Imam Ahmad bin Hanbal & Tawasul Dengan Perantara Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam


Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah menukil perkataan Ahmad bin Hanbal rahimahumallah:

وسل الله حاجتك متوسلا اليه بنبيه ( صلى الله عليه وسلم ) تقض من الله عز وجل

“Dan mohonlah hajatmu kepada Allah dengan bertawassul melalui perantaraan Nabi-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam, niscaya Allah ‘azza wa jalla akan memenuhinya” [Ar-Radd ‘alal-Akhnaa’iy, hal. 168; Al-Mathba’ah As-Salafiyyah, Kairo].

Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahullah berkata :

قولهم في الاستسقاء: لا بأس بالتوسل بالصالحين، وقول أحمد: يتوسل بالنبي صلى الله عليه وسلم خاصة، مع قولهم: إنه لا يستغاث بمخلوق

“Dan perkataan mereka tentang al-istisqaa’ : Tidak mengapa bertawassul dengan (perantaraan) orang-orang shalih. Dan perkataan Ahmad (bin Hanbal) : Bertawassul hanya diperbolehkan dengan (perantaraan) Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam saja – bersamaan dengan perkataan mereka : Tidak boleh beristighatsah dengan makhluk” [Fataawaa wa Masaail, hal. 68; Terbitan Universitas Muhammad bin Su’uud].

Asy-Syaikh Al-Albaaniy rahimahullah berkata :

فأجاز الإمام أحمد التوسل بالرسول صلى الله عليه وسلم وحده فقط وأجاز غيره كالإمام الشوكاني التوسل به وبغيره من الأنبياء والصالحين

“Al-Imaam Ahmad membolehkan bertawassul dengan (perantaraan) Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam saja. Ada pula yang membolehkan dengan selainnya, seperti Al-Imaam Asy-Syaukaaniy dimana tawassul boleh dilakukan dengan (perantaraan) beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan yang lainnya dari kalangan para nabi dan orang-orang shaalih” [At-Tawassul, hal. 42; Maktabah Al-Ma’aarif, Cet. 1/1421 H].

Pendapat ini memang shahih ternukil dari Ahmad, dan beredar menjadi pendapat madzhab (Hanaabilah) sebagaimana ditegaskan beberapa ulama mereka.

Al-Mardawiy rahimahullah berkata :

يجوز التوسل بالرجل الصالح على الصحيح من المذهب، وقيل يُستحب. قال الإمام أحمد للمروذي: يتوسل بالنبي صلى الله عليه وسلم في دعائه

“Dan diperbolehkan bertawassul dengan (perantaraan) laki-laki yang shaalih berdasarkan pendapat madzhab yang shahih. Dan dikatakan : Disunnahkan. Al-Imaam Ahmad pernah berkata kepada Al-Marwadziy : ‘Hendaknya seseorang bertawassul dengan (perantaraan) Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam doanya” [Al-Inshaaf, 2/456, tahqiq : Muhammad Haamid Al-Faqiy; Cet. 1/1374 H].

Ibnu Qudaamah rahimahullah berkata :

وإذا كانت لك حاجة إلى الله تعالى تريد طلبها منه فتوضأ ، فأحسن وضوءك ، واركع ركعتين ، وأثن على الله عز وجل ، وصلَ على النبي صلى الله عليه وسلم ، ثم قل : لا إِلَهَ إِلاَّ الله الحَلِيمُ الكَريمُ، سُبحَانَ رَبِّ العَرشِ العَظيمِ الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِينِ، أَسأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحمَتِكَ وَعَزَائمَ مَغفِرَتِكَ وَالغَنيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، وَالسَّلامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، لا تَدَعْ لي ذَنباً إِلاَّ غَفَرْتَهْ وَلا هَمَّاً إِلاَّ فَرَّجْتَهْ، وَلا حَاجةً هِيَ لَكَ رِضاً إِلاَّ قَضَيتَهَا يَا أَرحَمَ الرَّاحمين

وإن قلت : اللهم إني أسألك وأتوجه إليك بنبيك محمد صلى الله عليه وسلم نبي الرحمة يا محمد إني أتوجه بك إلى ربي فيقضي لي حاجتي،وتذكر حاجتك

“Apabila engkau mempunyai hajat yang hendak engkau minta kepada Allah ta’ala (agar dipenuhi), maka hendaknya engkau wudlulah dan perbaguskanlah wudlumu itu. Shalat lah dua raka’at, pujilah Allah ‘azza wa jalla, dan bershalawatlah kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ucapkanlah : ‘Laa ilaaha illallaahul-haliimul-kariim, subhaana rabbil-‘arsyil-‘adhiim, alhamdulillahi rabbil-‘aalamiin, as-aluka muujibaati rahmatika wa ‘azaaima maghfiratika wal-ghaniimata min kulli birr, was-salaamata min kulli itsm, laa tada’ lii dzanban illaa ghafartahu, wa laa hamman illaa farrajtahu, wa laa haajatan hiya laka ridlan illaa qadlaitahaa yaa arhamar-raahimiin’.

