Buah Keimanan Kepada Qadha’ & Qadar


Oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd.

Iman kepada qadha’ dan qadar [1] menghasilkan buah yang besar, akhlak yang indah, dan ibadah yang beraneka ragam, yang pengaruhnya kembali kepada individu dan komunitas masyarakat, baik di dunia maupun di akhirat. Di antara buah-buah tersebut ialah sebagai berikut:

1). Menunaikan Peribadatan Kepada Allah Azza wa Jalla.

Iman kepada qadar merupakan salah satu peribadatan kita kepada Allah, sedangkan kesempurnaan makhluk itu adalah terletak pada realisasi peribadatannya kepada Rabb-nya. Setiap kali bertambah realisasi peribadatannya, maka bertambah pula kesempurnaannya dan derajatnya menjadi tinggi, sehingga segala sesuatu yang menimpanya dari perkara yang tidak disukainya pun menjadi kebaikan baginya. Dan dari keimanan tersebut, menghasilkan baginya berbagai peribadatan yang sangat banyak, yang sebagian di antaranya akan disebutkan.

2). Terbebas Dari Syirik.

Kaum Majusi menyangka, bahwa cahaya adalah pencipta kebajikan sedangkan kegelapan adalah pencipta keburukan. Dan Qadariyyah pun mengatakan, “Allah tidak menciptakan perbuatan para hamba, tetapi para hamba itulah yang menciptakan berbagai perbuatan mereka.” Maka mereka ini telah menetapkan pencipta-pencipta (yang lain) bersama Allah Azza wa Jalla.

Kesesatan ini adalah syirik. Padahal iman kepada qadar dengan cara yang benar adalah dengan mentauhidkan Allah Azza wa Jalla.

Kemudian orang yang beriman kepada qadar mengetahui, bahwa semua makhluk berada dalam kekuasaan Allah, diatur dengan qadar (ketentuan)-Nya. Semuanya tidak memiliki suatu kekuasaan pun, mereka tidak memiliki kekuasaan untuk dirinya, terlebih terhadap selainnya, baik kemanfaatan maupun kemudharatan. Demikian pula dia pun mengetahui secara yakin, bahwa segala urusan itu adalah berada di tangan Allah, Dia memberi kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan mencegah dari siapa yang dikehendaki-Nya, tidak ada yang dapat menolak ketentuan dan ketetapan-Nya. Hal ini akan mendorongnya untuk mengesakan Allah dalam beribadah, semata-mata hanya untuk-Nya, tidak kepada selain-Nya. Maka ia tidak mendekatkan diri kepada selain Allah, dan tidak pula mengusap debu-debu kuburan, serta makam orang-orang shalih.

3). Memperoleh Hidayah Dan Tambahan Keimanan.

Orang yang beriman kepada qadar, dengan cara yang benar, berarti telah merealisasikan tauhid kepada-Nya, menambah keimanannya, dan berjalan di atas petunjuk dari Rabb-nya. Sebab, beriman kepada qadar termasuk mendapatkan petunjuk.

Allah Azza wa Jalla berfirman.

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya.” [Muhammad/47 : 17].

Dia juga berfirman.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya … .” [At-Taghaabun: 11]. ‘Alqamah rahimahullahu berkata tentang ayat ini, “Yaitu, mengenai orang yang tertimpa musibah, lalu dia tahu bahwa hal itu berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia pun pasrah dan ridha.” [2].

4). Ikhlas.

Iman kepada qadar akan membawa pelakunya kepada keikhlasan, sehingga motifasinya dalam segala perbuatannya ialah melaksanakan perintah Allah. Orang yang beriman kepada qadar mengetahui, bahwa perintah adalah perintah Allah dan kekuasaan adalah kekuasaan-Nya, apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi, serta tidak ada yang dapat menolak karunia dan ketetapan-Nya. Semua itu mendorongnya kepada keikhlasan beramal karena Allah dan membersihkannya dari kotoran yang menodainya. Karena yang membawa ketidak-ikhlasan atau kekurangikhlasan adalah pamrih kepada manusia (riya’), mencari pujian atau sanjungan di hati mereka, atau lari dari celaan mereka, mencari harta mereka atau bantuan dan cinta mereka, atau selainnya dari noda-noda dan penyakit-penyakit yang dihimpun dalam menginginkan sesuatu selain Allah dalam beramal. [3].

Jika seorang hamba percaya, bahwa perkara-perkara ini tidak dapat diraih kecuali dengan takdir Allah Azza wa Jalla, dan bahwa manusia tidak memiliki kekuasaan sedikit pun, baik pada diri mereka maupun pada selain mereka, maka dia tidak akan peduli dengan manusia dan tidak mencari keridhaan mereka dengan menukarnya dengan mendapatkan murka Allah. Sehingga hal itu akan mendorong untuk lebih mendahulukan Dzat Yang Mahabenar daripada makhluk, kepada keikhlasan dan memurnikan ibadah, serta jauh dari segala riya’ dan kemusyrikan.

Dari sinilah akan diraih keutamaan ikhlas, yang merupakan keutamaan yang paling mulia. Karena ikhlas dapat meninggikan kedudukan amal, sehingga menjadi tangga-tangga untuk mencapai keberuntungan. Inilah yang membawa manusia untuk melanjutkan amal kebajikan, menjadikan tekad seseorang menjadi kuat, dan mengikat hatinya. Sehingga ia pun melangkah hingga mencapai tujuannya.

5). Tawakkal.

Tawakkal kepada Allah adalah inti ibadah, sedangkan tawakkal tidaklah sah dan lurus kecuali bagi siapa yang beriman kepada qadar sesuai dengan cara yang benar.

Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata, “Syaikh kami [4] -semoga Allah meridhainya- mengatakan, ‘Karena itu, tawakkal tidak sah dan tidak terbayangkan berasal dari para filosof, tidak juga dari Qadariyyah yang membantah dan mengatakan bahwa dalam kekuasaan-Nya ada sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya, tidak juga dari Jahmiyyah yang menafikan sifat-sifat Rabb Jalla jalaa Luhu, dan tidak pula tawakkal akan lurus kecuali dari kaum yang menetapkan sifat-sifat Allah (Ahlus Sunnah wal Jama’ah).” [5].

Yang dimaksud dengan tawakkal, menurut syari’at adalah, mengarahkan hati kepada Allah pada saat beramal, meminta pertolongan, dan bersandar kepada-Nya semata. Itulah rahasia dan hakikat tawakkal.

Syari’at memerintahkan kepada orang yang beramal agar hatinya berhimpun di atas pelita tawakkal dan penyerahan diri.

Hal yang dapat merealisasikan tawakkal ialah, melakukan usaha-usaha yang diperintahkan. Barangsiapa yang menafikannya, maka tidak sah tawakkalnya.

Jika hamba bertawakkal kepada Rabb-nya, berserah diri kepada-Nya, dan menyerahkan urusannya kepada-Nya, maka Allah akan memberikan kepadanya kekuatan, tekad, kesabaran, dan menjauh-kannya dari berbagai bencana yang merupakan halangan ikhtiar hamba bagi dirinya, serta memperlihatkan kepadanya kebaikan berbagai akibat ikhtiarnya untuknya, yang tidak mungkin dia sampai kepadanya walaupun kepada sebagiannya, apabila (hanya bersan-darkan) kepada ikhtiarnya semata.

Ini semua akan menenangkannya dari pemikiran-pemikiran yang melelahkan dalam berbagai jenis ikhtiar, dan mengosongkan hatinya dari pertimbangan-pertimbangan yang sewaktu-waktu dia tempuh dan sewaktu-waktu ia tinggalkan.

6). Takut Kepada Allah.

Orang yang beriman kepada qadar akan Anda jumpai senantiasa takut kepada Allah dan suul khaatimah (akhir kematian yang buruk), sebab dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya dan tidak juga merasa aman dari makar Allah.

