Benarkah Imam Al Hakim Seorang Syi’ah ? (3/3)


Tulisan berikut merupakan pembahasan terakhir yang menutup dua pembahasan sebelumnya -[bag. 1 & bag. 2]- perihal Al-Hakim dan tuduhan sebagai Syi’ah terhadapnya. Pada pembahasan pertama telah terbukti bahwa tuduhan sebagai rafidhiy sama sekali tidak benar. Meski demikian beliau masih dikatakan sebatas bertasyayyu’ oleh Adz-Dzahabiy, dan telah terbukti pada pembahasan kedua bahwa penyifatan tersebut berdiri di atas hujjah yang tidak kuat sehingga tidak dapat pula dikatakan bahwa Al-Hakim bertasyayyu’.

Namun terdapat ulama lainnya yang juga menyifati Al-Hakim bertasyayyu’, akan tetapi alasan penyifatan tersebut tidak sebagaimana Adz-Dzahabiy yang dikarenakan tidak adanya manaqib Mu’awiyyah dalam Mustadrak Al-Hakim melainkan dikarenakan tashhih Al-Hakim atas hadits Ath-Thair dimana zhahirnya hadits tersebut terlihat mendukung aqidah Syi’ah.

Tulisan kali ini secara ringkas akan membahasnya, apakah tepat karena tashhih Al-Hakim atas hadits Ath-Thair menjadi alasan untuk menyifati Al-Hakim bertasyayyu’ atau tidak. Yang nampak berpendapat demikian adalah Al-Khathib Al-Baghdadi sebagaimana tatkala beliau berkata mengenai Al-Hakim :

كان أبو عبد الله بن البيع الحاكم ثقة ، أول سماعه سنة ثلاثين وثلاثمائة ، وكان يميل إلى التشيع ، فحدثني إبراهيم بن محمد الأرموي بنيسابور وكان صالحا عالما قال : جمع أبو عبد الله الحاكم أحاديث ، وزعم أنها صحاح على شرط البخاري ومسلم ، منها حديث الطير وحديث : من كنت مولاه فعلي مولاه فأنكر عليه أصحاب الحديث ذلك ، ولم يلتفتوا إلى قوله

“Bahwasanya Abu ‘Abdillah bin Al-Bayyi’ Al-Hakim seorang yang tsiqah. Pertama kali mendengar hadits pada tahun 330 H. Dia cenderung kepada tasyayyu’. Karena telah menceritakan kepadaku Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad Al-Urmawiy di Naisabur dan beliau adalah seorang yang shalih dan berilmu, beliau berkata; “Abu ‘Abdillah Al-Hakim mengumpulkan hadits-hadits yang ia klaim shahih berdasarkan syarat Al-Bukhariy dan Muslim. Diantaranya adalah hadits Ath-Thair dan hadits “man kuntu maulahu fa ‘aliyyun maulahu” maka para ashhabul-hadits mengingkarinya dan tidak menoleh pada perkataannya.” [Siyar A’lam An-Nubala 17/168, Tarikh Baghdad 3/509]

Hadits “man kuntu maulahu” adalah hadits shahih. Takhrij hadits tersebut bisa dibaca disini. Maka tidak tepat menyifati Al-Hakim bertasyayyu’ lantaran tashhihnya atas hadits tersebut karena terdapat para ulama lainnya yang menshahihkannya, diantaranya seperti Adz-Dzahabiy sebagaimana dinyatakan Ibnu Katsir dan abad sekarang seperti Al-Albaniy, tetapi apakah keduanya rahimahumallah dikatakan bertasyayyu’ ?

Adapun hadits Ath-Thair memang tidak shahih. Tetapi tidak tepat juga menjadikan tashhih Al-Hakim atas hadits tersebut sebagai dasar penyifatan bahwa Al-Hakim bertasyayyu’. Sebagaimana hadits “man kuntu maulahu” terdapat ulama yang menghasankan hadits Ath-Thair semisal Al-Haitami yang berkata :

وأمّا قول بعضهم: أنّه موضوع، وقول ابن طاهر: طرقه كلّها باطلة معلولة، فهو الباطل، … فالحق ما تقرر أولاً أنه حسن يحتج به

“Adapun perkataan sebagian ‘ulama bahwa hadits tersebut (Ath-Thair) adalah maudhu’ dan perkataan Ibnu Thahir “semua jalurnya bathil dan cacat” maka itu bathil… Jadi yang benar adalah apa yang ditetapkan di awal bahwa hadits tersebut hasan yang dapat dijadikan hujjah.” [Al-Minah Al-Makkiyyah, 3/1267]

Lalu apakah ada yang mengatakan bahwa Al-Haitami bertasyayyu’ karena beliau menghasankan hadits tersebut?

