Semangat Masa Muda, Antara Kita & Imam Ahmad bin Hanbal


بسم الله الرحمن الرحيم

أنا أطلب العلم إلى أن أدخل القبر

“Aku akan menuntut ilmu hingga aku dimasukkan ke dalam kubur.” (Al-Imam Ahmad bin Hanbal).

Membuka lembaran-lembaran kisah para ulama memang takkan pernah membuat kita bosan. Bahkan itu menjadi obat ketika kita sedang dilanda penyakit malas. Dan inilah sedikit di antara kisah-kisah indah seorang ulama besar di zamannya ketika masih muda. Beliau tumbuh sebagai seorang anak yatim namun memiliki semangat yang amat tinggi dalam menuntut ilmu.

Beliau pernah menuturkan,

كنت ربما أردت البكور في طلب الحديث، فتأخذ أمي بثيابي وتقول: حتى يؤذن الناس أو حتى يصبحوا

“Terkadang aku ingin berangkat lebih awal untuk mencari hadits, namun ibuku menarik bajuku dan berkata, ‘Tunggu hingga orang-orang adzan, atau sampai mereka bangun pagi.'”

Bandingkan dengan kita, pada waktu seperti itu kita masih terlelap tidur dan terbuai oleh mimpi. Bahkan untuk sekedar bangun shalat Shubuh pun mata terlalu berat untuk terbuka, bantal terlalu nyaman untuk ditinggalkan, dan udara begitu dingin di luar rumah.

Ibnul Jauzi menukilkan,

وكان وكيع بن الجراح إذا صلى العشاء ينصرف معه أحمد بن حنبل، فيقف على الباب فيتذاكران الحديث، فما يزالان يتذاكران حتى تأتي الجارية وتقول: قد طلع الكوكب

“Jika Waki bin Al-Jarrah selesai shalat Isya, Ahmad bin Hanbal akan pergi bersamanya. Dia berdiri di pintu, lalu keduanya mempelajari hadits bersama. Keduanya terus belajar hadits bersama sampai datang budak perempuan dan berkata, ‘Bintang sudah terbit.’

Dari Ibnu Abi Hatim, beliau berkata,

حضر قتيبة بن سعيد بغداد، وقد جاءه أحمد بن حنبل، فسأله عن أحاديث فمازالا حتى الصبح

“Qutaibah bin Sa’id datang ke Baghdad. Datanglah Ahmad bin Hanbal menemuinya. Dia bertanya-tanya hadits tentangnya. Mereka terus seperti itu hingga datang waktu pagi.

Beliau pun waktu masih muda sudah melakukan perjalanan jauh keluar dari negerinya untuk mencari ilmu. Beliau mengisahkan,

رحلت في طلب العلم والسنة إلى الثـغور، والشامات، والسواحل، والمغرب، والجزائر، ومكة، والمـدينة، والحجاز، واليمن، والعراقيين جميعاً، وفارس، وخراسان، والجبال، والأطراف، ثم عدت إلى بغداد.

وخرجت إلى الكوفة، فكنت في بيت تحت رأسي لبنة‍‍‍! فحممت! فرجعت إلى أمي رحمها الله ولم أكن استأذنتها، ولو كان عندي تسعون درهماً كنت رحلت إلى جرير بن عبد الحميد إلى الري، وخرج بعض أصحابنا ولم يمكني الخروج، لأنه لم يكن عندي شيء

“Aku bepergian untuk mencari ilmu dan sunnah sampai ke daerah-daerah perbatasan, negeri-negeri di Syam, daerah-daerah pantai, daerah Maghrib, Aljazair, Makkah, Madinah, Hijaz, Yaman, seluruh negeri di Irak, Persia, Khurasan, gunung-gunung, dan di berbagai penjuru dunia. Kemudian aku kembali ke Baghdad.

