Pembagian Hadits & Jenis yang Digunakan Sebagai Dalil


Pada bagian ini akan dijelaskan secara ringkas tentang pembagian hadits dan jenis yang digunakan sebagai dalil sebagaimana yang terdapat pada kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab karya Imam an-Nawawi rahimahullahu ta’ala. Hal ini juga sekaligus menegaskan manhaj ulama’ – ulama’ terdahulu dalam menggunakan hadits bahwa mereka tidak menggunakan hadits selain hadits shahih dan hasan dalam hal hukum. Mereka hanya menggunakan hadits dha’if dalam hal – hal yang tidak terkait hukum seperti keutamaan amal, kisah – kisah, dorongan dan ancaman. Bahkan Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa para ulama’ telah bersepakat mengenai bolehnya menggunakan hadits dha’if dalam hal keutamaan amal (fadha’il amal).

Semoga saja orang – orang yang hanya ‘taklid’ kepada ulama – ulama kontemporer yang sering mencemoohkan dan bahkan merendahkan ulama – ulama yang menggunakan hadits dhaif dalam hal fadha’il amal menjadi sadar bahwa sejatinya mereka sedang mencemoohkan dan merendahkan Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar al-Atsqalani, Imam asy-Suyuthi, dan lain – lain yang mengatakan kebolehannya. Kita semua berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari yang demikian itu.

Meski demikian perlu dicatat bahwa tidak sembarang orang boleh menggunakan hadits dhaif sebagai dalil karena tingkatan hadits dhaif itu bermacam – macam, ada yang sangat dhaif dan ada yang ringan kedhaifannya. Dan hanya para ulama lah yang berhak dan bisa mengatakan bahwa hadits dhaif ini atau hadits dhaif itu boleh digunakan sebagai fadhail amal dst. Oleh karena itu, apabila pembaca sekalian menemukan satu penjelasan dalam blog ini yang dalilnya adalah berupa hadits dhaif, maka berarti hadits tersebut telah diteliti oleh para ulama terdahulu dan bisa dikategorikan hadits dhaif yang boleh dijadikan sebagai dalil.

Sebelum saya memberikan kutipan dari kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab sebagaimana saya janjikan di atas, ada baiknya perkataan dari Syaikh Dr. Syarif Hatim bin ‘Arif al-Auni berikut ini kita jadikan sebagai renungan:

Sebagian penuntut ilmu lebih dulu belajar cara membantah sebelum mempelajari ilmu itu sendiri. Dia belajar sikap tidak sopan dengan dalih tidak ingin bertaklid. Dia tenggelam dalam taklid kepada sebagian tokoh kontemporer dengan dalih tidak bermazhab. Dia juga mengklaim mengikuti dalil padahal dia taklid kepada orang yang menunjukkan kepadanya dalil itu. Dia mengingkari perbedaan pendapat yang diakui dengan dalih kebenaran itu hanya satu dan tidak berbilang. Siapa sebenarnya yang mengajari mereka “ilmu” ini dan siapa yang mendidik mereka dengan “akhlak” ini?

Kita berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari sikap – sikap yang tercela seperti di atas. Dan semoga juga kita terhindar dari sikap “mudah menghina” saudara – saudara kita yang tidak sependapat dengan kita. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan ilmu nya yang luas kepada kita semua dan memberi kita kemampuan untuk mengamalkannya. Amin amin ya rabbal ‘alamin.

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata dalam kitabnya al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab:

Pembagian Hadits dan Jenis yang Digunakan Sebagai Dalil

Para ulama berkata, “Hadits ada tiga macam: (1) shahih, (2) hasan, dan (3) dha’if”.

Mereka juga berkata, “Diperbolehkan mengambil dalil dari hadits shahih, dan hasan dalam bidang hukum. Sedangkan hadits dha’if tidak boleh dijadikan sebagai dalil dalam bidang hukum dan akidah. Ia bisa diriwayatkan dan diamalkan pada selain persoalan hukum, seperti dalam kisah, keutamaan amal, serta dorongan dan ancaman.

Hadits shahih adalah hadits yang sanadnya bersambung dengan diriwayatkan oleh perawi yang adil dan kuat hafalannya dari perawi yang sama, tanpa adanya syadz dan illah. Tentang pengertian syadz terdapat perbedaan pendapat. Menurut mazhab Syafi’i dan para peneliti, yang dimaksud dengan syadz adalah riwayat perawi tsiqah yang berselisih dengan periwayatan perawi – perawi tsiqah lainnya. Menurut mazhab ahli hadits – ada yang mengatakan bahwa ia adalah mazhab mayoritas mereka – bahwa yang dimaksud dengan syadz adalah periwayatan perawi tsiqah terhadap hadits yang tidak diriwayatkan oleh perawi – perawi tsiqah lainnya. Namun ini adalah pendapat yang lemah.

Yang dimaksud dengan illah adalah makna yang tidak jelas dalam hadits yang dapat merusak hadits, sedangkan luarnya tampak bersih darinya. Illah hanya bisa diketahui oleh orang yang cakap dan pandai, yang menyelami detail – detail ilmu hadits.

Hadits hasan ada dua macam, yaitu:

  1. Hadits yang memiliki sanad yang tidak lepas dari perawi yang masih belum jelas, kecakapannya belum terbukti, bukan pelupa lagi banyak berbuat salah, dan tidak tampak sebab yang bisa membuatnya fasiq pada dirinya. Matan (isi atau redaksi) hadits tersebut diketahui diriwayatkan oleh perawi semisal itu dari jalur yang lain.
  2. Perawinya terkenal dengan kejujuran dan amanah, hanya saja ia lemah dalam segi hafalan dari para perawi shahih.

Sedangkan hadits dha’if adalah hadits yang di dalamnya tidak terdapat ciri – ciri hadits shahih maupun hadits hasan.


http://minhajuth-thalibin.blogspot.com/p/pembagian-hadits-dan-jenis-yang_23.html/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s