As-Subki berkata :

وَأما الحكم على حَدِيث الطير بِالْوَضْعِ فَغير جيد وَرَأَيْت لصاحبنا الْحَافِظ صَلَاح الدّين خَلِيل بن كيكلدي العلائي عَلَيْهِ كلَاما قَالَ فِيهِ بعد مَا ذكر تَخْرِيج التِّرْمِذِيّ لَهُ وَكَذَلِكَ النَّسَائِيّ فِي خَصَائِص عَليّ رَضِي الله عَنهُ إِن الْحق فِي الحَدِيث أَنه رُبمَا يَنْتَهِي إِلَى دَرَجَة الْحسن أَو يكون ضَعِيفا يحْتَمل ضعفه

“Adapun penghukuman atas hadits Ath-Thair dengan maudhu’ maka itu tidak baik. Aku melihat kawan kami Al-Hafizh Shalahuddin Khalil bin bin Kaikaldiy Al-Ala’i, setelah menyebutkan takhrij At-Tirmidzi terhadap hadits tersebut. Aku juga telah memeriksa pernyataan An-Nasa`iy dalam Khashaish Ali yang menyatakan bahwa yang benar hadits tersebut bisa jadi sampai kepada derajat hasan, atau bisa jadi dha’if, tapi masih bisa ditolelir.” [Thabaqat Asy-Syafi’iyyah, 4/169-170].

Lalu apakah kesemua ulama di atas dikatakan bertasyayyu’ ?

Karena itu Asy-Syaikh DR. Muwaffiq bin ‘Abdillah berkata :

إنَّ قول الخطيب رحمه الله في تاريخ بغداد : ((وكان ابن البَيِّع يميل إلى التَّشَيُّع)) مُسْتَندها إلى إخراج الحاكم لحديث ((الطَّيْر)) وحديث ((مَن كنتُ مولاهُ فَعليّ مولاه)). كما ذَكَر ذَلكَ في تاريخ بغداد: ((فأنكر عليه أصحاب الحديث ذلك ولم يتلفتوا فيهِ إلى قوله، ولا صَوَّبوه في فِعْلِه)) كما نقل عن أبي إسحاق إبراهيم بن مُحمَّدٍ الأُرْمَويِّ.
ونحن هنا نتساءل: هل الحاكم هو الوحيد الَّذي أخرج حديث الطَّيْر أم سبقهُ إلى ذلك غيره مِنَ الحفَّاظ كما تقدم تخريجه فقد رواه الترمذي في المناقب: ٥/٣٠٠  ، والنَّسائي كما في خصائص على حديث رقم: (١٠) فلماذا يُتَّهم الحاكم لِروايته حديث الطَّيْر بالتَّشَيّع وتُثار حولهُ الشُّبهات.. ولا تُثار على الَّذين سبقوهُ مِنَ الأئمَّة الحفَّاظ؟!!.
وأمَّا حديث: ((مَن كُنتُ مولاهُ فَعليّ مولاهُ)) فهو حديثٌ صَحيح رواه الإمام أحمد وغيره كما تقدَّم تخريجه فلماذا يُنْكرُ عليه أصحاب الحديث ذلك ((ولم يلتفتوا فيهِ إلى قوله، ولا صوَّبوه في فعله)) ولم يُنْكِروا على الإمام أحمد رحمهُ الله تعالى وعلى غيرهِ مِنَ الحفَّاظ الذين أخرجوه…؟!!

“Sesungguhnya perkataan Al-Khathib rahimahullah dalam Tarikh Baghdad “Bahwasanya Ibnul-Bayyi’ cenderung kepada tasyayyu’” berdasarkan periwayatan Al-Hakim pada hadits Ath-Thair dan hadits “man kuntu maulahu fa ‘aliyyun maulahu” seperti yang beliau sebutkan dalam Tarikh Baghdad “maka para ashhabul-hadits mengingkarinya, tidak menoleh kepada perkataannya, dan tidak membenarkan perkataannya” sebagaimana beliau nukil dari Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad Al-Urmawiy.

