Pembelaan Terhadap Imam Al Muhaddits Al Albani Dari Kedustaan Hasan Ali As Saqqof & Pendukungnya (5/6)


Membongkar Kedustaan, Talbis & Tadlis As Saqqof Serta Penghianatannya Dari Kitab Gelapnya “Tanaqudlaat Albany”.

Sesungguhnya, kitab Tanaqudlaat Albany yg ditulis oleh si pendengki ini penuh dengan fitnah, kedustaan, tadlis, talbis dan pengkhianatan ilmiah. Ia sepertinya telah termakan bujuk rayu iblis dengan menjajakan kaidah sesatnya yang berbunyi al-Ghooyah tubarrirul wasiilah (Tujuan membenarkan segala cara), sebagaimana kaidah yang juga dipegang oleh Hizbut Tahrir yang menghalalkan segala cara untuk memenuhi tujuan. Ternyata as-Saqqof dan Hizbut Tahrir ini bagaikan pinang dibelah dua, sama-sama pahitnya dan hitamnya.

Oleh karena itu tidak heran, jika Nuh Hamim Keller [24] sang pembela kebid’ahan didukung oleh simpatisan Hizbut Tahrir seperti Muhammad Lazuardi al-Jawi bersepakat di dalam kegelapan as-Saqqof di dalam memerangi Ahlu Sunnah. Karena demikianlah karakteristik Ahlul Bid’ah, mereka menenggelamkan kepalanya ke dalam tanah namun ekornya siap menyengat siapa saja yang mendekat, bagaikan kalajengking!

Berikut ini pengkhianatan, talbis dan tadlis as-Saqqof sang pendusta [25].

1). As-Saqqof berkata dalam kitabnya at-Tanaaqudlaat, hal. 97. Hadits : ”Tabayun –dalam lafazh lain Ta`anni (sikap kehati-hatian)- adalah dari Allah dan al-’Ajalah (tergesa-gesa) datangnya dari Syaithan. Maka bertabayunlah…”.

Tuduhan : As-Saqqof berkata : ”Hadits ini didhaifkan oleh Syaikh Albani dalam Dha’if al-Jami’ wa Ziyaadatuhu (III/45 no. 2503), dimana lafazh : ”Tabayun dari Allah” dishahihkan oleh beliau di dalam Silsilah al-Ahaadits As-Shahiihah (IV/404, dengan nomor 1795)”.

Cek : Ketika melihat kembali kitab Syaikh Albani Dha’if al-Jami’, beliau mengisyaratkan kedhaifannya dan menisbatkan riwayatnya kepada Ibnu Abi Dunya dalam kitab Dzammul Ghadlab serta al-Khairathi dalam kitab Makarimul Akhlaq yang diriwayatkan dari al-Hasan secara mursal. (lihat Dha’if al-Jami’ : 2504). Ketika melihat Silsilah ash-Shahihah (IV/404), di dalamnya terdapat perkataan Syaikh Albani, yaitu : ”at-Ta`anni datangnya dari Allah dan tergesa-gesa datangnya dari Syaithan”. Lafazh hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam al-Musnad (III/1054) dan al-Baihaqi dalam As-Sunan al-Kubra (X/104) dari jalur al-Laits, dari Yazid bin Abi Habib, dari Sa’ad bin Sinan, dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw bersabda… (sama seperti redaksi hadits tadi).

Kesimpulan :

As-Saqqof telah bersikap tidak fair dan tidak menampakkan yang sebenarnya dengan menganggap bahwa hadits di atas adalah satu, padahal yang disebutkan dalam Dha’if al-Jami’ dan Silsilah ash-Shahihah adalah dua hadits yang berbeda. Jadi as-Saqqof secara sembrono telah mengatakan dalam kitabnya at-Tanaqudlaat : ”-dan dalam lafazh lain at-Ta’anni-”. Maka kami pertanyakan : dimanakah kejujuran dan keadilanmu wahai as-Saqqof? Dimana pula letak tanaqudl (kontradiktif) kedua hadits di atas???[26].