Dari sini, dia akan merasa amalnya sedikit dan tidak terpedaya dengan amalnya, apa pun yang telah dilakukannya. Karena hati manusia itu berada di antara dua jari dari jari-jari ar-Rahman, Dia membolak-balikkannya bagaimana saja Ia kehendaki, dan pengetahuan tentang akhir dari amalnya adalah berada di sisi Allah Azza wa Jalla.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَوَاللهِ، إِنَّ أَحَدَكُمْ أَوِ الرَّجُلَ يَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا غَيْرُ بَاعٍ أَوْ ذِرَاعٍ، فَيَسْبِقُ عَلَـيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا. وَإِنَّ الرَّجُلَ، لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ، حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا غَيْرُ ذِرَاعٍ أَوْ ذِرَاعَيْنِ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا

“Demi Allah, sesungguhnya seorang dari kalian atau seseorang beramal dengan amalan ahli Neraka, sehingga jarak antara dirinya dengan Neraka hanya sedepa atau sehasta lagi, tetapi telah berlaku ketetapan sebelumnya atasnya, lalu dia beramal dengan amalan ahli Surga, sehingga dia pun masuk ke dalam Surga. Dan seseorang benar-benar beramal dengan amalan ahli Surga, sehingga jarak antara dirinya dengan Surga hanya sehasta atau dua hasta lagi, tetapi telah berlaku ketetapan atasnya, lalu dia beramal dengan amalan ahli Neraka, sehingga dia pun masuk Neraka.” [6].

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَإِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيْمِ

“Seorang hamba benar-benar beramal dengan amalan ahli Neraka padahal sesungguhnya dia termasuk ahli Surga, dan seseorang benar-benar beramal dengan amalan ahli Surga padahal sesungguhnya dia termasuk ahli Neraka, sesungguhnya perbuatan itu tergantung pada akhir penutupnya.” [7].

7). Kuat Harapan Dan Berprasangka Baik Kepada Allah.

Orang yang beriman kepada qadar akan berprasangka baik kepada Allah dan sangat berharap kepada-Nya, karena dia mengetahui bahwa Allah tidak menetapkan suatu ketentuan pun melainkan di dalamnya berisikan kesempurnaan keadilan, kasih sayang, dan kebijaksanaan.

Ia tidak menghujat Rabb-nya mengenai berbagai qadha’ dan qadar yang ditentukan atasnya, dan hal itu mengharuskannya untuk konsisten di sisi-Nya dan ridha kepada apa yang dipilihkan Rabb-nya untuknya, sebagaimana mengharuskan untuknya menunggu kelapangan. Hal itu dapat meringankan beban yang berat, terutama bila disertai harapan yang kuat atau yakin dengan adanya kelapangan. Ia mencium dalam bencana itu udara kelapangan dan jalan keluar, baik berupa kebaikan yang tersembunyi dan baik berupa kelapangan yang disegerakan. [8].

8). Kesabaran Dan Ketabahan.

Iman kepada qadar membuahkan bagi pelakunya ibadah (dalam bentuk) kesabaran terhadap takdir yang menyakitkan. Kesabaran merupakan sifat yang indah dan sifat yang terpuji, yang mempunyai faidah-faidah yang banyak, berbagai manfaat yang mulia, berbagai akibat yang baik, dan berbagai dampak yang terpuji. Setiap manusia harus memiliki kesabaran atas sebagian perkara yang tidak disukainya, baik dengan kesadaran maupun terpaksa. Orang yang mulia akan bersabar dengan kesadarannya, karena dia mengetahui akibat baik dari kesabaran. Dia akan memuji karena adanya musibah itu, dan mencela kegelisahan. Seandainya pun dia tidak bersabar, maka kesedihan itu tidak kembali kepadanya, dan tidak melepaskan diri darinya dengan kebencian. Barangsiapa yang tidak bersabar dengan kesabaran orang-orang yang mulia, maka dia tidak ubahnya dengan binatang ternak. [9].

Amirul Mukminin, ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu mengatakan:

وَجَدْنَا خَيْرَ عَيْشِنَا بِالصَّبْرِ

“Kami mendapati, bahwa sebaik-baik kehidupan kami (yang kami jalani) adalah dengan kesabaran.” [10].

Amirul Mukminin, ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu berkata,

اَلصَّبْرُ، مَطِيَّةٌ لاَ تَكْبُوْ

“Kesabaran adalah tunggangan yang tidak pernah terjatuh.” [11]. Al-Hasan rahimahullahu berkata, “Kesabaran adalah salah satu dari perbendaharaan kebaikan, yang tidak diberikan Allah, kecuali kepada hamba yang mulia di sisi-Nya.” [12].

Benarlah apa yang disebutkan oleh seorang penya’ir:

وَالصَّبْرُ مِثْلُ اسْمِهِ مُرٌّ مَذَاقَتُهُ لَكِنْ عَوَاقِبُهُ أَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ

“Kesabaran, seperti namanya, adalah pahit rasanya, tetapi akibatnya lebih manis dari madu”.

Karenanya, Anda melihat orang yang beriman kepada qadar memiliki kesabaran yang membaja, tabah terhadap beban berat, dan kuat menanggung penderitaan.

Berbeda dengan orang yang lemah keimanannya kepada qadar, yang tidak kuat untuk bersabar dan tidak bersabar terdapat suatu masalah yang paling kecil pun yang dihadapinya, karena kelemahan imannya, kelembekan jiwanya, dan kecemasannya yang besar terhadap sesuatu yang kecil. Ketika dia tertimpa sesuatu yang remeh, Anda melihatnya sempit dadanya, sedih hatinya, murung wajahnya, tertunduk penglihatannya, kesedihan menghimpit dadanya, lalu semua hal itu membuatnya tidak bisa tidur dan memeluhkan keningnya. Musibah itu -bahkan yang lebih besar darinya- sekiranya menimpa orang yang lebih kuat keimanan dan ketabahan musibah itu daripadanya, maka dia tidak akan menghiraukannya, hal itu tidak mengusik jiwanya, kelopak matanya masih bisa terpejam, hatinya ridha, dan dirinya pun tetap tenang.

Orang-orang yang tidak beriman kepada takdir akan cemas karena sebab-sebab yang remeh, bahkan mungkin kecemasan tersebut bisa membawa mereka kepada kegilaan, waswas, mengkonsumsi obat-obatan terlarang, dan bahkan bunuh diri.

Karena itu, banyak terjadi kasus bunuh diri di negeri-negeri yang tidak beriman kepada qadha’ dan qadar, seperti Amerika, Swedia, Norwegia, dan yang lainnya, bahkan beberapa negara telah sampai kepada keadaan, di mana mereka membuka beberapa rumah sakit untuk bunuh diri.

Seandainya kita membahas sebab-sebab mereka melakukan bunuh diri, niscaya kita melihatnya remeh sekali, yang menyebab-kan tidak ingin melihatnya dan menutup mata darinya. Sebagian mereka bunuh diri karena pinangannya meninggalkannya, sebagian lainnya karena sebab kegagalannya dalam ujian, dan sebagian mereka bunuh diri karena sebab kematian pemusik yang disukainya atau seseorang yang dikaguminya, atau karena sebab kekalahan tim yang didukungnya, dan seterusnya.

Adakalanya bunuh diri dilakukan secara kolektif. Anehnya, bahwa mayoritas kaum yang melakukan bunuh diri bukanlah dari golongan orang miskin, sehingga bisa dikatakan, “Mereka bunuh diri karena penghidupan mereka yang sempit”.

Bahkan, mereka adalah berasal dari kalangan elit yang dikenal dengan kekayaannya, orang-orang yang terkenal, bahkan dilakukan para psikiater, yang dianggap bisa memberikan kebahagiaan dan dapat menyelesaikan berbagai problem.

9). Memerangi Keputus-asaan.

