kantongnya seratus ribu dirham untuk disedekahkan.” (HR. An-Nasai, no. 2527 dan Ahmad, 2:379. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Masih bersambung insya Allah.

-o-

Referensi : Fiqh As-Sirah.Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah

Tulisan lengkapnya di Rumaysho:
https://rumaysho.com/21408-faedah-sirah-nabi-pelajaran-dari-baiat-aqabah-kedua.html

One response to “Sirah Nabi (37) : Bai’at Aqabah Kedua

  1. Ping balik: Kumpulan Artikel Seputar Sirah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam (1) | Abu Zahra Hanifa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s