Sirah Nabi (36) : Bai’at Aqabah Pertama


Bagaimana kisah dalam baiat ‘Aqabah yang pertama?

Orang-orang Madinah terdahulu merupakan orang-orang istimewa, mereka menerima tawaran Islam dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan baik, seperti kisah Suwaid bin Shamit yang telah diulas sebelumnya.

Semisal itu juga ada kisah Iyas bin Mu’adz yang menjamin delegasi dari Bani Abdul Asyhal, mengikat sumpah dengan Quraisy menyelamatkan kaumnya Khazraj, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui berita mereka lantas mendatanginya seraya berkata,

هَلْ لَكُمْ إِلَى خَيْرٍ مِمَّا جِئْتُمْ لَهُ

“Adakah kamu datang untuk satu keperluan yang lebih baik?”. Mereka bertanya, “Siapa Anda?”.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

أَنَا رَسُولُ اللَّهِ بَعَثَنِى إِلَى الْعِبَادِ أَدْعُوهُمْ إِلَى أَن ْيَعْبُدُوا اللَّهَ لاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً وَأُنْزِلَ عَلَىَّ كِتَابٌ

Saya Rasulullah, saya diutus kepada manusia. Saya mengajak manusia untuk menyembah Allah semata, dan tidak berbuat syirik sedikit pun, dan saya diwahyukan Al-Qur’an”.

Lalu beliau menceritakan Islam dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka. Lalu Iyas yang kala itu masih belia (ghulam) berkata kepada kaumnya,

أَىْ قَوْمِ هَذَا وَاللَّهِ خَيْرٌ مِمَّا جِئْتُمْ لَهُ

Wahai kaumku, demi Allah ini lebih baik dari tujuan kamu datang untuknya.”

Abu Al-Haisar (kala itu sebagai ketua delegasi) mengambil segenggam kerikil dan melempari Iyas sambil berkata, “Diam kamu.” Iyas pun terdiam. Ketika mereka kembali ke Madinah, tidak lama kemudian Iyas meninggal dunia. Di antara orang yang menyaksikannya menyebutkan dia senantiasa membaca tahlil, takbir, tahmid, serta tasbih hingga ia meninggal dunia. Tetapi mereka tidak menyebutkan kalau ia mati dalam keadaan Islam. Yang jelas ia merasakan keislaman di majelis tadi ketika ia mendengar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apa yang ia dengar. (HR. Ahmad, 5:427. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Ibnu Ishaq menyebutkan ketika Allah hendak menampakkan agamanya dan mengagungkan nabi-Nya pada musim haji dan membenarkan janji-Nya, pada tahun kesebelas dari kenabian, beliau keluar menawarkan dirinya kepada kabilah-kabilah Arab seperti lazimnya dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Sesampainya di ‘Aqabah, beliau bertemu sekelompok orang berasal dari suku Khazraj, Allah menginginkan kebaikan kepada mereka.

Ashim bin Umar bin Qatadah dari pemuka kaumnya memberitahukan aku seraya berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu mereka”, beliau bertanya, “Siapa kalian?” Kami sekelompok orang yang berasal dari Khazraj”, sahut mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah kalian termasuk bekas budak Yahudi?” “Ya”, jawab mereka. “Maukah kamu duduk karena aku ingin mengungkapkan sesuatu kepada kalian?”, tanya Rasul. “Ya”, jawab mereka. Mereka lantas duduk dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak mereka untuk beribadah kepada Allah semata, menawarkan Islam, dan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an.

Disebutkan bahwa Allah memperlihatkan Islam kepada mereka, ketika bersama Yahudi terdapat ahli kitab dan ahli ilmu, sedangkan mereka musyrik dan menyembah berhala. Diberitahukan kepada mereka akan datangnya seorang nabi dan mereka berhasrat memerangi kaumnya itu bersama nabi seperti pada perang kaum ‘Ad dan Iram.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara dengan mereka dan menyeru kepada Islam. Di antara mereka, ada yang berkata, “Wahai kaumku! Tidakkah kamu mengetahui dialah Nabi yang telah dijanjikan Yahudi, segeralah memenuhi ajakan dan seruannya, benarkan dan terimalah ajaran Islam.

Mereka memberitahukan Nabi, “Kami meninggalkan kaum kami, kaum yang saling bermusuhan sesama mereka, semoga dengan kedatangan Anda, kaum kami menyatu. Kami akan memberitahukan dan menyeru mereka kepada apa yang kamu bawa. Kami akan menawarkan agama ini kepada mereka, sekiranya Allah mengumpulkan mereka di sekitar Anda, maka tidak ada orang yang paling mulia selain Anda.” Kemudian mereka pulang ke negeri mereka dengan membawa iman dan keyakinan yang jujur.

Jumlah mereka enam orang berasal dari Khazraj yaitu As’ad bin Zurarah, Auf bin Al-Harits bin Rifa’ah, Rafi’ bin Malik bin Al-‘Ajlan, Quthbah bin ‘Amir bin Hadidah, ‘Uqbah bin ‘Amir bin Naaby, dan Jabir bin ‘Abdullah bin Riab radhiyallahu ‘anhum.

