Pembelaan Terhadap Imam Al Muhaddits Al Albani Dari Kedustaan Hasan Ali As Saqqof & Pendukungnya (2/6)


As Saqqof Mencela Sahabat Terutama Mu’awiyyah & Mengkafirkan Imamnya Ummat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah

Ketahuilah wahai orang yang berakal, bahwa orang yang engkau dengang-dengungkan sebagai muhaddits ini adalah tidak lebih dari para pencela sahabat dan melemparkan tuduhan kafir terhadap ulama ummat ini.

Syaikh Ali Hasan al-Halabi berkata di dalam al-Anwaarul Kaasyifah (hal. 9) : ”Takfir (pengkafiran) dari orang zhalim ini terhadap imamnya dunia (yaitu Syaikhul Islam) tidaklah datang begitu saja, namun takfir ini datang sebagai pembelaan terhadap pemuka-pemuka ahlul bid’ah yang jahil dan terhadap muqollid (pembebek) yang beku akalnya dari kalangan asy’ariyah dan jahmiyah, yang mana syaikhul Islam bersumpah atas dirinya untuk mengkritik mereka dan membantah penyimpangan-penyimpangan mereka, dan beliau menegakkan perang terhadap mereka sepanjang hidupnya baik dengan tangan, hati maupun lisannya. Beliau menyingkap kebatilan mereka di hadapan manusia dan menerangkan talbis dan tadlis mereka, beliau hadapi mereka dengan akal yang sharih dan nukilan (dalil) yang shahih…”.

Syaikh Ali melanjutkan (hal 11-12) : ”Dan takfir ini pada realitanya merupakan senjata andalannya (as-Saqqof), telah menceritakan kepadaku seorang yang bersumpah dengan jujur –insya Allah- bahwa al-Khossaf (sebutan terhadap as-Saqqof) ini berkata kepadanya dan ia mendengar dengan telinganya (bahwa as-Saqqof berkata) : ”Aku tidak mengkafirkan Ibnu Taimiyah kecuali aku menjelaskan kesalahan murid-muridnya! Sesungguhnya dirinya tidaklah ma’shum”.

Demikianlah perkataannya, sebagai pengejawantahan kaidah yang tidaklah beriman kepada Allah dan tidak pula hari akhir, yaitu : Tujuan menghalalkan segala cara!! Cela mana lagi yang lebih besar dari kehinaan ini?!! Sungguh indah apa yang diucapkan oleh al-Allamah Badruddin al-’Aini (wafat tahun 841 H.), seorang pensyarah Shahihul Bukhari di dalam taqrizh beliau terhadap ar-Raddul Waafir (hal. 264) yang menjelaskan hukum bagi orang yang mengkafirkan Imam dunia ini : ’… Jika demikian keadaannya, maka wajib atas ulil amri untuk menghukum orang bodoh lagi perusak yang berkata tentang hak Ibnu Taimiyah sebagai kafir! Dengan bentuk hukuman dengan pukulan yang keras dan penjara terali yang berlapis. Barang siapa berkata kepada muslim, wahai kafir maka akan kembali ucapannya kepada dirinya, apalagi jika lancang melemparkan najis seperti ini dan berkata dengannya terhadap hak si ’alim ini (Ibnu Taimiyah), terlebih lagi jika ia sudah meninggal, dan telah datang larangan dari syariat dari membicarakan hak kaum muslimin yang telah meninggal, dan Allahlah yang maha mengambil al-Haq dan menampakkannya.’.

Dan berkata al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu di dalam taqrizh beliau juga terhadap kitab yang sama (hal. 263), dan as-Sakhowi juga turut mengisyaratkan pula hal ini di dalam adl-Dlou’ul Laami’ (VIII/104) : ’Tidaklah seseorang yang berkata bahwa Ibnu Taimiyah itu kafir melainkan hanya dua orang, entah dia orang yang hakikatnya kafir ataukah ia orang yang bodoh tentang keadaannya…’”

As-Saqqof juga menuduh Sahabat yang mulia, Mu’awiyah bin Abi Sufyan dengan nifaaq dan menganggapnya murtad. Sebagaimana diutarakan oleh Syaikh Ali Hasan al-Halabi (hal. 11), ”Dan termasuk kesempurnaan kesesatan orang yang zhalim lagi lalai ini adalah sebagaimana yang dikabarkan oleh dua orang yang mendengarkan ucapannya, bahwa dia menuduh di beberapa majlisnya, bahwa sahabat yang mulia Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu dengan nifaq, dan mengisyaratkan bahwa Mu’awiyah telah murtad dan termasuk penghuni neraka…!!! Semoga Allah merahmati Imam Abu Zur’ah ar-Razi yang berkata : ’jika engkau melihat ada orang yang mencela sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam maka ketahuilah bahwa dia adalah zindiq!!!..”.