Kemudian aku pergi ke Kufah. Lalu aku kembali ke rumah dan di bawah kepalaku ada batu bata! Aku pun terkena demam! Lalu aku pulang ke ibuku rahimahallah dan aku tidak meminta izin kepada beliau. Seandainya aku memiliki 90 dirham maka aku akan pergi ke tempat Jarir bin Abdil Hamid di Ray (sebuah kota di Iran). Sebagian teman-teman kami pergi keluar dan tidak mungkin bagiku untuk pergi karena tidak ada sesuatupun yang ada padaku.”

Beliau telah mencari hadits ketika berusia 16 tahun (beliau lahir pada tahun 164 H) dan keluar dari Baghdad ke Kufah pada tahun 183 H yang itu merupakan safar pertama kali beliau. Beliau pergi ke Bashrah pada tahun 186 H. Pergi ke tempat Sufyan bin Uyainah di Qullah pada tahun 187 H dan itu merupakan tahun pertama beliau menunaikan ibadah haji. Beliau keluar ke tempat Abdurrazaq di Shan’a pada tahun 197 H menempuh perjalanan bersama Yahya bin Ma’in.

Sekarang mari kita lihat kepada diri sendiri dan bandingkan dengan beliau. Jauh?

Tentu saja. Berapa tetes keringat yang telah mengucur sepanjang tahun saat kita belajar agama? Sudah pernahkah kita melakukan perjalanan jauh untuk mencari hadits dan tafsir ayat? Sudah berapa ulama yang kita datangi? Apakah kita tidak merasa malu ketika sudah mengikrarkan diri untuk mengikuti jalannya para ulama salaf tapi ternyata itu hanya sekedar pengakuan saja tanpa betul-betul meneladani mereka.

Ini baru dari sisi semangatnya dalam mencari ilmu, belum dari sisi semangat dalam ibadahnya, bagusnya adab, mulianya akhlak, pengamalan terhadap ilmu, dan lain sebagainya. Memang sangat sulit kita bisa melakukan hal seperti beliau, tapi setidaknya apabila kita tidak bisa mengerjakan seluruhnya maka jangan tinggalkan seluruhnya. Karena hanya orang-orang -maaf- bodohlah yang merasa minder dan patah semangat sehingga menghalanginya untuk mencari ilmu. Beliau pernah berkata,

لا يثبط عن طلب العلم إلا جاهل

“Tidak akan patah semangat untuk mencari ilmu kecuali orang yang bodoh.”

Sebagai bentuk pemuliaan terhadap ilmu, beliau tidak pernah tenggelam dalam pembicaraan yang tidak ada kaitannya dengan ilmu. Abu Dawud As-Sijistani berkata,

لم يكن أحمد بن حنبل يخوض في شيء يخوض فيه الناس من أمر الدنيا، فإذا ذكر العلم تكلم

Belum pernah Ahmad bin Hanbal tenggelam di dalam urusan dunia yang manusia tenggelam di dalamnya. Jika disebutkan ilmu, barulah dia berbicara.”

Beliau juga pernah mengatakan,

الناس إلى العلم أحوج منهم إلى الطعام والشـراب؛ وذلك لأن الـرجل قد يحتاج إلى الطعام والشراب مرة أو مرتين، أما حاجته للعلم فهي بعدد أنفاسه

“Manusia lebih butuh kepada ilmu daripada makanan. Karena seseorang terkadang butuh kepada makanan dan minuman sekali atau dua kali saja. Adapun kebutuhannya kepada ilmu, maka seperti jumlah nafasnya.”

Bahkan ketika beliau sudah tua dan mendapatkan kedudukan sebagai imam kaum muslimin. Beliau tetap tersibukkan dengan mencatat ilmu. Putra beliau, Shalih bin Ahmad bin Hanbal menuturkan,

رأى رجل مع أبي محبرة، فقال له: يا أبا عبد الله، أنت قد بلغت هذا المبلغ، وأنت إمام المسلمين! ـ يعني: ومعك المحبرة تحملها؟! ـ فقال: مع المحبرة، إلى المقبرة

“Seseorang melihat ayahku membawa tempat tinta. Maka dia bertanya, ‘Wahai Abu Abdillah, anda sudah mencapai kedudukan seperti ini dan anda adalah seorang imam bagi kaum muslimin! Tetapi anda masih membawa tempat tinta?! Maka ayahku menjawab, ‘Bersama tempat tinta sampai kuburan.'”

