Setiap Bid’ah Sesat (1) : Mengapa Bid’ah Perlu Di Bahas ?


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, الْحَمْدُ ل ل َّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ

Alasan, mengapa bid’ah perlu kita bahas ?

Salah satu penyebabnya adalah untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim memberikan nasehat kepada para saudaranya sesama muslim, agar nantinya terlepas dari tanggung jawab di hadapan Allah Azza wa Jalla dan proses penjelasan akan sebuah kebenaran. Allah Ta’ala berfirman:

{وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ} [آل عمران: 187

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya.” Lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima”[1].

Sebab yang lain adalah mempertahankan aqidah dan memperjuangkan sunnah serta membantah para pelaku bid’ah, karena inilah jalan salafush shalih radhiyallahu ‘anhum,  karena menurut mereka, membela sunnah adalah termasuk berjihad di jalan Allah.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah: “Orang yang membantah terhadap ahli bid’ah adalah mujahid bahkan Yahya bin Yahya rahimahullah, syeikhnya Imam Bukhari rahimahullah berkata: “Membela sunnah lebih utama dari berjihad”[2].

Sebab yang lain adalah karena sebagian orang-orang yang mengaku dirinya penuntut ilmu atau mengaku dirinya berilmu, menyetujui akan amalan-amalan, upacara-upacara dan perkumpulan-perkumpulan yang tidak ada dasarnya dalam agama Islam, padahal hal tersebut dipercayai sebagai ibadah.

Kita bisa melihat sebagian mereka selalu mengerjakan bid’ah-bid’ah ini dan berusaha untuk memerangi orang yang meninggalkannya. Seakan-akan bid’ah tersebut adalah dari ajaran agama Islam, jika seperti ini sikap orang-orang yang mengaku dirinya berilmu, maka tidak diragukan lagi bahwa orang-orang awam akan mengikuti mereka, karena orang awam berkeyakinan bahwa para ulama mereka tidak akan mengerjakan kecuali yang benar, jika hal tersebut tidak benar niscaya para ulama mereka tidak akan mengerjakannya.

Bahkan, kadang-kadang mereka berkeyakinan hal tersebut termasuk dari ibadah-ibadah yang agung dan termasuk dari syiar-syiar agama Islam, karena para ulama mereka tidak melakukan kecuali yang disyari’atkan dengan sangkaan mereka, sungguh hal ini adalah merupakan penipuan bagi orang awam.

Sebab yang lain adalah, karena kebodohan kebanyakan dari kaum muslimin tentang hukum bid’ah-bid’ah ini, bahkan mereka meyakini bahwa mereka di atas kebaikan dan petunjuk serta sunnah padahal keadaan mereka sebaliknya, hal tersebut disebabkan diamnya sebagian orang yang mengerti akan perkara-perkara bid’ah ini, dan akhirnya sifat diam ini menjadikan bid’ah-bid’ah tersebut sebagai sebuah adat tradisi yang susah untuk berpaling darinya kecuali setelah perjuangan yang sangat gigih.

Berpegang teguh kepada sunnah dan memerangi bid’ah termasuk dari perkara-perkara yang wajib atas kaum muslimin secara umum dan khususnya para ulama dan penuntut ilmu.

Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya: “Manakah yang lebih engkau cintai seorang yang berpuasa, shalat, i’tikaf disbanding dengan seorang yang memperingatkan keburukan para ahli bid’ah?”, beliau menjawab: “Jika ia bangun malam untuk beribadah, shalat dan i’tikaf maka sungguh hal itu hanya untuk dirinya dan jika ia memperingatkan keburukan para ahli bid’ah maka hal tersebut untuk kaum muslimin dan yang terakhir ini lebih utama”[3].

Dan perlu diingat juga, bahwa bid’ah-bid’ah itu adalah jenis kemungkaran yang harus dirubah sesuai dengan kemampuan baik dengan tangan, dengan lisan ataupun dengan hati. Dan sangat ironis sekali, ketika sebagian orang hanya dengan ada perbedaan pendapat dianggap hal tersebut sebagai mubarrir (pemulus) dan bahwasanya yang melakukan bid’ah tersebut ma’dzur (ada alasan) berlandaskan dengan sebuah riwayat yang tidak diketahui asal usulnya alias palsu;

اختلاف أمتي رحمة

Artinya: “Perbedaan umatku itu adalah rahmat”.

Imam Al Albani rahimahullah di dalam Silsilah Al Ahadits Adh Dha’ifah berkata: “Hadits ini tidak ada asalnya, para pakar hadits telah berusaha untuk mendapatkan akan satu sanadnya tetapi mereka belum menemukannya, oleh sebab itulah akhirnya As Suyuthi berkata di dalam kitab Al Jami’ Ash Shagir: “Mungkin saja hadits ini disebutkan di kitab-kitab para huffadz (para ulama ahli hadits) yang belum sampai kepada kita!”, dan perakiraan ini sangatlah jauh menurut saya, karena kelaziman akan hal tersebut adalah telah hilangnya dari umat ini sebagian hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan hal ini termasuk yang tidak boleh bagi seorang muslim untuk mempercayainya.