Saya berkata :

Beberapa pendukung as-Saqqof ini menuduh Syaikh Ali Hasan telah berdusta, namun kebenaran adalah bersama ahlul haq, buku as-Saqqof yang berjudul Daf’u Syubahit Tasbiih menjadi saksi atas kelancangannya dan keberaniannya menuduh sahabat Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu. Ia berkata di catatan kaki Daf’us Syubah (hal. 237),

”Aku (as-Saqqof) berkata : Mu’awiyah membunuh sekelompok kaum yang shalih dari kalangan sahabat dan selainnya hanya untuk mencapai kekayaan duniawi. Dan diantara mereka adalah Abdurrahman bin Khalid bin Walid. Ibnu Jarir menukilnya di dalam Tarikh-nya (III/202) dan Ibnul Atsir di dalam al-Kamil (III/453) dan lafazh ini darinya. Alasan kematiannya adalah pasalnya ia menjadi orang yang mulia/terkemuka di mata penduduk Syam, mereka lebih condong kepada beliau karena ia memiliki karakteristik yang mirip ayahnya (Khalid bin Walid), dan karena kemanfaatan pada dirinya bagi kaum muslimin di tanah Romawi dan juga karena keberaniannya. Jadi, Mu’awiyah menjadi takut dan khawatir terhadapnya, lantas ia memerintahkan Ibnu ’Uthaal seorang nashrani untuk merencanakan pembunuhannya. Mu’awiyah memberikan jaminan padanya pembebasan pajak selama umur hidupnya… jadi ketika Abdurrahman kembali dari Romawi, Ibnu Uthaal memasukkan racun ke dalam minumannya melalui pelayannya. Lantas beliapun meninggal di Hums (sebuah tempat di pusat Siria), dan Mu’awiyah memenuhi janji yang dia berikan kepada Ibnu ’Uthaal. Aku (as-Saqqof) berkata : Apakah diperbolehkan membunuh seorang muslim? Sedangkan Allah berfirman : ”Barangsiapa yang membunuh seorang muslim dengan sengaja, maka tempatnya adalah neraka dan ia kekal di dalamnya selama-lamanya. Murka Allah dan laknat-Nya atasnya, dan adzab yang pedih dipersiapkan baginya.” (QS 4 : 93)?!… Ada empat karakteristik Mu’awiyah, dan setiap karakteristiknya akan diadzab di kubur, gegabah menghunus pedangnya secara zhalim kepada ummat ini sampai ia berhasil meraih kekhilafahan tanpa musyawarah, baik terhadap sahabat yang masih hidup saat itu dan orang-orang shalih lainnya. Ia mewariskan kekuasannya kepada puteranya yang seorang pemabuk [13], pemakai pakaian sutera dan pemain alat musik… ia membunuh Hujr dan sahabat-sahabat Hujr, maka celakalah dirinya dan apa yang ia lakukan kepada Hujr…”.

Tanggapan :

Lihatlah, bagaimana as-Saqqof menukil riwayat ini dari al-Kamil padahal kisah tersebut tidak memiliki isnad. Kisah ini memang memiliki isnad di dalam Tarikh ath-Thabari namun sanadnya palsu menurut kaidah ilmu hadits. Syaikh Nashir al-’Ulwan membahas kedustaan riwayat ini di dalam Ittihaaf Ahlil Fadhl juz I dan lihat pula pembahasan sistematik tentang studi kritis terhadap Tarikh ath-Thabari yang ditulis oleh DR. Muhammad Amhazun dalam disertasinya yang berjudul Tahqiq Mauqif ash-Shohabah fil Fitnah min Riwayaati al-Imaam ath-Thobari wal Muhadditsin yang telah diterjemahkan dengan judul ”Fitnah Kubra”. Hal ini menunjukkan bagaimana as-Saqqof menukil secara serampangan tanpa meneliti sanad berita yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang muhaddits atau peneliti hadits, bahkan ia menukil berita yang tidak memiliki sanad!! [14] Apakah yang mendorong dirinya melakukan demikian?? Wallahu a’lam bish Showab.