Orang yang tidak beriman kepada qadar akan tertimpa keputus-asaan, dan keputusasaan tersebut akan terus berlangsung hingga puncaknya. Jika dia tertimpa suatu musibah, maka dia menyangka bahwa hal itu akan memecahkan punggungnya. Jika malapetaka turun kepadanya, maka dia menyangka bahwa hal itu adalah musibah yang terus-menerus yang tidak akan berakhir.

Demikian pula jika dia melihat kekuasaan dan kekuatan kebathilan, sedangkan pengikut kebenaran terlihat lemah dan tidak berdaya, maka dia menyangka bahwa kebathilan akan terus berlangsung dan kebenaran akan sirna.

Putus asa adalah racun yang mematikan dan penjara yang gelap, yang akan memasamkan wajah dan menghalangi jiwa dari kebajikan. Tidak henti-hentinya keputusasaan itu menyertai manusia sehingga menghancurkannya atau menenggelamkan kehidupannya.

Adapun orang yang beriman kepada qadar, maka dia tidak mengenal putus asa, dan engkau tidak melihatnya selain optimis dalam segala keadaannya, menunggu kelapangan dari Rabb-nya, mengetahui bahwa kemenangan itu menyertai kesabaran, dan bahwa bersama kesulitan itu ada kemudahan.

Engkau melihatnya yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa akibat yang terbaik itu bagi ketakwaan dan orang-orang yang bertakwa, dan ketentuan Allah mengenai hal itu pasti berlaku. Oleh karena itu, dia tidak berputus asa, meskipun kegelapan kebathilan amat mencekam. Sebab, hati yang bersandar kepada kekuasaan Allah serta kelembutan dan kemurahan-Nya, akan membersihkan noda-noda keputusasaan dan pohon-pohon kemalasan dan menguat-kan “punggung” harapan, yang dengannyalah orang yang berusaha akan masuk menyelami lautan yang dalam dan dengannya akan mampu menghalau binatang buas yang membahayakan dalam perjalanannya.

10). Ridha.

Orang yang beriman kepada qadar, keimanannya tersebut dapat meninggikannya, sehingga menghantarkannya kepada tingkatan ridha. Barangsiapa yang ridha kepada Allah, maka Allah ridha kepadanya, bahkan ridha hamba kepada Allah adalah hasil dari ridha Allah kepadanya. Jadi, ia diliputi dengan dua jenis keridhaan-Nya kepada hamba-Nya: keridhaan sebelumnya, yang mengharuskan ia ridha kepada-Nya dan keridhaan sesudahnya, yang merupakan buah ridhanya kepada-Nya.

Karena itu, ridha adalah pintu Allah yang terbesar, Surga dunia, peristirahatan para ahli ibadah, dan pelipur orang-orang yang rindu. [13].

Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata, “Barangsiapa yang memenuhi hatinya dengan ridha kepada takdir, maka Allah memenuhi dadanya dengan kecukupan, rasa aman, dan qana’ah, serta mengosongkan hatinya untuk mencintai-Nya, kembali, dan bertawakkal kepada-Nya.

Barangsiapa yang tidak memiliki keridhaan, maka Allah akan memenuhi hatinya dengan hal yang sebaliknya, dan lalai terhadap perkara yang di dalamnya terdapat kebahagiaan dan keberuntungannya.” [14]

Ditanyakan kepada Yahya bin Mu’adz, “Kapankah hamba akan mencapai kedudukan ridha?” Ia menjawab, “Jika ia memposisikan dirinya di atas empat landasan dalam interaksinya dengan Rabb-nya, sehingga ia berucap, ‘Jika Engkau memberikan kepadaku, maka aku menerimanya, jika Engkau menghalangiku, maka aku tetap ridha, jika Engkau meninggalkanku, maka aku tetap beribadah kepada-Mu, dan jika Engkau memerintahkanku, maka aku memenuhi panggilan-Mu.” [15].

Sebagian mereka mengatakan, “Ridhalah kepada Allah dalam segala apa yang Dia perbuat terhadapmu. Sebab, Dia tidak meng-halangimu melainkan untuk memberimu, tidak mengujimu melainkan untuk memberi keselamatan kepadamu, tidak menjadikanmu sakit melainkan untuk memberi kesembuhan kepadamu, dan tidak mematikanmu melainkan untuk menghidupkanmu. Oleh karena itu, janganlah engkau meninggalkan keridhaan kepada-Nya sekejap mata pun, sehingga engkau pun jatuh dalam pandangan-Nya.” [16].

Di antara hal yang semestinya diketahui adalah, bahwa bukan merupakan syarat keridhaan, (yaitu dengan) seorang hamba tidak merasakan kepedihan dan ketidaksenangan, tetapi (yang merupakan syarat adalah apabila) dia tidak menolak ketentuan itu dan tidak pula membencinya. [17].

Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi berkata: Jika malapetaka sangat keras, maka ringankanlah dengan ridha kepada Allah, maka beruntunglah orang yang ridha lagi merasa diawasi Allah, Betapa banyak kenikmatan yang diiringi dengan ujian kepada manusia, ia tersembunyi, dan ujian itu (sebenarnya adalah) anugrah [18].

Meskipun demikian, hamba tidak dapat keluar dari apa yang telah ditentukan Allah atasnya. Seandainya dia ridha dengan pilihan Allah, maka takdir tetap menimpanya sedangkan ia berada dalam keadaan terpuji, dihargai, dan dilindungi. Jika tidak, maka takdir pun tetap menimpanya, dalam keadaan dia tercela serta tidak dilindungi.

Selama kepasrahan dan ridhanya benar, maka penjagaan dan perlindungan terhadapnya akan menaunginya dalam apa yang ditakdirkan, sehingga dia berada di antara penjagaan dan perlindungan-Nya.

11). Syukur.

Orang yang beriman kepada qadar mengetahui bahwa segala kenikmatan yang dimilikinya berasal dari Allah semata dan bahwa Allah-lah yang menolak segala hal yang dibenci dan penderitaan, lalu hal itu mendorongnya untuk mengesakan Allah dengan bersyukur.

Jika datang kepadanya sesuatu yang disukainya, maka dia ber-syukur kepada Allah karenanya, karena Dia-lah Yang memberi nikmat dan karunia. Jika datang kepadanya sesuatu yang tidak disenanginya, dia bersyukur kepada Allah atas apa yang telah ditakdirkan kepadanya, dengan menahan amarah, tidak mengeluh, memelihara adab, dan menempuh jalan ilmu. Sebab, mengenal Allah dan beradab kepada-Nya akan mendorong untuk bersyukur kepada Allah atas segala yang disenangi dan yang tidak disenangi, meskipun bersyukur atas hal-hal yang tidak disenangi itu lebih berat dan lebih sulit. Karena itu, kedudukan syukur lebih tinggi daripada ridha.

Jika manusia senantiasa bersyukur, maka kenikmatannya men-jadi langgeng dan melimpah, karena syukur adalah pengikat kenikmatan-kenikmatan yang masih ada dan pemburu kenikmatan-kenikmatan yang hilang. Allah Tabaaraka wa Ta’aala berfirman:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu… . “ [Ibrahim/14 : 7]. Apabila engkau tidak melihat keadaanmu bertambah, maka hadapilah ia dengan syukur. [19].

Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi berkata:

يَجْرِي الْقَضَاءُ وَفِيْهِ الْخَيْرُ نَافِلَةٌ لِمُؤْمِِنٍ وَاثِـقٍ بِاللهِ لاَ لاَهِيْ * إِنْ جَاءَهُ فَرَحٌ أَوْ نَابَهُ تَرَحٌ فِي الْحَالَتَيْنِ يَقُوْلُ: الْحَمْدُ ِللهِ

“Qadha’ berjalan dan di dalamnya berisi kebaikan sebagai tambahan, untuk orang mukmin yang percaya kepada Allah, bukan untuk orang yang lalai * Jika datang kegembiraan kepadanya atau mendapatkan kesusahan pada dua keadaan tersebut dia mengucapkan: “Alhamdulillaah” [20].

12). Kegembiraan.

