Taisir Musthalah Hadits (10) : Sahabat, Al Mukhodrom & At Tabi’i


SAHABAT

Definisi Sahabat :

Sahabat adalah seseorang yang berkumpul dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau melihatnya dalam keadaan beriman dan meninggal dalam keadaan beriman. Maka termasuk di dalamnya orang yang murtad kemudian kembali masuk Islam, seperti Syu’bah ibn Qois. Dia murtad setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ia diseret sebagai tawanan kepada Abu Bakar, maka ia bertaubat dan Abu Bakar menerimanya.

Tidak termasuk sahabat seseorang yang beriman pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup akan tetapi tidak berkumpul dengannya, seperti Raja Najasyi. Dan juga tidak termasuk sahabat seseorang yang murtad dan meninggal dalam keadaan murtad, seperti ‘Abdullah ibn Khotol yang dibunuh saat Fathul Makkah dan Robi’ah ibn Umayyah ibn Khalaf, yang murtad pada zaman pemerintahan ‘Umar dan meninggal dalam keadaan murtad.

Sahabat berjumlah banyak, dan tidak mungkin memastikan batasan jumlah mereka. Akan tetapi dapat dikatakan dengan perkiraan bahwasannya mereka mencapai jumlah 14000 orang.

Keadaan Sahabat :

Semua sahabat itu tsiqoh (terpercaya) dan adil sehingga diterima riwayat salah seorang dari mereka walaupun tidak dikenal (majhul). Karena itu para ulama mengatakan, “Tidak dikenalnya seorang rowi dari kalangan sahabat tidaklah membahayakan.”

Dalil untuk atas pensifatan sahabat tersebut adalah karena Allah dan Rasul-Nya memuji mereka dalam banyak nash. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima perkataan salah seorang di antara mereka jika diketahui bahwa dia Islam dan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bertanya tentang keadaannya.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seorang arab badui datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan, ‘Aku melihat hilal – yaitu hilal awal bulan Romadhon –.” Maka Nabi berkata,‘Apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak di sembah selain Allah?’. Ia menjawab, ‘Ya’. Nabi berkata lagi, ‘Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah?’. Ia menjawab, ‘Ya’. Maka Nabi berkata, ‘Wahai Bilal, umumkan pada manusia untuk berpuasa besok pagi.’” (Diriwayatkan oleh Al Khomsah [1], Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban  menshohihkannya).

Secara umum sahabat terakhir yang meninggal :

  • ‘Amir ibn Watsilah Al La’its, meninggal di Mekkah pada tahun 110 H. Dia adalah sahabat yang terakhir meninggal di Mekkah.
  • Yang terakhir meninggal di Madinah,  Muhamad ibn Robi’ah Al Anshori Al Khazraji meninggal pada tahun 99 H.
  • Yang terakhir meningal di Syam tepatnya di Damaskus adalah Watsilah Ibn Al Asq’ Al Laitsi meninggal pada tahun 86 H.
  • Sedangkan yang di Khims adalah ‘Abdullah ibn Bisri al Mazini meninggal pada tahun 96 H.
  • Yang terakhir meninggal di Bashrah adalah Anas ibn Malik Al Anshori Al Khazraji meninggal pada tahun 93 H.
  • Yang terakhir meninggal di Kuffah adalah ‘Abdullah ibn Abi Aufa Al Aslami meninggal pada tahun 87 H.
  • Dan yang terakhir meninggal di Mesir adalah ‘Abdullah ibn Haris ibn Juz Az Zubaidi meninggal pada tahun 89 H.

Tidak ada seorang sahabat pun yang hidup setelah tahun 110 H, berdasarkan perkataan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, “Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sholat bersama kami pada akhir hayatnya. Setelah salam, Rosulullah berdiri dan berkata, ‘Aku teringat kalian pada malam ini, seratus tahun semenjak hari ini tidak akan ada lagi orang yang saat ini masih hidup di atas muka bumi ini. melihat kalian pada malam in’i”. (Mutafaq ‘Alaih). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan itu sebulan sebelum kematiannya – sebagaimana di riwayatkan oleh Imam Muslim dari Jabir.