Padahal Nabi yang mulia ‘alaihi Sholaatu wa Salaam memilih Mu’awiyah sebagai penulis wahyu Allah, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mendo’akan Mua’wiyah : ”Ya Allah, ajarkan Mu’awiyah al-Kitab dan selamatkan dirinya dari siksa api neraka.” (HR. Ahmad (IV/127) dan Ibnu Hibban (566)). Juga sabdanya ‘alaihi Sholaatu wa Salaam : ”Ya Allah, jadikanlah dirinya orang yang mendapat petunjuk lagi menunjuki”[15]. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memperingatkan umatnya dari mencerca sahabat dalam sabdanya : ”Janganlah kalian sekali-kali mencerca sahabatku, jika seandainya ada diantara kalian menginfakkan emas sebesar gunung uhud, tidak akan mampu mencapai satu mud yang mereka infakkan, bahkan tidak pula setengahnya.” (HR. Muslim). Terlebih lagi, bukankah Mu’awiyah itu pamannya kaum muslimin?? Mengapa dirimu begitu lancang mencela dan mencercanya dengan membawa berita tak bersanad dan dengan sanad palsu??

Imam Al-Lalika`i meriwayatkan di dalam as-Sunnah (no. 2359) bahwa Imam Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad al-Hanbal berkata : ”Jika kau melihat seorang berbicara buruk tentang sahabat, maka ragukanlah keislamannya”.

Beliau juga berkata di dalam as-Sunnah (hal. 78) : ”Barangsiapa yang mencela para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam atau salah seorang dari mereka, ataupun meremehkan mereka, mencela dan membuka aib-aib mereka ataupun menjelekkan salah seorang dari mereka, maka ia adalah seorang Mubtadi’, Rofidli, Khabits (busuk), Mukhalif (orang yang menyempal), …”.

Imam Abu Zur’ah ar-Razi berkata : ”Jika engkau melihat ada seseorang yang merendahkan salah seorang dari sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka ketahuilah sesungguhnya ia adalah Zindiq! Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah haq di sisi kami, dan al-Qur’an itu haq, dan yang menyampaikan al-Qur’an dan as-Sunnah ini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Sesungguhnya mereka menghendaki mencela persaksian kita dengan tujuan membatalkan al-Kitab dan as-Sunah. Mencela mereka lebih utama karena mereka adalah Zindiq…!!!” (Dikeluarkan oleh al-Khathib di dalam al-Kifaayah fi ’ilmir Riwaayah hal. 67)[16]

Imam Barbahari berkata di dalam Syarhus Sunnah : ”Jika kau melihat ada seseorang mengkritik sahabat nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam maka ketahuilah bahwa dia adalah orang yang jahat ucapannya dan pengikut hawa nafsu, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Jika kau mendengar sahabat-sahabatku disebut maka tahanlah lisanmu.” (Diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibnu Mas’ud dan haditsnya shahih.[17]).

Haihata haihata…!!! Wahai as-Saqqof, Apakah dirimu begitu membenci Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang menasehatkan untuk menjaga lisan dari memperbincangkan keburukan sahabat sehingga tidak kau indahkan nasehatnya wahai as-Saqqof???.

Beliau rahimahullahu berkata di dalam Minhajus Sunnah (V/146) : ”Oleh karena itu dilarang (memperbincangkan) perselisihan yang terjadi diantara mereka, baik para sahabat maupun generasi setelahnya. Jika dua golongan kaum muslimin berselisih tentang suatu perkara dan telah berlalu, maka janganlah menyebarkannya kepada manusia, karena mereka tidak mengetahui realita sebenarnya, dan perkataan mereka tentangnya adalah perkataan yang tanpa ilmu dan keadilan. Sekiranya pun mereka mengetahui bahwa kedua golongan tersebut berdosa atau bersalah, kendati demikian menyebutkannya tidaklah mendatangkan maslahat yang rajih dan bahkan termasuk ghibah yang tercela. Para sahabat Ridlawanullahu ’alaihim ’ajmain adalah orang yang paling agung kehormatannya, paling mulia kedudukannya dan paling suci jiwanya. Telah tetap keutamaan mereka baik secara khusus maupun umum yang tidak dimiliki oleh selain mereka. Oleh karena itu, memperbincangkan perselisihan mereka dengan celaan adalah termasuk dosa yang paling besar daripada memperbincangkan selain mereka.”[18].