Auz dan Khazraj adalah saudara kandung, kemudian terjadilah permusuhan di antara mereka karena ada pembunuhan. Peperangan di antara mereka berlangsung selama 120 tahun. Api peperangan baru padam ketika Islam datang, mereka kembali bersaudara berkat kehadiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah mereka.

Sekembalinya ke Madinah, mereka menjadi dai menyeru kepada Islam, tersebarlah Islam ke seluruh penjuru dan pelosok Madinah sehingga semua mereka menyebut-nyebut tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pada tahun berikutnya datang 12 orang, enam orang yang disebutkan tadi, kecuali Jabir bin ‘Abdullah bin Riab, tambahannya adalah Mu’adz bin Al-Harits bin Rifa’ah, Dzakwan bin Abdul Qais, ‘Ubadah bin Ash-Shamit, Yazid bin Tsa’labah, Abul Haytsam bin At-Taihan, dan ‘Uwaimir bin Malik.

Bersumber dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di sekelilingnya ada sahabat-sahabatnya tadi,

بَايِعُونِى عَلَى أَنْ لاَ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا ، وَلاَ تَسْرِقُوا ، وَلاَ تَزْنُوا ، وَلاَ تَقْتُلُوا أَوْلاَدَكُمْ ، وَلاَ تَأْتُوا بِبُهْتَانٍ تَفْتَرُونَهُ بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ ، وَلاَ تَعْصُوا فِى مَعْرُوفٍ ، فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ، وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَعُوقِبَ فِى الدُّنْيَا فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ ، وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا ثُمَّ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَهُوَ إِلَى اللَّهِ إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ ، وَإِنْ شَاءَ عَاقَبَهُ

Kemarilah dan berbaiatlah kalian kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kalian sendiri, tidak berbuat dusta yang kalian ada-adakan sendiri, tidak mendurhakaiku dalam urusan yang baik. Barangsiapa di antara kalian menepatinya, maka pahalanya ada pada Allah. Barangsiapa ditimpa sesuatu dari yang demikian itu, lalu ia disiksa di dunia, maka itu merupakan ampunan dosa baginya. Barangsiapa ditimpa sesuatu dari yang demikian itu lalu Allah menutupinya, maka urusannya terserah Allah. Jika menghendaki, Allah menyiksanya. Dan jika menghendaki, Allah akan mengampuninya.” Lalu kami pun berbaiat kepada beliau. (HR. Bukhari, no. 18 dan Muslim, no. 1709).

-o-

Referensi : Fiqh As-Sirah.Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah.

Akhi, ukhti, yuk baca tulisan lengkapnya di Rumaysho:
https://rumaysho.com/20900-faedah-sirah-nabi-baiat-aqabah-pertama.html

***

Sekarang kita ambil pelajaran dari baiat aqabah pertama.

Pertama:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menawarkan Islam kepada penduduk Madinah di ‘Aqabah, sebagian mereka berkata kepada sebagian lainnya, “Dia adalah Nabi yang dijanjikan kedatangannya oleh Yahudi”, menandakan awal dari penerimaan mereka terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Walaupun mereka masih dalam keadaan musyrikin, tetapi informasi—walaupun sedikit—tersebut bermanfaat bagi mereka untuk mendapatkan hidayah dan menerima ajakan Nabi. Hal ini menggambarkan pentingnya ilmu, kedudukan, dan fungsinya walaupun tidak berguna bagi seluruh Yahudi dalam memenuhi ajakan Rasul, tetapi berguna bagi sebagiannya yang implementasinya membenarkan dan mengimani kenabian di awal perjumpaan mereka seperti yang akan dijelaskan.

Ibnu Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah menyebutkan, “Tidak ada satu lorong pujn di Arab yang tidak mengetahui dan mendengar tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik kabilah Aus maupun Khazraj, yang demikian karena mereka mendengarnya dari pemuka-pemuka Yahudi.”

Oleh karena itu, semakin banyak orang Islam yang membedah, menelaah, membudidayakan ilmu, akan membantu individu muslim dalam beribadah dan berdakwah kepada Allah Ta’ala.

Kedua:

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Hari Bu’ats (Bu’ats itu nama tempat, di tempat ini terjadi peperangan antara kaum Aus dan Khazraj, di antara mereka banyak yang terbunuh, kejadiannya lima tahun sebelum Hijrah) merupakan hari yang disuguhkan oleh Allah kepada Rasul-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, sedangkan jamaahnya tengah bercerai-berai, dibunuh keluarga-keluarganya dan dilukai. Oleh karena itu, Allah menyuguhkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masuknya mereka ke dalam Islam.

Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan tentang peristiwa Bu’ats, “Yang terbunuh dalam perang Bu’ats adalah para pembesar yang tidak beriman; maksudnya orang sombong yang tidak mau masuk Islam supaya tidak tunduk dalam hukum orang lain.