Orang yang beriman kepada qadar akan bergembira dengan keimanan ini, yang kebanyakan manusia tidak mendapatkannya. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan’” [ Yunus : 58].

Kemudian orang yang beriman kepada qadar memungkinkan keadaannya untuk meningkat dari ridha kepada ketentuan Allah dan bersyukur kepadanya, kepada derajat kegembiraan. Di mana ia bergembira dengan segala yang ditakdirkan dan ditentukan Allah kepadanya.

Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata, “Kegembiraan adalah kenikmatan, kelezatan dan kesenangan hati yang paling tinggi, maka kegembiraan adalah kenikmatannya sedangkan kesedihan adalah adzabnya.

Gembira kepada sesuatu adalah melebihi ridha kepadanya, karena ridha adalah ketentraman, ketenangan, dan lapang dada, sedangkan kegembiraan adalah kelezatan, kesenangan, dan suka cita. Setiap orang yang gembira adalah orang yang ridha, tapi tidak semua orang yang ridha adalah orang yang bergembira. Karenanya, kegembiraan lawannya adalah kesedihan, sedangkan ridha lawannya adalah kebencian. Kesedihan menyakitkan orangnya, sedangkan kebencian tidak menyakitkannya, kecuali bila disertai kelemahan untuk membalas. Wallaahu a’lam.” [21].

13). Tawadhu’ (Rendah Hati).

Iman kepada qadar membawa pelakunya kepada ketawadhu’an, meskipun dia diberi harta, kedudukan, ilmu, popularitas, atau selainnya, karena dia mengetahui bahwa segala yang diberikan kepadanya hanyalah dengan takdir Allah. Sekiranya Allah menghendaki, Dia dapat mencabut semua itu darinya.

Karena itulah, dia bertawadhu’ kepada Allah Azza wa Jalla dan kepada sesamanya, serta mengenyahkan kesombongan dan kecongkakan dari dirinya.

Jika manusia bertawadhu’ kepada Allah Azza wa Jalla, maka kemuliaannya sempurna, nilainya tinggi, keutamaannya mencapai puncaknya, kewibawaannya tinggi di hati manusia, dan Allah menambahkan kemuliaan serta derajat besar kepadanya. Karena barangsiapa yang bertawadhu’ kepada Allah, maka Dia meninggikannya. Dan jika Allah telah meninggikan derajat seorang hamba, maka siapakah yang dapat merendahkannya? Sebaik-baik akhlak pemuda dan yang paling sempurna ialah ketawadhu’annya kepada manusia padahal derajatnya tinggi [22].

14). Kemurahan Dan Kedermawanan.

Sebab, orang yang beriman kepada qadar mengetahui dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah-lah Yang memberi rizki dan menentukan penghidupan di antara para makhluk, sehingga masing-masing mendapatkan bagiannya. Tidaklah mati suatu jiwa pun sehingga sempurna rizki dan ajalnya, dan tidaklah seseorang menjadi fakir, kecuali dengan takdir Allah Azza wa Jalla.

Iman ini akan melapangkan dada pelakunya untuk berinfak dalam berbagai aspek kebaikan, sehingga dia pun lebih mendahulu-kannya dengan hartanya walaupun dia sangat membutuhkannya, disebabkan percaya kepada Allah dan memenuhi perintah-Nya untuk berinfak, serta merasa bahwa untuk mendapatkan kehidupan yang mulia itu terdapat tuntutan untuk mengorbankan harta di jalan kebaikan tersebut tanpa berpikir panjang, dan karena dia tahu bahwa harta itu adalah harta Allah. Akhirnya, dia memilih untuk meletakkan harta tersebut di tempat di mana Allah memerintahkan untuk meletakkannya.

Kemudian iman kepada qadar pun akan memadamkan kerakusan dari hati orang yang beriman, sehingga dia tidak rakus terhadap dunia dan tidak mengejarnya kecuali sekedar kebutuhan. Ia tidak membuang rasa malunya untuk mencarinya, bahkan dia menahan diri dari apa yang ada di tangan manusia, karena di antara jenis kedermawanan ialah menahan diri dari apa yang ada di tangan manusia. Hal ini akan membuahkan kemuliaan jiwa dan keberanian baginya.

Hal yang menyebabkan manusia tidak memiliki keberanian dan kemuliaan jiwa ialah karena kerakusannya yang berlebihan terhadap kenikmatan dunia.

15). Keberanian Dan Mengenyahkan Kelemahan Serta Sifat Pengecut.

Iman kepada qadar akan memenuhi hati pelakunya dengan keberanian serta mengosongkannya dari segala kelemahan dan sifat pengecut. Karena orang yang beriman kepada qadar mengetahui bahwa dia tidak akan mati sebelum hari kematiannya dan tidak ada yang akan menimpanya kecuali apa yang telah dituliskan untuknya. Seandainya umat berkumpul untuk memberi kemudharatan kepadanya, maka mereka tidak dapat memberi kemudharatan kepadanya kecuali sesuatu yang telah ditentukan Allah untuknya.

Di antara yang dinisbatkan kepada Amirul Mukminin, ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, ialah sya’irnya: “Pada hariku yang manakah, aku dapat lari dari kematian, Apakah pada hari yang belum ditakdirkan ataukah pada hari yang telah ditakdirkan, Apabila pada hari yang tidak ditakdirkan, maka aku tidak akan takut darinya. Tapi apabila kematian telah ditakdirkan, maka hati-hati dan menghindar darinya tidaklah menyelamatkanku”.

Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu memiliki juga sya’ir yang semisal dengannya: “Orang penakut itu merasa dirinya akan terbunuh sebelum kematian datang menghabisinya, Terkadang beberapa bahaya menimpa orang penakut sedang orang yang berani selamat darinya”.

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullahu “Hal yang dapat memutuskan rasa takut adalah berserah diri kepada Allah. Maka, barangsiapa yang menyerahkan diri dan tunduk kepada Allah, mengetahui bahwa apa pun yang menimpanya tidak akan luput darinya, sedangkan apa pun yang luput darinya tidak akan pernah menimpanya, dan juga mengetahui bahwa tidak akan menimpanya, kecuali apa yang telah dituliskan baginya, maka tidak akan tersisa tempat pada hatinya untuk takut kepada para makhluk. Sesungguhnya, jiwanya yang ia khawatirkan keselamatanya, sebenarnya telah berserah diri kepada Pelindungnya, dan mengetahui bahwa tidak akan menimpa jiwa itu, kecuali yang telah dituliskan, dan bahwa apa pun yang telah dituliskan baginya pasti menimpanya. Jadi pada hakikatnya, tidak pantas ada rasa takut kepada selain Allah itu”.

“Selain itu, di dalam ketundukkan kepada Allah itu terdapat manfaat yang tersembunyi, yaitu apabila ia menyerahkan jiwanya kepada Allah, pada hakikatnya ia telah menitipkannya pada-Nya dan melindunginya (dengan menjadikannya) dalam lindungan-Nya. Sehingga tidak akan bisa menyentuhnya tangan musuh dan kezhaliman orang yang zhalim”.

16). Qana’ah [23] Dan Kemuliaan Diri.

Seseorang yang beriman kepada qadar mengetahui bahwa rizkinya telah tertuliskan, dan bahwa ia tidak akan meninggal sebelum ia menerima sepenuhnya, juga bahwa rizki itu tidak akan dicapai oleh semangatnya orang yang sangat berhasrat dan tidak dapat dicegah oleh kedengkian orang yang dengki. Ia pun mengetahui bahwa seorang makhluk sebesar apa pun usahanya dalam memperoleh ataupun mencegahnya dari dirinya, maka ia tidak akan mampu, kecuali apa yang telah Allah tetapkan baginya.

Dari sini muncullah qana’ah terhadap apa yang telah diberikan, kemuliaan diri dan baiknya usaha, serta membebaskan diri dari penghambaan kepada makhluk dan mengharap pemberian mereka.