Muhammad bin Isma’il Ash-Shaigh mengisahkan ketika dirinya melihat Al-Imam Ahmad berlari dari satu majelis ke majelis lainnya,

كنت في إحدى سفراتي ببغداد، فمر بنا أحمد بن حنبل وهو يعدو، ونعلاه في يده، فأخذ أبي هكذا بمجامع ثوبه، فقال: يا أبا عبد الله، ألا تستحي؟ إلى متى تعدو من هؤلاء الصبيان؟! قال: إلى الموت

“Dalam suatu perjalananku di Baghdad. Ahmad bin Hanbal melewati kami dengan bergegas-gegas dan menenteng kedua sandal di tangannya. Maka ayahku mengambil lipatan bajunya seperti ini dan berkata, ‘Wahai Abu Abdillah, apa anda tidak malu? Sampai kapan anda berlari bersama anak-anak itu?!’ Beliau menjawab, ‘Sampai mati.'”

Beliau pernah mengatakan,

أنا أطلب العلم إلى أن أدخل القبر

“Aku akan menuntut ilmu hingga aku dimasukkan ke dalam kubur.”

Dan tidaklah ada hadits yang beliau kumpulkan melainkan pasti beliau amalkan.

ما كتبت حديثاً إلا وقد عملت به، حتى مر بي أن النبي احتجم وأعطى أبا طيبة ديناراً، فأعطيت الحجام ديناراً حين احتجمت

“Tidaklah aku menuliskan satu hadits, kecuali aku telah mengamalkannya. Hingga sampai kepadaku bahwa Nabi melakukan bekam dan memberikan dinar kepada Abu Thibah. Maka aku memberikan satu dinar kepada tukang bekam ketika aku berbekam.”

Sekarang kembali lagi ke diri kita. Sudah berapa ratus majelis ilmu yang kita datangi? Seberapa jauh kaki ini kita langkahkan untuk mencari ilmu? Berapa ilmu yang sudah kita amalkan? Berapa matan kitab yang sudah dihafal? Ah, jangan terlalu jauh, berapa juz Al-Qur’an yang telah dihafal? Berapa hadits dalam Al-Arbain An-Nawawiyah yang telah dihafal? Bila belum mampu, lantas apa yang dibanggakan dari perkataan, “Saya adalah seorang muslim yang mengikuti jalannya para ulama salaf,” atau perkataan khas aktivis dakwah, “Kami adalah generasi muda kebangkitan peradaban Islam.”?

ومن لم يذق مر التعلم ساعة *** تجرع ذل الجهل طول حياته
ومن فاته التعليم وقت شبابه *** فكبر عليـه أربعاً لوفـاته

Barangsiapa yang tidak merasakan pahitnya belajar dalam sesaat
Akan mereguk hinanya kebodohan sepanjang hidupnya
Barangsiapa terluput darinya belajar pada waktu mudanya
Maka bertakbirkah empat kali atas kematiannya

Ya Allah ampunilah kami atas kelemahan dan kemalasan kami. Sungguh, kami belumlah berbuat apa-apa tetapi kami terlalu berbangga diri.

Semoga Allah merahmati Al-Imam Ahmad bin Hanbal dan melipatgandakan pahalanya. Dan semoga Allah Jalla Sya’nuhu memudahkan urusan-urusan kita, memudahkan langkah-langkah kita dalam menuntut ilmu, menjadikan ilmu sebagai bagian yang tak terpisahkan dari diri kita, dan menjadikannya berberkah dalam kehidupan kita di manapun kita berada.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم 


Surakarta, Kamis, 20 November 2014, bertepatan dengan 27 Muharram 1436 H

Rizky Tulus

Referensi: Waratsatul Anbiya karya Syaikh Abdul Malik bin Muhammad Al-Qoshim.

http://www.ashfiya.com/2014/11/semangat-masa-muda-antara-kita-dan-imam-ahmad.html/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s