Perang Badar, Perang Pertama Umat Islam Di Bulan Ramadhan


Badar adalah nama sebuah lembah yang terletak di antara Makkah dan Madinah. Lembah ini diapit oleh dua bukit, yaitu di timur bukitnya bernama ‘Udwah al Qushwa’ dan di barat bukitnya bernama ‘Udwah ad Dunya’, sedangkan di sisi selatan, ada juga bukit bernama bukit ‘al-Asfal’.

Sejak masa sebelum Islam, lembah tersebut sudah menjadi jalur yang banyak dilintasi kafilah-kafilah dagang asal Makkah atau Yaman yang hendak berniaga ke Syam (Suriah dan Lebanon).

Tanahnya yang subur karena memiliki campuran pasir dan tanah dengan beberapa mata air di lembah tersebut membuat para kafilah bisa singgah beristirahat di lembah ini dengan nyaman. 

Lembah Badar memang menjadi sangat dikenal dalam sejarah Islam karena menjadi saksi suatu peristiwa besar yang menjadi tonggak sejarah perkembangan Islam. Di lembah inilah, pertempuran besar antara umat Islam dari Madinah dan kaum musyrikin dari Makkah terjadi.

Perang Badar adalah perang pertama dalam Islam yang terjadi pada tahun kedua Hijriyah antara pasukan kaum muslimin dan kaum musyrikin Makkah. Perang ini sangat penting bagi kaum muslimin demi tegaknya panji tauhid dan izzah Islam.

Ketika periode Makkah, ummat Islam belum diperintahkan untuk berperang oleh Allah karena jumlah mereka yang masih sangat sedikit. Setelah penduduk Madinah banyak yang masuk Islam, dan ummat Islam di Makkah hijrah ke Madinah, kekuatan Islam semakin bertambah. Allah pun mengizinkan mereka mengangkat senjata melawan orang-orang kafir Quraisy Makkah.

Allah berfirman, “Telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.” (QS. Al-Hajj: 39).

Latar Belakang Pertempuran Badar

Perang Badar terjadi karena awalnya Rasulullah ingin mengambil kembali harta kaum muslimin Makkah yang diambil oleh orang-orang kafir Quraisy.

Untuk itu, beliau menghadang kafilah Quraisy yang datang dari Syam yang dipimpin oleh Abu Sufyan. Abu Sufyan yang mengetahui kabar tersebut segera mengutus seseorang untuk menyampaikan kepada saudara-saudara musyrik mereka yang ada di Makkah agar melindungi kafilah dagang itu dari kaum muslimin.

Kedua pasukan bertemu di Badar tepat pada tanggal 17 Ramadhan. Pasukan kaum Muslimin berjumlah 314 orang dipimpin oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, terdiri dari 83 orang kaum Muhajirin dan 231 orang dari kalangan Anshar dilengkapi dengan dua ekor kuda dan 70 ekor unta. Pemegang panji utama adalah Mush’ab bin Umair radhiyallahu anhu. Sedangkan dari pihak kaum musyrikin berjumlah 950 orang dilengkapi dengan 100 ekor kuda, 700 unta, dan 600 baju besi untuk perang. Mereka dipimpin oleh Abu Jahal laknatullah alaihi.

Pada malam 17 Ramadhan 2 H, Rasulullah menyibukkan diri dengan doa untuk pertempuran esok hari. Beliau mendoakan dan menyebutkan satu per satu nama-nama tokoh Quraisy, Abu Jahal, Umayyah bin Khalaf dan tokoh tokoh musyrikin lainnya agar dibinasakan di pertempuran esok hari. Benar saja, tidak satu pun nama yang beliau sebutkan melainkan tewas di Badr.