2). As-Saqqof berkata di dalam kitabnya at-Tanaqudlaat (no. 99), hadits : “Tidak boleh (menerima) dalam Islam kesaksian seorang lelaki yang pengkhianat begitu pula seorang wanita pengkhianat, orang yang dikenakan hukuman jilid dan yang dengki terhadap saudaranya.”

Tuduhan : as-Saqqof berkata : ”Hadits ini disebutkan oleh al-Albani di dalam Shahih Ibnu Majah (II/44 no. 1916), yang dianggap bertentangan karena beliau mendhaifkannya. Oleh karena itu beliau menyebutkannya dalam kumpulan hadits-hadits dhaif pada kitab Dha’if al-Jami’ wa Ziyadatuhu (VI/62, no. 6212).

Cek : Ketika melihat ke dalam buku Shahih Sunan Ibnu Majah (no. 1930) dan al-Ma’arif, disebutkan bahwa Syaikh Albani berkata : ”Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ’anhuma, beliau mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Tidak boleh (menerima) dalam Islam kesaksian seorang lelaki yang pengkhianat begitu pula seorang wanita pengkhianat, orang yang dikenakan hukuman jilid dan yang dengki terhadap saudaranya.” Sementara hadits yang ada di dalam Dha’if al-Jami’ (no. 6199) dengan lafazh : ” “Tidak boleh (menerima) dalam Islam kesaksian seorang lelaki yang pengkhianat begitu pula seorang wanita pengkhianat, orang yang dikenakan hukuman jilid dan yang dengki terhadap saudaranya, yang pernah melakukan sumpah palsu, yang mengikut kepada anggota keluarga mereka, yang dicurigai sebagai hamba sahayanya atau sanak kerabatnya.” hadits ini dia sandarkan sebagai riwayat Tirmidzi.

Kesimpulan :

As-Saqqof telah menyembunyikan hakikat sebenarnya. Ia menduga bahwa kedua hadits ini sama, padahal berbeda, walaupun sebagian lafazhnya sama. Yang pertama adalah riwayat Abdullah bin Amr bin Ash radhiallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah tanpa ada penambahan, dan yang kedua adalah riwayat Aisyah yang dikeluarkan at-Tirmidzi. Maka kami pertanyakan : Wahai Saqqof, manakah kejujuran dan keadilanmu serta sifat amanahmu???[27].

3). As-Saqqof berkata di dalam at-Tanaqudlaat (no. 92) hadits : “Jika salah seorang dari kalian mengerjakan suatu amalan, maka sempurnakanlah…”.

Tuduhan : as-Saqqof berkata : ”hadits ini dishahihkan oleh al-Albani sehingga beliau memasukkan dalam Shahih al-Jami’ (II/144 no. 1876) dengan lafazh : ”Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang dari kalian mengerjakan suatu amalan dan ia menyempurnakannya.” Lalu ia menyelisihinya dan memutuskan hadits ini sangat dhaif di dalam Dla’if al-Jami’ (I/207 no 698).

Cek : Ketika melihat ke dalam ash-Shahihul Jami’ (no. 1888) kami mendapati hadits tersebut dengan lafazh : ” Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang dari kalian mengerjakan suatu amalan dan ia menyempurnakannya”. Hadits ini beliau sandarkan sebagai riwayat al-Baihaqi dalam Syua’bul Iman dari Aisyah radhiallahu ‘anha, sedangkan hadits dalam Dla’iful Jami’ wa Ziyaadatuhu berbunyi : ”Jika salah seorang dari kalian mengerjakan suatu pekerjaan, maka sempurnakanlah karena sesungguhnya hal itu termasuk menghibur yang dikerjakan sendiri.” Hadits ini beliau sandarkan sebagai riwayat Ibnu Sa’ad dari Atha’ secara mursal dan menetapkannya sebagai hadits yang sangat dhaif.

Kesimpulan : Sunguh as-Saqqof telah menduga bahwa dia hadits ini sama padahal keduanya berbeda baik periwayatannya maupun tempat keduanya disebutkan. Lantas dimanakah sikap amanah dan penghargaan terhadap ilmu wahai as-Saqqof???[28].