Ingatlah pula ucapan al-Hafizh Ibnu Katsiir berikut ini, beliau rahimahullahu berkata di dalam al-Ba’its al-Hatsits (hal. 182) : ”Adapun perselisihan mereka pasca wafatnya Nabi ’alaihi Salam, yang diantara perselisihan tersebut ada yang terjadi tanpa didasari oleh kesengajaan seperti peristiwa Jamal, ada diantaranya yang terjadi karena faktor ijtihad seperti peristiwa Shiffin. Ijtihad itu bisa salah dan bisa benar. Namun, pelakunya dimaafkan jika ia salah, bahkan ia diganjar satu pahala. Adapun ijtihad yang benar maka ia mendapat dua pahala.”[19].

Wahai as-Saqqof dan siapa saja dari pembebeknya…

wahai Lazuardi al-jawi, wahai Syabab Hizbut Tahrir yang mendaulat as-Saqqof sebagai muhaddits…!!! Apakah anda telah membaca kitab-kitab karya ulama hadits berikut ini :

  1. Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari al-Ju’fi (w. 256) di dalam Shahih-nya, kitab Fadlail Ashhabin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, Bab : Qowlun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Law Kuntu Muttakhidzan Khaliilan (Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam seandainya aku menjadikan kekasih).
  2. Abul Husain Muslim bin Hajjaj al-Quysairi an-Naisaburi (w. 261) di dalam Shahih-nya, kitab Fadlailus Shahabah, Bab : Tahriimu Sabbis Sahabah Radhiallahu ‘anhum (Haramnya mencela sahabat radhiallahu ‘anhum)
  3. Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’ats as-Sijistani (w. 275) di dalam Sunan-nya, kitab as-Sunnah, Bab : an-Nahyu ‘an Sabbi Ashhabin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (Larangan mencela sahabat Nabi)
  4. Abu Isa Muhammad bin Isa at-Turmudzi (w. 259) di dalam Sunan-nya, dalam bab-bab al-Manaqib ’an Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, Bab : Fiiman Sabba Ashhaba an-Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (Bagi siapa yang mencela para sahabat)
  5. Abu Abdurrahman Ahmad bin Syuaib an-Nasa`i (w. 303) di dalam kitabnya Fadlailus Shahabah, Bab : Manaqib Ashhabin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam wan Nahyu ’an Sabbihim rahimahumullahu ajma’in wa radhiallahu ‘anhum (Manakib Para Sahabat Nabi dan Larangan Mencela Mereka).
  6. Abu Abdillah Yazid bin Abdillah al-Qirwani (w. 273) di dalam muqoddimah Sunan-nya, Bab : Fadlail Ashhabi Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
  7. Abu Hatim Muhammad bin Hibban al-Busti (w. 354) di dalam Manaqib ash-Shahabah, Rijaaluha wa Nisaa’uha bidzikri asmaa’ihim radhiallahu ‘anhum ajma’in (Manakib Sahabat, kaum lelaki dan wanitanya dengan menyebut nama-namanya), dalam bab : Fadlail ash-Shahabah wat Tabi’in yang menyebutkan : al-Khabar as-Daalu ’ala anna Ashhaba Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Kulluhum Tsiqaat wa ’uduul (Berita yang menunjukkan bahwa Sahabat Rasulullah seluruhnya kredibel dan terpercaya) dan az-Zajru ’an Sabbi Ashhabi Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam alladzi Amarallahu bil Istighfar Lahum (Ancaman terhadap mencela sahabat Rasulullah yang Allah memerintahkan untuk memohon ampun bagi mereka). Demikan pula dalam kitabnya al-Majruuhin minal Muhadditsin tentang haramnya mencela sahabat.

Dan masih beribu-ribu lagi penjelasan para ulama ahlus sunnah baik salaf maupun kholaf yang menjelaskan tentang haramnya mencela sahabat… Lantas, bagaimana kita menempatkan as-Saqqof ini dan para pembebeknya terhadap hak para sahabat nabi yang mulia ???

Yang mana para Imam Ahlus Sunnah bersepakat bahwa pencerca Sahabat Nabi dikatakan sebagai Zindiq, Mubtadi’ atau Rofidloh!!! Maka bertaubatlah wahai pencerca…!!! Ibrahim bin Maisarah berkata : ”Aku tidak pernah melihat Umar bin Abdul Aziz memukul seseorang pun kecuali orang yang mencerca Mu’awiyah. Beliau memukulnya dengan beberapa kali cambukan.”[20].

Aduhai, sekiranya Umar bin Abdul Aziz hidup saat ini untuk mencambuki kelancangan as-Saqqof ini…


Selengkapnya dalam sumber : http://almanhaj.or.id/content/196/slash/1/pembelaan-terhadap-al-imam-al-muhaddits-al-albany-dari-kedustaan-hasan-ali-as-saqqof/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s