Yang tersisa dari mereka adalah Abdullah bin Ubay bin Salul.” Allah menghendaki dari peristiwa yang besar ini sebelum kedatangan Nabi ke Madinah untuk terwujud dua perkara:

1). Anugerah Allah Ta’ala kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melancarkan jalannya untuk berdakwah dengan memusnahkan pembesar-pembesar Madinah sebelum kedatangannya, karena keberadaan mereka bisa menjadi penghalang yang serius bagi dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti apa yang terjadi di Makkah, sehingga ‘Aqabah berikutnya tidak ikut campur terhadap orang yang membenci Islam. Oleh karena itu, jalan dakwah ke Madinah menjadi mulus karena pembesar-pembesar yang menentang Islam telah dimusnahkan Allah. Hal tersebut merupakan anugerah besar yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya seperti dinukilkan oleh Aisyah dalam haditsnya, “Allah menyisakan seorang contoh dari pembesar-pembesar itu untuk mengingatkan tentang mereka dan tentang nikmat Allah atas nabi-Nya dengan dimusnahkannya mereka sebelum kedatangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Contoh yang tersisa ini adalah ‘Abdullah bin Ubay bin Salul.”

2). Supaya hati siap menerima Islam dan menampakkan kebesaran Islam bagi Anshar yang telah menyatukan mereka setelah perpecahan, menyemaikan kecintaan setelah permusuhan, keharmonisan setelah percekcokan.

Ketiga :

Agama ini merupakan anugerah Allah, menyatukan hati dan menamakan sifat kasih sayang kaum Aus dan Khazraj yang sebelumnya saling bermusuhan selama seratus dua puluh tahun. Kedatangan Islam menyatukan mereka. Sekarang kita melihat peperagan di mana-mana, pertikaian dan pembunuhan merajalela. Oleh karena itu, bisa kita katakan seperti halnya Islam telah datang mendamaikan Aus dan Khazraj, maka tidak akan pernah dalam hati umat sekarang, melainkan dengan berpegang teguh kepada Islam dan berjalan di bawah naungannya supaya manusia bisa saling merasakan persaudaraan. Oleh karena itu disebutkan dalam ayat,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran: 103).

Keempat:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus di Makkah di tengah kabilahnya sendiri, beliau terus menerus menawarkan dirinya lebih sepuluh tahun, yang menerima seruannya hanyalah beberapa orang. Dia mendapatkan pertentangan sengit dari kelompok mayoritas, tetapi pertolongan datang dari kabilah lain dari luar Makkah.

Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan dakwah khusus, tetapi dakwah universal mencakup seluruh manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan dakwah kepada penduduk Makkah dan kabilah-kabilah yang datang ke Makkah, siapa saja yang memenuhi seruannya dan membantunya itulah yang utama.

Kelima:

Pengorbanan yang luar biasa dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdakwah kepada Allah Ta’ala. Beliau berdakwah siang dan malam tanpa mengenal jenuh dan bosan sedikit pun, sekalipun mereka menolaknya, beliau tetap tidak pernah putus asa.

Dalam ayat disebutkan,

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 128)

Keenam:

Kemenangan kadang-kadang datang pada masa dan tempat yang tidak diprediksikan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan kepada kabilah-kabilah Makkah, tetapi tidak membuahkan hasil. Penawaran yang sama dilakukan kepada Khazraj, kelompok ini membuahkan hasil, merupakan pembukaan kemenangan dan inti kebaikan dari penerimaan dakwah dan kesiapan membantu berdakwah.

Ketujuh:

Dalam baiat aqabah pertama, beliau berbaiat dan mengawali dengan ajakan mentauhidkan Allah. Mengajak pada tauhid dan menjauhi syirik adalah dakwahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Rasul lainnya. Dalam ayat disebutkan,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.” (QS. Al-Anbiya’: 25)

Tanpa tauhid, maka amalan tidak akan bernilai sama sekali sebagaimana disebutkan dalam firman Allah,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)

Kedelapan:

Orang yang diajak Rasul masuk Islam di Mina (‘Aqabah), mereka tidak berhenti sampai di situ, namun mereka kembali ke Madinah dan menjadi dai yang mengajak umat kepada agama Allah.

Karenanya seorang muslim tidaklah boleh merasa cukup dengan melaksanakan ibadah wajib saja, tetapi berkewajiban mengajak orang lain kepada agama dan merasakan tanggungjawab terhadap agama.

Kesembilan:

Disyariatkan pengiriman dai dan pengutusan mereka ke pelosok-pelosok untuk mengajarkan dan menyeru manusia kepada Allah Ta’ala, untuk meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini terjadi sewaktu Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimkan Mus’ab bin ‘Umair radhiyallahu ‘anhu ke Madinah untuk mendakwahkan manusia dan mengajari mereka.

-o-

Referensi : Fiqh As-Sirah.Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah.

Akhi, ukhti, yuk baca tulisan lengkapnya di Rumaysho:
https://rumaysho.com/20965-faedah-sirah-nabi-pelajaran-dari-baiat-aqabah-pertama.html

2 responses to “Sirah Nabi (36) : Bai’at Aqabah Pertama

  1. Ping balik: Mengenal Pahlawan Islam, Abdullah bin Rawahah | Abu Zahra Hanifa

  2. Ping balik: Kumpulan Artikel Seputar Sirah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam (1) | Abu Zahra Hanifa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s