4). Pada halaman 39, as-Saqqof memaparkan hadits Abdullah bin ’Amru : ”Jum’at wajib bagi yang mendengarkan seruan (adzan)”. As-Saqqof mengklaim bahwa syaikh al-Albani menghasankannya di dalam al-Irwa’ dan mendhaifkan sanadnya di dalam al-Misykaah.

Komentar : Kedua tidak kontradiktif, dimana beliau juga mendhaifkan sanadnya di al-Irwa’, namun beliau mengisyaratkan akan adanya syawahid yang menguatkannya, kemudian beliau berkata di akhir sanadnya : ”maka hadits ini dengan adanya syawahid menjadi hasan insya Allah.” Dimanakah akalmu wahai orang-orang yang berfikir??

5). Pada halaman 39-40, as-Saqqof memaparkan hadits Anas : ”Janganlah kalian bersikap keras terhadap diri kalian niscaya Allah akan bersikap keras terhadap kalian…”. Kemudian as-Saqqof mendakwakan bahwa Syaikh al-Albani mendhaifkannya di Takhrijil Misykaah.

Sesungguhnya menurut akal si orang yang kontradiktif ini dan pemahaman orang yang bingung ini, bahwa perkataan syaikh Albani di dalam Ghoyatul Maraam (hal. 140) merupakan sumber penghukuman hadits bahwa hadits tersebut dhaif, akan tetapi beliau mengisyaratkan syahid yang mursal, sehingga beliau jadikan di akhir penelitian beliau di dalam takhrijnya dengan perkataan : ”Semoga hadits ini hasan dengan syahidnya yang mursal dari Abi Qilabah, wallahu a’lam”. Namun setelah itu, beliau mendapatkan jalur hadits ketiga di sebagian referensi-referensi sunnah, maka beliau menetapkan keshahihannya secara pasti di dalam Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah (3694). Maka inilah ilmu dan keadilan itu, dan tinggalkan oleh kalian perancuan dan kedustaan oleh as-Saqqof.

6). Pada hal. 40, ia menukil hadits Aisyah : ”Barangsiapa yang menceritakan kalian bahwa nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kencing sambil berdiri maka janganlah kau benarkan…”. Kemudian si Saqqof ini mendakwakan bahwa Syaikh Albani mendhaifkan sanadnya di dalam al-Misykah kemudian ia shahihkan di dalam Silsilah Shahihah-nya, dan mendakwakan bahwa Syaikh al-Albani tanaaqudl dalam hal ini.

Komentar : Bahwasanya keduanya tidak tanaaqudl dan ini hanyalah dakwaan dusta dan kebodohan dari as-Saqqof. Syaikh menyatakan cacat riwayat Tirmidzi di dalam al-Misykah karena dhaifnya Syarik an-Nakha’i. Namun beliau menemukan mutaaba’ah dan menshahihkannya di Silsilah Shahihah sembari memberikan komentar bahwa beliau mengakui tentang terlalu ringkasnya ta’liq (komentar) beliau di dalam al-Misykah setelah beliau menghimpun mutaba’ah yang akhirnya beliau shahihkan. Namun as-Saqqof menyembunyikan hal ini dan melakukan kedustaan terhadap umat.

Inilah sebagian hadits yang ia sebutkan dan di sini saya menyebutkannya hanya sebagai contoh untuk menunjukkan kejahilan, kedustaan, perancuan, pengkhianatan ilmiah, penyembunyian al-Haq dan kedengkian as-Saqqof kepada Syaikh al-Albani. Dan bukan artinya apa yang disebutkan di sini berarti telah disebutkan semua kebohongannya dan kedustaannya, karena jika disebutkan niscaya risalah akan menjadi sebuah buku tersendiri yang tebal.

Bagi yang ingin mengetahui kedustaan as-Saqqof ini, bisa merujuk ke kitab al-Anwaarul Kaasyifah karya Syaikh Ali Hasan dan at-Tanbiihatul Maliihah karya Syaikh Abdul Basith, maka anda akan menemukan kebobrokan as-Saqqof yang dipenuhi dengan fitnah, kedustaan dan kejahilan ini.