Hal tersebut tidak berarti bahwa jiwanya tidak berhasrat pada kemuliaan, tetapi yang dimaksudkan dengan qana’ah ialah, qana’ah pada hal-hal keduniaan setelah ia menempuh usaha, jauh dari kebakhilan, kerakusan, dan dari mengorbankan rasa malunya.

Apabila seorang hamba dikaruniai sikap qana’ah, maka akan bersinarlah cahaya kebahagiaan, tetapi apabila sebaliknya (apabila ia tidak memiliki sikap qana’ah), maka hidupnya akan keruh dan akan bertambah pula kepedihan dan kerugiannya, disebabkan oleh jiwanya yang tamak dan rakus. Seandainya jiwa itu bersikap qana’ah, maka sedikitlah musibahnya. Sebab orang yang tamak adalah orang yang terpenjara dalam keinginan dan sebagai tawanan nafsu syahwat.

Kemudian, bahwa qana’ah itu pun dapat menghimpun bagi pelakunya kemuliaan diri, menjaga wibawanya dalam pandangan dan hati, serta mengangkatnya dari tempat-tempat rendah dan hina, sehingga tetaplah kewibawaan, melimpahnya karamah, kedudukan yang tinggi, tenangnya bathin, selamat dari kehinaan, dan bebas dari perbudakan hawa nafsu dan keinginan yang rendah. Sehingga ia tidak mencari muka dan bermuka dua, ia pun tidak melakukan sesuatu kecuali hal itu dapat memenuhi (menambah) imannya, dan hanya kebenaranlah yang ia junjung.

Kesimpulannya, hal yang dapat memutuskan harapan kepada makhluk dari hati adalah ridha dengan pembagian Allah Azza wa Jalla (qana’ah). Barangsiapa ridha dengan hukum dan pembagian Allah, maka tidak akan ada tempat pada hatinya untuk berharap kepada makhluk.

Di antara kalimat yang indah berkenaan dengan hal ini adalah sya’ir yang dinisbatkan kepada Amirul Mukminin, ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu: “Qana’ah memberikan manfaat kepadaku berupa kemuliaan, adakah kemuliaan yang lebih mulia dari qana’ah. Jadikanlah ia sebagai modal bagi dirimu kemudian setelahnya, jadikanlah takwa sebagai barang dagangan. Niscaya akan engkau peroleh keuntungan dan tidak perlu memelas kepada orang yang bakhil, Engkau akan memperoleh kenikmatan dalam Surga, dengan kesabaran yang hanya sesaat”.

Berkata Imam asy-Syafi’i rahimahullahu: “Aku melihat qana’ah sebagai perbendaharaan kekayaan maka aku pegangi ekor-ekornya. Tidak ada orang yang melihatku di depan pintunya dan tidak ada orang yang melihatku bersungguh-sungguh dengannya. Aku menjadi kaya dengan tanpa dirham dan aku berlalu di hadapan manusia seperti raja [24].

Tsa’alabi berkata, “Sebaik-baik ucapan yang saya dengar tentang qana’ah ialah ucapan Ibnu Thabathaba al-‘Alawi: Jadilah engkau orang yang qana’ah dengan apa yang diberikan kepadamu maka engkau telah berhasil melewati kesulitan qana’ah orang yang hidup berkecukupan. Sesungguhnya usaha dalam mencapai angan, nyaris membinasakan dan kebinasaan seseorang terletak dalam kemewahan [25].

17). Cita-Cita Yang Tinggi.

Maksud dari cita-cita yang tinggi adalah menganggap kecil apa yang bukan akhir dari perkara-perkara yang mulia. Sedangkan cita-cita yang rendah, yaitu sebaliknya dari hal itu, ia lebih mengutamakan sesuatu yang tidak berguna, ridha dengan kehinaan, dan tidak menggapai perkara-perkara yang mulia.

Iman kepada qadar membawa pelakunya kepada kemauan yang tinggi dan menjauhkan mereka dari kemalasan, berpangku tangan, dan pasrah kepada takdir.

Karena itu, Anda melihat orang yang beriman kepada qadar -dengan keimanan yang benar- adalah tinggi cita-citanya, besar jiwanya, mencari kesempurnaan, dan menjauhi perkara-perkara remeh dan hina. Ia tidak rela kehinaan untuk dirinya, tidak puas dengan keadaan yang pahit lagi menyakitkan, dan tidak pasrah terhadap berbagai aib dengan dalih bahwa takdir telah menentukannya.

Bahkan keimanannya mengharuskannya untuk berusaha bang-kit, mengubah keadaan yang pahit serta menyakitkan kepada yang lebih baik dengan cara-cara yang disyari’atkan, dan untuk terbebas dari berbagai aib dan kekurangan. (Karena) berdalih dengan takdir hanyalah dibenarkan pada saat tertimpa musibah, bukan pada aib-aib (yang dilakukannya). [26].

18). Bertekad Dan Bersungguh-Sungguh Dalam Berbagai Hal.

Orang yang beriman kepada qadar, ia akan bersungguh-sungguh dalam berbagai urusannya, memanfaatkan peluang yang datang kepadanya, dan sangat menginginkan segala kebaikan, baik akhirat maupun dunia. Sebab, iman kepada qadar mendorong kepada hal itu, dan sama sekali tidak mendorong kepada kemalasan dan sedikit beramal.

Bahkan, keimanan ini memiliki pengaruh yang besar dalam mendorong para tokoh untuk melakukan pekerjaan besar, yang mereka menduga sebelumnya bahwa kemampuan mereka dan berbagai faktor yang mereka miliki pada saat itu tidak cukup untuk menggapainya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَلاَ تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْئٌ فَلاَ تَقُلْ: لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ، كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ، وَمَا شَاءَ فَعَلَ

“ …Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, minta tolonglah kepada Allah, dan janganlah bersikap lemah! Jika sesuatu menimpamu, janganlah mengatakan, ‘Seandainya aku melakukan, niscaya akan demikian dan demikian.’ Tetapi katakanlah, ‘Ini takdir Allah, dan apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi… .’” [27].

19). Bersikap Adil, Baik Pada Saat Senang Maupun Susah.

Iman kepada qadar akan membawa kepada keadilan dalam segala keadaan, sebab manusia dalam kehidupan dunia ini mengalami keadaan bermacam-macam. Adakalanya diuji dengan kefakiran, adakalanya mendapatkan kekayaan yang melimpah, adakalanya menikmati kesehatan yang prima, adakalanya diuji dengan penyakit, adakalanya memperoleh jabatan dan popularitas, dan adakalanya setelah itu dipecat (dari jabatan), hina, dan kehilangan nama.

Perkara-perkara ini dan sejenisnya memiliki pengaruh dalam jiwa. Kefakiran dapat membawa kepada kehinaan, kekayaan bisa mengubah akhlak yang baik menjadi kesombongan, dan perilakunya menjadi semakin buruk.

Sakit bisa mengubah watak, sehingga akhlak menjadi tidak lurus, dan seseorang tidak mampu tabah bersamanya.

Demikian pula kekuasaan dapat mengubah akhlak dan meng-ingkari sahabat karib, baik karena buruknya tabiat maupun sem-pitnya dada.

Sebaliknya dari hal itu ialah pemecatan. Adakalanya hal itu dapat memburukkan akhlak dan menyempitkan dada, baik karena kesedihan yang mendalam maupun karena kurangnya kesabaran.

Begitulah, keadaan-keadaan tersebut menjadi tidak lurus pada garis keadilan, karena keterbatasan, kebodohan, kelemahan, dan kekurangan dalam diri hamba tersebut.

Kecuali orang yang beriman kepada qadar dengan sebenarnya, maka kenikmatan tidak membuatnya sombong dan musibah tidak membuatnya berputus asa, kekuasaan tidak membuatnya congkak, pemecatan tidak menurunkannya dalam kesedihan, kekayaan tidak membawanya kepada keburukan dan kesombongan, dan kefakiran pun tidak menurunkannya kepada kehinaan.

