Benarkah Imam Al Hakim Seorang Syi’ah ? (2/3)


Tulisan berikut merupakan kelanjutan dari pembahasan sebelumnya perihal Al-Hakim dan tuduhan sebagai rafidhiy kepadanya. Telah terbukti bahwa hal tersebut sama sekali tidak benar karena Al-Hakim sendiri berlepas diri dari ‘aqidah rafidhah dan para pemeluknya. Meski demikian, beliau masih dikatakan sebatas bertasyayyu’ oleh Adz-Dzahabiy. Benarkah demikian?

Maka perlu dilihat dasar Adz-Dzahabiy menyifati demikian, kemudian ditimbang apakah hujjah yang menjadi dasar penyifatan beliau tersebut kuat atau justru lemah. Hal tersebut diketahui tatkala beliau mengomentari perkataan Ibnu Thahir (murid Al-Anshariy pada pembahasan sebelumnya) berikut :

قال ابن طاهر : كان شديد التعصب للشيعة في الباطن ، وكان يظهر التسنن في التقديم والخلافة ، وكان منحرفا غاليا عن معاوية – رضي الله عنه – وعن أهل بيته ، يتظاهر بذلك ، ولا يعتذر منه.  فسمعت أبا الفتح سمكويه بهراة ، سمعت عبد الواحد المليحي ، سمعت أبا عبد الرحمن السلمي يقول : دخلت على الحاكم وهو في داره ، لا يمكنه الخروج إلى المسجد من أصحاب أبي عبد الله بن كرام وذلك أنهم كسروا منبره ، ومنعوه من الخروج ، فقلت له : لو خرجت وأمليت في فضائل هذا الرجل حديثا ، لاسترحت من المحنة ، فقال : لا يجيء من قلبي ، لا يجيء من قلبي 

“Ibnu Thahir berkata; “Bahwasanya (Al-Hakim) kuat fanatiknya kepada Syi’ah dalam bathinnya yang menampakkan tasannun (ke-sunni-an) dalam hal taqdim (pendahuluan shahabat paling utama) dan khilafah. Dia adalah orang yang amat berpaling (menjauh) dari Mu’awiyyah dan keluarganya. Ia memperlihatkan hal itu dan tidak mengemukakan alasannya. Karena aku (Ibnu Thahir) mendengar Abul-Fath Samkawayh di Harah berkata, aku mendengar ‘Abdul-Wahid Al-Malihiy berkata, aku mendengar Abu ‘Abdirrahman As-Sulamiy berkata; “Aku masuk menemui Abu ‘Abdillah Al-Hakim, dan beliau berada di rumahnya. Beliau tidak dapat keluar menuju Masjid dari ashhaab Abu ‘Abdillah bin Karram. Mereka merusak mimbar beliau dan mencegah beliau keluar, maka aku berkata kepada beliau; “Seandainya engkau mendiktekan suatu hadits tentang keutamaan orang ini tentu engkau akan dapat istirahat/bebas dari ujian ini. Namun beliau berkata; “Itu tidak datang dari hatiku, tidak datang dari hatiku.” [Siyar A’lam An-Nubala, 17/174-175. Perkataan “orang ini” yang dimaksud adalah Mu’awiyyah sebagaimana dalam Al-Bidayah Wa An-Nihayah, 15/561-562].

Kita simpulkan dulu 2 point perkataan Ibnu Thahir di atas :

  • Pertama; Al-Hakim seolah-olah berpura-pura Sunniy yang secara zhahir menampakkan sikap taqdim (mendahulukan Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsman di atas ‘Ali), tetapi bathinnya berkata lain yaitu sangat fanatik terhadap Syi’ah.
  • Kedua; Al-Hakim berpaling dari Mu’awiyyah. Alasannya dikarenakan penolakan Al-Hakim ketika diminta untuk mendiktekan suatu hadits tentang keutamaan Mu’awiyyah dengan mengatakan “Itu tidak datang dari hatiku” sebagaimana kita sama sekali tidak mendapati adanya manaqib Mu’awiyyah yang memuat keutamaan-keutamaan Mu’awiyyah dalam Mustadrak Al-Hakim.