Al Munawi rahimahullah telah menukilkan dari As Subuki, bahwasanya beliau berkata: “(hadits ini) tidak dikenal oleh para pakar hadits dan saya belum mendapati untuknya sebuah sanad yang shahih, ataupun lemah serta palsu, dan Syeikh Zakariyya Al Anshari telah menyetujui di dalam komentar beliau atas Tafsir Al Baidhawi (ق 29/2).

Dan juga, sungguh makna hadits ini menimbulkan kemungkaran menurut para ulama peneliti, berkata Al ‘Allamah Ibnu Hazm di dalam kitab Al Ihkam fi Ushulil Ahkam (5/64) setelah menunjukkan bahwasanya riwayat ini bukanlah hadits: “Dan perkataan ini adalah termasuk perkataan yang paling buruk, karena jikalau perbedaan itu adalah rahmat maka niscaya persatuan itu adalah kemurkaan, dan tidak ada seorang muslimpun yang mengatakannya, karena tidak ada kecuali persatuan atau perbedaan dan tidak ada kecuali rahmat ataupun kemurkaan”.

Dan beliau berkata di bagian yang lain: “(Hadits ini) batil dan terdustakan (atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) sebagaimana yang akan disebutkan di dalam perkataan beliau di dalam hadits ke 61.

Dan termasuk pengaruh-pengaruh jelek dari hadits yang buruk ini adalah, bahwa kebanyakan dari kaum muslimin menyatakan dengan sebab hadits yang palsu inilah adanya perbedaan yang sangat mencolok diantara madzhab fikih yang empat, dan mereka tidak berusaha sama sekali kembali kepada Al Quran dan As Sunnah yang shahih, sebagaimana para imam mereka yang memerintahkan mereka dengan hal tersebut radhiyallahu ‘anhum, bahkan sesungguhnya mereka benar-benar menganggap bahwa pendapat imam-imam mereka radhiyallahu ‘anhum seperti syari’at-syari’at yang bermacam-macam! Mereka mengatakan ini, dengan pengetahuan mereka akan adanya sesuatu berupa perbedaan dan pertentangan, yang tidak mungkin disatukan diantara keduanya kecuali dengan menolak sebagian yang menyelisihi dalil, dan menerima sebagian lain yang sesuai dengan dalil, tetapi mereka tidak lakukan hal ini! Dan dengan ini juga, mereka telah menyatakan bahwa syari’at Islam terdapat perkara-perkara yang SALING berlawanan! hal ini saja adalah merupakan bukti bahwasanya ajaran ini bukan dari Allah Azza wa Jalla, jikalau mereka mengamati firman Allah Ta’ala yang menjelaskan keberadaan Al Quran:

{أَف لَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا } [النساء: 82

Artinya: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mndapat pertentangan yang banyak di dalamnya” [4].

Ayat ini sangat jelas menerangkan, bahwa perbedaan bukan dari Allah, apalagi menjadikannya sebagai sebuah syari’at yang layak untuk diikuti dan rahmat yang diturunkan?!

Disebabkan hadits ini dan semisalnya, sebagian besar kaum muslimin setelah imam yang empat sampai hari ini, masih saja berbeda pendapat dikebanyakan permasalahan-permasalahan akidah dan ibadah amaliyyah.

Seandainya mereka melihat bahwasanya perbedaan itu buruk, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud dan shahabat yang lainnya radhiyallahu ‘anhum dan telah ditunjukkan keburukannya oleh Al Quran dan hadits-hadits Nabi yang sangat banyak, maka niscaya mereka akan berusaha untuk bersepakat dan niscaya hal itu akan memungkinkan mereka di dalam kebanyakan permasalahan-permasalahan ini dengan apa yang telah Allah Ta’ala tegakkan berupa dalil-dalil yang diketahui dengannya mana yang benar dari yang salah, dan kebenaran dari kebatilan, lalu sebagian dari mereka memberikan alasan kepada sebagian yang lain di dalam perkara yang kadang-kadang berselisih pendapat di dalamnya, akan tetapi kenapa usaha ini dan mereka berpendapat bahwa perbedaan adalah rahmat dan bahwasanya madzhab-madzhab dengan perbedaan pendapatnya laksana syari’at-syari’at yang bermacam-macam! Dan jika anda mau melihat pengaruh perbedaan ini dan berpegang terus atasnya, maka lihatlah kebanyakan masjid-masjid, maka anda akan dapatkan di dalamnya empat mihrab shalat di dalamnya ada empat imam! Dan di setiap dari mereka ada jama’ah yang menunggu shalat bersama imam-imam mereka (masing-masing) seakan-akan mereka para pengikut agama-agama yang berbeda-beda! Bagaimana tidak, sedangkan ulama mereka berkata: “Sesungguhnya madzhab-madzhab mereka seperti syari’at-syari’at yang bermacam-macam! Mereka melakukan hal tersebut padahal mereka mengetahui mengetahui sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ فَلاَ صَلاَةَ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةُ

Artinya: “Jika telah didirikan shalat maka tidak ada shalat kecuali shalat yang wajib” [5]. Hadits riwayat Imam Muslim dan yang lainnya, akan tetapi mereka membolehkan untuk menyelisihi hadits ini dan hadits lainnya sebagai sikap berpegang teguh mereka terhadap madzhab, sekan-akan madzhab yang lebih diagungkan bagi mereka dan lebih banyak dihapal daripada hadits-hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam!