Orang-orang yang beriman kepada qadar menerima sesuatu yang menggembirakan dan menyenangkan dengan sikap menerima, bersyukur kepada Allah atasnya, dan menjadikannya sebagai sarana atas berbagai urusan akhirat dan dunia. Lalu, dengan melakukan hal tersebut, mereka mendapatkan, berbagai kebaikan dan keberkahan, yang semakin melipatgandakan kegembiraan mereka.

Mereka menerima hal-hal yang tidak disenangi dengan keridhaan, mencari pahala, bersabar, menghadapi apa yang dapat mereka hadapi, meringankan apa yang dapat mereka ringankan, dan dengan kesabaran yang baik terhadap apa yang harus mereka bersabar terhadapnya. Sehingga mereka, dengan sebab itu, akan mendapatkan berbagai kebaikan yang besar yang dapat menghilangkan hal-hal yang tidak disukai, dan digantikan oleh kegembiraan dan harapan yang baik. [28].

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullahu berkata, “Aku memasuki waktu pagi, sedangkan kebahagiaan dan kesusahan sebagai dua kendaraan di depan pintuku, aku tidak peduli yang manakah di antara keduanya yang aku tunggangi.” [29].

20). Selamat Dari Kedengkian Dan Penentangan.

Iman kepada qadar dapat menyembuhkan banyak penyakit yang menjangkiti masyarakat, di mana penyakit itu telah menanamkan kedengkian di antara mereka, misalnya hasad yang hina. Orang yang beriman kepada qadar tidak dengki kepada manusia atas karunia yang Allah berikan kepada mereka, karena keimanan-nya bahwa Allah-lah yang memberi dan menentukan rizki mereka. Dia memberikan dan menghalangi dari siapa yang dikehendaki-Nya, sebagai ujian. Apabila dia dengki kepada selainnya, berarti dia me-nentang ketentuan Allah.

Jika seseorang beriman kepada qadar, maka dia akan selamat dari kedengkian, selamat dari penentangan terhadap hukum-hukum Allah yang bersifat syar’i (syari’at) dan ketentuan-ketentuan-Nya yang bersifat kauni (sunnatullah), serta menyerahkan segala urusannya kepada Allah semata.[30].

21). Mengetahui Hikmah Allah Azza Wa Jalla

Iman kepada qadar dengan cara yang benar akan mengungkap bagi manusia hikmah Allah Azza wa Jalla dalam apa yang ditentukan-Nya, berupa kebaikan dan keburukan. Lantas dia mengetahui bahwa di balik pemikirannya dan imajinasinya ada Dzat yang lebih agung, lebih tahu, dan lebih bijaksana.

Karena itu, seringkali sesuatu terjadi dan kita tidak menyukainya, padahal hal itu baik bagi kita, dan seringkali kita melihat sesuatu memiliki maslahat secara zhahirnya, sehingga kita pun menyukai dan menginginkannya, tetapi hikmah tidak menghendakinya. Sebab, Dzat yang mengatur manusia lebih tahu tentang kemasla-hatannya dan akibat perkaranya. Bagaimana tidak, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

” …Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik ba-gimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” [Al-Baqarah/2 : 216].

Di antara rahasia ayat ini dan hikmahnya adalah, bahwa ayat ini mengharuskan hamba untuk pasrah kepada Dzat Yang mengetahui berbagai akibat urusannya dan ridha dengan apa yang ditentukan-Nya atasnya, karena dia mengharapkan kepada-Nya akibat baik (dari urusan)nya.

Di antara rahasia lainnya, dia tidak mencela Rabb-nya dan tidak meminta kepada-Nya sesuatu yang mana ia tidak memiliki pengetahuan mengenainya, karena mungkin kemudharatan bagi dirinya terletak di dalamnya, sedangkan ia tidak mengetahui. Ia tidak me-milihkan kepada Rabb-nya, tetapi ia meminta kepada-Nya akibat yang baik dalam apa yang dipilihkan-Nya untuknya. Baginya, tidak ada yang lebih bermanfaat daripada hal itu.

Karena itu, di antara belas kasih Allah kepada hamba-Nya ialah mungkin jiwa hamba menginginkan salah satu hal keduniaan, yang mana ia menganggap dengan hal itu dia dapat mencapai tujuannya. Tapi Allah mengetahui bahwa itu merugikan dan menghalanginya dari apa yang bermanfaat baginya, lalu Dia pun menghalangi antara dirinya dengan keinginannya itu, sehingga hamba tersebut tetap dalam keadaan tidak suka, sementara itu ia tidak mengetahui bahwa Allah telah berbelas kasih kepadanya, di mana Dia mengokohkan perkara yang bermanfaat baginya dan memalingkan perkara yang merugikan darinya. [31].

Betapa banyak manusia -sebagai contoh- yang menyesal, ketika ketinggalan waktu take off pesawat terbang, dan ternyata penyesalan tersebut hanya sementara. Kemudian dikabarkan tentang jatuhnya pesawat (yang telah lepas landas) dan semua penumpangnya tewas.

Betapa banyak manusia yang sesak dan sempit dadanya karena kehilangan sesuatu yang disukai atau datangnya sesuatu yang me-nyedihkan. Ketika perkara itu tersingkap dan rahasia takdir itu diketahui, Anda pasti melihatnya dalam keadaan senang gembira, karena akibatnya ternyata baik baginya.

Sungguh indah ucapan orang yang mengatakan: “Betapa banyak kenikmatan yang tidak Anda anggap sedikit dengan bersyukur kepada Allah atasnya bersembunyi dalam lipatan sesuatu yang tidak disukai” [32].

Ucapan lainnya : “Perkara-perkara itu berjalan sesuai ketentuan qadha’ dan dalam lipatan kejadian, yang disukai dan yang tidak disukai. Mungkin menyenangkanku sesuatu yang dulunya aku hindari dan mungkin buruk bagiku sesuatu yang dulunya aku harapkan” [33].

22). Membebaskan Akal Dari Khurafat Dan Kebathilan.

Di antara kepastian iman kepada qadar ialah mengimani bahwa apa yang telah terjadi, apa yang sedang terjadi, dan apa yang akan terjadi di alam semesta ini adalah berdasarkan pada qadar (ketentuan) Allah Azza wa Jalla. Dan bahwa qadar Allah adalah rahasia yang tersembunyi, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia, dan Dia tidak memperlihatkannya kepada seorang pun kecuali kepada siapa yang diridhai-Nya dari Rasul-Nya. Sesungguhnya Dia menjadikan penjagapenjaga (Malaikat) di muka dan di belakangnya.

Dari titik tolak ini, anda melihat orang yang beriman kepada qadar tidak bersandar kepada para dajjal dan pesulap (pendusta), serta tidak pergi kepada para dukun, peramal dan orang-orang “pintar”. Ia tidak bersandar kepada ucapan-ucapan mereka, tidak pula tertipu dengan penyimpangan mereka dan kedustaan mereka. Ia hidup dalam keadaan terbebas dari kesesatan ucapan-ucapan tersebut dan dari semua khurafat dan kebathilan itu.

Labid bin Rabi’ah Radhiyallahu ‘anhu berkata: Sungguh para dukun dan peramal tidak tahu apa yang Allah akan perbuat. Bertanyalah kepada mereka, jika kalian mendustakanku kapankah seorang pemuda merasakan kematian atau kapankah hujan akan turun” [34].

23). Ketenangan Hati Dan Ketentraman Jiwa.

Perkara-perkara ini termasuk dari buah keimanan kepada qadar, dan ini termasuk di antara sekian banyak manfaat yang telah disebutkan sebelumnya. Ini merupakan hal yang dicari-cari, tujuan yang didambakan, dan puncak tujuan yang dimaksud, karena semua manusia mencarinya dan berusaha meraihnya. Tapi, sebagaimana dikatakan: “Semua orang dalam hidup ini mencari buruan. hanya saja, perangkapnya berbeda-beda”.