Dalam Tadzkiratul-Huffazh pada konteks yang sama, Adz-Dzahabiy menanggapinya dengan menegaskan :

قلت اما انحرافه عن خصوم على فظاهر، وأما امر الشيخين فمعظم لهما بكل حال فهو شيعي لا رافضي، وليته لم يصنف المستدرك فانه غض من فضائله بسوء تصرفه

“Aku (Adz-Dzahabiy) berkata; “Adapun sikap berpalingnya dari lawan-lawan (yang memerangi) ‘Ali maka itu jelas. Sedangkan mengenai Syaikhain (Abu Bakr dan ‘Umar) maka dia adalah orang yang mengagungkan keduanya di setiap keadaan. Jadi, dia adalah Syi’iy, bukan rafidhiy. Andai saja dia (Al-Hakim) tidak menyusun Mustadraknya, karena dia mengabaikan keutamaan-keutamaannya (Mu’awiyyah) dengan perlakuan yang buruk.” [Tadzkiratul-Huffazh, 3/166].

Jadi Adz-Dzahabiy membantah point pertama dengan mengatakan bahwa Al-Hakim benar dalam mengagungkan Syaikhain dalam setiap keadaan sebagaimana jelas sebelumnya sikap Al-Hakim yang mendahulukan Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman di atas ‘Ali dalam Mustadraknya. Sangat berlebihan jika itu dinilai sebagai sikap pura-pura dengan mengatakan bathinnya Al-Hakim fanatik kepada Syi’ah. Jelas perkataan Ibnu Thahir tersebut tertolak. Siapakah yang mengetahui urusan hati selain Allah? Oleh karenanya selain Adz-Dzahabiy, As-Subki juga berkata :

وأما قول من قَالَ : إنه رافضي خبيث ، ومن قَالَ : إنه شديد التعصب للشيعة. فلا يعبأ بهما

“Adapun yang mengatakan; “bahwa dia (Al-Hakim) rafidhiy khabits”, dan yang mengatakan; “bahwa dia (Al-Hakim) kuat fanatiknya kepada Syi’ah” maka jangan pedulikan perkataan keduanya.” [Thabaqat Asy-Syafi’iyyah, 4/167-168]

Namun Adz-Dzahabiy tidak membantah point kedua, yaitu pernyataan Ibnu Thahir bahwa Al-Hakim berpaling dari Mu’awiyyah dengan dasar yang sama yaitu tidak adanya manaqib Mu’awiyyah dalam Mustadraknya. Jadi karena hanya permasalahan Al-Hakim berpaling dari Mu’awiyyah (tapi tidak karena permasalahan taqdim) maka Adz-Dzahabiy menyimpulkan bahwa Al-Hakim bertasyayyu’ namun tidak sampai rafidhiy.

Menimbang Penyifatan Tasyayyu’ oleh Adz-Dzahabiy

Sebagaimana terlihat, penyifatan tasyayyu’ oleh Adz-Dzahabiy didasari asumsi terhadap sikap Al-Hakim yang tidak memuat manaqib Mu’awiyyah dalam Mustadraknya yang kemudian diartikan sebagai bentuk berpalingnya Al-Hakim dari Mu’awiyyah.

Perlu diketahui bahwa tidak ada penjelasan dari Al-Hakim sendiri perihal tidak adanya manaqib Mu’awiyyah dalam Mustadraknya, sehingga tidak begitu saja dapat diartikan sebagai bentuk berpaling Al-Hakim dari Mu’awiyyah. Sebab bisa saja itu petanda Al-Hakim tidak mendapati adanya hadits shahih tentang keutamaan Mu’awiyyah, bukan berarti Al-Hakim berpaling darinya.

Jadi kita hanya dapat berasumsi. Dan untuk mengetahui asumsi mana yang paling mendekati benar dan mana yang lemah, maka perlu dilihat alasan yang menjadi dasar setiap asumsi yang ada.

Dan mafhum dari perkataan Adz-Dzahabiy mengartikannya sebagai bentuk berpaling Al-Hakim dari Mu’awiyyah adalah dikarenakan Mu’awiyyah memerangi ‘Ali. Namun alasan tersebut cacat karena pada kenyataannya Al-Hakim sendiri memasukkan manaqib para shahabat yang memerangi ‘Ali semisal Thalhah, Az-Zubair, dan ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anhum seperti berikut :

ذكر مناقب حواري رسول الله صلى الله عليه وسلم وابن عمته الزبير بن العوام

“Penyebutan Manaqib Hawariy (Pengikut Setia) Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan putra bibi beliau, yaitu Az-Zubair bin Al-‘Awwam.” [Al-Mustadrak, 3/405]

ذكر مناقب طلحة بن عبيد الله التيمي رضي الله عنه

“Penyebutan Manaqib Thalhah bin ‘Ubaidillah At-Taimiy radhiyallaahu ‘anhu.” [Al-Mustadrak, 3/415]

ذكر الصحابيات من أزواج رسول الله صلى الله عليه و سلم و غيرهن رضي الله تعالى عنهن فأول من نبدأ بهن الصديقة بنت الصديق عائشة بنت أبي بكر رضي الله عنهما

“Penyebutan shahaabiyyaat (shahabat-shahabat dari kalangan wanita) dari istri-istri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan selain mereka radhiyallaahu Ta’aalaa ‘anhunna. Pertama-tama yang akan kami mulai dengan (penyebutan) mereka adalah Ash-Shiddiqah binti Ash-Shiddiq ‘Aisyah binti Abi Bakr radhiyallaahu ‘anhumaa.” [Al-Mustadrak, 4/5].

