Jual Beli Barang yang Belum Diterima


Jual beli ini tidak boleh karena si pembeli tidak memiliki wewenang (penguasaan) penuh terhadap barang yang dibelinya. Dalam jual beli ini juga masih terdapat hubungan keterikatan antara si penjual dengan barang yang telah dijualnya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Hakim bin Hizam Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah aku telah banyak melakukan jual beli, manakah jual beli yang di halalkan untukku dan mana yang di haramkan?’ Lalu beliau menjawab:

إِذَا اشْتَرَيْتَ شَيْئًا فَلاَ تَبِعْهُ حَتَّى تَقْبِضَهُ.

‘Apabila engkau membeli sesuatu, maka janganlah engkau menjualnya kembali sampai engkau menerima (barang tersebut)”.

Perbedaan Pendapat Para Ulama Tentang Jual Beli Sesuatu Yang Belum Diterimanya :

a). Al-Ahnaf (madzhab Hanafiyyah) berpendapat bahwa tidak boleh bertasharruf (bertransaksi) apa pun terhadap jual beli barang yang bisa di-pindahkan sebelum serah terima, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli barang sebelum diserahteri-makan. Larangan ini berlaku jika barang tersebut bukan berupa barang yang tak bergerak (seperti rumah, tanah dan sebagainya). Mereka berpendapat bahwa gedung, tanah, dan rumah boleh dijualbelikan walaupun sebelum diserahterimakan, karena mereka melihat bahwa untuk barang yang tidak bergerak tidak ada unsur gharar (penipuan) karena harta seperti itu tidak mungkin hancur.

b). Malikiyyah berpendapat bahwa tidak boleh menjual beli makanan sebelum serah terima, hal itu berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنِ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلاَ يَبِعْهُ حَتَّى يَقْبِضَهُ.

“Barangsiapa membeli makanan, maka ia tidak boleh menjualnya kembali sebelum ia menerimanya”.

Adapun selain makanan, maka boleh jual beli sebelum serah terima menurut mereka.

Adapun ‘illat (sebab) dilarangnya jual beli makanan sebelum serah terima, mereka berpendapat bahwa menjual makanan sebelum diserah-terimakan bisa menjadi sarana untuk sampai pada riba nasi-ah, maka dari itu hal ini diharamkan untuk mencegah dari hal-hal yang diharamkan.

c). Asy-Syafi’iyyah berpendapat bahwa tidak boleh menjual sesuatu yang belum sepenuhnya menjadi miliknya. Larangan ini berlaku untuk semua barang, baik barang yang tidak bergerak ataupun barang yang mudah dipindahtangankan. Larangan ini menurut mereka berdasarkan keumuman larangan jual beli sesuatu yang belum diterimanya. Hal tersebut berdasarkan hadits Hakim bin Hizam Radhiyallahu anhu yang sudah disebutkan pada pembahasan terdahulu.

Disebutkan pula bahwa jual beli ini mengandung unsur gharar karena barang tersebut belum tetap menjadi miliknya karena bisa saja barang tersebut rusak, maka larangan di sini karena mengandung unsur gharar.

d). Al-Hanabilah berpendapat bahwa tidak boleh jual beli makanan sebelum diserahterimakan jika makanan tersebut merupakan sesuatu yang ditakar, ditimbang ataupun dihitung. Mereka berdalil dengan hadits (dari Ibnu ‘Abbas-ed) yang telah di sebutkan pada pembahasan terdahulu.

Adapun barang-barang yang tidak bergerak seperti tanah dan rumah, maka menurut mereka boleh menjualnya walaupun barang tersebut belum diserahterimakan.

Ibnul Qayyim rahimah    ullah berkata, “Tidak boleh jual beli barang apa pun sebelum diserahterimakan dalam keadaan bagaimanapun, dan itu termasuk dari kebaikan-kebaikan syari’at”. Lalu beliau kembali berkata, “(Tidak bolehnya) jual beli barang yang berupa makanan sebelum diserahterimakan, telah tetap larangannya dengan nash. Adapun untuk barang selain makanan, maka larangannya bisa melalui qiyas nazhar atau melalui qiyasul aula. Dan inilah pendapat yang benar. Wallaahu a’lam.”.


Selengkapnya dalam sumber: https://almanhaj.or.id/4041-jual-beli-urbun-jual-beli-barang-yang-tidak-dimiliki-jual-beli-barang-yang-belum-diterima.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s