Tidak ada yang mengetahui perkara-perkara ini, tidak ada yang merasakan manisnya, dan tidak ada yang mengetahui hasil-hasilnya, kecuali orang yang beriman kepada Allah beserta qadha’ dan qadar-Nya. Orang yang beriman kepada qadar hatinya tenang, jiwanya tentram, keadaannya tenang, dan tidak banyak berpikir mengenai keburukan yang bakal datang. Kemudian, jika keburukan tersebut datang, hatinya tidak terbang tercerai-berai, tetapi dia tabah terhadap hal itu dengan mantap dan sabar. Jika sakit, sakitnya tidak menambah keraguannya. Jika sesuatu yang tidak disukai datang kepadanya, dia menghadapinya dengan ketabahan, sehingga dapat meringan-kannya. Di antara hikmahnya ialah agar manusia tidak menghimpun pada dirinya antara kepedihan karena khawatir terhadap datangnya keburukan dengan kepedihan karena mendapatkan keburukan.

Tetapi dia berbahagia, selagi sebab-sebab kesedihan itu jauh darinya. Jika hal itu terjadi, maka dia menghadapinya dengan keberanian dan keseimbangan jiwa.

Anda melihat pada diri orang-orang khusus dari kalangan umat Islam, dari kalangan ulama ‘amilin (ulama yang mengamalkan ilmunya) dan ahli ibadah yang taat lagi mengikuti Sunnah, berupa ketenangan hati dan ketentraman jiwa yang tidak terbayangkan dalam benak dan tidak pula terbayang dalam imajinasi. Mereka dalam hal ini memiliki derajat yang tinggi dan kedudukan yang sempurna.

Inilah Amirul Mukminin, ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rahimahullahu mengatakan, “Aku tidak mendapatkan kegembiraan kecuali dalam hal-hal yang sudah diqadha’ dan diqadarkan.” [35].

Syaikhul Islam, Abul ‘Abbas Ahmad Ibnu Taimiyyah rahimahullahu me-ngatakan, “Sesungguhnya di dunia ini ada Surga, yang barangsiapa tidak pernah memasukinya maka dia tidak akan memasuki Surga akhirat.” [36].

Beliau mengatakan dengan pernyataan yang terkenal, ketika dimasukkan dalam penjara, “Apakah yang akan diperbuat para musuhku terhadapku, sedangkan Surgaku dan tamanku ada dalam dadaku, ke mana aku pergi maka ia selalu bersamaku, tidak pernah berpisah denganku. Dipenjarakannya aku adalah khulwah (menyepi), pembunuhan terhadapku adalah syahadah (mati sebagai syahid), dan pengusiranku dari negeriku adalah wisata.” [37].

Bahkan Anda melihat ketentraman hati, ketenangan hidup, dan keyakinan yang mantap pada kaum muslimin yang awam, yang tidak Anda dapatkan pada para tokoh pemikir, penulis dan dokter dari kalangan non muslim. Betapa banyak para dokter dari kalangan non muslim -sebagai contoh- yang heran, ketika menangani pengobatan pasien muslim. Tampak olehnya bahwa pasien tersebut men-derita penyakit yang berbahaya, misalnya kanker. Anda melihat dokter ini bingung bagaimana cara memberitahukan kepada pasien tentang penyakitnya. Anda melihatnya ragu-ragu, dan Anda meli-hatnya mulai membuka pembicaraan serta membuat beberapa prolog. Semua itu dilakukan karena takut pasien akan shok karena mendengarkan kabar ini.

Namun, ketika dokter memberitahukan kepadanya akan penyakitnya dan menjelaskan penyakitnya kepadanya, ternyata pasien ini menerima kabar ini dengan jiwa yang ridha, dada yang lapang, dan ketenangan yang mengagumkan.

Keimanan kaum muslimin kepada qadha’ dan qadar telah mencengangkan banyak kalangan non muslim, lalu mereka menulis tentang perkara ini untuk mengungkapkan ketercengangan mereka dan mencatatkan kesaksian mereka tentang kekuatan tekad kaum muslimin, kebesaran jiwa mereka, dan penyambutan mereka yang baik terhadap berbagai kesulitan hidup.

Ini adalah kesaksian yang benar dari kaum yang tidak beriman kepada Allah serta kepada qadha’ dan qadar-Nya.

Di antara orang-orang yang menulis tentang masalah ini ialah penulis terkenal, R.N.S. Budly, penulis buku Angin di Atas Padang Pasir dan ar-Rasuul, serta 14 buku lainnya. Dan juga orang yang mengemukakan pendapatnya yaitu Del Carnegie dalam bukunya, Tinggalkan Kegalauan dan Mulailah Kehidupan, dalam artikel yang berjudul, Aku Hidup Dalam Surga Allah.

Budly menuturkan :

“Pada tahun 1918 aku meninggalkan dunia yang telah aku kenal sepanjang hidupku, dan aku merambah ke arah Afrika utara bagian barat, di mana aku hidup di tengah-tengah kaum badui di padang pasir. Aku habiskan waktu di sana selama tujuh tahun. Selama waktu itu aku memperdalam bahasa badui, aku memakai pakaian mereka, makan dari makanan mereka, berpenampilan ala mereka, dan hidup seperti mereka. Aku mempunyai kambing-kambing, dan aku tidur sebagaimana mereka tidur dalam tenda. Aku mendalami studi Islam sehingga aku berhasil menyusun sebuah buku tentang Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berjudul ar-Rasuul. Tujuh tahun yang aku habiskan bersama kaum badui yang hidup berpindah-pindah (nomaden) tersebut merupakan tahun-tahun kehidupanku yang paling menyenangkan, dan aku mendapatkan kedamaian, ketentraman, dan ridha terhadap kehidupan ini.

Aku belajar dari bangsa ‘Arab padang pasir bagaimana mengatasi kegelisahan, karena mereka sebagai muslim, beriman kepada qadha’ dan qadar. Dan keimanan ini membantu mereka untuk hidup dalam rasa aman, dan mengambil kehidupan ini pada tempat pengambilan yang mudah dan gampang. Mereka tidak terburu-buru pada suatu perkara, dan tidak pula menjatuhkan diri mereka di tengah-tengah kesedihan karena gelisah terhadap suatu masalah.

Mereka beriman bahwa apa yang telah ditakdirkan pasti akan terjadi, dan seorang dari mereka tidak akan tertimpa suatu musibah kecuali apa yang telah ditentukan Allah untuknya.

Ini bukan berarti bahwa mereka pasrah atau pasif, dengan wajah sedih dan berpangku tangan, sekali-kali tidak”.

Kemudian, setelah itu, dia mengatakan:

“Biarkan aku membuatkan untukmu suatu permisalan terhadap apa yang aku maksudkan: Pada suatu hari angin bertiup kencang yang membawa pasir-pasir padang pasir, melintasi laut tengah, dan menghantam lembah Raun di Prancis. Angin ini sangat panas, sehingga aku merasakan seakan-akan rambutku terlepas dari tempat tumbuhnya, karena terjangan hawa panas, dan aku merasa seolah-olah aku didorong menjadi gila.

Tetapi bangsa ‘Arab tidak mengeluh sama sekali. Mereka menggerakkan pundak-pundak mereka seraya mengatakan dengan ucapan mereka yang menyentuh, “Qadha’ yang telah tertulis.”

Tetapi, angin kencang tersebut memotifasi mereka untuk be-kerja dengan semangat yang besar. Mereka menyembelih kambing-kambing muda sebelum panas membinasakan kehidupannya, ke-mudian mereka menggiring ternak ke arah selatan menuju air.

Mereka melakukan hal ini dengan diam dan tenang, tidak tampak suatu keluhan pun dari salah seorang mereka.

Ketua suku, asy-Syaikh, mengatakan, ‘Kita tidak kehilangan sesuatu yang besar, sebab kita diciptakan untuk kehilangan segala sesuatu. Tetapi puji dan syukur kepada Allah, karena kita masih mempunyai sekitar 40% dari ternak kita, dan dengan segala kemampuan kita, kita akan memulai aktifitas kita kembali”.