Kita pun disini bertanya-tanya, apakah Al-Hakim satu-satunya yang meriwayatkan hadits Ath-Thair dan tidak didahului oleh para Huffazh selainnya sebagaimana telah lalu takhrijnya? Sungguh At-Tirmidziy telah meriwayatkan hadits Ath-Thair itu dalam Al-Manaqib (5/300) dan An-Nasa’iy sebagaimana dalam Khashaish pada hadits no. 10. Lalu mengapa Al-Hakim dituduh bertasyayyu’ karena periwayatannya dengan hadits Ath-Thair tersebut dan dibangkitkan berbagai syubhat mengenainya namun tidak kepada orang-orang yang mendahuluinya dari para Imam Huffazh?!!

Adapun hadits “man kuntu maulahu fa ‘aliyyun maulahu” adalah hadits shahih. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan selainnya sebagaimana telah lalu takhrijnya. Maka mengapa ashhabul-hadits mengingkarinya sebagaimana dikatakan “mereka tidak menoleh pada perkataannya dan tidak pula membenarkan perbuatannya” namun mereka tidak mengingkari Imam Ahmad rahimahullaahu Ta’aalaa dan selainnya dari kalangan Huffazh yang meriwayatkannya?!!” [Muqaddimah kitab Su’alat As-Sijziy lil-Hakim hal. 16].

Di samping itu, periwayatan Al-Hakim tentang keutamaan-keutamaan ‘Ali juga tidak bisa menjadi dasar penyifatan tasyayyu’ padanya karena sebaliknya beliau pun juga meriwayatkan keutamaan-keutamaan para Khalifah sebelum ‘Ali yang padanya terdapat pula hadits-hadits dha’if. Oleh karena itu Asy-Syaikh Al-Mu’allimiy berkata :

لا أرى الذنب للتشيُّع , فإنه يتساهل في فضائل بقية الصحابة , كالشيخين وغيرهما

“Aku tidak melihat dosa pada ketasyayyu’annya, karena dia bertasahul pada keutamaan-keutamaan shahabat lainnya (selain ‘Ali) seperti Syaikhain (Abu Bakr dan ‘Umar) dan selain keduanya.” [At-Tankil, 1/457].

Terdapat pula ulama lain yang menyifatinya bertasyayyu’, tetapi kami tidak mendapati apa yang menjadi alasan mereka dengan penyifatan tersebut seperti As-Suyuthi dalam Thabaqat Al-Huffazh (411) dan As-Sam’aniy dalam Al-Ansab (2/371). Namun apa yang telah kami paparkan dimulai dari pembahasan sebelumnya hingga kini merupakan alasan-alasan paling pokok yang menjadikan para ulama menyifatinya bertasyayyu’ sebagaimana penjelasan Asy-Syaikh Sa’d Al-Humaid dalam Manahij Al-Muhadditsin (hal. 180) sehingga bisa jadi yang tidak kami dapati alasannya juga beralasan sama. Adapun alasan selainnya jauh lebih tidak kuat daripada setiap alasan yang telah dipaparkan, semisal ada nukilan bahwa Al-Hakim berkata mengenai ‘Ali sebagai Washiy (lihat Al-Mizan), tetapi tidak ditemukan sanadnya hingga Al-Hakim, sedangkan yang sudah jelas-jelas nyata dalam kitab Al-Hakim sendiri beliau mengakui kepemimpinan para Khalifah sebelum ‘Ali dan berlepas diri dari ‘aqidah rafidhah.

Di samping itu, masyhur istilah tasyayyu’ pada era mutaqaddimin ditujukan kepada orang yang mendahulukan ‘Ali di atas ‘Utsman dengan tetap memuliakan dan menempatkan Abu Bakr dan ‘Umar di atas ‘Ali seperti yang dijelaskan Ibnu Hajar dalam At-Tahdzib (1/81) dan sebagaimana Ibnu Taimiyyah tatkala menjelaskan tasyayyu’ Al-Hakim sbb :

لكن تشيعه وتشيع أمثاله من أهل العلم بالحديث كالنسائي وابن عبد البر وأمثالهما لا يبلغ إلى تفضيله على أبي بكر وعمر فلا يعرف في علماء الحديث من يفضله عليهما بل غاية المتشيع منهم أن يفضله على عثمان

“Tetapi ketasyayyu’annya (Al-Hakim) dan ketasyayyu’an orang yang semisalnya dari para ‘Ulama Hadits seperti An-Nasa’iy, Ibnu ‘Abdil-Barr, dan yang semisal keduanya tidaklah sampai mengutamakan ‘Ali di atas Abu Bakr dan ‘Umar. Karena tidak diketahui pada ‘Ulama Hadits ada yang mengutamakan ‘Ali di atas keduanya. Bahkan orang yang paling bertasyayyu’ di antara mereka adalah yang mendahulukan ‘Ali di atas ‘Utsman.” [Minhajus-Sunnah, 7/373].