Pada malam sebelum pertempuran, Rasulullah mengangkat kedua tangan beliau, berdo’a kepada Allah,

اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الإِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِي الأَرْضِ

“Ya Allah, jika Engkau membinasakan pasukan ini (kaum muslimin), maka setelah hari ini Engkau tidak akan disembah.” Melihat Rasulullah berdo’a begitu khusyu’, Abu Bakar mendekati beliau dan memberi semangat kepada beliau bahwa Allah pasti akan menepati janji-Nya, yaitu memenangkan kaum muslimin.

Perang pun berkecamuk antara kedua pasukan. Pada akhirnya, pasukan kaum muslimin berhasil meraih kemenangan sementara pasukan musyrikin mengalami kekalahan. Sekitar 70 orang kaum musyrikin terbunuh, di antaranya adalah para pembesar Quraisy seperti Abu Jahal, Umayyah bin Khalaf, Utbah bin Rabi’ah, dan Syaibah bin Rabi’ah.

Para Malaikat Ikut Bertempur

Pada perang Badar, ribuan malaikat turun membantu pasukan kaum muslimin. Dalam sirah Ibnu Hisyam disebutkan dari Ibnu Abbas bahwa seseorang dari Bani Ghifar yang melihat pertempuran tersebut dari atas gunung tiba-tiba melihat awan yang mendekat. Dari awan tersebut ia mendengar ringkikan kuda dan suara perintah untuk maju bertempur.

Seorang sahabat berkisah, “Ketika aku membuntuti salah seorang musyrik pada Perang Badar untuk menebasnya, tiba-tiba kepalanya terputus sebelum pedangku mengenainya. Aku pun sadar bahwa orang tersebut ditebas pihak lain.”

Allah berfirman, “(Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin, ‘Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?’ Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.” (QS. Ali Imran: 124-125).

Setelah Perang Berakhir

Setelah perang usai, Rasulullah menginstruksikan agar semua korban perang dari pihak musyirikin dibuatkan lubang. Mayat-mayat itu lalu dimasukkan ke dalam lubang dan ditimbun. Rasulullah berdiri di pinggir lubang dan berseru, “Apakah kalian sudah menyadari bahwa janji Rabb itu benar? Saya sudah menyadari dan membuktikan janji Rabbku itu benar.”

Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, engkau berbicara kepada orang mati yang sudah menjadi mayat?” Rasulullah bersabda, “Kalian tidak lebih bisa mendengar daripada mereka. bedanya mereka tidak bisa menjawab kalian.” (HR. Bukhari dan Abu Dawud).

Kemudian Rasululllah memerintahkan pasukannya untuk pulang ke Madinah. Ia menugaskan Abdullah bin Ka’ab bin Amr untuk mengurus harta rampasan (ghanimah). Harta rampasan perang itu beliau bagi-bagikan sesuai perintah Allah.

Saat ini, lembah badar menjadi salah satu kota yang berada di wilayah Provinsi Madinah dengan nama lengkap Kota Badar Hunain. Jarak kota ini dari Kota Suci Madinah mencapai sekitar 130 km. Pada salah satu lokasi di lembah tersebut, terdapat bangunan tembok menyerupai benteng yang mengelilingi areal cukup luas.

Lokasi yang dipagari benteng tersebut diperkirakan menjadi lokasi pertempuran sekaligus tempat dimakamkannya para syuhada yang gugur dalam Perang Badar.

Pembagian Ghanimah

Para Sahabat mendapatkan banyak ghanimah yang diproleh dari tangan musuh yang melarikan diri, terbunuh atau yang tertawan. Di sini muncul permasalahan baru, yaitu cara pembagian ghanîmah, karena para Sahabat terbagi menjadi tiga kelompok. Ada yang berkonsentrasi menyerang dan memukul mundur musuh, ada yang berkonsentrasi mengumpulkan harta rampasan dan ada pula yang berkonsentrasi menjaga Rasulullah agar terhindar dari serangan musuh. Setiap kelompok merasa berhak mendapatkan bagian dengan alasan masing-masing.

Perselisihan ini terjadi karena pada saat itu belum ada syari’at tentang aturan pembagian ghanîmah. Ubadah bin Shamit menjelaskan, “Lalu Allah Azza wa Jalla mengambil alih permasalahan ini dan menyerahkannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membagikannya kepada kaum muslimin.

Lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya :

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَنْفَالِ ۖ قُلِ الْأَنْفَالُ لِلَّهِ وَالرَّسُولِ ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ ۖ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang kepunyaan Allah Azza wa Jalla dan Rasul , oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah Azza wa Jalla dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan rasul-Nya, jika kamu adalah orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anfal ayat 1)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagikannya sama rata kepada semua Sahabat yang ikut serta dalam perang Badar.

Di antara hadits yang menunjukkan pembagian ghanimah kepada para Sahabat yang turut serta dalam perang Badar yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ali yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberinya unta yang diambilkan dari seperlima yang merupakan bagian Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya memberikan ghanîmah kepada para peserta perang, tapi beliau juga membagikannya kepada para Sahabat yang ditugaskan di Madinah atau yang tidak ikut berperang karena suatu alasan yang dibenarkan. Seperti Utsman yang tidak berangkat karena mengurusi istrinya yang sedang sakit, atau Abdullah ibnu Ummi Maktum, Abu Lubabah yang mendapatkan tugas dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap di Madinah.

Begitulah akhir dari kisah pembagian ghanimah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil seperlimanya, kemudian sisanya beliau bagikan kepada para Sahabat secara sama rata. Pembagian ghanîmah ini dilakukan di daerah Shafra’ dalam perjalanan pulang menuju Madinah.

Para Sahabat Radhiyallahu anhum semuanya taat kepada keputusan yang diambil oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , sehingga perselisihan dalam masalah pembagian ghanîmah ini hilang begitu saja. Dan begitulah sikap para Sahabat dalam setiap permasalahan yang diputuskan hukumnya oleh Allah atau Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hasil dari Perang Badar

  1. Umat islam semakin kuat sehingga bangsa Arab memperhitungkannya. Islam muncul ke permukaan dengan rambu-rambu akidah dan prinsip-prinsip dasar yang dibawanya.
  2. Tergoncangnya kedudukan Quraisy di mata orang Arab serta kegalauan penduduk Makkah di hadapan tamparan yang tak diduga tersebut.
  3. Tampilnya umat islam sebagai sebuah kekuatan yang memiliki arti dan pengaruh. Hal ini menyebabkan banyak kabilah yang tinggal di sepanjang jalur Makkah dan Syam membuat perjanjian kesepakatan dengan mereka. Dengan demikian kaum muslimin sudah berhasil menguasai jalur tersebut.
  4. Sebelum perang Badr meletus, kaum muslimin mengkhawatirkan keberadaan orang-orang non muslim yang tinggal di kota Namun setelah mereka kembali ternyata kenyataannya justru sebaliknya.
  5. Semakin bertambahnya kebencian orang-orang yahudi terhadap umat islam. Sebagian mereka mulai menunjukkan permusuhannya secara terang-terangan. Sementara yang lainnya menjadi agen yang membawa berita perihal kaum muslimin kepada orang-orang Quraisy serta memprovokasi mereka untuk menyerang umat islam.
  6. Aktivitas perdagangan Quraisy menjadi semakin sempit. Akhirnya mereka terpaksa menapaki jalur Iraq melalui Najd karena takut apabila dikuasai oleh orang-orang Islam. Dan jalur ini merupakan jalur yang panjang.

***

Referensi : Beberapa artikel seputar perang badar dalam https://abuzahrahanifa.wordpress.com/

3 responses to “Perang Badar, Perang Pertama Umat Islam Di Bulan Ramadhan

  1. Ping balik: Kisah Ikrimah radhiyallahu’anhu, Putra Manusia Terlaknat | Abu Zahra Hanifa

  2. Ping balik: Kumpulan Artikel Seputar Sirah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam (2) | Abu Zahra Hanifa

  3. Ping balik: Kumpulan Artikel Seputar Sirah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam (2) | Abu Zahra Hanifa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s