Dan jika engkau ucapkan : ‘Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu dengan perantaraan Nabi-Mu shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Nabi rahmat. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku menghadap kepada Rabbku dengan perantaraan dirimu, agar Allah memenuhi hajatku’ – dan engkau sebut hajatmu itu….” [Washiyyatu Al-Imaam Ibni Qudaamah Al-Maqdisiy, hal. 92, tahqiq : Muhammad Unais].

Akan tetapi, kita perlu sedikit kritis dalam mencermati perkataan Al-Imaam Ahmad rahimahullah, terutama pada kalimat يتوسل بالنبي (bertawasul dengan perantaraan Nabi). Karena, pendapat yang beredar di dalam madzhab (Hanaabilah), tidak bisa tidak, berpangkal dari pendapat yang ternukil dari beliau (Ahmad bin Hanbal rahimahullah).

Kalimat tersebut sifatnya mujmal, karena beliau sendiri – sependek pengetahuan saya – tidak menyebutkan bentuk kalimat tawassul-nya.

Terkait dengan hal ini, Al-Mardawiy menukil perkataan lain dari madzhab Hanaabilah :

وجعله الشيخ تقي الدين كمسألة اليمين به قال : والتوسل بالإيمان به وطاعته ومحبته والصلاة والسلام عليه ، وبدعائه وشفاعته ، ونحوه مما هو من فعله أو أفعال العباد المأمور بها في حقه : مشروع إجماعا ، وهو من الوسيلة المأمور بها في قوله تعالى اتقوا الله وابتغوا إليه الوسيلة. وَقَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَغَيْرُهُ مِنْ الْعُلَمَاءِ : فِي قَوْلِهِ عَلَيْهِ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ { أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ } الِاسْتِعَاذَةُ لَا تَكُونُ بِمَخْلُوقٍ

“Asy-Syaikh Taqiyyuddiin menjadikan permasalahan itu seperti permasalahan bersumpah dengannya (Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam). Ia berkata : ‘Dan tawassul dengan keimanan kepadanya, ketaatan kepadanya, dan kecintaan kepadanya – wash-shalaatu was-salaamu ‘alaihi -. Dan juga bertawassul dengan doanya, syafa’atnya, dan yang semisalnya dari macam perbuatan yang dilakukannya (orang yang bertawassul) atau perbuatan-perbuatan hamba yang diperintahkan (Allah) untuk dilakukan dalam hak beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Maka hal itu disyari’atkan berdasarkan ijmaa’. Hal itu merupakan wasiilah yang diperintahkan, sebagaimana terdapat dalam firman Allah ta’ala : ‘Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (wasiilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya’ (QS. Al-Maaidah : 35). Ahmad dan yang lainnya dari kalangan ulama berkata tentang sabda beliau ‘alaihi afdlalush-shalaati was-salaam : A’uudzu bikalimaatillaahi at-taammaati min syarri maa khalaq (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya) : ‘Isti’adzaah (doa meminta perlindungan) tidak boleh dilakukan dengan (perantaraan) makhluk” [Al-Inshaaf, 2/456].

Perkataan itu juga dinukil Ibnu Mufliih dalam Al-Furuu’ 2/127. Dhahir perkataan ini mengindikasikan bahwa berdoa kepada Allah tidak boleh dilakukan bertawassul dengan perantaraan makhluk, dan isti’aadzah sendiri merupakan doa.

Perkataan di atas merupakan hal yang lebih terang untuk menjelaskan maksud perkataan Al-Imaam Ahmad di awal tentang bolehnya bertawassul dengan perantaraan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Tawassul dimaksud, bukanlah tawassul dengan perantaraan diri (dzat atau kemuliaan) Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi bertawassul dengan amalan-amalan kita yang terkait dengan pemenuhan hak beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hal keimanan, kecintaan, ketaatan, dan yang semisalnya kepada beliau.

Wallaahu a’lam.

Semoga yang sedikit ini ada manfaatnya.

[abul-jauzaa’ – ciper, ciapus, ciomas, bogor – diedit tanggal 05-11-2014].

Kalimat/paragraf yang dikoreksi (lihat bagian komentar):


http://abul-jauzaa.blogspot.com/2012/02/ahmad-bin-hanbal-dan-tawassul-dengan.html/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s