Dan ringkasnya, bahwa perbedaan adalah sesuatu yang tercela di dalam syari’at, maka merupakan sebuah kewajiban untuk berusaha terlepas darinya semampu mungkin! Karena hal tersebut termasuk dari penyebab-penyebab kelemahan umat ini, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

{و لَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ} [الأنفال: 46

 Artinya: “…dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu….dst” [6].

Sedangkan rela dengan perbedaan dan menamakannya sebagai rahmat maka hal ini menyelisihi ayat-ayat yang mulia, dan jelas mencelanya, tidak ada sandaran baginya kecuali hadits ini yang tidak ada asal usulnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan disini ada sebuah pertanyaan yaitu: “Sesungguhnya para shahabat telah berselisih dan mereka adalah manusia-manusia terbaik, apakah celaan tersebut juga terkena kepada mereka?” dan Ibnu Hazm rahimahullah telah menjawab (5/67-68) akan pertanyaan ini: “Tidak sama sekali, mereka tidak mendapatkan sesuatu apapun dari (celaan akibat perbedaan) ini? Yang salah dari mereka mendapatkan pahala satu karena niatnya yang baik, karena menginginkan kebaikan dan telah diangkat dari mereka dosa di dalam kesalahan mereka, karena mereka tidak sengaja, tidak bermaksud untuk itu, serta tidak meremehkan akan permintaan mereka, adapun yang benar dari mereka mendapatkan dua pahala, dan demikianlah setiap muslim sampai hari kiamat tentang sesuatu yang tersembunyi dari agamanya dan belum tersampaikan kepadanya dan sesungguhnya pencelaan yang disebutkan dan ancaman yang telah ditegaskan adalah bagi siapa yang tidak sudi berpegang teguh dengan tali Allah ta’ala yaitu Al Quran dan Sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam setelah sampainya dalil kepadanya dan tegak hujjah atasnya lalu dia bergantung kepada si fulan dan fulan mentaklidnya dengan sengaja untuk menyelisihi, ia menyeru kepada fanatisme dan adat orang jahiliyyah, ia berkeinginan untuk terjadinya perpecahan, ia sangat ingin di dalam sangkanya menolak Al Quran dan As Sunnah, jika dalil sesuai dengan tujuannya maka ia ambil dan jika menyelisihinya maka ia bergantung dengan kejahiliyyahannya dan ia tinggalkan Al Quran dan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka mereka itulah orang-orang yang menyelisihi dan tercela.

Dan kelompok lain adalah orang-orang yang mempunyai ilmu agama  dan ketakwaan  yang minim, mencari sesuatu yang sesuai dengan hawa nafsu mereka di setiap perkataan orang, mereka mengambil apa saja yang merupakan keringanan di setiap perkataan seorang ulama, mereka mentaklidnya tanpa mencari apa yang diwajibkan oleh dalil yang berasal dari Allah dan  Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan ia menunjukkan di akhir pembicaraannya kepada istilah “at talfiq” yang dikenal dikalangan para ulama fikih, yaitu mengambil pendapat seorang yang berilmu tanpa dalil akan tetapi hanya pengikutan kepada hawa nafsu atau keringanan, padahal para ulama telah berbeda pendapat akan kebolehannya, dan yang benar adalah pengharamannya karena beberapa sebab yang bukan tempatnya untuk menjelaskannya sekarang dan pembolehannya merupakan pengambilan dari hadits ini.

Berdasarkan hadits inilah ada orang yang berkata: “Barangsiapa yang mentaqlid seorang alim maka ia akan bertemu dengan Allah dalam keadaan salim (selamat)”! seluruhnya ini adalah pengaruh dari hadits-hadits yang lemah, maka berhati-hatilah darinya jika anda mengharapkan keselamatan pada hari yang

{يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ} [الشعراء: 88

Artinya: “(yaitu) di hari itu harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna” [7].[8].


Ditulis oleh Al Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.

  1. QS. Ali Imran: 187.
  2. Lihat: Majmu’ Fatawa (4/13).
  3. Lihat Hajrul Mubtadi’, karya Al ‘Allamah Bakr Abu Zaid rahimahullah (hal: 9)
  4. QS. An Nisa: 82.
  5. Hadits riwayat Muslim (no. 1678).
  6. QS. Al Anfal: 46.
  7. QS. Asy Syu’ara : 88.
  8. Lihat Silsilah Al Ahadits Adh Dha’ifah (no. 57).

Selengkapnya dalam sumber : http://www.dakwahsunnah.com/artikel/aqidah/289-setiap-bid%E2%80%99ah-sesat-bag-01/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s