Kemudian Budly mengatakan,

“Ada kejadian lainnya. Kami menempuh padang pasir dengan mobil pada suatu hari, lalu salah satu ban mobil pecah, sedangkan sopir lupa membawa ban serep. Aku pun dikuasai kemarahan, kegelisahan, serta kesedihan. Aku bertanya kepada sahabat-sahabatku dari kalangan ‘Arab badui, ‘Apakah yang bisa kita lakukan?’

Mereka mengingatkanku bahwa kemarahan sama sekali tidak ada gunanya, bahkan itu dapat mendorong manusia kepada tindakan gegabah dan bodoh.

Kemudian mobil berjalan mengangkut kami hanya dengan tiga roda. Tetapi tidak lama kemudian mobil tidak bisa berjalan, dan saya tahu bahwa bensinnya habis.

Anehnya, tidak seorang pun dari sahabat-sahabatku dari kalangan ‘Arab badui yang marah, dan mereka tetap tenang, bahkan mereka berlalu menyusuri jalan dengan berjalan kaki.”

Setelah Budly mengemukakan pengalamannya bersama bangsa ‘Arab gurun, dia mengomentari dengan pernyataan: “Tujuh tahun yang aku habiskan di padang pasir di tengah-tengah bangsa ‘Arab nomaden telah memuaskanku, bahwa orang-orang yang stres, orang-orang yang sakit jiwa, dan orang-orang mabuk yang dipelihara oleh Amerika dan Eropa, mereka tidak lain hanyalah korban pera-daban yang menjadikan “sesuatu yang sementara” sebagai landa-sannya.

Saya tidak mengalami kegelisahan sedikit pun ketika tinggal di gurun pasir, bahkan di sanalah, di Surga Allah, saya mendapatkan ketentraman, qana’ah, dan ridha.”

Akhirnya, dia menutup pernyataannya dengan ucapannya:

“Ringkasnya, setelah berlalu tujuh belas tahun sesudah meninggalkan padang pasir, saya tetap mengambil sikap bangsa ‘Arab berkenaan dengan ketentuan Allah, sehingga saya menghadapi kejadian-kejadian yang saya tidak berdaya di dalamnya dengan ketenangan, ketundukan, dan ketentraman.

Watak yang saya ambil dari bangsa ‘Arab ini telah berhasil dalam menentramkan syarafku, yang lebih banyak dibandingkan apa yang dihasilkan oleh ribuan obat-obat penenang dan klinik-klinik kesehatan.” [38].


[Disalin dari kitab Al-Iimaan bil Qadhaa wal Qadar, Edisi Indoensia Kupas Tuntas Masalah Takdir, Penulis Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Penerjemah Ahmad Syaikhu, Sag. Penerbit Pustaka Ibntu Katsir].

Footnote :

  1. Lihat, al-Fawaa-id, Ibnul Qayyim, hal. 137-139, 178-179, 200-202, al-Jaami’ush Shahiih fil Qadar, Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, hal. 11-12, Majmuu’ah Duruus wa Fataawaa al-Haramil Makki, Syaikh Muhammad bin ‘Utsaimin, (I/73), al-Qadhaa’ wal Qadar, Dr. ‘Umar al-‘Asyqar, hal. 109-112, al-Iiman, Dr. Muhammad Na’im Yasin, dan al-Qadhaa’ wal Qadar, Dr. ‘Abdurrahman al-Mahmud, hal. 293-300.
  2. Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, (VIII/283).
  3. Lihat, Madaarijus Saalikiin, Ibnul Qayyim, (II/93).
  4. Yakni, Ibnu Taimiyyah v.
  5. Madaarijus Saalikiin, (II/218).
  6. HR. Al-Bukhari, no. 6594.
  7. HR. Al-Bukhari, no. 6607.
  8. Madaarijus Saalikiin, (II/166-199).
  9. Lihat, ‘Iddatush Shaabiriin, Ibnul Qayyim, hal. 124 dan Tasliyyah Ahlil Mashaa-ib, al-Munbaji, hal. 135-151.
  10. ‘Iddatush Shaabiriin, hal. 124.
  11. Ibid.
  12. Ibid, hal. 124.
  13. Lihat, Madaarijus Saalikiin, (II/172).
  14. Madaarijus Saalikiin, (II/202).
  15. Madaarijus Saalikiin, (II/172).
  16. Madaarijus Saalikiin, (II/216).
  17. Lihat, Madaarijus Saalikiin, (II/169-232), di dalamnya berisikan pembicaraan yang mendetail tentang ridha.
  18. Bardul Akbaad ‘inda Faqdil Aulaad, Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi, hal. 37.
  19. Lihat, Madaarijus Saalikiin, (II/199, 235, 243).
  20. Bardul Akbaad, hal. 9.
  21. Madaarijus Saalikiin, (III/150).
  22. Ghadzaa-ul Albaab, as-Safarini, (II/223).
  23. Qana’ah adalah ridha dengan pembagian Allah, -ed.
  24. Diiwaan al-Imam asy-Syafi’i, hal. 27.
  25. Ahsanu maa Sami’tu, ats-Tsa’alabi, hal. 22.
  26. Lihat, al-Himmatul ‘Aaliyah Mu’awwiqaatuha wa Muqawwimaatuha, oleh penulis.
  27. HR. Muslim, (no. 2664).
  28. Lihat, al-Himmatul ‘Aaliyah, hal. 221-230.
  29. Al-Kitaabul Jaami’ li Sirah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz al-Khaliifah al-Khaa-if
    al-Khaasyi’, ‘Umar bin Muhammad al-Khadhr, yang dikenal dengan al-Mula’, tahqiq Dr. Muhammad Shidqi al-Burnu, (II/436).
  30. Lihat, Majallah al-Buhuuts, (no. 34, hal. 250), pembahasan tentang Wasathiyyah Ahlis Sunnah fil Qadar, oleh Dr. ‘Awwad al-Mu’tiq.
  31. Lihat, al-Mawaahibur Rabbaaniyyah minal Aayaatil Qur-aan, Ibnu Sa’di, hal. 151.
  32. Jannatur Ridhaa’ fit Tasliim limaa Qaddara wa Qadhaa’, (III/52).
  33. Jannatur Ridhaa’ fit Tasliim limaa Qaddara wa Qadhaa’, (III/52).
  34. Diiwaan Labid bin Rabi-ah, hal. 90.
  35. Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam, Ibnu Rajab, (I/287) dan lihat, Siirah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz, Ibnu ‘Abdilhakam, hal. 97.
  36. Al-Waabilush Shayyib minal Kalimith Thayyib, Ibnul Qayyim, hal. 69 dan asy-Syahaadatuz Zakiyyah fii Tsanaa-il A-immah ‘alaa Ibni Taimiyyah, karya Mar’il Karami al-Hanbali, hal. 34.
  37. Dzail Thabaqaatil Hanaabilah, Ibnu Rajab, (II/402) dan lihat, al-Waabilush Shayyib, hal. 69.
  38. Da’il Qalaq wabdaa-il Hayaah, Del Carnegie, hal. 291-295 dan lihat, al-Iimaan bil Qadhaa’ wal Qadar wa Atsaruhu ‘alal Qalaq an-Nafsi, karya Tharifah bin Su’ud asy-Syuwai’ir, hal. 74-75.

Disusun seluruhnya dari artikel http://almanhaj.or.id , Dalam bahasan Bab Kitab : Qadha & Qadar, Seri tulisan “Buah Keimanan Kepada Qadha’ & Qadar“.

Iklan

2 responses to “Buah Keimanan Kepada Qadha’ & Qadar

  1. Ping balik: Kumpulan Artikel Seputar Rukun Iman Ke 6 : Beriman Kepada Takdir Allah | Abu Zahra Hanifa

  2. Ping balik: Kumpulan Artikel Seputar Rukun Iman & Penjelasannya | Abu Zahra Hanifa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s