Tetapi sebagaimana yang kita lihat sebelumnya, yaitu bahkan Al-Hakim pun tidak sampai menempatkan ‘Ali di atas ‘Utsman, so?

Namun jika pun tetap dikatakan bertasyayyu’, maka jawaban paling adil atas ketasyayyu’annya bersamaan dengan semua point yang telah dijelaskan adalah hanya sedikit ketasyayyu’an pada diri Al-Hakim.

Syaikh Sa’d Al-Humaid berkata :

بل هو أحسن حالاً من كثير ممن نُسب إلى التشيع القليل من أهل السنة ، فإن أولئك كانوا يقدمون علياً على عثمان – رضي الله عنهما – ، وأما الحاكم فإنه قدم عثمان على علي ، فذكر أولاً فضائل أبي بكر ثم عمر ثم عثمان ثم علي – رضوان الله عليهم أجمعين – .

“Bahkan keadaan dia (Al-Hakim) adalah yang paling baik dari kebanyakan orang yang disandarkan kepada tasyayyu’ yang sedikit dari kalangan Ahlus Sunnah. Karena mereka mendahulukan ‘Ali di atas ‘Utsman radhiyallaahu ‘anhumaa. Adapun Al-Hakim, sesungguhnya beliau mendahulukan ‘Utsman di atas ‘Ali. Pertama beliau menyebutkan keutamaan-keutamaan Abu Bakr, kemudian ‘Umar, berlanjut ‘Utsman, baru kemudian ‘Ali ridhwaanullaahi ‘alaihim ajma’iin.” [Manahij Al-Muhadditsin, hal. 182].

Adz-Dzahabiy berkata :

وكان من بحور العلم على تشيُّعٍ قليلٍ فيه

Dan dia (Al-Hakim) termasuk dari lautan ‘ilmu dengan sedikit tasyayyu’ pada dirinya.” [Siyar A’lam An-Nubala, 17/165]

As-Subki berkata :

أن الرجل كان عنده ميل إلى علي رضي الله عنه يزيد على الميل الذي يطلب شرعاً، ولا أقول إنه ينتهي به إلى أن يضع من أبي بكر وعمر وعثمان رضي الله عنهم، ولا إنه يفضل عليًّا على الشيخين، بل أستبعد أن يفضله على عثمان رضي الله عنهما، فإني رأيته في كتابه ” الأربعين ” عقد باباً لتفضيل أبي بكر وعمر وعثمان، واختصّهم من بين الصحابة، وقدَّم في المستدرك ذكر عثمان على علي رضي الله عنهما

“Sesungguhnya orang ini (Al-Hakim) padanya terdapat kecenderungan kepada ‘Ali radhiyallaahu ‘anhu melebihi kencendrungan yang diperintahkan oleh Syari’at. Aku tidak mengatakan bahwa dengan kecenderungannya tersebut dia sampai merendahkan Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman radhiyallaahu ‘anhum. Tidak pula dia mengutamakan ‘Ali di atas Syaikhain (Abu Bakr dan ‘Umar). Bahkan dia menjauhkan diri/menghindari untuk mengutamakan ‘Ali di atas ‘Utsman radhiyallaahu ‘anhumaa. Karena aku melihat di dalam kitabnya “Al-Arba’in” dia membuat satu bab untuk pengutamaan Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsman, serta mengkhususkan mereka diantara para shahabat lainnya. Dan di dalam Mustadraknya, dia pun mendahulukan penyebutan ‘Utsman di atas ‘Ali radhiyallaahu ‘anhumaa.” [Thabaqat Asy-Syafi’iyyah, 4/167].

Wallaahu A’lam.


– Jaser Leonheart –

http://www.jarh-mufassar.net/2014/10/benarkah-imam-al-hakim-seorang-syiah.html/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s