Maka apakah masuk akal bahwa Al-Hakim tidak menyebutkan manaqib Mu’awiyyah karena Al-Hakim berpaling darinya yang disebabkan Mu’awiyyah memerangi ‘Ali sementara selain Mu’awiyyah yang juga memerangi ‘Ali justru disebutkan manaqibnya oleh beliau sendiri dengan pemuliaan seperti di atas? Jika memang beliau berpaling dari Mu’awiyyah karena Mu’awiyyah memerangi ‘Ali, tentu beliau tidak akan menyebutkan semua manaqib para shahabat yang memerangi ‘Ali.

Jadi tentu ada alasan lain bagi Al-Hakim dengan tidak disebutkannya manaqib Mu’awiyyah yang alasan tersebut sangat kuat bisa jadi dikarenakan beliau tidak mendapati hadits shahih di sisi beliau yang menunjukkan keutamaannya seperti halnya sikap An-Nasa’iy terhadap riwayat keutamaan Mu’awiyyah. Bukan berarti Al-Hakim berpaling dari Mu’awiyyah.

Hal itu diperkuat dengan bukti lain bahwa meski Al-Hakim tidak ada periwayatan tentang keutamaan Mu’awiyyah dalam kitab Manaqibnya, namun beliau tetap mengeluarkan hadits Mu’awiyyah seraya menshahihkannya pada bab lain dalam Mustadraknya yang diantaranya seperti berikut :

حَدَّثَنِي عَلِيُّ بْنُ حَمْشَاذٍ الْعَدْلُ، ثنا بِشْرُ بْنُ مُوسَى، ثنا الْحُمَيْدِيُّ، ثنا سُفْيَانُ، ثنا عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ، قَالَ سَمِعْتُ وَهْبَ بْنَ مُنَبِّهٍ، فِي دَارِهِ بِصَنْعَاءَ وَأَطْعَمَنِي خَزِيرَةً فِي دَارِهِ، يُحَدِّثُ عَنْ أَخِيهِ، عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا تُلْحِفُوا فِي الْمَسْأَلَةِ، فَوَاللَّهِ لَا يَسْأَلُنِي أَحَدٌ مِنْكُمْ شَيْئًا، فَتُخْرِجُهُ لَهُ مِنِّي الْمَسْأَلَةُ، فَأُعْطِيهِ إِيَّاهُ، وَأَنَا كَارِهٌ، فَيُبَارَكُ لَهُ فِي الَّذِي أُعْطِيهِ» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ بِهَذِهِ السِّيَاقَةِ

“….(sanad hingga sampai)… dari Mu’awiyyah bin Abi Sufyan radhiyallaahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda…..(hingga akhir hadits). (Lalu al-Hakim berkata) “Ini adalah hadits shahih berdasarkan syarat Syaikhain (Bukhari dan Muslim) tetapi keduanya tidak mengeluarkannya dengan siyaq ini.” [Al-Mustadrak, 2/71 no. 2364]

حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ الْحَافِظُ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ، أَنْبَأَ يَعْلَى بْنُ عُبَيْدٍ، ثنا طَلْحَةُ بْنُ يَحْيَى، عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ، عَنْ مُعَاوِيَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ فِي جَسَدِهِ يُؤْذِيهِ إِلَّا كَفَّرَ عَنْهُ مِنْ سَيِّئَاتِهِ» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ

“…(sanad hingga sampai)…dari Ibnu Buraidah, dari Mu’awiyyah yang berkata, aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda…(hingga akhir hadits). (Lalu Al-Hakim berkata) “Ini adalah hadits shahih berdasarkan syarat Syaikhain (Al-Bukhariy dan Muslim) namun keduanya tidak mengeluarkannya.” [Al-Mustadrak, 1/498] [1].

حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثَنَا بَكَّارُ بْنُ قُتَيْبَةَ الْقَاضِي، ثَنَا صَفْوَانُ بْنُ عِيسَى، ثَنَا ثَوْرُ بْنُ يَزِيدَ، عَنْ أَبِي عَوْنٍ، عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيِّ، قَالَ: سَمِعْتُ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ، وَكَانَ قَلِيلَ الْحَدِيثِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كُلُّ ذَنْبٍ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَغْفِرَهُ إِلَّا رَجُلٌ يَمُوتُ كَافِرًا أَوِ الرَّجُلُ يَقْتُلُ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ “

“…dari Abu Idris Al-Khaulaniy yang berkata, aku mendengar Mu’awiyyah bin Abi Sufyan berkata –beliau sedikit periwayatan haditsnya dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam– berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda…(hingga akhir hadits). (Lalu Al-Hakim berkata) “Ini adalah hadits yang shahih sanadnya, namun tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhariy dan Muslim.” [Al-Mustadrak, 4/391]

فَحَدَّثْنَاهُ الْحَسَنُ بْنُ يَعْقُوبَ، الْعَدْلُ ثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي طَالِبٍ، ثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ عَطَاءٍ، أَنْبَأَ سَعِيدٌ عَنْ عَاصِمِ بْنِ بَهْدَلَةَ، عَنْ ذَكْوَانَ أَبِي صَالِحٍ وَأَثْنَى عَلَيْهِ خَيْرًا عَنْ مُعَاوِيَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنْ شَرِبُوا الْخَمْرَ فَاجْلِدُوهُمْ، ثُمَّ إِنْ شَرِبُوا فَاجْلِدُوهُمْ، ثُمَّ إِنْ شَرِبُوا فَاجْلِدُوهُمْ، ثُمَّ إِنْ شَرِبُوا الرَّابِعَةَ فَاقْتُلُوهُمْ»

“…dari Dzakwan Abu Shalih, dari Mu’awiyyah radhiyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda…(hingga akhir hadits).” [Al-Mustadrak, 4/413] [2].

Maka runtuhlah asumsi yang mengatakan bahwa Al-Hakim berpaling dari Mu’awiyyah dengan alasan apa pun, entah itu karena Mu’awiyyah memerangi ‘Ali atau alasan lainnya (jika ada). Sebab apabila Mu’awiyyah majruh (tercela) di sisi Al-Hakim dan tidak ‘adil sebagai shahabat sehingga Al-Hakim berpaling darinya, tentu Al-Hakim tidak akan mengeluarkan hadits Mu’awiyyah dalam Mustadraknya, apa lagi sampai demikian tashrih menshahihkannya.

Walhasil di sisi kami, selain tidak tepat dikatakan bahwa Al-Hakim seorang rafidhiy, tidak tepat pula penyifatan tasyayyu’ oleh Adz-Dzahabiy kepada beliau. Karena penyifatan tasyayyu’ tersebut didasari kesimpulan yang tidak tepat atas suatu sikap Al-Hakim yang diasumsikan sebagai sikap berpaling Al-Hakim dari Mu’awiyyah.

Wallaahu A’lam.

Simak juga pembahasan terakhir pada bagian ketiga.

– Jaser Leonheart –


  1. Terlihat pada sanad tersebut tertulis hanya dengan nama Mu’awiyyah, tetapi yang dimaksud tetaplah Mu’awiyyah bin Abi Sufyan sebagaimana yang meriwayatkan darinya adalah (‘Abdullah) Ibnu Buraidah, seorang yang tsiqah dari kalangan tabi’in dimana Mu’awiyyah bin Abi Sufyan merupakan salah satu syaikhnya. [Lihat; Tahdzibul-Kamal no. 4740]
  2. Mu’awiyyah pada sanad tersebut adalah Mu’awiyyah bin Abi Sufyan sebagaimana yang meriwayatkan darinya adalah Dzakwan seorang yang tsiqah tsabit dari kalangan tabi’in dimana Mu’awiyyah bin Abi Sufyan merupakan salah satu syaikhnya. [Lihat; Tahdzibul-Kamal no. 2840].

http://www.jarh-mufassar.net/2014/08/benarkah-imam-al-hakim-seorang-syiah.html/

Iklan

2 responses to “Benarkah Imam Al Hakim Seorang Syi’ah ? (2/3)

  1. Ping balik: Benarkah Imam Al Hakim Seorang Syi’ah ? (3/3) | Abu Zahra Hanifa

  2. Ping balik: Benarkah Imam Al Hakim Seorang Syi’ah ? (1/3) | Abu Zahra Hanifa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s