Berikut ini kami ringkaskan kedustaan as-Saqqof terhadap Syaikh al-Albani yang bisa dirujuk sendiri di dalam kitabnya at-Tanaqudlaat dalam nomor-nomor haditsnya, yaitu Juz I : no. 46, 68, 69, 81, 93, 105, 108, 117, 131, 141, 142, dan 171. Juz II : 17, 18 dan 19. sedangkan juz III : no. 19. semuanya yang disebutkan ini adalah ralat atau ruju’ Syaikh al-Albani yang ia (as-Saqqof) sembunyikan.

Bahkan, syaikh Ali Hasan menghimpun nomor-nomor hadits pada kitab gelapnya bahwa yang dijadikan patokan oleh as-Saqqof untuk mendakwakan tanaqudl Syaikh al-Albani adalah kebanyakan dari al-Misykaah dan dikontradiktifkan dengan kitab Syaikh yang lainnya. Padahal al-Misykaah ini merupakan ta’liq atas Shahih Ibnu Khuzaimah, yang mana ta’liq ini pada hakikatnya bukanlah merupakan tahqiq Syaikh al-Albani maupun ta’liq beliau murni. Muhaqqiq (peneliti) sebenarnya adalah Syaikh al-Fadhil DR. Muhammad Mustofa al-A’zhami yang meminta kepada syaikh Albani untuk mengoreksinya dengan koreksi secara umum.

Oleh karena itulah ta’liq beliau begitu ringkas dan sedikit, yang merupakan penyempurna dari ta’liq sebelumnya yang dilakukan oleh DR. Muhamad Mustofa al-A’zhami. Oleh karena itulah ketika beliau melakukan penelitian dan takhrij lebih dalam terhadap suatu hadits dengan mengumpulkan jalur-jalur periwayatannya atau ditemukannya syawahid dan mutaba’ah, maka beliau taraju’ dengan mengambil takhrij beliau yang terakhir. Inilah seharusnya yang diambil… Namun as-Saqqof pura-pura tidak tahu atau benar-benar tidak tahu, sehingga ia menghimpun hadits-hadits yang menurutnya tanaaqudl padahal dirinyalah yang tanaaqudl..

Berikut inilah nomor-nomor hadits yang disebutkan oleh as-Saqqof sebagai suatu bentuk tanaaqudl padahal sebenarnya adalah suatu taraaju’ yang as-Saqqof menyembunyikan hakikatnya, yaitu : no. 1, 2, 3, 5, 6, 7, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 19, 20, 21, 26, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 45, 47, 48, 49, 51, 52, 53, 54, 55, 56, 57, 58, 59, 60, 61, 62, 63, 64, 65,66,67, 69, 72, 73, 75, 76, 78, 81, 82, 83, 84, 85, 87, 88, 89, 90, 95, 103, 143, 144, 147, 153, 158, 164, 185, 186, 187, 188, 189, 198, 199, 240, 241, 242, 243, 244, 245, 246, 247, 248, 249, 250.

Yang aneh lagi, supaya terkesan lebih banyak tanaqudlaat yang dituduhkan oleh dirinya kepada Syaikh al-Albani, maka ia mengulang-ulang hal yang sama di dalam kitab gelapnya tersebut. Seperti : yang dipaparkannya di hal 7 diulanginya lagi pada hal. 70 dan 161. Yang dipaparkannya pada hal. 9, diulanginya lagi pada hal. 114, 136 dan 140. Yang dipaparkannya pada hal. 10 diulanginya lagi pada hal. 98. yang dipaparkannya pada hal. 10, diulanginya lagi pada hal. 11 dan 140. Yang dipaparkannya pada hal. 64 diulanginya lagi pada hal. 105. Yang dipaparkannya pada hal. 96 diulanginya lagi pada hal. 145.[29].


Selengkapnya dalam sumber : http://almanhaj.or.id/content/196/slash/4/pembelaan-terhadap-al-imam-al-muhaddits-al-albany-dari-kedustaan-hasan-ali-as-saqqof/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s