Kisah Kesepakatan Damai Perjanjian Hudaibiyah


Sebelumnya kaum Quraisy telah mengutus beberapa utusan untuk melakukan perundingan dengan kaum Muslimin. Dari Budail bin Warqa’, kemudian Urwah bin Masud Atssaqafi, Mikraz bin Hafs hingga utusan terakhir yang bernama Suhail bin Amru.

Orang-orang Quraisy pun telah berpesan kepada Suhail bin Amru, ”Datangilah Muhammad dan buatlah penjanjian damai dengannya dan tidak akan terjadi perdamaian kecuali ia harus kembali tahun ini (tidak jadi melakukan umrah-red). Maka demi Allâh ! Jangan sampai orang-orang arab berbicara tentang kami bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki Makkah dengan paksa”.

Ketika sampai di hadapan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Suhail berbicapa panjang lebar dan saling menjawab, kemudian terjadilah antara keduanya perdamaian.

SYARAT-SYARAT PERJAJIAN DAMAI

Ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai mendiktekan syarat-syarat perjanjian ke Ali bin Thâlib Radhiyallahu anhu selaku penulis isi perjanjian[1] , Suhail mengingkari penulisan kalimat ‘ar-Rahmân” dalam al-basmalah. Ia ingin menggantinya dengan “Bismika Allahumma” karena kalimat ini yang berlaku bagi orang orang jahiliyah.

Keberatan Suhail ini ditolak oleh kaum Muslimin, namun tidak demikian dengan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam setuju dengan usulan Suhail.

Suhail juga mengkritisi penggunaan ungkapan, “Muhammad Rasulullah”, dia meminta diganti dengan “Muhammad bin Abdillah”.

Kritikan ini disetujui oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Giliran Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengajukan syarat dengan sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dengan syarat, kalian membiarkan kami mendatangi Ka’bah dan melakukan ibadah thawaf.”

Suhail membantah dengan mengatakan, “Jangan sampai orang-orang arab mengatakan kami telah memaksa, akan tetapi kalian boleh datang tahun depan, sehingga kami keluar dan kamu bisa masuk dengan seluruh shahabatmu dan tinggal selama tiga hari dengan pedang yang tidak terhunus.”

Rasûlullâh pun setuju dengan syarat tersebut, kemudian Suhail melanjutkan dengan syarat yang selanjutnya, “Dan tidak ada seorang pun dari kaum kami yang datang kepadamu (pada masa perjanjian ini-red) walaupun dia diatas agamamu melainkan engkau harus mengembalikannya kepada kami.”

Mendengar syarat ini, kaum Muslimin langsung bereaksi. Mereka mengatakan, “Subhanallah ! Bagaimana mungkin dikembalikan kepada kaum musyrikin sementara dia dalam keadaan Muslim?!”

Ketika sedang terjadi perundingan dalam poin ini, tiba-tiba datang Abu Jandal bin Suhail bin Amr bin Yarsuf dalam keadaan terikat. Ia keluar dari kota Mekah dan menggabungkan diri dengan kaum Muslimin.

Melihat ini, Suhail tidak mau kehilangan kesempatan emas ini. Suhail mengatakan, “Wahai Muhammad ! Inilah orang pertama yang aku tuntut engkau untuk mengembalikannya kepadaku.”

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّا لَمْ نَقْضِ الْكِتَابَ بَعْدُ

Kita belum mulai melaksanakan isi perjanjian“.

Suhail menimpali, “Demi Allâh ! Kalau demikian kami tidak akan berdamai selamanya denganmu dengan syarat apapun.”

Rasûlullâh sangat mengharapkan agar Suhail bersedia mengecualikan Abu Jandal, namun ia tetap menolak walaupun Mikraz (utusan Quraisy yang lain) menyetujui permintaan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Suhail tidak mau merubah pendiriannya, akhirnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memiliki pilihan kecuali melanjutkan apa yang disyaratkan Suhail.[2]

SYARAT-SYARAT PERDAMAIAN LAINNYA

Kemudian setelah itu terjadi kesepakatan atas beberapa syarat yang lain seperti sepakat melakukan genjatan senjata selama sepuluh tahun.

Sehingga selama itu orang bisa merasa aman, masing-masing menahan diri untuk tidak saling menyerang, dan tidak saling tuntut atas perkara-perkara yang sudah terjadi, tidak ada pencurian dan khianat dan barang siapa yang ingin masuk agama Muhammad maka di persilahkan untuk mamasukinya.

Kemudian serentak orang orang dari Khuza’ah mengatakan, ”Kami bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perjanjiannya.” Banu Bakar juga mengatakan:” kami bersama Quraisy dan perjanjiannya”.[3]

***

Footnote :

  1. Penyebutan nama penulis isi perjanjian di sebutkan secara jelas dalam riwayat al-Bukhâri(11/129/no:2698, 2699), Muslim(3/1410/no:1783) dan Abdurrazzaq dalam Mushannaf (5/343) dengan sanad yang shahih dari hadits Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhuma dan riwayat yang lain dari Mursal az-Zuhri, dan di dalam riwayat Ibnu Ishaq dengan sanad yang hasan-Ibnu Hisyam (3/440).
  2. HR. al-Bukhâri/al-Fath (11/173-176/no:2731-2732).
  3. Dari Riwayat Ibnu Ishâq dengan sanad yang hasan- Ibnu Hisyam (3/440-441), Ahmad dalam al-Musnad (4/325) lewat jalur Ibnu Ishaq dengan sanad yang hasan.

Selengkapnya dalam sumber : https://abuzahrahanifa.wordpress.com/2020/07/27/kisah-baiat-ar-ridwan/

One response to “Kisah Kesepakatan Damai Perjanjian Hudaibiyah

  1. Ping balik: Kumpulan Artikel Seputar Sirah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam (2) | Abu Zahra Hanifa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s