Terdapat dua faedah dari mengetahui sahabat terakhir yang meninggal :

  1. Pertama: orang yang meninggal sesudah meninggalnya sahabat yang terakhir meninggal tidaklah diterima pengakuan bahwa beliau adalah sahabat.
  2. Kedua: seseorang yang belum mencapai usia tamyiz sebelum batas ini, maka hadits yang dia sandarkan kepada sahabat adalah hadits yang munqothi’ (terputus).

Sahabat yang banyak meriwayatkan hadits :

Diantara para sahabat, ada yang sering menyampaikan hadits sehingga banyak tabi’in yang mengambil hadits darinya. Sahabat yang meriwayatkan hadits lebih dari 1000 adalah:

  • Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan darinya 5374 hadits.
  • ‘Abdullah ibn ‘Umar ibn Khattab radhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan darinya 2630 hadits.
  • Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan darinya 2286 hadits.
  • ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, diriwayatkan darinya 2210 hadits.
  • ‘Abdullah ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan darinya 1660 hadits.
  • Jabir ibn ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan darinya 1540 hadits.
  • Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan darinya 1170 hadits.

Banyaknya hadits dari para sahabat ini tidaklah mesti berarti mereka adalah yang paling banyak mengambil hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan sahabat yang lain. Karena sedikitnya hadits dari seorang sahabat memiliki sebab-sebab, seperti meninggal lebih dulu, semisal  Hamzah radhiyallahu ‘anhu – paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, disibukkan dengan sesuatu yang lebih penting, seperti ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu, atau karena kedua sebab di atas seperti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Beliau meninggal lebih dahulu dan disibukkan dengan perkara kekhilafaan atau dikarenakan sebab-sebab yang lain.

AL MUKHODROM

Mukhodrom (المخضرم ) :

Mukhodrom adalah orang yang beriman pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada masa hidupnya namun tidak bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Para mukhodrom memiliki tingkatan tersendiri diantara sahabat dan tabi’in. Ada yang berpendapat bahwasannya mereka ini termasuk kibar tabi’in. Sebagian ulama mengatakan bahwa jumlah mereka kurang lebih 40 orang. Diantara mereka adalah Al Ahnif ibn Qoids, Al Aswad ibn Yazid, Sa’ad ibn Iyyas, ‘Abdullah ibn Ukain, ‘Amr ibn Matmun, atau Muslim Al Khoulani, An Najasyi raja negeri Habasyah.

Hukum haditsnya

Hadits dari mukhodrom penerimaanya seperti mursal tabi’in maka dia terputus (munqothi’), dan hukum untuk menerima hadits dari mukhodrom itu sama seperti menerima hadits mursal tabi’i.

AT TABI’I

Tabi’i (التبعي ) :

Tabi’i adalah seseorang yang berkumpul dengan sahabat dalam keadaan beriman pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggal dalam keadaan beriman.

Tabi’in sangat banyak dan tidak mungkin menghitung jumlah mereka.

Mereka memiliki tiga lapisan: kubro (كبرى ), sughro (صغرى ) dan yang berada diantara keduanya (بينهما ).

  1. Tabi’in kubro adalah seseorang yang riwayatnya paling banyak berasal dari sahabat. Contoh : Sa’id ibn Musayyib, ‘Urwah ibn Zubair, dan ‘Alqomah ibn Qois.
  2. Tabi’in sughro adalah seseorang yang banyak meriwayatkan dari sesama tabi’in akan tetapi hanya bertemu sedikit dari para sahabat. Contoh : Ibrohim An Nakho’i, Abu Aznadi, Yahya ibn Sa’id.
  3. Tabi’in wustho adalah yang banyak meriwayatkan dari sahabat dan kibar tabi’in. Contoh : Hasan Al Bashri, Muhammad ibn Sirin, Mujahid ibn ‘Ikrimah, Qotadah, As Sya’bi, Az Zuhri, ‘Atha, ‘Umar ibn Abdul ‘Aziz, Salim ibn ‘Abdullah ibn ‘Umar ‘ibn Khattab.

[1]. Ahmad, Tirmidzi, Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Majah.

Artikel muslimah.or.id

Diterjemahkan dari Kitab تيسير مصطلح الحديث (Taisir Musthalah Hadits) karya Syaikh Muhammad ibn Shaleh ibn ‘Utsaimin rahimahullah oleh Tim Penerjemah Muslimah.Or.Id

http://muslimah.or.id/hadits/taisir-musthalah-hadits-bag-10-sahabat-al-mukhadram-at-tabii.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s